Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Posts Tagged ‘iptek’

Science and Technology Made in China

Posted by ishelianti on February 5, 2010

Science and Technology Made in China

Sudah satu bulan perdagangan bebas ASEAN-China dibuka. Efeknya di berbagai bidang mulai dirasakan. Penjualan telepon selular buatan China yang berharga sangat murah namun berteknologi canggih meningkat lebih dari dua kali lipat setiap harinya. Mobil bermerk Eropa namun dibuat di China siap memasuki pasar Indonesia dengan harga jual di bawah mobil merek Jepang yang notabene dibuat di Indonesia. Sebelum kran perdagangan bebas dibuka pun sebenarnya, di  sekitar kita telah dibanjiri produk China. Dari produk yang berharga murah seperti mainan anak dari plastik dan pakaian jadi, sampai produk mahal seperti komputer jinjing.

Ambisi China menjadi leader dalam produk teknologi tidak hanya pada produk-produk teknologi kasat mata yang tersebut di atas. Di dunia ilmu pengetahuan seperti publikasi internasional misalnya, China sangat luar biasa. Pada tahun 1996 China hanya menempati urutan kesembilan dalam memproduksi publikasi ilmiah internasional dengan hanya sekitar 27 ribu publikasi. Akan tetapi pada tahun 2007, rangkingnya melonjak naik menjadi posisi kedua setelah Amerika Serikat, dengan jumlah publikasi sekitar 181 ribu dokumen pada tahun tersebut atau 12% dari publikasi internasional yang ada di seluruh dunia.

Beberapa tahun belakangan ini, para saintis dan komunitas ilmiah China pun sangat aktif menggiatkan pertemuan-pertemuan ilmiah internasional. Mereka berusaha menjadi pemimpin ilmu pengetahuan di Asia dengan mengumpulkan para saintis, akademisi, pebisnis dari berbagai negara di Asia dalam pertemuan ilmiah ini. Paket pertemuan ilmiah ini mereka rangkai satu paket dengan kunjugan ke beberapa daerah wisata yang menjadi high light di China. Sehingga mereka melakukan diseminasi ilmu pengetahuan dan koordinasi dengan para saintis internasional sekaligus promosi pariwisata negaranya.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi China yang luar biasa ini bukan tanpa persoalan. Barang-barang China yang dijual di Indonesia memang terkenal berharga murah. Namun, kualitas dan pelayanan purna jual yang belum berkembang baik, menyebabkan sebagian kalangan berpikir ulang untuk membeli produk China jika ingin mempunyai barang yang awet.

Demikian pula dengan publikasi ilmiah internasional yang dielu-elukan, bukanlah tanpa kekurangan. Tingginya jumlah publikasi ilmiah internasional oleh saintis China tidak diimbangi dengan tingginya indeks sitasi, suatu indikator yang menunjukkan seberapa penting publikasi tersebut menjadi referensi bagi saintis lainnya. Menurut Jurnal Nature, banyak ditemukan publikasi yang berdasarkan riset fiktif ataupun hasil plagiat ataupun manipulasi data yang pernah ada sebelumnya dalam publikasi internasional ilmuwan China. Fenomena ini ditengarai diakibatkan tingginya tekanan untuk menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional yang berkualitas. Tekanan ini berkaitan dengan mudahnya dana penelitian dengan jumlah sangat besar mengucur jika institusi penelitian ataupun universitas atau peneliti mempunyai jejak rekam yang baik dalam penerbitan jurnal internasional.

Dua persoalan yang diangkat di atas bisa jadi hanya merupakan salah satu fase pembelajaran yang baik bagi China. Saat ini, memang kuantitas produk Iptek masih lebih diperhatikan daripada kualitas di China. Tapi beberapa tahun ke depan, China benar-benar akan menjadi pemimpin yang tangguh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kita melihat sejarah Iptek Jepang. Ketika mobil-mobil Jepang pertama kali sampai di pasaran internasional tak sedikit yang meremehkan kualitasnya. Tetapi sekarang, siapa yang tidak kenal Toyota sebagai produsen mobil nomer wahid di dunia?

Perdagangan bebas Asean-China sudah berjalan. Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang ketakutan akan terebutnya pasar domestik dan didikte dalam kepemimpinan Ilmu pengetahuan dan teknologi oleh China. Jika Thailand saja optimis bisa mengekspor produk kulinernya ke China, yang dengan demikian berarti akan merambah dunia. Kenapa Indonesia tidak mencoba pada bidang lainnya? Tidak cukup hanya dengan membeli produk buatan dalam negeri, diperlukan semangat yang lebih dari itu.

Kita dapat belajar secara intens sekarang dari China. Pemerintah China sangat serius mengerahkan seluruh daya upaya, sumber daya alam, penghasilan negaranya bahkan para diasporanya untuk pendidikan dan iptek sebagai mesin penggerak pengembangan ekonomi yang berkesinambungan. Dari tahun 2002, China mengalokasikan anggaran negaranya yang besar pada penelitian dan pengembangan. Tindak tanggung-tangung pada tahun 2002 itu, alokasi China untuk Iptek adalah lebih dari 86 trilyun rupiah, atau no 3 di dunia setelah Amerika dan Jepang.

Namun untuk sedikit menghibur, China belum jadi leader yang sebenarnya dalam Iptek. Meskipun berkembang pesat, jumlah peneliti China baru 633 per satu juta penduduk. Meski pasti sangat jauh dari keadaan Indonesia, China dalam hal ini masih tertinggal dari USA yang mempunyai 4526 peneliti per satu juta penduduk atau Jepang yang jumlah penelitinya 5085 orang per satu juta penduduk. Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Penulis:

Is Helianti

Perekayasa BPPT

Posted in sosial politik | Tagged: | 1 Comment »

Raksasa Ekonomi; Berkah Brain Drain?

Posted by ishelianti on June 20, 2008

Seputar Indonesia (SINDO) Minggu, 8 Oktober 2006

Pengamat ekonomi Goldman Sachs memprediksikan bahwa India akan menjadi negara yang berekonomi kuat ketiga setelah USA dan China di tahun 2025. Sebelum mencapai hal ini, di tahun 2020 India akan menjadi yang nomor satu di dunia sebagai pusat yang memproduksi pengetahuan dan teknologi, demikian optimisme Kepala Dewan Saintifik dan Riset Industri India, Dr Mashelkar, seorang mantan brain drain yang berkomitmen kuat dan berpengaruh pada perkembangan sains dan teknologi di negaranya (Science magazine 2005).

Optimisme yang mungkin sedikit kelewatan dari Dr Mashelkan memang beralasan. Karena revolusi diam-diam selama lima tahun terakhir sedang terjadi di India. Ratusan perusahaan global berbasis teknologi canggih, seperti Motorola, Intel, dan IBM mendirikan pusat riset dan pengembangannya (R&D) di India. Perusahaan General Electric (GE), yang mengembangkan pusat R & Dnya di India dengan 2400 pegawai (sepertiganya adalah reversed brain drain India). Ini menjadikan menjadi pusat litbang GE kedua terbesar di dunia.

Alasan GE memilih India? India memang negara berkembang, tetapi infrastruktur yang ditawarkannya tidaklah kalah hebat dengan negara maju, namun pembiayaan R&D tidaklah sedahsyat negara maju, demikian Jack Welch, CEO legendaris GE mengatakan.

Berlombanya perusahaan global menanamkan investasinya di India terkait erat dengan globalisasi ekonomi yang tentu saja dibarengi dengan globalisasi teknologi. Perusahaan besar dunia tersebut memahami bahwa untuk dapat survive dalam persaingan global mereka tidak dapat bertahan dengan mempertahankan kompetensi intinya dengan litbang internal di negara asalnya sendirian. Harus ada cara lebih cerdas untuk bertahan, yaitu dengan mengembangkan produk dengan cara yang lebih murah, yaitu dengan outsourcing (memesan sebagian komponen produk pada negara lain), atau mendirikan pusat litbang di negara yang memungkinkan penyelenggaraannya dengan jauh lebih murah. India menangkap peluang ini.

Tidak hanya investasi pusat R&D perusahaan global yang tumbuh pesat. Perkembangan sektor swasta made in asli India, khususnya industri yang berbasis teknologi canggih seperti bioteknologi dan teknologi informasi juga tak kalah.

Industri Bioteknologi dan IT

Menurut Mani dalam makalahnya di jurnal Int. J. Technology and Globalisation 2006, industri bioteknologi dan teknologi informasi (IT) adalah penyumbang signifikan dalam peningkatan pendapatan kotor perkapita (GDP) (dan tentu saja peningkatan ekonomi India). Memang, sumbangan industri berbasis teknologi baru ini tidak terlalu menonjol mengurangi angka kemiskinan India yang sekitar 26% itu. Namun Mani mengemukakan dalam makalahnya bahwa peran industri berbasis biotek dan IT berhasil mengurangiketidaksetaraan atau mengurangi gap miskin kaya di India, karena berhasil menciptakan kaum menengah tangguh.

Industri berbasis IT dan bioteknologi paling tidak menyumbang 5% GDP India di tahun 2005, dan diprediksikan akan terus meningkat.

Industri obat-obatan domestik India misalnya, menghasilkan 22% dari seluruh obat generik yang ada di pasaran global. Industri biotek lokal juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Sebagai contoh Shantha Biotech. Perusahaan ini berawal modal kecil, yang memproduksi hasil biotek orisinilnya. Sekarang, paling tidak sepertiga dari vaksin Hepatitis B yang beredar di pasaran domestik India adalah produk dari Shantha.

Dulu, pasaran ini dikuasai oleh vaksin impor yang harganya berlipat, sekarang mereka menjual vaksin hanya sekitar 30 sen USD (atau 3000 rupiah) per dosis. Perusahaan ini pun sekarang bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa US yang berbasis biotek dalam pengembangan dan pemasaran internasional rekombinasi DNA vaksin Hepatitis-B di masa dekat.

India dan Brain Drain

Mengapa perkembangan industri berbasis teknologi baru demikian pesat di India? Mengapa pula reputasi India sangat baik bagi kalangan industri global untuk membuka pusat R&Dnya di India?

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan perkembangan industri berbasis sains dan teknologi yang pesat di India saat ini berhubungan erat dengan sejarah panjang negara ini mengalami brain drain, yaitu fenomena beremmigrasinya SDM yang berketrampilan dan berpengetahuan tinggi dari India ke negara maju, khususnya AS.

Mari kita tengok.

Selama dekade 1990-an adalah masa keemasan bagi para sarjana India yang ingin melakukan brain drain ke Amerika Serikat. Banyak perusahaan di Amerika, khususnya yang bergerak di bidang IT menawarkan green visa (visa menetap permanen) bagi orang pintar IT dari India. Dari 195 000 visa untuk pekerja profesional di Amerika yang dikeluarkan selama dekade 1990-an, 45%nya diberikan pada para brain drain India! Alasannya, reputasi kaum terampil India sangat baik. Sarjana lulusan IT India rata-rata berbakat, fasih berbahasa Inggris, dan tidak banyak menuntut. Tentunya, penawaran visa ini suatu undangan yang menggiurkan bagi orang-orang pintar ini.

Dari sudut pandangan individu, tak ada yang lebih membuat bersemangat bagi orang muda yang pintar, selain mereka dapat berkarya dan mendapat penghargaan dan penghidupan yang layak dari hasil karyanya, hatta di negeri orang.

Prestasi penduduk Amerika asal India ini memang sangat cemerlang. Di tahun 1998, warga negara India di Amerika menguasai 775 perusahaan teknologi informasi dengan omset 3.6 milyar USD (35 trlyun rupiah ) per tahun dan sanggup menyediakan 16 600 lapangan kerja! Karena itu pada saat itu mereka adalah pembayar pajak yang signifikan di AS.

Akan tetapi bagi pemerintah India, saat itu, tentu saja lain persoalan. India adalah negara yang sangat parah mengalami brain drain. Sejak India merdeka dari Inggris tahun 1947, hengkangnya para SDM berskill tinggi dan berpendidikan membuat pemerintahan India sakit kepala.

Menurut laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun 2001, India kehilangan paling tidak 2 milyar US dolar (atau sekitar 18 trilyun rupiah), jika nilai para SDM trampil yang brain drain dikonversi ke dalam hitungan ekonomi!

Selama periode 1998-2001, hanya 27% SDM program doktoral yang kembali ke India setelah menyelesaikan studinya di USA. Berarti sebanyak tiga perempat dari orang-orang pintar itu memilih tetap tinggal di AS dan mencari pekerjaan di sana.

Tabel 1. Penerima gelar doktor dalam sains dan engineering dan persentase tetap tinggal di AS dari beberapa Negara

Kebijakan Pemanfaatan para Diaspora

Pemerintah India memahami bahwa para brain drain adalah aset bangsa yang tidak boleh diabaikan dan disia-siakan. Keberadaan SDM India berketrampilan dan berpendidikan tinggi di negara maju harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan ekonomi, sains dan teknologi negara asal (India) yang selama ini telah menderita karenanya.

Maka pemerintah India mulai proaktif menjalankan kebijakan pemanfaatan para brain drain yang tersebar (diaspora) di seluruh dunia untuk berkontribusi bagi kemajuan India. Alih-alih menghalangi para orang pintarnya brain drain, India malah seolah membiarkan para SDMnya untuk brain drain dan berdiaspora di berbagai negara dengan beragam ketrampilan dan pengalaman yang mungkin lebih sukar mereka peroleh jika berada di negeri sendiri. Namun, mereka ternyata tak hanya diam. Mereka menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat mengubah brain drain menjadi brain gain.

Pertama, India menyusun kebijakan-kebijakan untuk membuat iklim yang kondusif bagi penanaman investasi modal asing. Misalnya, mereka terus mempertinggi kualitas perguruan tinggi dan lembaga riset, mengarahkan lembaga riset untuk menghasilkan riset yang berorientasi industri, mendirikan pusat-pusat teknologi informasi untuk perluasan jaringan, juga terus mempromosikan hal-hal menarik bagi investor: upah SDM trampil yang jauh lebih murah dari negara maju dan populasi manusia yang dapat berbahasa Inggris.

Sehingga diharapkan banyak perusahaan asing yang berbasis teknologi dan riset mau berinvestasi di India, khusunya di investasi pusat R&D. Dengan demikian diharapkan dapat menekan jumlah para brain drain ke negara maju. Mereka akan terserap pada R&D perusahaan asing yang ada di dalam negeri. Pada gilirannya, kondisi yang kondusif untuk riset dan berkarya akan mendorong para diaspora untuk pulang ke negaranya, berkarya dan berinvestasi di negaranya, membesarkan anak-anak mereka di India, dan pada akhirnya membesarkan perekonimian India.

Di samping itu India juga membuat kebijakan-kebijakan yang menarik bagi para brain drain agar menjadi brain gain dan kembali ke negaranya dengan membuat kebijakan yang sinergis antar departemen. Misalnya kementrian yang mengurusi warga India di perantauan ditingkatkan anggarannya 5 kali lipat. Bekerja sama dengan Departemen urusan LN mereka membuat ketetapan akan dua kewarganegaraan, pengakuan atas orang keturunan India, kerja sama riset yang ditujukan untuk para saintis yang bekerja di LN untuk mengajar di universitas dalam negeri, dan lain-lain. Menariknya mereka juga mengurusi usaha diplomatik untuk tetap berhubungan dengan para diaspora, misalnya merayakan pencapaian prestasi gemilang mereka di luar negeri sana.

Kebijakan pemerintah India rupanya bersambut karena menjadi penyelamat yang tepat bagi para brain drain, khususnya di bidang teknologi informasi yang mau tidak mau menjadikan negeri asalnya sebagai tempat berlabuh.

Masa keemasan ekonomi dan kejayaan teknologi informasi mulai memudar di AS sejak tahun 2000. Krisis ekonomi AS menyebabkan banyak perusahaan IT yang bangkrut dan mau tidak mau harus memPHK para staf ahlinya. Berduyunlah arus balik brain drain ke India. Sebagian yang pernah menjadi pengusaha di Silicon Valley. mendirikan perusahaan di Bangalore.

Trend berinvestasi di negara asal juga didukung oleh kondisi bahwa perusahaan besar negara maju cenderung melakukan kebijakan outsourcing dalam mendapatkan software agar dapat lebih kompetitif di era global. Sehingga banyaklah perusahaan IT yang memproduksi software untuk diekspor ke perusaahaan IT di AS.

Misalnya kisah Nagarajan. seorang braindrain alumni Silicon Valley yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran. jika pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu 2.2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

Jadi mungkin tak berlebihan jika perkembangan ekonomi berbasis sains dan teknologi yang pesat di India sekarang ini adalah berkah dari brain drain.

Penulis: Dr. Is Helianti. MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri. BPPT, menyelsaikan S1 hingga Posdoktoral di Jepang.

Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | Tagged: , , | 1 Comment »

Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang

Posted by ishelianti on November 9, 2007

Sumber: Kompas 16 September 2001

Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang

Oleh: Is Helianti

JEPANG sekarang memang sedang berjuang keras untuk mencegah kebangkrutan ekonominya. Meskipun demikian, tak pelak lagi, Jepang masih nomor satu di Asia dalam hal penguasaan iptek. Bagi masyarakat Jepang informasi hasil perkembangan iptek nampak sudah menjadi teman sehari-hari.

Alat-alat listrik berteknologi baru bersaing muncul satu per satu di dunia industri elektronik, menawarkan alternatif baru pada konsumen. Dari kulkas berenergi rendah sampai mesin cuci dengan prinsip gelombang sonik yang tak perlu sabun cuci. Mobil hibridisasi yang ramah lingkungan karena tak banyak mengeluarkan gas karbon dioksida berlomba-lomba muncul di pasaran. Di bidang bioteknologi, Jepang mengejar ketinggalannya dari Amerika dan Eropa, dengan menyelesaikan pembacaan genom beberapa mikroba yang bernilai industri. Juga menyaingi Eropa dalam teknologi sapi kloning.

Implementasi konsep sosiolisasi iptek tampaknya telah begitu lekat dalam infra struktur masyarakat Jepang. Iptek telah menjadi budaya yang telah menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Media massa, industri, lembaga pendidikan (dari SD sampai universitas), dan lembaga penelitian pemerintah membuat kerja sama sinergis tanpa gembar-gembor dalam sosialisasi iptek.

Peran lembaga pendidikan

Budaya iptek Jepang adalah cerminan dari perkembangan iptek Jepang sendiri yang maju begitu pesat sejak kekalahannya dalam perang dunia kedua. Tahun 1958 Jepang mencanangkan pembebasan dari ketergantungan impor dan menjadi negara mandiri dalam memproduksi dengan berbasis iptek. Bersamaan dengan itu sosialisasi dan pendidikan iptek pada publik mulai gencar ditanamkan (Buku Putih Iptek Jepang).

Pada tahun tersebut juga mulai diterapkan pendidikan iptek sejak dini lewat pendidikan formal dari SD, SMP, SMA sampai universitas. Semangat untuk meneliti telah mulai ditanamkan sejak SD. Setiap liburan panjang para murid SD mendapat pekerjaan rumah penelitian bertema bebas. Hasil penelitian mereka dibuat laporan dan diumumkan di depan teman-teman sekelas.

Pada tingkat SMP dan SMA, setiap liburan musim panas, para guru ilmu alam dituntut untuk menyerahkan proporsal penelitian yang bisa dilaksanakan bersama-sama satu kelas.

Sedangkan pada tingkat perguruan tinggi, perguruan tinggi menempati peran sangat strategis. Di universitas Jepang berkumpul sepertiga dari keseluruhan jumlah tenaga peneliti yang berjumlah total 730.000 orang, dan sekitar 20 persen dari dana penelitian yang dianggarkan negara (sekitar 3.2 trilyun yen) dialokasikan untuk pengembangan riset dan penelitian di universitas (Departemen ekonomi, perdagangan, dan industri Jepang).

Karena itu di Jepang, universitas selain sebagai lembaga pendidikan yang menyuplai SDM-SDM spesialis juga adalah lembaga penelitian. Kegiatan penelitian di universitas telah dimulai secara struktur sejak tahun keempat undergraduate. Ini yang membedakan Jepang dengan Amerika Serikat.

Pada tahun kedua atau ketiga, para mahasiswa diprogramkan untuk melakukan kunjungan ke berbagai perusahaan. Tujuannya, di samping untuk memberi wawasan para mahasiswanya untuk memilih pekerjaan yang sesuai minatnya di masa depan, juga memberikan wawasan mereka tentang penerapan iptek secara riil di dunia industri.

Universitas juga dituntut untuk melayani masyarakat dalam informasi ilmiah dan kerja sama dengan pihak industri. Kerja sama dengan berbagai pihak industri dikenal dengan san-gaku-renkei (san berarti industri, gaku berarti dunia akademis, dan renkei berarti kerja sama), yang melahirkan kerja sama sinergis dalam pengembangan iptek. Pengembangan riset dasar dilakukan di universitas, sedangkan aplikasi dan komersialisasinya dilakukan oleh pihak industri.

Selain itu pelayanan kepada masyarakat sekitar kampus diwujudkan dengan penyelenggaraan open campus secara periodik. Di mana dalam satu hari kampus dibuka untuk dikunjungi masyarakat umum. Setiap laboratorium dalam kampus mendemonstrasikan hasil penelitian yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat umum dari berbagai usia, dari anak kecil sampai kakek nenek. Walau open campus ini baru dipopulerkan tahun-tahun terakhir, ternyata mendapat sambutan yang sangat baik dari pihak universitas maupun masyarakat sekitar.

Selain open campus, banyak universitas yang menyelenggarakan program sekolah musim panas atau satu hari menjadi mahasiswa. Program ini mengundang murid-murid di level sekolah menengah untuk merasakan menjadi mahasiswa dalam satu hari. Atau merasakan penelitian di universitas selama sepekan dalam sekolah musim panas.

Kerja sama cantik

Tak dapat dipungkiri, media massa, telah menjadi alat penyebaran iptek yang sangat efektif di Jepang. Khususnya televisi menjadi ajang promosi sekaligus sosialisasi sains dan teknologi baru. Ini merupakan cerminan dari konsep iptek mereka. Bahwa pengembangan iptek ditujukan untuk kestabilan dan kemajuan ekonomi bangsa. Maka persaingan perusahaan-perusahaan besar di bidang penjualan produk-produknya adalah equal dengan persaingan hasil pengembangan riset dan teknologi selama bertahun-tahun.

Televisi di samping sebagai ajang iklan produk-produk berteknologi baru, juga alat informasi yang efektif untuk memasyarakatkan iptek. Stasiun televisi, dari yang milik pemerintah sampai swasta, seperti berlomba-lomba menyajikan acara yang berbau ilmiah atau berbau sains dan teknologi.

Acara ini dikemas dalam bentuk bermacam-macam. Jika anda mau yang ringan-ringan saja, anda bisa mengikuti acara TV yang berbentuk quiz. Anda tinggal pilih quiz yang mana yang anda sukai. Jika anda tertarik dengan dunia binatang, tertarik dengan ekologi mereka, namun tak ingin bermumet-mumet seperti mahasiswa di jurusan zoologi, anda bisa saksikan. Anda dapat memahami bahasan sambil tertawa dengan senang hati. Ingin yang lebih serius, anda bisa menonton di chanel lain, yang menyajikan flora dan fauna dalam layar lebar (high vision).

Atau, jika anda tertarik dengan sejarah bangsa-bangsa di dunia, tertarik dengan berbagai kebudayaan di berbagai negara, ada pula acara quiz untuk itu. Bahkan, sebagai seorang Indonesia, saya sangat interest dengan acara ini. Banyak bagian Indonesia yang baru saya ketahui setelah melihat quiz ini, karena Indonesia beberapa kali muncul sebagai bahasa acara.

Tidak sampai di situ. Fenomena sehari-hari bahkan dijelaskan dengan ilmiah populer dan menarik. Misalnya, bagaimana memasak nasi yang enak, dengan terlebih dahulu meneliti parameter nasi yang enak tersebut bagaimana. Bagaimana kelengketannya, kandungan airnya, struktur permukaannya. Semua dengan eksperimen!

Informasi iptek baru, seperti pembacaan genom manusia atau pengobatan penyakit kanker yang paling mutakhir dikemas dalam acara khusus televisi dalam beberapa seri.

Bahkan musibah atau kecelakaan alat transportasi seperti kecelakaan pesawat bukan suatu hal yang begitu saja dilewatkan. Sebab-sebab untuk mencari penyebab kecelakaan dan analisanya sehingga tidak terulang di lain waktu juga menjadi ajang persaingan berita berbagai stasiun TV.

Walau acara-acara seperti ini kental dengan promosi suatu produk perusahaan. Tetapi tak mengurangi nilai ilmiah dan kejujuran. Karena para pakar dari universitas dan lembaga penelitian banyak dipakai untuk menjelaskan berbagai fenomena yang ada.

Jadi dalam sosialisasi iptek dengan TV ini banyak sekali yang diuntungkan. Stasiun televisi karena mendapat masukan dari iklan, pihak sponsor karena bisa mempromosikan produknya, para ahli yang bisa menjadi ajang publikasi kepakarannya dan penelitiannya, di tambah pihak pemirsa T yang menjadi tercerahkan oleh program iptek yang ditontonnya.

Anda pun bisa belajar autodidak lewat TV asal serius dan disiplin. Karena TV pendidikan milik pemerintah menyediakan program bahasa asing, dari Inggris sampai Rusia. Sayang belum ada bahasa Indonesia.

TV pendidikan pemerintah juga menyajikan kuliah dari berbagai profesor dari universitas secara periodik. Orang Jepang lulusan SMA bisa punya pengetahuan selevel mahasiswa graduate asal dia mau berlama-lama dan disiplin mendengarkan kuliah banyak profesor dari berbagai bidang lewat TV.

Dapat disimpulkan, televisi Jepang adalah bukan media hiburan semata-mata. Nampaknya, tanpa gembar-gembor, TV Jepang menyadari perannya yang sangat besar dalam sosialisasi iptek yang merupakan tulang punggung perekonomian mereka. Bagaimana menyajikan iptek dengan suasana menyenangkan dan menarik tanpa mengurangi bobot ilmiahnya, bagaimana menyajikan iptek dalam bahasa persuasif dan mudah dipahami orang awam nampaknya menjadi strategi pemasaran tiap-tiap stasiun televisi.

Media massa lain, seperti surat kabar daerah juga tak ketinggalan peran. Surat kabar daerah menyediakan kolom khusus untuk iptek setiap harinya, dan para wartawannya melakukan kunjungan secara periodik ke laboratorium-laboratorium universitas maupun lembaga penelitian daerah. Buat lembaga penelitian atau universitas, dengan dimasukkan hasil penelitiannya dalam kolom iptek koran, di samping merupakan salah satu sumbangsihnya kepada masyarakat, juga merupakan sarana publikasi peneliti dan lembaga yang bersangkutan.

Sosialisasi iptek di Indonesia

Sosialisasi iptek di Indonesia masih kembang kempis. Kenyataan yang harus segera dirubah. Walau ada pula beberapa kemajuan seperti adanya beberapa situs iptek yang menyajikan berita iptek yang di update setiap hari. Namun, lagi-lagi, ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan yang mampu ber-Internet, sehingga informasi iptek hanya bisa merambah masyarakat kelas menengah ke atas. Belum bisa merambah pedesaan dan daerah.

Di sinilah peran besar surat kabar daerah maupun stasiun televisi. Sudah saatnya untuk melirik iptek sebagai komoditas hiburan sekaligus informasi. Karena sekarang, di Indonesia TV dan koran daerah relatif telah menjamah pedesaan.

Di atas semua itu adalah kelancaran penelitian dan pengembangan iptek itu sendiri. Karena sosialisasi tentu saja membutuhkan produk penelitian, yang inovatif maupun improvitatif. Yang tak akan ada hasilnya jika penelitian mandek. Di sinilah dituntut peran besar perguruan tinggi dan lembaga penelitian, karena di dalamnya berkumpul SDM-SDM iptek.

Juga kesadaran para peneliti sendiri untuk memasyarakatkan penelitiannya sangat penting. Mungkin kita harus meniru para peneliti Filipina, yang menyiarkan penelitiannya lewat radio-radio. Karena di Filipina, konon hanya media inilah yang bisa merambah desa-desa. Peneliti tidak dapat meminta masyarakat dan negara untuk mengalokasikan dana besar untuk pengembangan iptek jika kita tidak untuk mengalokasikan dana besar untuk pengembangan iptek jika kita tidak mempromosikannya kepada masyarakat. Karena masyarakat yang mengerti dan sadar akan pentingnya iptek tidak dapat dihasilkan dalam waktu instant, tetapi membutuhkan waktu bertahap serta usaha para peneliti untuk memasyarakatkan sendiri iptek.

  • Is Helianti, peneliti postdoctoral dalam bidang biotek pada Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), dan juga peneliti ISTECS-Japan . Sekarang peneliti di BPPT.

Posted in Artkel di Media Massa | Tagged: , | 4 Comments »