Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

MELONGOK BUDAYA BACA DAN TULIS MASYARAKAT JEPANG

Posted by ishelianti on October 21, 2009

  • Ini adalah salah satu artikel saya yang laku dibajak….:-))

Semoga manfaat!

======

Sampai saat ini, Jepang adalah satu-satunya negara di Asia yang mempunyai kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan raksasa dunia seperti Amerika. Tak heran, jika perdana mentri Malaysia Mahatir Muhammad, menjadikan Jepang sebagai kiblat pengembangan iptek ketimbang barat. Cerita mengenai kehebatan Jepang dapat bangkit dengan cepat dari puing-puing kekalahan perang dunia kedua, menginspirasi banyak negara di Asia untuk dapat menjadi seperti Jepang. Sifat dasar orang Jepang memang tekun dan pekerja keras. Selain itu rata-rata dari mereka mempunyai keinginan untuk selalu belajar dan selalu memperbaikin hasil kerja mereka. Mungkin sifat-sifat dasar ini menjadi salah satu pendukung kehebatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca dan tulis masyarakat Jepang.

Banyaknya fasilitas membaca, surga buat penggemar buku

Menurut data dari bunkanews (situs khusus tentang media massa berbahasa Jepang), jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Toko buku yang ada tak melulu toko buku baru. Masih menurut bunkanews, toko buku bekas atau toko buku tua menempati presentase sepertiga jumlah toko buku. Artinya, jumlah toko buku bekas adalah separuh jumlah toko buku baru. Keberadaan toko buku bekas ini sangat menolong konsumen buku, karena mereka bisa mendapatkan buk  mendapatkan buku-buku tua yang sangat bernilai namun sudah tak lagi diterbitkan. Toko-toko buku ini berani
untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Mengapa demikian? Karena kaki para konsumen buku terus mengalir sampai malam. Banyak di antara mereka yang datang hanya untuk sekedar “tachi yomi” (artinya membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli) melepas kebosanan di malam hari. Tachiyomi sekilas tampaknya hanya merusak pemandangan toko. Namun ternyata oplag penjualan berbanding lurus dengan jumlah orang yang tachiyomi. Artinya, ada kencenderungan sehabis tachiyomi orang tergerak untuk
membeli bacaan lainnya. Selain toko buku, perpustakan pun sangat mudah kita temui di sekitar kita. Di daerah pedesaan, biasanya, perpustakaan ini dikelola oleh pemerintah daerah setingkat kecamatan
Sebab itu, meskipun di pedesaan buku bukanlah barang mahal yang sulit di dapat.

Rata-rata orang Jepang gemar membaca, atau paling tidak, gemarmencari informasi -yang tampak remeh sekalipun- dari orang lain. Bahkan banyak para artis yang mempunyai hobi membaca. Kecenderungan ini dipakai oleh para penerbit sebagai ajang promosi buku-buku merekadi televisi.Di salah satu televisi swasta ada acara yang disebutacara “toko buku Sekiguchi”. Dalam acara ini para artis atau pelawak mempresentasikan referensi suatu buku, sedangkan artis lain yanghadir diminta untuk membeli berdasarkan kesan mereka terhadappresentasi tersebut dari kocek mereka sendiri. Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lamatoko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar TV dan memesan lewat internet atau telpon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah “televisi shopping”, namun yang
dipromosikan adalah buku. Ketika kita masuk ke sebuah toko buku, biasanya ada beberapa hal khas yang kita jumpai. Pertama, biasanya buku-buku bacaan di Jepang, novel, kumpulan essai, ataupun ilmiah populer didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Sehingga kita tidak enggan membawa buku tersebut baik ketika dalam perjalanan ke kantor ataupun berbelanja. Orang yang membaca buku (tentu juga komik
ataupun majalah) akan sangat mudah kita temui di bis-bis kota ataupun di kereta-kereta listrik. Kedua, kita akan susah mendapatkan buku- buku berbahasa Inggris di toko-toko buku Jepang pada umumnya. Ini
karena, para penerbit Jepang sangat memperhatikan penerjemahan buku- buku hasil karya penulis dari negara-negara lain.

Bahkan banyak kasus buku best seller yang diterbitkan di negara lain diterbitkan pula
terjemahannya di Jepang dalam waktu yang hampir berbarengan, seperti buku Harry Potter yang ngetop di Amerika itu. Ini tentu saja karunia bagi masyarakat Jepang khususnya para penggemar buku. Mereka bisa
menikmati hasil karya penulis-penulis beken negara lain dalam bahasa mereka sendiri. Suatu karunia yang kita pikir hanya dipunyai oleh negara-negara berbahasa Inggris, seperti Amerika atau sebagian negara
Eropa. Hanya toko-toko besar tertentu (dan biasanya di daerah perkotaan) yang menyediakan buku-buku impor berbahasa Inggris dan bukan terjemahannya.

Mengarang Sejak Kanak-Kanak

Budaya baca masyarakat Jepang yang tinggi ini tentu saja merupakan efek timbal balik dari tingginya budaya tulis mereka. Ada konsumen karena ada produsen, ada produsen karena ada konsumen. Budaya tulis Jepang sudah  biasaya selalu mempunyai tugas “sakubun” (artinya mengarang) dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya, ketika mereka libur musim panas, musim dingin, atau libur kenaikan kelas, selalu ada tugas sakubun
tentang apa yang mereka kerjakan, rasakan, dan alami selama liburan. Atau, ketika hari-hari tertentu, hari ayah atau hari ibu, murid-murid SD ditugaskan untuk membuat sakubun tentang ayah dan ibu mereka.
Kesan mereka terhadap ayah dan ibu mereka masing-masing ditulis dalam bentuk sakubun, lalu hasil karangan tersebut mereka presentasikan di depan kelas.

Ketika mereka akan lulus SD, mereka ditugaskan untukmengarang tentang impian (cita-cita) mereka ketika mereka dewasa kelak. Tentu saja tulisan mereka ini didokumetasikan dalam bentuk buku dan disimpan dengan baik oleh pihak sekolah. Sehingga mereka bisa bernostalgia dengan impian masa kanak-kanak mereka, ketika mereka bereuni setelah dewasa dan membaca sakubun mereka ketika sekolah dasar. Maka tak heran, jika rata-rata anak Jepang pandai mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan lewat rangkaian kata-kata. Ditambah lagi, karena bahasa Jepang adalah bahasa yang dibangun bukan berdasarkan huruf melainkan karakter gambar (yaitu kanji). Ini menjadikannya sangat kaya dengan ungkapan dan nuansa dan sangat ekspresif untuk bahasa sastra tulis. Sebagai contoh, kata “berpikir”.

Biasanya, orang Jepang menggunakan karakter atau kanji yang berbeda untuk berpikir yang menggunakan akal seperti dalam kalimat: “Berpikir tentang kejadian alam semesta”, dengan berpikir yang menggunakan
perasaan seperti dalam kalimat “Berpikir tentang mu membuat saya terkenang-kenang masa lalu”. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Siapa Saja bisa Jadi Penulis

Tingginya budaya tulis masyarakat Jepang juga dikarenakan merekaadalah “learning society”, yaitu masyarakat yang senang belajar dan ingin well informed. Rata-rata dari orang Jepang senang untuk mencoba mensistemasikan segala informasi yang mereka dapatkan dan mendokumentasikannya menjadi pengetahuan praktis yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Siapapun, apapun profesinya dapat
menjadi penulis amatiran dan menerbitkan buku yang dapat menjadi informasi untuk orang lain. Dari ibu rumah tangga biasa sampai kalangan artis sangat mudah membuat buku ataupun tulisan. Tidak
berlebihan jika banyak dari orang Jepang yang punya keinginan untuk menulis buku tentang diri mereka sendiri (otobiografi) sebelum merekameninggal, sebagai “jejak” atau “tanda” mereka pernah hidup di dunia
ini.

Ada seorang ibu rumah tangga yang mengalami pindah rumah beberapa kali, dan dari pengalamannya tersebut dia menulis sebuah buku tentang pindah rumah yang efisien sekaligus menyenangkan. Juga dari
pengalaman, ada ibu rumah tangga yang menulis satu buku tentang kiat- kiat untuk memutuskan membuang atau menyimpan suatu barang. Hal-hal yang mereka tulis memang tampak sepele, tapi hal-hal tersebut
terkadang menjadi penting dan bermanfaat pada saat-saat tertentu. Sehingga penerbit berani menerbitkan tulisan mereka dan dilirik oleh konsumen di toko buku. Contoh lain adalah seorang artis yang terkena
kanker rahim di saat hamil, sehingga dia harus menggugurkan kandungannya untuk penyembuhan kankernya dan kelangsungan hidupnya.

Sang artis menulis perjuangannya melawan kanker, menyampaikan tentang apa yang dia rasakan, pikirkan, dan alami dalam satu buku. Buku ini memang buku seorang penulis “amatiran” namun sarat dengan pesan-pesan untuk para ibu dan penyemangat wanita-wanita yang mempunyai penderitaan yang sama. Masih banyak lagi contoh lain yang menggambarkan betapa menulis dan menerbitkan buku bukanlah hak khusus penulis profesional belaka dalam  semua orang yang ingin menyampaikan pengetahuannya, pesannya, dan
keberadaannya kepada orang lain.

Budaya baca dan tulis masyarakat Jepang nampaknya juga tak bisa  dipisahkan dari keberadaan komik, yaitu buku cerita fiksi bergambar. Bisa dikatakan Jepang adalah masyarakat yang kaya akan komik. Berbagai jenis komik akan mudah kita dapatkan di toko-toko buku bahkan convinient store 24 jam. Ada komik humor, komik cerita
imajinasi, atau komik yang erat dengan pendidikan. Bahkan film-film kartun Jepang hampir seluruhnya (juga yang diputar di Indonesia sekarang ini) adalah berasal dari karya komik.

Ada seorang sosiologi yang mengatakan, bahwa orang asing bisa belajar tentang representatif masyarakat Jepang lewat salah satu komik Jepang yang telah dianimasikan seperti “Keluarga Sazae”. Komik filem ini sudah diproduksi sampai puluhan ribu seri sejak puluhan tahun lalu dan menggambarkan sebuah keluarga Jepang dua abad keturunan, abad, orang
tua, dan kakek nenek. Tokoh-tokoh kartun ini berkembang dari tokoh utama (Sazae) kecil sampai dia menikah dan mempunyai anak. Sayang, pertumbuhan sang tokoh berhenti sampai di situ.

Walaupun demikian, pembuat komik “Keluarga Sazae” pun dimasukkan dalam daftar sastrawan Jepang yang memberikan kontribusi besar pada pendidikan masyarakat Jepang. Karena itu, imej komik di Jepang tidaklah melulu buruk, bahkan dihargai keberadaannya dalam budaya tulis dan baca di masyarakat Jepang. Begitulah masyarakat negara matahari terbit ini. Kita dapat melihat bahwa budaya tulis dan baca mereka yang tinggi didorong oleh besarnya apresiasi mereka terhadap hasil karya orang lain, hasil proses kreatif orang lain, juga besarnya keinginan mereka untuk berbagi informasi dengan orang lain dan mengekspresikan diri. Mudah-mudahan beberapa tahun kedepan, suatu masyarakat dengan kecenderungan yang sama akan kita jumpai di tanah air. Semoga.(is01)

Advertisements

Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Ketika tulisan saya dibajak….

Posted by ishelianti on October 21, 2009

Ketika menulis artikel di media maya, saya sudah mengetahui resikonya. Bahwa orang yang tidak beretika akan seenaknya copy paste tulisan saya dan diakuinya sebagai miliknya sendiri. Tapi sedih juga, ketika dengan mata kepala sendiri membaca langsung tulisan saya diatas namakan orang lain. Beberapa tulisan yang dibajak adalah artikel tentang pengamatan saya terhadap perilaku dan budaya masyarakat Jepang, seperti : “Memasyarakatkan Iptek belajar dari Jepang”, “Melongok Budaya Baca Tulis Masyarakat Jepang” yang saya tulis ketika saya masih tinggal untuk studi di sana.

Saya dan beberapa teman-teman sekota di wilayah Hokuriku pernah mengelola Majalah Muslimah On Line yang judulnya “Hokuriku MuslimahOn Line”.  Sekarang sudah tidak terbitlagi karena kami sudah kembali ke tanah air. Banyak artikel dari majalah on line ini yang dikopi paste ke milis-milis tanpa menyebut yang membuat. Parahnya, juga ada yang mengklaim dia yang membuat sementara initial penulis yang biasanya saya singkat di paling akhir artikel bersamaan dengan nomer misalnya (is01) masih tercantum di artikel. Lalu ada juga yang mengirimnya ke surat kabar tanpa malu-malu!

Mungkin saya harus maklum. Bangsa ini memang masih kurang menghargai hak cipta seseorang. Padahal hak cipta bersifat deklaratif, artinya dia melekat pada sang pembuat saat hasil karya itu dipublikasikan oleh sang pembuat. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari tulisan saya di dunia maya, saya juga tidak keberatan ketika tulisan itu disebar tanpa seijin saya, asalkan nama saya dicantumkan sebagai penulis. Ini adalah kesepakatan moral yang universal. Jadi jelas saya tersinggung ketika ada orang yang dengan tanpa malu hati mengakui 100% hasil kreativitas dan analisa saya sebagai tulisannya.

Lewat blog ini saya katakan, bahwa silakan 100% mengkopipaste tulisan saya. Namun bersikap sportiflah, bahwa cuma itulah yang anda lakukan dengan menyebut bahwa saya penulisnya, bukan dengan menghapus nama saya lalu menggantinya dengan nama anda…

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Catatan 20 tahun berjilbab ~Antara Jilbab, Kajian Islam, dan Teroris

Posted by ishelianti on October 15, 2009

Membaca dan mendengar berita akhir-akhir ini sangat menyesakkan dada. Salah satunya, Densus88 menggerebek sebuah rumah kos di Ciputat dan menembak mati para tersangka teroris. Sesak dada, karena menurut berita ada mahasiswa-mahasiswa generasi harapan yang tersangkut kasus ini. Para mahasiswa yang taat beribadah dan bersemangat dalam mengkaji Islam, disinyalir berkaitan. Seorang mahasiswa lain mengisahkan bahwa dia hampir saja direkrut oleh para tersangka teroris, didekati secara agresif sehingga ketakutan.

Di tengah berita seperti itu banyak yang berkecamuk dalam benak. Antara lain, efek domino dari pemberitaan dan fakta ini. Bahwa kajian Islam di kampus-kampus mungkin akan ditakuti oleh para generasi muda dan para orang tua yang mempunyai anak mahasiswa. Karena mengikuti kajian keislaman rutin, lalu menjadi taat beribadah dan taat menjalankan perintah agama identik dengan mendekat pada teroris. Padahal bisa dijamin sebagian besar kajian Islam, pengajian, dan majelis ilmu yang ada sama sekali jauh dari suasana tersebut.

Karena itu saya ingin menuliskan pengalaman pribadi saya untuk saya bagi, terutama bagi adik-adik mahasiswa. Pengalaman hidup yang bagi saya merupakan harta kekayaan tak ternilai yang membuat saya terus bersyukur telah melaluinya. Dan semoga bermanfaat khusunya dalam membuat kita untuk terus belajar menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Sehingga kita tak ragu berlari mendatangi hidayah dengan rajin-rajin menghadiri kajian Islam yang kaya manfaat, namun tidak meninggalkan daya kritis sebagai pemuda…

Bulan Oktober ini, tepat 20 tahun saya memakai jilbab, tepatnya busana yang menutup aurat. Sebenarnya, ini bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bagi saya yang mengikuti pendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah tentu bukan prestasi. Berjilbab tentulah sama artinya dengan mengapa saya harus sholat, mengapa saya harus puasa, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kewajiban yang saya pilih dengan kepala sehat, yakini, dan tanpa paksaan untuk saya jalankan.

Berjilbab menjadi spesial buat saya karena momentum berjilbab inilah yang selalu mengingatkan saya untuk dapat menjalani apa yang saya yakini benar dengan memohon bimbingan Allah selalu. Momentum jilbab inilah yang menjadikan titik berangkat saya untuk selalu ingin berusaha jadi muslimah hamba Allah yang sejati tanpa kehilangan diri sendiri. (Walau sejujurnya, saya merasa masih jauh dari sosok muslimah hamba Allah yang sejati)

Selain bersyukur pada Allah atas hidayah ini, tentu saja saya harus berterima kasih pada kajian-kajian keislaman di STAN waktu itu. Berterima kasih pada mentor-mentor kajian yang telah membukakan mata saya akan keindahan islam, keindahan berakhlak mulia, keindahan mengasihi dan berbakti pada ibu dan bapak, keindahan bersikap santun dan baik pada semua orang, muslim dan non-muslim.

Sebelum mengkaji Islam, sebelum berjilbab, saya bisa jadi anak yang kasar pada orang tua. Anak yang tak bisa maklum pada kekurangan manusiawi mereka sebagai orang tua. Tetapi mengkaji Islam, berjilbab, membuat saya malu untuk sering-sering berbantahan dengan ibu. Banyak perilaku-perilaku positif yang saya latih setelah berjilbab dan mengikuti kajian Islam secara rutin. Berkat jilbab dan mengkaji Islam secara rutin dan tentu saja hidayah Allah SWT saya mantap menikah di usia muda, percaya diri untuk mengambil beasiswa ke Jepang dan meneruskan hingga doktor, mantap menekuni dunia kerja penelitian dengan idealisme ibadah membangun tanah air yang saya cintai, dan meyakini di jalan profesi inilah dakwah saya.

Tentu bukan tanpa dinamika. Saya pernah gelisah ketika ada pendapat bahwa muslimah ”haram” bekerja. Muslimah cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Dan banyak dari angkatan saya yang drop out dengan sengaja dari kuliah karena alasan ini. Nalar saya sebagai remaja memberontak. Jadi muslimah tidak boleh berprestasi? Muslimah tidak boleh bekerja? Berjilbab equal dengan kemandekan? Alhamdulillah, saya tak pernah menanggalkan daya kritis saya. Kegelisahan saya terjawab, dan sekarang seperti yang anda baca, saya bekerja dan tetap berjilbab dengan segala sikap yang saya yakini…:-)

Karena itu, tetaplah berlari menggapai hidayah dan bimbingan Allah. Jangan menjauh dari kajian Islam hanya karena takut terjatuh dalam jeratan teroris. Kajian-kajian islam adalah kegiatan yang positif. Daripada menghabiskan masa remaja dengan kegiatan yang tak tentu arah atau malah menyerempet hal-hal yang menyimpang seperti narkoba atau pergaulan bebas. Tetapi tetaplah open mind, berdiskusi dengan banyak pemikiran, bergaul dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip diri, bersikap kritis dengan prasangka baik. Dan tentu yang utama, selalu berdoa mohon petunjuk Allah untuk membimbing kita selalu agar selalu ada dalam kebaikan. Islam itu indah dan menjadi muslim itu adalah membawa misi menjadikan nilai-nilainya  rahmatan lil alamin….

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Posted by ishelianti on September 3, 2009

Ini ada artikel saya jaman baheula ( 8 tahunan lalu kali ya?). Saya sedang merenung tentang banyaknya kontent dan kompleksnya tuntutan kurikulum anak SD saat ini. Terus terang, sedari kecil saya tak pernah diperintah untuk belajar atau dibimbing dalam mengerti pelajaran. Mengalir begitu saja.Tapi melihat tuntutan kurikulum saat ini, rasanya sama dengan menjerumuskan anak jika saya hanya percaya anak saya pasti bisa tanpa membimbingnya belajar secara intens di rumah.Tuntutan dan konten kurikulum khususnya pembelajaran akademik sangat tinggi. Kadang saya berpikir, apa perlu kelas satu kelas dua belajar seperti ini? Apakah ini berujung pada pengembangan kapasitas intelektual anak atau malah tidak dapat membentuk dasar akademis yang kuat sama sekali?

Mudah-mudahan tulisan ini tidak basi, dan dapat menjadi masukan dan bahan perenungan saya pribadi.

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Mengamati rapot SD Jepang, maka dapat disimpulkan bahwa rapot SD Jepang
banyak mengalami perubahan.Perubahan ini adalah hasil evaluasi yang
terus-menerus sejak masa pasca perang dunia kedua sampai sekarang. Beberapa
orang Jepang teman sekerja saya memaparkan demikian. Semua yang hampir
seusia dengan saya mengatakan bahwa rapot murid SD Jepang sekarang sangat
berubah dibandingkan rapot mereka dulu ketika SD. Para ibu yang
menyekolahkan anak-anaknya juga mendukung data ini. Rapot anak pertama dan
ketiga mereka yang terpaut beberapa tahun sangat berbeda. Baik mata
pendidikan (sebagai ganti menyebut mata pelajaran) yang dilaporkan maupun
cara pelaporannya. Ada baiknya saya uraikan secara sistematis tentang
pandangan kebijakan Depdikbud Jepang tentang pendidikan dasar yang mendasari
perubahan yang tercermin dengan berubahnya isi rapot.

Sekitar tahun 1947, sebagai negara yang baru saja kalah perang, Jepang mulai
membenahi segala bidang kehidupan masyarakatnya, termasuk pendidikan.
Evaluasi tentang sistem pendidikan, komposisi mata pendidikan tingkat rendah
(sekolah dasar) selalu menjadi bahan perdebatan hangat dan evaluasi sejak
tahun enam puluhan. Sama seperti Indonesia sekarang ini, sehabis perang
dunia II Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) juga
merupakan mata pelajaran pokok di SD. Namun, karena misi pendidikan dasar
secara integral adalah bukan hanya membentuk dasar kemampuan baca, tulis,
berhitung namun juga menanamkan ketrampilan dasar sebagai manusia sebagai
makhluk sosial. Nampaknya ini tidak tercapai dengan sistem mata pelajaran
yang hanya menekankan pada kemapuan intelektual di kala itu. Lewat
penelitian dan evaluasi panjang akhirnya Monbusho (Depdikbud) Jepang di
tahun 1988 mengumumkan untuk menghilangkan pelajaran IPA dan IPS di Sekolah
Dasar, dan menggantinya dengan mata pendidikan baru yang bisa jadi merupakan
kombinasi pelajaran IPS dan IPA diintegrasikan dengan penanaman nilai-nilai
luhur. Mata pendidikan baru ini bernama seikatsuka (seikatsu= hidup
sehari-hari, ka= istilah untuk menyebut mata pelajaran) Beberapa sub dari
pelajaran seikatsuka adalah: bagaimana hidup dengan cara yang sehat dan
aman, bergaul dengan orang-orang sekitar kita, berinteraksi dengan alam,
memanfaatkan fasilitas umum, dan sebagainya. Di samping itu, Depdikbud
Jepang mencanangkan pendidikan yang integral dan meminta semua pendidik
untuk memasukan nilai-nilai luhur ke dalam setiap mata pendidikan.

Tahun 1990, penerapan kurikulum SD dengan komposisi mata pendidikan yang
baru mulai diterapkan. Khususnya untuk SD kelas 1,2, dan 3 banyak mengalami
perubahan. IPS dan IPA yang dahulu hanya pelajaran monoton, kini digantikan
dengan mata pendidikan seikatsuka yang memasukkan unsur IPS, IPA, bermain,
dan berkomunikasi (bahasa) di dalamnya. Di dalam seikatsuka terperinci
kegiatan belajar yang mendetail di mana murid-murid kelas satu dijadwalkan
untuk bermain dan memperhatikan keadaan taman terdekat, mengenal sekolah
mereka dan orang-orang yang berperan dalam sekolah dari kepala sekolah, para
guru, penjaga kantin sampai penjaga sekolah, belajar mengurus dan menyayangi
hewan peliharaan seperti kelinci bersama-sama, memperkenalkan ayah, ibu, dan
saudara-saudara mereka dan sebagainya. Sedangkan di kelas dua, ada pelajaran
bagaimana menanam tanaman dari biji hingga tumbuh besar, berjalan-jalan
mengenal kota di mana mereka tinggal, mengadakan festival mainan dsb. Bisa
dikatakan, jumlah pelajaran yang mengharuskan anak kelas satu dan dua SD
untuk duduk tekun di meja dan pekerjaan rumah yang membuat lelah anak-anak,
menurun dengan drastis dibanding waktu-waktu lampau. Oleh karena itu
kehidupan sekolah dasar adalah hal yang menyenangkan dan mengasikkan buat
para murid, bukan lagi menjadi momok karena banyaknya beban seperti di masa
lampau.
Agaknya, perubahan dalam kurikulum SD itu juga berangkat dari falsafah
Jepang dalam mendidik generasi mereka. Yaitu: 1. Mendidik anak-anak untuk
menjadi orang yang kaya hati sehingga menyayangi, menghormati orang lain,
dan menyayangi makhluk hidup lain. 2. Mementingkan pendidikan dasar yang
sangat mendasar yang sesuai dengan karakter dan kekhasan anak masing-masing,
karena setiap anak adalah unik. 3. Memacu anak untuk mandiri dalam belajar
dan mendidik diri mereka sendiri sejak kecil. 4. Menciptakan manusia yang
menghormati budaya luhur dan dapat bergaul dalam masyarakat internasional.
Falsafah-falsafah ini sebisa mungkin harus dimasukkan dalam setiap mata
pendidikan dan difahami oleh para pendidik. Sehingga, mata pendidikan yang
dulu sangat menekankan melulu kecerdasan seorang anak, sekarang ditekankan
kepada mengembangkan ketrampilan anak untuk bersosialisai dan berkembang
sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.

Perubahan ini pun tercermin dalam rapot anak-anak SD Jepang. Mata pendidikan
seikatsuka selain bahasa (membaca dan menulis) dan berhitung sangat ditulis
dengan rinci. Bentuk mata pendidikan yang dinilai memang menggunakan istilah
yang beragam untuk tiap sekolah. Namun secara garis besar ada mata
pendidikan, bagaimana sikap anak dalam memberi salam kepada orang lain,
bagaimana nilai anak ketika bekerja sama dengan orang lain, bagaimana sikap
anak ketika bergaul dengan orang lain, bagaimana sikap sang anak dalam
memelihara tumbuhan atau binatang, bagaimana sikap anak dalam
mengekspresikan pikirannya, dll. Tidak berlebihan jika dikatakan rapot
tersebut menunjukkan perhatian sekolah pada hakikat dasar mendidik anak.
Untuk kelas 1, 2, dan 3, nilai mereka pun bukan nilai kuantitaf yang
ditunjukkan dengan angka seperti delapan atau enam. Tetapi dengan komentar
pujian atau memberi semangat: “sudah berusaha dengan baik” atau “mari
berusaha sedikit lagi”, yang biasanya disimbolkan dengan lingkaran (untuk
yang pertama) atau segitiga (untuk yang terakhir). Tidak ada nilai negatif
untuk anak. Dan untuk SD kelas empat ke atas, nilai A, B, C memang
diterapkan. Namun, ini adalah nilai mutlak per anak, bukan nilai komparatif.
Setiap anak dihargai oleh usaha mereka masing-masing untuk meningkatkan
diri. Oleh karena itu di SD Jepang, tak ada sistem rangking yang
membandingkan satu anak dengan lainnya, ini berdasarkan filsafah pendidikan
dasar yang menekankan pada perkembangan khas setiap anak secara perorangan.
Satu kelas bisa saja semuanya memperoleh nilai A atau dobel lingkaran untuk
satu mata pendidikan. Akan tetapi nilai A ini sangat berbeda untuk tiap
anak. Misalnya, anak yang pemalu dan sulit berinteraksi dengan
kawan-kawannya, bisa saja memperoleh nilai A untuk mata pendidikan
berinteraksi dan bekerja sama sesama kawan sama dengan seorang anak yang
memang supel dan pandai bergaul. Dengan catatan, A bagi anak pertama,
mungkin berkaitan dengan peningkatan yang dicapainya dibandingkan dengan
catur wulan lalu, dan nilai A bagi yang kedua adalah memang sikap unggul
sang anak dalam bergaul. Demikian pula pelajaran-pelajaran lainnya.

Sistem kurikulum dan rapot yang seperti ini, walaupun adalah hasil akumulasi
pemikiran, penelitian serta evaluasi pihak-pihak terkait khususnya Depdikbud
Jepang, sampai sekarang masih terus dievaluasi. Khususnya permasalahan
tertinggal pada pelajaran seikatsuka ini di kelas tiga ke atas. Di mana
ketika murid kelas satu dan kelas dua menikmati pelajaran IPS dan IPA dalam
frame yang menyenangkan, akan tetapi ketika mereka menginjak kelas tiga ke
atas mereka harus belajar seperti muatan yang dulu dengan style yang serius.
Duduk dengan rapi dan menyimak buku. Sehingga sebagian guru merasa kesulitan
ketika mengajarkan mata pendidikan ini di kelas tiga, karena di kelas ini
lah peralihan dari belajar dalam bentuk menyenangkan ke belajar untuk
mengembangkan daya intelektual terjadi. Ditambah lagi, banyak pula beberapa
orang tua Jepang yang ambisius yang kawatir dengan pendidikan anak-anak
mereka di sekolah dasar sekarang. Apakah dengan bentuk pendidikan yang
seperti ini, anak-anak mereka mampu berkompetisi untuk memasuki perguruan
tinggi elit? Terlepas dari itu semua, kepedulian pemerintahan Jepang akan
pendidikan generasi masa depan mereka patut diacungi jempol. Mereka berani
merombak kemapanan dalam sistem pendidikan dasar yang tercermin dalam rapot,
dengan harapan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual
tetapi juga kepribadian.

Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | 6 Comments »

Beasiswa untuk semua

Posted by ishelianti on July 29, 2009

Baru-baru ini ada dua berita yang membuat hati saya sedih dan miris. Yang pertama adalah berita tentang tertangkapnya beberapa mahasiswa ITB yang menjadi “jockey” test SPMB. Sedih, karena mereka adalah mahasiswa cemerlang di ITB. Bahkan ada yang pernah menjadi juara olimpiade sains dan matematika ketika di SMA. Disinyalir pula mereka berasal dari keluarga pas-pasan. Kenapa mereka melakukan kriminal di bidang pendidikan hanya untuk mengejar uang puluhan juta? Dimanfaatkan oleh segelintir orang berpunya tak bermoral dengan menggadaikan masa depan?
Berita kedua adalah fenomena banyaknya mahasiswi di Tuban Jawa Timur yang membiayai kuliahnya dengan menjadi istri “siri”. Dinikahi lelaki yang katanya “sah” secara agama, dengan syarat sang “suami” memberi biaya hidup dan kuliah mereka selama mereka menyelesaikan kuliah. Nikah siri menurut mereka untuk menghindari dari perzinahan. Sesudah selesai kuliah mereka bisa “bercerai”. Hmm… Seperti apa para mahasiswi calon ibu generasi bangsa ini memandang perkawinan dan bagaimana definisi mereka tentang perzinahan? Prihatin. Karena mereka yang melakukan ini juga para mahasiswi yang konon berasal dari keluarga tak mampu tapi tetap ingin melanjutkan kuliah. Maunya mereka dimanfaatkan oleh para “lelaki hidung belang” hanya demi lanjut kuliah?
Benang merah dari dua fenomena di atas sudah jelas. Mereka yang melakukannya adalah generasi muda yang tak menghayati nilai-nilai kebenaran universal dan agama. Di manakah ada nilai mulia yang mengedepankan kecurangan dan mendapatkan uang untuk itu? Nilai mulia manakah yang mempersandingkan pernikahan dengan kawin kontrak (yang defacto equal dengan zina) atas nama keinginan melanjutkan kuliah? Rasanya pendidikan agama yang konsisten antara teori dan praktek di rumah dan lingkungan akademis harus lebih dikedepankan.
Dan tak boleh berhenti sampai di situ. Para mahasiswa jockey dan mahasiswi “istri siri” adalah mewakili keadaan masyarakat pas-pasan” kebanyakan. Mereka ingin meraih masa depan dengan kuliah, sementara halangan ekonomi sedikit banyak membuat mereka bersikap “bodoh” yang malah mengorbankan masa depan. Lalu?
Mengapa dari dana pendidikan yang katanya sekarang sudah mendekati 20% itu tidak dianggarkan saja beasiswa untuk para mahasiswa yang berasal dari keluarga pas-pasan ini? Penerima beasiswa tidak harus berprestasi gilang gemilang diembel-embeli miskin baru boleh mendapat beasiswa. Tetapi beasiswa ini untuk seluruh mahasiswa yang mau bertanggung jawab menyelesaikan kuliahnya. Tentu beasiswa ini tidak gratis. Harus dikembalikan dengan mencicil ketika mereka telah mendapatkan pekerjaan. Menurut saya kebijakan ini sangat efektif di tengah biaya kuliah yang makin membumbung dan membuat ”hopeless” para kaum pas-pasan.
Kebijakan seperti ini berlaku di Negara maju Jepang. Hampir semua teman-teman mahasiswa Jepang saya ketika itu mempunyai beasiswa “kredit” dari pemerintah. Ketika mereka bekerja mereka kembalikan mencicil per bulan untuk itu. Mereka tidak selalu menonjol dalam akademis, tetapi paling tidak mereka dituntut untuk belajar dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan kuliah karena mereka punya hutang.
Mudah-mudahan tulisan saya ini dibaca oleh Pak Mendiknas, atau paling tidak calon Pak/Bu Mendiknas, atau paling tidak yang bisa membisiki mereka..:-)). Agar berita-berita sedih seperti di atas makin hilang diterpa angin reformasi yang memberikan kesempatan pendidikan yang setara untuk semua.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Dua “Je”, Persamaan dan Perbedaan

Posted by ishelianti on December 28, 2008

Antara Jerman dan Jepang, Persamaan dan Perbedaan

Hampir dua belas tahun tinggal di Jepang dan tiga bulan tinggal di Jerman, selalu menarik membandingkan sikap dan budaya masyarakat dua negara ini. Berikut beberapa yang bisa diamati di antara keduanya. Menurut Anda, mana yang lebih pas untuk ditiru di Indonesia?

Persamaan:

  1. Jerman dan Jepang adalah dua Negara yang sama-sama kalah di Perang Dunia kedua. Mereka sama-sama bertekuk lutut pada Amerika Serikat dan sekutunya. Hancur lebur pada PD II, tetapi menjadi Negara paling terkemuka di benuanya masing-masing setelah itu. Sampai sekarang, mungkin karena efek kalah perang, kedekatan politik mereka dengan Amerika Serikat sangat kuat.
  2. Umumnya orang Jerman dan Jepang adalah orang-orang yang serius. Mereka mengerjakan pekerjaan mereka, apapun, dengan serius dan efisien.
  3. Taat peraturan. Sifat ini sangat terasa jika kita berhadapan dengan mereka dalam hal hukum, atau hitam di atas putih (tertulis). Orang Jerman dan Jepang kaku luar biasa terhadap hukum, tak ada pintu khusus bagi pejabat tinggi sekalipun dalam hal berbau hukum. Mereka pun sangat memperhatikan yang tertulis di atas kertas atau MOU atau kontrak. Melenceng dari situ, mereka akan tuntut. Menuntut yang tidak terulis di atas kertas, jangan harap kita akan mendapatkannya! Umumnya, mereka juga benci pada pelanggar peraturan.
  4. Menghargai waktu. Umumnya mereka benci pada budaya jam karet, apalagi terlambat di saat meeting atau rapat atau kuliah.
  5. Cenderung homogen. Jerman dan Jepang adalah masyarakat yang cenderung homogen dalam hal budaya. Mereka bukan masyarakat yang punya pengalaman banyak terhadap multikultural atau keberagaman agama. Bahkan nasionalisme sempit pernah membawa mereka pada masa lalu yang suram, dan seolah-olah nasionalisme adalah hal yang buruk untuk dimiliki. Tanyakan tentang nasionalisme pada generasi muda Jerman dan Jepang. Jawabannya pasti mirip, ”Untuk apa?”
  6. Sangat menghargai produk dalam negeri. Dua negara ini memang membayar mahal upah SDMnya. Karena itu barang-barang asli buatan Jerman atau Jepang seperti elektronik sangat berkelas dan mahal, dan menjadi kebanggaan tersendiri bila mereka memilikinya.

Perbedaan:

  1. Orang Jerman penikmat hidup, sedangkan orang Jepang pencinta kerja. Orang Jerman berusaha keras hanya pada jam kerja, dan bermain habis-habisan juga pada saat libur. Mereka punya jatah cuti 50 hari kerja, yang jika disatukan dengan Sabtu Minggu selama cuti tersebut bisa lebih dari 2 bulan dalam setahun! Mereka tak suka lembur, karena bagi sebagian mereka, lembur equal dengan tidak efisien. Bagi mereka efisien dalam bekerja berarti datang tepat waktu, bekerja efisien di saat jam kerja, dan pulang tepat waktu adalah harga mati. Sedangkan orang Jepang memang cenderung ”gila kerja”. Mereka nampak menemukan kenikmatan dalam bekerja. Bahkan ketika perekonomian Jepang dalam grafik melesat naik, semboyan perusahaanku adalah keluargakulah yang mendorongnya. Sebenarnya mereka punya jatah cuti 20 harian dalam setahun. Tetapi umumnya hanya dipakai beberapa hari di musim panas (liburan obon), dan beberapa hari di musim dingin menjelang tahun baru (oshogatsu). Budaya gila kerja kadang berimbas di dalam rapat atau seminar. Di Jepang tertidur pada saat-saat rapat atau seminar bagi para ”penggila kerja” kadang sangat ditoleransi dan dimaklumi, tapi tidak di Jerman!
  2. Budaya antri di Jerman mirip Indonesia, walau kadar menyerobot relatif lebih sopan. Jika anda taat antri menunggu masuk kereta di jam sibuk, dijamin anda susah mendapat tempat duduk! Apalagi jika naik kereta jarak jauh saat malam akhir pekan. Di Jerman kita cuma harus antri dengan tertib ketika kita mengambil uang di ATM atau membayar di kasir. Karena di tempat ini mereka memencet nomor pin untuk mengambil uang atau auto debet yang sangat ingin mereka lindungi kerahasiaannya! Akan tetapi di Jepang hampir semua tempat anda harus antri. Ketika menunggu bis, menunggu kereta di Jepang harus selalu antri, berbaris di tempat yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk. Anda menyerobot, tak ada ampun! Tetapi ini menjadi fair, yang datang lebih dahulu kemungkinan mendapatkan tempat duduk menjadi besar.
  3. Di Jerman kereta dan bus tak selalu on time. Lima belas menit terlambat untuk jadwal bis, atau kereta biasa, bahkan terkadang 1.5 jam terlambat juga bisa dimaklumi ntuk sebuah kereta maglevaif! Namun demikian, sistem jaringan informasi kereta Jerman lebih tertata dan nyaman diakses dengan internet. Di Jepang, kita harus membeli buku jadwal bulanan untuk mengetahui jadwal pasti khususnya kereta jarak jauh.

Di Jepang, jadwal kereta on time sudah menjadi umum dan harus. Bahkan ketka di Tokyo, saya kadang mengadjust jam sesuai dengan jadwal ketika peluit kereta ditiup dan pintu kereta tertutup, saking saya percaya pada tepat waktunya. Kereta di Jepang biasanya hanya telat saat salju tebal atau angin taufan.

4. Kaum akademik Jerman umumnya high profile dan rasa PD mereka tinggi. Tak jarang para mahasiwa/peneliti pendatang dari Asia atau negara berkembang harus mendapat perlakuan under estimate lebih dahulu ketika mereka datang. Tetapi tidak demikian di Jepang. Orang Jepang umumnya humble. Mereka bak pepatah air tenang bertanda dalam. Mereka sangat menghargai para mahasiswa asing yang umumnya pekerja keras, walau kadang belum tentu bekerja dengan cerdas.

5. Di Jerman, konsumen harus banyak mengalah, tetapi di Jepang konsumen adalah dewa. Servis yang tidak memuaskan dan penyambutan alakadarnya sudah biasa di Jerman. Jika ada petugas loket yang harus pulang karena jam pulang, dia tidak akan menggubris antrian panjang para pelanggan. Kadang sikap supir bus yang kelelahan juga membuat tak nyaman. Tetapi jika anda di Jepang, para petugas yang akan makan siang pun biasanya tidak tega jika melihat yang antri begitu banyak. Umumnya mereka dengan sukarela membuka kembali loket yang tadinya sudah mereka tutup untuk mengurangi antrian. Di Jepang jika barang yang anda beli cacat dan anda kembalikan, maka anda akan mendapatkan bonus dan permohonan maaf berkali-kali dari toko.

      Posted in sosial politik | Tagged: | 2 Comments »

      Budaya Kerja, antara Jerman dan Jepang

      Posted by ishelianti on October 12, 2008

      Menarik membandingkan kultur kerja orang-orang yang bergerak di bidang riset dan akademis di dua negara maju ini. Jerman dan Jepang. Dua penduduk negara ini dikenal sangat serius dan efisien.

      Di Jepang, jam kerja saya dulu “unlimited”. Dengan fasilitas universitas dari laboratorium, ruang komputer, perpustakaan yang on line 24 jam, jam kerja “unlimited” ini seperti mendapat justifikasi. Orang Jepang biasa kerja dari jam 9 pagi sampai di atas jam 9. Lab masih ramai di jam 11 malam, bukan hal asing. Justru aneh kalau lab sudah gelap di jam 6 sore. Ketika menghadapi dead line baik thesis maupun paper seminar, saya bersama mahasiswa lain biasa tidak tidur sampai dini hari, tapi kelayapan di dalam lab bereksperimen.

      Lain lagi di Jerman. Di sini kerja dimulai jam setengah sembilan. Tetapi dijamin jam 6 sudah sepi. Kalau pun ada sisa-sisa manusia berlalulalang, biasanya sebagian besar orang asing, yang mungkin berpikiran mirip dengan saya. Buat apa pulang ke apartemen, karena tidak ada yang menunggu.

      Tetapi bukan berarti orang Jerman bekerjanya santai. Baru beberapa hari di sini saya menemukan suasana itu. Suasana serba terencana, serba cepat, serba serius pada jam kerja. Langkah-langkah cepat dan panjang sepanjang lorong laboratorium. Tak ada obrolan kepanjangan ngalor ngidul saat jam kerja, kecuali diskusi masalah kerja. Tak ada pekerjaan sampingan seperti berinternet ria yang tidak berurusan dengan pekerjaan. Ini yang bikin saya tidak enak hati sering-sering chatting sembari kerja. Semuanya serius dengan apa yang harus selesai dan mereka kerjakan hari itu. Sehingga jam 6 sebelum makan malam mereka sudah bisa pulang.

      Di Jepang, memang jam kerja seperti unlimited, dan imbasnya pekerjaan malah kadang jadi tidak efisien. Waktu yang panjang kadang tidak benar-benar 100% untuk bekerja. Ketika jam makan malam, profesor yang rumahnya dekat dengan kampus memang biasanya pulang untuk makan malam. Setelah anak-anak mereka tidur, mereka bekerja lagi sampai sesuka mereka.

      Ketika di Jepang, saya berpikir orang Jepang itu sangat feodal. Budaya senior dan junior sangat ketat. Apa kata senior itulah yang dikatakan juniornya. Apalagi apa kata Profesor, biasanya kebanyakan harga mati.

      Tetapi ternyata di Jerman juga demikian. Profesi profesor di Jerman adalah profesi sakti. Profesor di Jerman ternyata sangat jaim dan tak suka dibantah oleh mahasiswanya. Suasana meeting akademis yang saya kira akan penuh dengan diskusi-diskusi dan argumentasi seru, belum saya temukan. Hanya ada laporan mahasiswa, saran dari profesor, namun tak ada bantahan atau diskusi asyik lainnya Atau apakah presepsi saya tentang Jerman dulu itu tertukar dengan tentang Amerika, ya? Entahlah. Tapi yang jelas ketika profesor yang bicara di meeting, ruangan jadi sangat senyap, bahkan saya jadi tidak enak hati ketika mengeluarkan lap top dari tas karena suara resleting jadi terdengar begitu keras.

      Namun, terlepas dari perbedaan style mereka dalam bekerja. Orang-orang di negara maju ini adalah orang-orang yang sangat serius dalam hal mengerjakan apapun yang terbaik secara detail untuk mencapai target.

      Posted in penelitian, sosial politik | Tagged: | 1 Comment »

      Metagenomik, Era Baru Bioteknologi

      Posted by ishelianti on June 22, 2008

      Kompas Senin, 06 Juni 2005

      Oleh: Is Helianti

      INOVASI dan daya kreasi para peneliti di dunia ilmiah telah melahirkan banyak perkembangan baru dalam sains dan teknologi, tak terkecuali di bidang biologi. Era pembacaan seluruh rantai DNA (genom) satu spesies makhluk hidup telah menjadi hal “biasa” di negara maju sana. Tak kurang genom dari ratusan spesies mikroba, tikus, padi hingga manusia telah selesai dibaca.

      NAMUN, tampaknya babak pembacaan genom satu spesies makhluk hidup telah mencapai titik jenuh bagi sebagian ilmuwan. Sekarang ini, mereka beralih pada tantangan yang lebih besar. Yaitu, membaca seluruh DNA dari suatu ekosistem lengkap (bukan hanya satu organisme), yang diistilahkan dengan metagenom. Ilmu yang mempelajari metagenom ini disebut metagenomik.

      Secara detailnya, proyek metagenom ini adalah usaha membaca seluruh DNA dari komunitas mikroba dalam ekosistem kecil, misalnya segenggam tanah, sepuluh mililiter air laut, atau isi perut manusia. Dengan membaca seluruh cetak biru genetik dari seluruh spesies organisme yang ada pada satu ekosistem, ilmuwan berharap dapat mengetahui jenis organisme (mikroba) apa saja yang terdapat dalam ekosistem mikro tersebut, serta bagaimana mereka bekerja bersama.

      Tentu saja usaha ini tidaklah mudah. Keanekaragaman mikroba dalam ekosistem mikro sekalipun sangatlah tinggi. Dalam satu gram tanah subur atau satu mililiter air laut misalnya, bisa saja dijumpai ribuan spesies mikroba, yang dari aspek genetik jauh lebih kompleks daripada genom manusia.

      Selain dari lingkungan yang subur yang berarti kaya akan kehidupan, para ilmuwan juga mencoba untuk membaca metagenom dari lokasi-lokasi yang sepi dari kehidupan, seperti lingkungan ekstrem di dasar laut dalam atau daerah pertambangan yang penuh kontaminan berbahaya. Hasil penelitian proses pembacaan metagenom dari daerah-daerah ekstrem yang jarang kehidupan ini pun menyatakan bahwa lebih banyak gen baru yang ditemukan daripada dalam genom manusia. Padahal, dalam genom manusia pun, masih lebih dari setengah jumlah gen yang ada, belum kita ketahui fungsinya.

      Pro dan kontra

      Sampai saat ini, para peneliti umumnya menggunakan approach isolasi satu spesies makhluk hidup (baik itu mikroba, tumbuhan, ataupun hewan), mengidentifikasi, lalu membaca seluruh gen/DNA (genom)-nya untuk mempelajari makhluk hidup tersebut lebih lanjut lagi. Tetapi metagenomik mengambil approach yang bertolak belakang. Metagenomik memulainya dari DNA organisme (apa pun) yang bahkan sama sekali tidak diketahui, lalu setelah itu baru mencoba memecahkan apa sebenarnya organisme-organisme yang ada di situ yang mengandung DNA-DNA tersebut.

      Pendekatan yang tidak umum ini di kalangan ahli mikrobiologi sendiri menimbulkan pro dan kontra akan nilai penting dari data ilmiah yang didapat.

      Para peneliti yang setuju dengan approach ini antara lain mengatakan bahwa hanya satu persen dari mikroorganisme yang ada di Planet Bumi ini yang bisa ditumbuhkan di laboratorium atau dibiakkan dalam medium artificial. Jadi sisanya, sembilan puluh sembilan persen tidak bisa (atau setidaknya belum bisa) dikulturkan dengan teknologi isolasi dan kultivasi yang ada sekarang ini, atau diistilahkan dengan unculturable. Padahal bisa jadi mikroba yang unculturable ini justru menyimpan gen-gen baru yang dapat diaplikasikan dalam industri ataupun bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu bisa dikatakan, ilmu mikrobiologi sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang yang sembilan puluh sembilan persen ini.

      Tetapi, peneliti dimungkinkan untuk mengekstraksi DNA dari sample tanah atau air laut tanpa perlu identifikasi makhluk hidup apa yang menjadi sumber DNA tersebut. Kita memang tidak tahu penampilan, bentuk (morfologi), ataupun karakter dari masing-masing spesies tersebut, namun, kita bisa tahu kode genetiknya.

      Demikian menurut Venter, saintis sekaligus pebisnis unggul pemilik perusahaan biotek Celera Genomics yang merupakan salah seorang pionir dalam proyek metagenom ini. Perusahaan Celera Genomics yang dipimpinnya berhasil menepis keraguan dunia akan keberhasilan proyek pembacaan genom manusia, karena sukses membaca genom manusia yang panjangnya 3.000 mega base pair (Mbp) itu dalam waktu tiga tahun!

      Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa pembacaan metagenom dari mikroekosistem tidaklah punya arti apa-apa. Dr Davies, seorang profesor emeritus mikrobiologi Universitas British Columbia, bahkan mengatakan bahwa membaca sekuens seluruh DNA yang ada di sample tanah hanyalah akan menjadi sampah. Komentar ini mungkin berkaitan dengan pengalaman penelitiannya sendiri. Profesor ini pernah memulai bisnis perusahaan biotek untuk menemukan antibiotik baru dengan mengekstraksi genom DNA dari sampel mikroba tanah yang tidak dapat dikulturkan. Akan tetapi, approach tersebut menemui jalan buntu. Karena produksi antibiotik diregulasi oleh banyak gen. Sehingga tidak dimungkinkan untuk mendapatkan fragmen DNA yang cukup panjang yang mengandung seluruh gen yang diperlukan untuk memproduksi antibiotik dalam satu klon dari pustaka metagenom tersebut.

      Menurut rofesor Davies, hasil pembacaan metagenom hanyalah seperti katalog. Metagenom memaparkan semua gen tetapi tidak memberikan informasi informasi apa pun tentang gen apa yang aktif dan gen mana yang tidak, serta bagaimana bakteri-bakteri tersebut berinteraksi satu sama lain. Kita tidak mendapatkan karakter apa pun dari bakteri yang ada, lalu bagaimana kita bisa tahu apa yang mereka lakukan? Demikian argumen profesor ini.

      Argumen ini dibantah oleh saintis dari The Institute of Genome Research (TIGER), Dr Gill. Menurut dia, jika kita mendapatkan cetak biru genetik suatu organisme, kita dapat trace back untuk merekonstruksi sistem metabolismenya, walaupun tanpa mengetahui nama organisme tersebut. Jadi, data genom saja itu sudah cukup bernilai.

      Informasi cetak biru genetik akan membantu ilmuwan memperkirakan nutrisi apa yang diperlukan oleh organisme sumber DNA tersebut. Sehingga dapat menjadikan mikroba yang bersangkutan yang sebelumnya tidak bisa dikulturkan menjadi mikroba yang dapat diisolasi dan dikultivasi di laboratorium. Dan ketika seluruh gen dalam suatu organisme diketahui, maka dengan teknologi DNA/gen chips akan mudah diketahui gen mana yang aktif atau tidak ketika diberikan stres lingkungan yang berbeda-beda.

      Sumber biokatalis baru

      Sebenarnya, metagenom walaupun tampak baru dari segi istilah, telah mulai dilakukan sejak tahun 1980-an. Para peneliti saat itu mencoba meneliti gen 16S rRNA dari sampel konsorsium mikroba. Gen ini menjadi penanda spesies suatu makhluk hidup dan dipunyai oleh seluruh makhluk hidup di Planet Bumi ini. Gen ini, meski berasal dari spesies yang berbeda-beda, banyak mempunyai bagian yang conserve atau homolog satu sama lain. Jadi, spesies yang sama mempunyai susunan DNA yang hampir sama, sedangkan semakin dekat kekerabatan dua makhluk hidup, maka akan semakin banyak bagian dari gen ini yang overlap atau homolog.

      Dengan menganalisis gen 16S rRNA yang relatif pendek (sekitar 1.500 bp) dari konsorsium bakteri ini, maka saintis mengetahui ada berapa jenis mikroba global. Akan tetapi, kita tidak mendapatkan informasi apa pun tentang bagaimana bakteri itu berfungsi.

      Lalu, sejak tahun 1990-an, para saintis mencoba untuk menganalisa gen yang lebih besar dan panjang untuk mencari gen yang sesuai dengan keperluan hidup manusia. Misalnya, gen penyandi enzim fungsional yang bermanfaat untuk industri sebagai biokatalis.

      Setelah sampel dari lingkungan didapat, maka total DNA dari sample tersebut diekstraksi, lalu dikloning dengan teknik shotgun cloning. Total DNA ini dipotong secara random dengan enzim pemotong DNA yang spesifik. Fragmen DNA dengan berbagai ukuran ini lalu diligasikan secara random ke dalam DNA vektor dan dimasukkan ke dalam kultur E coli. Dari sini dipilihlah transforman atau klon (E coli yang mengandung insert fragmen DNA) yang fungsional mengekspresikan enzim target.

      Perpaduan fragmentasi DNA total dan kloning secara random sehingga menghasilkan ribuan transforman E coli seperti di atas disebut dengan pustaka metagenom. Metode pustaka metagenom ini telah membuahkan hasil seperti dilakukan oleh beberapa saintis. Tanpa harus susah payah mengisolasi satu spesies lalu mengoptimasi kultivasi isolat yang perlu waktu lama, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit, beberapa tim peneliti berhasil menemukan gen-gen baru penyandi enzim yang bermanfaat untuk industri, seperti amilase, agarase, amidase, ataupun selulase.

      Contoh lainnya, perusahaan Diersa dengan pustaka metagenom berhasil menemukan enzim lipase jenis baru yang dapat memangkas setengah biaya produksi pembuatan obat penurun kolesterol Lipitor.

      Menyusun ribuan “puzzle”

      Menemukan satu atau beberapa gen sekaligus enzim aktifnya dengan pustaka metagenom seperti di atas mungkin masih relatif sederhana. Sekali kita menemukan gen sekaligus produknya (enzim) yang fungsional dalam klon E coli, lalu kita sekuensing gen itu, persoalan selesai. Namun, jika kita ingin membaca seluruh gen dari mikroba yang ada dalam satu komunitas tentu jauh lebih ruwet lagi.

      Setelah seluruh fragmen DNA dari sample kita dapatkan lalu kita kloning secara random, maka tugas berikutnya adalah membaca susunan DNA dari fragmen insert yang terdapat dalam jutaan klon satu per satu. Metode shotgun kloning seperti ini pula yang dipakai untuk membaca genom manusia yang besarnya 3.000 Mbp itu.

      Seluruh sekuens dari fragmen-fragmen DNA itu lalu disusun secara berurutan dengan melihat susunan DNA yang overlap (ini dilakukan oleh komputer). Jadi ibaratnya, seperti menyusun puzzle dari serpihan-serpihan kecil untuk membentuk gambar utuh yang besar. Pada proyek genom manusia, pekerjaan ini relatif lebih mudah karena genom itu hanya berasal dari satu spesies walaupun ukurannya sangat besar.

      Pada proses pembacaan metagenom mikroba dari lingkungan, proses tentu menjadi tidak sesederhana itu. Karena, mungkin saja segenggam sampel tanah mengandung ribuan spesies mikroba. Jadi, membaca metagenom sampel ini seperti menyambung serpihan-serpihan untuk menyusun ribuan lembar puzzle yang gambarnya berbeda-beda! Secara simulasi dan perhitungan komputer penyusunan ribuan puzzle ini memungkinkan. Meski demikian, banyak pula saintis yang skeptis.

      Seperti menjawab keraguan itu, tim dari Universitas California Berkeley sukses membaca metagenom dari komunitas yang lebih kecil. Mereka berhasil membaca seluruh genom mikroba dari sejumput tanah di daerah pertambangan, 400 meter di bawah pertambangan biji besi Iron Mountain, California, di mana daerah tambang ini mengeluarkan limbah asam beracun yang mencemari sekitarnya. Tim ini mengatakan ada tujuh spesies mikroba (entah itu bakteri atau archaea) yang mendiami lokasi ekstrem mematikan itu. Dua di antaranya telah diketahui genomnya secara lengkap.

      Selain metagenom dari lingkungan di luar manusia, metagenom di dalam mikro ekosistem tubuh manusia juga sedang diteliti. Beberapa saintis ada yang memfokuskan penelitian untuk membaca metagenom komunitas bakteri yang ada di saluran pencernaan manusia seperti lambung yang juga berkondisi ekstrem (sangat asam). Dari hasil penelitian saat ini, diketahui bahwa perubahan komunitas bakteri dalam saluran pencernaan akan menyebabkan mulas, diare, atau gangguan pencernaan lainnya. Proyek metagenom bakteri penghuni lambung ataupun usus manusia akan bisa memberikan informasi pola populasi bakteri. Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh prediksi waktu kritis seseorang akan jatuh sakit sehingga diagnosa dan pengobatan lebih mudah dilakukan.

      Walaupun ada keraguan dari beberapa saintis lain tentang nilai pentingnya pembacaan metagenom, saintis prometagenomik jalan terus. Mereka percaya, sebagai makhluk hidup yang menempati biomassa bumi sebesar enam puluh persen di Planet Bumi ini, mikroba adalah maestro kimia paling genius di planet kita. Mikrobalah yang menjadi sumber antibiotik (dan obat-obatan lainnya), enzim, gen pembunuh serangga yang dimanfaatkan dalam tanaman transgenik, dan sebagainya. Mikroba pula yang memainkan peran penting dalam siklus lingkungan, seperti mengubah gas nitrogen di udara menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman, pemasok separuh oksigen Bumi, juga menguraikan toksik dan polutan. Mikroba pulalah yang berperan besar dalam membantu hidup manusia mengelola zat gizi yang dimakannya. Karena itu, proyek metagenom mikroba pasti menjanjikan sesuatu yang istimewa.

      Rasanya sudah tak sabar melihat perkembangan sains dan teknologi berikutnya berkat proyek metagenom ini.

      Dr Is Helianti MSc Peneliti rekayasa genetik dan enzim pada Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT

      Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , | 1 Comment »

      Bekal untuk menulis paper di Jurnal!

      Posted by ishelianti on June 21, 2008

      Tulisan tentang kiat menulis makalah saintifik ini saya temukan ketika berselancar di Internet.

      Sangat baik dan praktis untuk bekal kita menulis paper di jurnal ilmiah.

      Kapan-kapan, jika sempat, saya ingin terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,

      biar lebih merakyat..:-)

      Tentu jika Pak Chris Sterken, penulis asli, berkenan.

      Posted in Materi kuliah | Tagged: , | 3 Comments »

      Saya dan Prof Meinhardt

      Posted by ishelianti on June 20, 2008

      Prof Meinhardt dari University of Muenster adalah professor yang saya kenal kurang lebih 4 tahun lalu. Beliau hingga kini adalah partner kerja sama kami dari Jerman dalam kerangka Indonesia German (IG) Biotech, di mana saya menjadi “pekerja utama” tim di bidang rekayasa genetic untuk perbaikan strain penghasil enzim xilanase.

      Jika Tamiya Sensei, profesor saya di Jepang, kadang nampak acuh (walaupun sebenarnya tidak demikian, ya) dengan masalah detail dan dalam. Tidak demikian dengan Prof Meinhardt. Mencengangkan kalau bertanya kiat-kiat teknis padanya. Kelihatan betul, betapa dulu Prof Meinhardt mengerjakan eksperimen molekuler biologi dengan menggebu dan mendalamnya. Sehingga, sarannya sangat praktis dan berguna. Dia selalu bilang, dia mengerjakan itu semua selagi seusia saya, dengan kondisi tidak seberuntung seperti sekarang. Maksudnya, melimpah ruahnya peralatan yang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan membanjirnya kit-kit untuk ekstraksi macam-macam.

      Jika ada pertanyaan kami yang perlu diskusi dengan kolega, dia tak sungkan memending jawaban, dan menjawab ketika hasil diskusi telah ada. Kesannya, dia tak pernah menjawab masalah ilmiah dan teknis dengan asal-asalan. Sikap ilmuwan yang sangat mengagumkan. Jika ia tidak mampu menjawab teknis mendetail, maka dia delegasikan pada mahasiswanya yang tentu saja lebih updated masalah kepiawaian dalam eksperimen.

      Publikasinya ratusan. Selain itu ilmunya mendalam. Rasanya dibandingkan saya yang padahal telah lulus Doktor tujuh setengah tahun lalu, gap itu sangat terasa. Karena itu, saya dan teman-teman satu tim rekayasa genetika, selalu menempatkan diri sebagai mahasiswanya. Bertanya ini itu, walau sesekali ngotot dengan argumen yang harus kami pertahankan. Dan mendengarkan baik-baik setiap sarannya.

      Sikapnya memang bukan seperti bule pada umumnya. Bahkan kadang-kadang mirip kultur orang Jawa. Suka berbasa-basi, tidak pernah to the point dalam menyampaikan tidak. Sehingga, kadang-kadang kita menjadi ragu dengan yang dikemukakannya. Basa-basi atau memang begitu adanya.

      Banyak diskusi (mungkin tepatnya otot-ototan..:-)) dalam masalah keyakinan dengan beliau. Pada pertemuan awal, saya sudah menjudge bahwa agama prof Meinhardt adalah sains itu sendiri, bukan yang sekarang dianutnya. Karena dalam banyak pembicaraan, dia tidak seratus persen meyakini kemutlakan keberadaan Tuhan Sang Pencipta. Hanya karena dia tenang dan berbahagia dengan beragama. Jadi, menurutnya, jika memang sebenarnya Tuhan tidak ada, dia tak merugi apapun jika mempercayainya. Jawabannya memang tidak memuaskan. Tapi cukup untuk menghentikan diskusi ngotot, karena memang saya dan beliau berada pada paradigma berpikir yang berbeda.

      Namun, judge saya bisa jadi salah. Dalam pertemuan terakhir 4 bulan lalu, dalam suatu diskusi, kami membahas tentang probabilitas mutasi bakteri, mekanisme penurunan karakter suatu galur, dan lain-lain. Tercetus dari ungkapannya, bahwa di balik alam ini, bahkan sampai dunia mikroba dan DNA di dalamnya, ada ”game player” yang eksis. Game player ini menjadikan semuanya berjalan rapi, cantik, dan bisa dicerna oleh akal manusia dalam bingkai ilmu pengetahuan. Yang lalu saya serobot, bahwa itu adalah Allah, Tuhan pencipta semua alam ini. Alam mikro sampai kita manusia. Yeah, may be, begitu Prof Meinhardt menjawab sambil mengedikkan bahunya.

      Walau demikian, saya banyak belajar dari Prof Meinhardt. Ketekunan dalam bidangnya yang membuatnya punya begitu banyak publikasi ilmiah. Kesetiannya pada profesi profesor, yang walaupun hanya bisa memberikan dia sebuah mobil Mazda. Juga tak lupa kami selalu berterima kasih pada pemberian plasmid vektor, enzim restriksi, strain bakteri, yang kadang-kadang dibawanya sebagai oleh-oleh buat kami…:-)

      Posted in penelitian | Tagged: , | 2 Comments »