Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Berkaca pada (Bioteknologi )Thailand

Posted by ishelianti on March 1, 2014

Thailand boleh mengalami kerentanan politik. Penguasanya diguncang ketidak kepercayaan dan isu klasik negara berkembang (KKN). Masih banyak demo anti  pemerintah  yang bahkan mengakibatkan korban jiwa.  Begitu juga kondisi  rendahnya penghargaan terhadap pendidikan, jomplangnya daerah kaya dan miskin, adalah pemandangan sehari-hari, begitu kata kawan Thailand semasa sekolah di Jepang. Mirip-miriplah dengan kita.

Tetapi, begitu Anda masuk ke kawasan Biotech (National Center for Genetic Engineering and Biotechnology) -yang merupakan salah satu anggota National Science and Technology Development Agency (NSTDA) di bawah kementrian sains dan teknologi Thailand- kita benar-benar berada di sebuah institusi penelitian negara maju. Di banyak dinding atau pintu lab mereka tertera tangan mengepal dengan tulisan seperti ini: “Fight for Science”.  Menunjukkan filosofi mereka, bahwa mereka bukan sekedar bekerja, tetapi berjuang. Dengan melihat sekilas, kita tahu gedung lab mereka dibangun tidak dengan asal-asalan. Alat-alat mereka jauh di atas standar negara berkembang. Bahkan yang dari negara maju pun mengatakan lab mereka adalah “the most generous lab in the world”.

Wifi temporer dengan penggunaan terkontrol dengan user dan password ada di mana-mana.  Para stafnya fasih berbahasa Inggris. Antar lab saling terkoordinasi secara baik. Hasil publikasinya jangan ditanya. Mereka tanpa banyak bicara mempunyai ratusan publikasi internasional. Ketika, melihat mereka presentasi di konferensi, terlihat penelitian mereka berakar dari fondasi yang kuat dan akumulasi dari penelitian bertahun-tahun. Bukan penelitian parsial atau pun baru dikerjakan beberapa bulan.

Jelas iri. Tentu iri yang positif. Iri yang  mengundang semangat agar bisa juga maju untuk melebihi mereka. Kita sama-sama negara berkembang, dan dalam banyak hal seperti tertulis di atas, menghadapi masalah yang mirip. Kalau mau menambah “pede” agar semangat, bahkan potensi kita lebih besar. Penduduk kita lebih dari 240 juta. Keanekaragaman hayati kita jauh lebih beragam.  Sementara Thailand hanya berpenduduk 60 juta. Keanekaragaman hayati mereka secara kasar kasat mata di bawah kita, tetapi karena eksplorasi mereka secara saintifik lebih maju, terlihat mereka lebih unggul.

Hanya…Kita memang kurang serius. Bukan berarti di tanah air tidak ada peneliti atau penggiat Iptek yang serius. Tentu banyak. Tetapi bisa apakah kumpulan peneliti atau penggiat Iptek yang serius itu berbuat, jika tanpa didukung kebijakan dan politik yang mendukung sains dan teknologi? Pemerintah Thailand sepertinya sangat menyadari, sebagai negara yang masih dominan agraris dan mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, bioteknologi akan berperan besar di masa depan untuk meningkatkan daya saing mereka. Mereka ingin, setidaknya menjadi leader bioteknologi di Asia. Kesadaran dan semangat mereka tertuang jelas dalam kebijakan.

Dari dukungan pemerintah saja, misalnya. Thailand mengalokasikan 0.25% dari GDPnya untuk riset (sekitar 13 trilyun); sedangkan Indonesia hanya 0.08% saja dari GDP (sekitar 10 trilyun). Dan tahun ini mereka berjuang agar dana riset bisa meningkat sampai 1%. Para pimpinan “Biotech” Thailand menyadari, banyak orang-orang muda yang baru selesai bersekolah di LN pulang ke Thailand dengan kapabilitas yang baik yang harus dibuat betah di dunia penelitian yang produktif. Salah satunya adalah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mereka, sehingga mereka bisa fokus dan menghasilkan penelitian yang diakui internasional. Jika mereka tekun dan dapat menjadi peneliti senior dengan dedikatif di atas lima tahun, mereka punya penghasilan yang sangat lumayan. Itu yang terbaca dengan jelas melalui  presentasi mereka yang di atas rata-rata saat konferensi.

Jika bicara cita-cita, tentu kita harus menggantungkannya setinggi langit. Cita-cita kita mestinya bukan Thailand. Cita-cita kita mestinya negara maju. Tetapi, untuk tempat berkaca, Thailand bisa jadi cermin yang tepat.

 

 

 

Advertisements

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Kami dan Rahmat

Posted by ishelianti on November 20, 2013

 

 

Siapa yang tidak mau punya anak berprestasi hebat dan juara kelas? Pasti sebagian besar kita orang tua berharap seperti itu. Ketika Rahmat mulai bersekolah pun demikian. Harapan saya melambung, ingin dia juara kelas, seperti kami, bapak dan ibunya ketika kecil (maaf, teman, tidak bermaksud menyombong).

Kami merasa sejak kecil adalah orang-orang yang tekun dalam belajar dan gigih. Saya selalu terobsesi jadi juara sejak SD. Ingin menjadi juara itu seperti kompensasi karena sebenarnya pada aspek-aspek tertentu saya merasa rendah diri. Berprestasi akademis menyebabkan saya percaya diri, dan aspek yang bikin minder itu tertutup karenanya. Dari SD kelas 4 saya mulai senang belajar dan selalu mencari cara bagaimana saya menemukan cara belajar yang jitu, mengingat lebih banyak, mengerti lebih cepat. Sebisa mungkin, saya selalu ingin unggul di segala pelajaran. Walau, harus diakui, saya kedodoran di praktek olahraga dan ketrampilan (karena ini berhubungan erat dengan faktor genetis..:-D), tetapi toh saya unggul di teori, karena saya rajin belajar.

Di SMA saya selalu tertantang untuk memecahkan soal-soal apapun, dari Matematika, Kimia, sampai Fisika.  Saya selalu tampak terdepan dalam memahami pelajaran, bukan karena saya jenius, tetapi semata-mata karena saya belajar sendiri lebih dahulu. Penguasaan saya di bidang pelajaran ini juga membuat saya sudah menjadi guru les privat sejak SMP, yang bisa menambah uang saku dan uang beli buku. Tapi, preferensi saya mulai mengerucut, saya malas belajar PSPB, PMP, Geografi, dan Agama (Islam). Bagi saya pelajaran-pelajaran ini sama sekali tidak menantang dan menyebalkan. Saya sering bolos membaca di perpustakaan ketika pelajaran ini berlangsung (tapi, percaya atau tidak banyak teman-teman dahulu yang tidak percaya saya sering membolos. Yah, saya memang terlanjur dianggap anak teladan, rajin menabung, dan tidak sombong…:-D).

 

Suami saya juga demikian. Ibu mertua saya sering bercerita, betapa pengawas ruangan harus membujuk Mahfudz kecil agar segera keluar ruangan, karena Mahfudz kecil adalah satu-satunya anak yang masih bolak-balik mengecek jawaban soalnya, padahal sehari-harinya selalu mendapat nilai sempurna. Jadi tidak berlebihan bukan harapan kami? Apalagi saya tahu Rahmat cerdas, cepat menangkap, dan kemampuan logikanya tinggi. Kalau dia mau, menghafal apapun akan sangat mudah. Tetapi seiring tahun demi tahum, sepertinya saya harus meredefinisi yang namanya prestasi. Rahmat amat jarang menjadi sepuluh besar. Dia teramat cuek dengan tetek bengek belajar. Bahkan sejak kelas 3 saya dipusingkan dengan tulisannya yang sangat aduhai dan susah dibaca. Tapi dia kadang memberi kejutan. Saya sama sekali tidak menyangka dia terpilih ikut olimpiade matematika, tapi dia ternyata terpilih dua kali untuk itu. Walau tidak menang, tapi paling tidak saya tahu dia tidak tertinggal dalam pelajaran matematika. Rahmat memang kurang tertarik untuk belajar mata pelajaran di sekolah. Tetapi ketika dia ingin tahu sesuatu, dia akan berusaha untuk mendapatkan jawabannya. Kami selalu mendapat pengetahuan-pengetahuannya yang spesifik dari Rahmat, dari nomor lokomotif kereta, model-model truk merek Scania yang spesifik, detil lampu mobil berbagai merek, riwayat pabrik karoseri, cara memodifikasi game Euro Truck Simulator, jalan-jalan di London yang dia lalui ketika main game, cara memodifikasi lego, dan lain-lain.  

 

Kami merenung, sebenarnya yang penting itu jadi juaranya, atau dia jadi bertanggung jawab dengan belajarnya? Yang penting itu nilai-nilai yang didapatkannya atau dia jadi faham dan belajar sesuatu darinya? Mana yang lebih baik, Rahmat enjoy sekolah dengan gayanya yang sangat my pace tapi faham pelajaran walaupun nilainya standar, atau dia menjadi pribadi yang terlalu tegang dan mudah stress karena selalu berpikir harus paling unggul? Akhirnya saya memilih untuk mengarahkan Rahmat sesuai dengan ketertarikannya, menanamkannya untuk bertanggung jawab belajar, tanpa memaksanya pintar dan unggul di semua bidang.  Ketika kami menengok ke belakang, memang bukan juara kelas yang membuat kami bisa menjadi manusia dewasa seperti sekarang. Tetapi daya juang untuk selalu terus belajar dalam hiduplah yang menopang kami dapat tinggal belajar serta mandiri di negeri orang dengan beasiswa, lalu memulai hidup di tanah air dengan segala keterbatasan. Itulah yang harus kami tanamkan padanya, walaupun Rahmat menjadi demikian tidak dengan gaya dan cara yang harus sama. Karena kami mengerti pada akhirnya, Rahmat memang anak kami, tetapi dia bukan kami. Kami bertanggung jawab untuk mengarahkannya hingga potensi yang ada padanya bisa terwujud optimal, bukan memaksanya untuk menjadi seperti kami di waktu dahulu.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Catatan Kehidupan: Jangan pernah remehkan mereka

Posted by ishelianti on May 20, 2012

Ketika hendak memilih maskapai penerbangan sebelum berangkat, teman-teman kantor memberi saran. Sebaiknya jangan memilih emirates, apalagi aku berangkat sendirian dan memakai jilbab pula. Alasannya, maskapai ini bertujuan Dubai (sebagai tempat transit) ini kerap mengangkut TKW yang bekerja sebagai tenaga kasar dan PRT di negara minyak. Dan tahu sendirilah, perlakuan para oknum bandara, hatta orang maskapai terhadap para TKW. Memang ada beberapa cerita pengalaman menyebalkan dan tidak nyaman berkaitan dengan menjelang boarding ke suatu negara minyak apalagi jika kita memakai jilbab. Bisa jadi para petugas pukul rata, semua yang berjilbab TKW, dan layak diperlakukan tidak sopan.

 

Namun dari semua travel biro yang aku tanyakan semua menjawab seragam. Emirates menawarkan harga yang relatif paling murah saat itu. Aku cukup bimbang. Namun, akhirnya, karena kami tak punya tabungan cukup banyak untuk membeli tiket Lufthansa atau KLM (biaya tiket akan direimburse setelah aku tiba di Jerman), aku putuskan untuk memakai Emirates. Toh, aku memakai service paspor, dan toh juga aku memang ”TKW”, walaupun bidang pekerjaanku berbeda dengan para TKW tersebut. Jadi, so what gitu lho..?

 

Alhamdulillah, tak ada hambatan bearti baik saat check in maupun saat boarding. Di ruang boarding belasan wanita berjilbab bergerombol di salah satu ruangan, dengan wajah-wajah mereka yang lugu. Aku yang datang di barisan belakang memilih duduk sesuai dengan zona ruang yang tertera di boarding pass di dekat seorang ibu yang berpenampilan educated, bersih, dan wangi. Melihat aku duduk di sampingnya, entah kenapa, Ibu yang necis itu mendadak pergi dan pindah ke kursi lain. Aku agak heran. Mungkin dia pikir aku juga seorang TKW yang memang kadang-kadang sangat talkactive dan norak pada orang yang baru dikenalnya. Hmmm…Mungkinkah aku juga akan bersikap seperti ibu itu karena tidak nyaman jika berada sekelompok dengan para TKW itu..? Mungkin iya, karena pada awalnya aku juga enggan disamakan dengan TKW sehingga cukup ambil pusing dengan masalah airlines.

 

Lalu aku di sini. Di sebuah negara dengan bahasa yang benar asing dan lingkungan yang sama sekali baru. Beberapa hari aku masih sedikit jet lag, terbangun di jam 12 malam atau jam 2 pagi dan sangat mengantuk di siang menjelang sore. Ketika terbangun tengah malam, di gelap malam, kesepian besar menghantamku. Aku kangen anakku, kangen suamiki. Di tanah air, ketika aku terbangun, mereka selalu ada di dekatku. Namun saat ini..? Kalau aku tidak segera mengambil air wudhu, shalat, lalu membaca Al Quran, mungkin esok harinya aku sudah berkemas memajukan jadwal tiket untuk pulang.

 

Di saat itulah aku teringat mereka, wanita-wanita lugu para TKW itu. Ooh, tentu mereka mengalami kesepian yang sama denganku. Dihantam kerinduan nan dalam pada anak dan suami. Mengalami kebisuan karena mereka tidak bisa bicara bahasa setempat, harus menjadi buta huruf karena mereka tidak bisa membaca bahasa asing. Mereka mungkin juga tergopoh-gopoh dan heboh sepertiku. Di tengah lingkungan baru yang sama sekali asing dan harus menjalin relasi baru dengan orang-orang asing yang berbeda laku dan budaya.

 

Aku cukup beruntung, para kolega Jerman helpful dan ramah. Aku dapat memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan mereka. Kerinduanku pada keuarga segera sirna di siang hari ketika bekerja, dan menikmati bahwa dunia riset dan sains adalah universal, dan siapapun bisa asyik berbicara tanpa batas budaya dan negara di dalamnya. Aku masih bisa bercakap dengan anak dan suamiku dengan SMS, telpon, YM, dan webcam yang dapat mengobati kerinduan.

 

Sedangkan mereka? Bisa jadi majikan mereka tak mau tahu, bahwa mereka perlu beberapa waktu untuk beradaptasi, sehingga langsung mendapat cap bodoh tak bisa bekerja, lalu dicampakkan begitu saja. Atau ada yang mendapatkan perlakuan-perlakuan yang nista yang sering kita dengar di surat kabar.

 

Aah, aku jadi malu pernah meremehkan mereka. Dari banyak aspek mereka jauh-jauh lebih kuat, tangguh, dan hebat. Meninggalkan anak dan suami yang mereka cintai dan akan selalu mereka kangeni. Karena mereka mungkin hanya punya sedikit akses pada alat komunikasi. Bisa jadi kangen mereka sudah berbongkah-bongkah di hati, namun mereka bertahan dan berjuang di suatu negeri asing untuk suatu level kehidupan yang sebenarnya kerap kita -orang yang cukup- tak mensyukurinya. Mereka adalah wanita dan ibu perkasa, tanpa pernah membusungkan dada. Mereka adalah pejuang dan pahlawan tanpa merasa bahwa mereka boleh berbangga untuk itu. Dari itu, jangan pernah remehkan mereka.

(Muenster Oct 2008)

Posted in Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

Posted by ishelianti on September 23, 2011

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

 

Berita di internet, radio, dan televisi akhir-akhir ini membuat saya sangat prihatin. Prihatin karena berita tersebut berisi kekerasan (yang bikin semangat negatif) dan juga karena ini mengenai almamater SMA tempat saya menimba ilmu dan menikmati masa remaja selama 3 tahun di dalamnya.

Mudah-mudahan kenangan pribadi ini bisa untuk berbagi, bahwa sekolah ini tak berbeda dengan sekolah lainnya di tanah air…Walau terkesan “menyeramkan” karena pemberitaan akhir-akhir ini…

Tahun 1980-an SMA 6 terkenal sebagai SMA borjuis. Artis-artis populer ataupun foto model cantik, ganteng, keren, bersekolah di situ. Anak para pejabat bersekolah di situ. Anak-anak menengah atas, bahkan anak orang terkaya di Indonesia bersekolah di situ. Mungkin sisi glamour seperti ini yang lebih terkenal saat itu, mengenggelamkan sisi lainnya, bahwa sekolah ini juga mempunyai anak-anak didik yang sangat berpotensi untuk berprestasi.

Saya termasuk yang “nervous” memasuki sekolah ini pada mulanya. Bagaimana tidak. Saya berasal dari SMP bukan favorit, yang jauh dari terkenal dan tidak terbiasa dengan semuanya di atas. Selagi SMP saya biasa berjalan kaki ke sekolah. Bukan karena dekat, tetapi karena itulah satu-satunya akses termurah menuju ke sekolah. Tapi saat itu sebagai ABG, saya yakin, sekolah ini akan memberi saya pengajaran dan lingkungan belajar yang terbaik. Sehingga saya akan bisa menjadi lebih pintar.

Harapan saya terbukti. Teman-teman saya ketika itu pintar-pintar sekali. Beberapa dari mereka sudah saya “kenal muka” sejak SD karena sering bertemu di berbagai kompetisi. Banyak yang pintar bahasa Inggris seperti para “native speaker”. Mereka mengobrol dalam bahasa Inggris, sehingga ketika saya di dekat mereka serasa berada di Washington..:-D Banyak yang piawai dalam berdiskusi dan berdebat. Mengurai pendapat mereka dengan cerdas dan runtut sambil merefer kepada buku-buku yang mereka baca. Wah…buat saya ini pengalaman yang mengesankan. Seolah menemukan lingkungan belajar yang menantang, yang membuat saya mempunyai motivasi internal untuk berprestasi secara akademis.

Guru-guru di dalamnya, sama seperti guru-guru di sekolah lain. Mereka tidaklah lebih makmur ataupun sejahtera daripada rekan-rekan mereka di sekolah lain. Mereka sebagian besar sama seperti sosok pahlawan tanpa tanda jasa di sekolah lainnya. “Low profile” dan sederhana. Tentu guru yang menyebalkan ada. Dan itu pasti ada di manapun, di seluruh sekolah di Indonesia. Tapi tak ada yang mengajarkan pada kami semua bahwa: tawuran itu baik, bersikap tidak sopan itu baik, kekerasan itu baik. Kami diajarkan nilai-nilai kebaikan sama seperti di sekolah lainnya. Dan saya percaya, sampai saat ini, detik ini, saat berita heboh ini masih memanas, para guru pun tak ada yang mengajarkan murid-muridnya hal yang ngawur.

Kalau tawuran, sebenarnya di masa itu (dan bahkan di masa sekarang!) bukan hak ekslusif SMA 6. Kala itu tawuran antar STM juga hal yang “lumrah”. Bahkan kadang lebih “seram”, karena mereka kan lumrah saja membawa obeng dan alat-alat mesin lainnya. Dan, tak ada satupun guru kami yang membiarkan tawuran, mentoleransinya, apalagi mendukungnya. Namun, para pahlawan tanpa tanda jasa itu, berbeda dengan orang di “luar pagar”, mereka bertahun bergaul dengan para ABG yang masih berproses mencari jati diri. Mengerti yang namanya “tarik ulur” dalam mendidik ABG (yang kadang memang memang rumit dan menyebalkan). Karena itu, kadang terlihat sebagian mereka mungkin “tak tegas” dalam mengeksekusi.

Kini, dua puluh dua tahun sejak kami menanggalkan seragam putih abu-abu, mengarungi kehidupan lebih luas dan lebih berwarna, para alumni masih sering bertemu. Di dunia maya dan di dunia nyata. Walau saya bukan “aktivis” reuni tapi saya bangga pada teman-teman.  Dulu, sama seperti saya, mereka adalah remaja yang mencari, kadang sotoy, kadang tidak sopan, dan menyebalkan. Kini, mereka sebagian besar adalah orang-orang yang berhasil. Dokter spesialis jenis apapun dapat ditemui. Profesional bergelar master ataupun doktor dapat dengan mudah dicari. Pengusaha sukses apalagi. Di balik sikap mereka yang kalau ketemu seperti berhura-hura, tapi kepedulian sosial dan solidaritas yang tinggi ada di sana. Mereka proaktif membantu teman yang susah dalam menjalani kehidupan. Membantu para guru yang sakit dan memerlukan biaya. Pokoknya untuk membantu orang, mereka akan bergembira, sama seperti mereka bergembira ketika makan-makan.

Solidaritas dan kepedulian pada sekolah, mungkin lahir karena rasa terima kasih mereka pada SMA ini, pada para pahlawan tanpa tanda jasa, dan kawan-kawan sepermainan dan seangkatan. Yang telah memberi 3 tahun sekeping pelajaran tidak hanya akademis tetapi juga pelajaran kehidupan, sebagaimana saya juga merasakannya.

 

*****

Buat teman-teman alumni SMA 6 Jakarta: sumbangsih kita pada kebaikan untuk masyarakat adalah cermin rasa syukur kita pada Tuhan dan rasa terima kasih kita pada SMA ini

Buat adik-adik angkatan yang tepatnya mungkin anak-anakku: perlihatkan pada dunia, bahwa tawuran bukanlah brand SMA 6.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Perempuan, Sains, dan Teknologi

Posted by ishelianti on May 28, 2011

Dari obrolan teman-teman ada data yang mengatakan bahwa CPNS BPPT -yang mayoritas harusnya jadi research engineer itu- sebagian besar adalah perempuan. Kalau mengambil sampel di unit kerja saya saja misalnya, memang benar pegawai baru yang masuk semua perempuan. Konon dari obrolan, memang yang ikut tes juga mayoritas perempuan. Where are the boys going? Entahlah….

Saya ingat, perusahaan kosmetika kecantikan L’Oreal mempunyai program fellowship untuk “woman in science”. Suatu bentuk riset grant yang dipoles demikian rupa agar prestisius –padahal besaran dana biasa saja- yang ditujukan untuk mendukung para peneliti wanita yang terpilih dari belasan finalis. Alasan L’Oreal, katanya saat ini jumlah wanita yang berkecimpung di sains dan teknologi masih sangat sedikit. Fenomena tersebut, masih menurut L’Oreal, bukan hanya di Perancis, tetapi di Eropa keseluruhan, Amerika, dan negara maju lainnya.

Tetapi, ketika saya melongok ke unit kerja saya. Jujur saja, yang aktif sebagian besar wanita lho…Makanya bagi saya ketika bekerja di tanah air, saya tidak sensitive gender. Karena di keliling saya, mayoritas perempuan. Kami bebas berdiskusi dan ngotot ketika rapat dengan kolega maupun atasan laki-laki. Bahkan kadang lebih galak dan bawel daripada para bapak. Tak ada rasa kami tak mendapat kesempatan yang sama.

Saya dari dulu tidak pernah percaya, bahwa kapasitas intelektual perempuan inferior daripada lelaki. Namun, ketika di Jepang, di univeristas saya (JAIST), PhD student yang perempuan adalah makhuk langka. Waktu itu, satu angkatan, hanya saya yang perempuan, orang asing pula. Jadi kemana-mana single fighter..:-D Tapi memang begitulah di Jepang. Lebih sulit menemukan perempuan Jepang yang susah payah belajar untuk meraih PhD atau yang berprofesi professor di Jepang daripada di tanah air. Mungkin kalau di sisi itu, perempuan Indonesia selangkah lebih maju ya?

Lain lagi di Jerman, di tempat saya berkesempatan untuk pos doc 3 bulan. Lab tempat saya riset dipenuhi oleh Girls’ power. Mayoritas student adalah perempuan. Dan akhir-akhir ini saya membandingkan dengan suasana BPPT. Sepertinya jika bidang yang menyangkut life science, perempuan memang menduduki porsi mayoritas. Begitu pula dengan porsi mahasiswa S1/S2 yang pernah saya bimbing. Dari 9 orang, cuma 3 orang cowok! Tapi, kalau itu berkaitan dengan teknologi informasi, seperti PTIK (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, BPPT), sepertinya mayoritas laki-laki. Kalau melihat fenomena, teman-teman saya yang menonjol ketika SMA, yang cowok memang kebanyakan mengambil teknik elektro atau informasi. Apakah fenomena ini umum ? Wanita lebih banyak berkecimpung di life science, sedangkan laki-laki merambah di bidang selain itu? Saya perlu mengumpulkan data lebih banyak sepertinya…:-D

Kalau alasan kenapa BPPT peminatnya lebih banyak perempuan dan juga yang lebih banyak aktif perempuan mungkinkah berkaitan dengan penghasilan dan kenyamana masa depan? Wanita bukanlah tulang punggung keluarga. Gaji mereka umumnya bukan sumber utama kehidupan rumah tangga. Jadi mereka lebih toleran dengan masalah gaji yang seperti diketahui umum, begitulah..:-D. Ketika bekerja pun, mereka tidak ngoyo cari sampingan atau obyekan. Gaji saja sudah nrimo…Makanya, yang pada ngasong kebanyakan para Bapak, karena merekalah tulang punggung keluarga.Apatah lagi jika memang cuma si Bapak yang mencari nafkah. Ini simpulan dari hasil pengamatan dan analisa saya.

Kembali ke masalah komposisi pegawai baru, menurut saya sebenarnya tak ada beda kapasitas intelektual laki-laki dan perempuan. Seharusnya, walau jumlahnya lebih banyak perempuan, jika diberdayakan secara optimal, tentu akan menghasilkan kinerja yang sama. Karena seharusnya profesionalitas dalam sains dan teknologi bukan terletak pada gender, tetapi pada manusianya.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Antara penelitian pengembangan dan komersialisasi

Posted by ishelianti on February 22, 2011

Bekerja di lembaga penelitian dan pengembangan di negara berkembang seperti Indonesia tidak mudah. Saya tak hendak mengeluh tentang gaji, karena ini terasa memalukan. Yang lebih berat justru tanggapan masyarakat terhadap keberadaan lembaga riset itu sendiri dan kebijakan tentang penelitian dan pengembangan yang ada.
Dalam obrolan santai rapat orang tua dan murid, seorang ibu dari teman anak saya yang seorang guru dengan enteng nyeletuk, ”BPPT kok gak jelas ya Bu manfaatnya…” Hmm..

Walau ibu tadi hanya menyinggung BPPT, tapi saya pikir dia akan memberi komentar yang sama jika dalam obrolan, saya katakan saya bekerja di LIPI atau BATAN misalnya. Buat banyak orang awam, keberadaan lembaga penelitian adalah posisi tak tersentuh ibarat menara gading. Jika di negara maju, sedikit yang mempertanyakan peran dan output dari menara gading ini. Karena dalam kehidupan mereka, peran inovasi dan iptek terasa, tapi tidak demikian di tanah air. Sudah di menara gading, tak terlihat jelas pula apa manfaatnya. Mungkin begitu yang ada di pikiran masyarakat kebanyakan.
Salah satu cara, agar Iptek terasa jelas manfaatnya buat masyarakat adalah dengan menyumbangkan hasil karya litbang kepada masyarakat termasuk industri tentunya, yaitu dengan mengkomersialisasikan hasil penelitian. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya..entah mengapa saya gelisah dengan kondisi sekarang…
Peneliti di Indonesia, saya kira, jarang yang melakukan penelitian an sich. Pasti. Karena kalau cuma penelitian an sich tak akan dapat dana insentif. Rata-rata, bahkan yang di universitas sekalipun, melakukannya dengan tujuan yang jelas ”untuk apa dan berguna untuk masyarakat”. Jarang ada riset dasar yang hanya karena ”ingin tahu” ada apa, bagaimana, dan mengapa. Rasanya itu menjadi ”barang haram” di lembaga riset kita, bahkan di fakultas ilmu murni bukan teknik suatu universitas sekalipun.
Tapi kondisi yang sangat menekan agar hasil karya ini termanfaatkan oleh industri, secepatnya dan seinstan-instannya, kadang menjadi bumerang. Bagi banyak peneliti ini menjadi tekanan dan beban berat. Seolah-olah fakta bahwa hasil karya peneliti hanya jadi sekedar laporan mutlak kesalahan peneliti. Seolah-olah penelitilah yang tak mau tahu urusan masyarakat dan meneliti seenak suasana hatinya. Seolah-olah mereka yang bergaji tak lebih dari PNS lain itu sumber utama kesalahan hasil riset tak termanfaatkan dengan baik.
Banyak orang lupa. Bahwa di tanah air kita, iklim yang baik untuk memproduksi nyaris tak ada. Tak usahlah memakai produk yang merupakan hasil teknologi yang pasti perlu investasi. Bahkan memproduksi sepatu ataupun baju yang konten teknologinya sederhana lalu menjualnya sebagai produk dalam negeri jatuhnya lebih mahal daripada impor dari China. Jadi, bagaimana bisa bersaing? Apatah lagi produk yang memakai paten dalam negeri yang isinya inovasi teknologi, yang notabene hasil investasi waktu, otak, tenaga, dan biaya?
Banyak dari kita yang tak menyadari pula, bahwa tak semua hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti itu harus berujung komersialisasi. Adalah kenyataan, dari yang diteliti dan dikembangkan hanya sedikit yang bisa mencapai komersialisasi. Hatta di negara maju sekalipun! Komersialisasi hasil litbang juga bukan instan seperti Indonesian Idol. Dikarantina lalu bisa jadi bintang. Komersialisasi hasil litbang tentu lebih perlu passion, kesabaran, ketekunan, dan fokus. Bukan hanya 2 tahun bekerja sim salabim ada produk yang OK. Tanpa ketekunan, kesabaran dan passion, cuma produk riset abal-abal yang bisa kita keluarkan.
Tekanan yang besar untuk segera mengkomersialisasikan hasil penelitian dan pengembangan juga membuat sebagian kalangan memandang rendah pada publikasi ilmiah internasional. Seolah-olah tak ada korelasi antara jumlah publikasi internasional suatu bangsa dengan kemajuan Ipteknya. Seolah-olah publikasi ilmiah itu tak memberi kontribusi apapun pada masyarakat. Padahal kemajuan Iptek dan kemahsyuran bangsa bertumpu pada hal ini.
Memang publikasi ilmiah tak memberi dampak kasat mata seperti komersialisasi. Tetapi tak dapat diingkari, publikasi ilmiah adalah bahan baku ilmu pengetahuan dan inovasi selanjutnya. Publikasi ilmiah kalau diumpamakan seperti olahraga. Menjadi pendukung eksistensi suatu bangsa untuk dipandang di dunia internasional.
Tekanan yang besar untuk komersialisasi hasil riset juga membawa kita pada titik ekstrem lain. Kita melupakan ilmu dasar sebagai modal kita menjadi bangsa yang lebih pintar, lebih bijak, dan unik. Misalnya, jika sekarang kita tak peduli pada sumber daya hayati kita yang banyak ribuan species nya pun belum bernama, dengan alasan tak ada dana luang untuk penelitian dasar taksonomi mikroba ataupun tumbuhan, tunggulah sampai orang lain mempelajarinya dan memanfaatkannya.
Tak ada yang salah dengan komersialisasi hasil litbang. Semua mencita-citakannya dan menginginkannya. Tetapi ketika kita bersikap ekstrem bak pendulum, lupa dengan proses karena ingin instan dan tergesa, tunggulah negara kita menjadi tak bernyawa dalam Iptek.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Beriklan dulu ya….?

Posted by ishelianti on February 13, 2011

Lama tidak menulis untuk Blog ini. Ternyata merawat itu lebih sulit ya daripada memulai? Dulu cita-cita saya membuat blog ini, agar saya mendapat pahala amal jariah dari yang saya tuliskan di blog ini. Pahala amal jariah ilmu tentunya. Karena niat saya ingin menulis banyak buku sebenarnya, namun apa daya, waktu belum memungkinkan. Tetapi, ternyata sulit juga untuk bisa teratur menulis hatta di sebuah blog.

Maka, daripada sepi dan melompong, ijinkan saya beriklan ya? Ini bukan buat keperluan pribadi. Tapi masih dalam kerangka diseminasi ilmu pengetahuan dan sharing wawasan teknologi.

Yang pertama,
pada teman-teman yang berkecimpung di bidang Mikrobiologi ataupun bidang lain yang terkait dengannya dan ingin mempublikasikan hasil risetnya, silakan submit ke Microbiology Indonesia (MI):
http://www.permi.or.id/journal/index.php/mionline/
atau mengirim naskah langsung ke microbiology.indonesia@permi.or.id

Tanpa bermaksud narsis (walaupun narsis juga ga papa kali ya…toh beriklan..:-D), MI adalah jurnal resmi terbitan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia yang cukup berwibawa di Indonesia. Diakreditasi A oleh DIKTI 4 kali berturut-turut, mempunyai edisi on line dan print out, dewan editor nasional dan internasional yang handal, dan jaringan reviewer dalam dan luar negeri. Visi kami ingin menjadikan MI jurnal yang disegani paling tidak di ASEAN. Mudah-mudahan..:-D

Yang kedua,
Laboratorium tempat saya bekerja juga mempunyai kegiatan “pelayanan teknologi” berupa pelatihan untuk teman-teman yang ingin lebih mengetahui dan mendalami tentang teknik biologi molekuler, seperti PCR, teknik kloning di E. coli, ataupun teknik kloning di Bacillus. Kami juga melayani jasa identifikasi bakteria dengan teknik biologi molekuler.
Bagi yang minat atau sekedar berdiskusi silakan hubungi saya di ishelianti@webmail.bppt.go.id

Terima kasih…

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

MELONGOK BUDAYA BACA DAN TULIS MASYARAKAT JEPANG

Posted by ishelianti on October 21, 2009

  • Ini adalah salah satu artikel saya yang laku dibajak….:-))

Semoga manfaat!

======

Sampai saat ini, Jepang adalah satu-satunya negara di Asia yang mempunyai kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan raksasa dunia seperti Amerika. Tak heran, jika perdana mentri Malaysia Mahatir Muhammad, menjadikan Jepang sebagai kiblat pengembangan iptek ketimbang barat. Cerita mengenai kehebatan Jepang dapat bangkit dengan cepat dari puing-puing kekalahan perang dunia kedua, menginspirasi banyak negara di Asia untuk dapat menjadi seperti Jepang. Sifat dasar orang Jepang memang tekun dan pekerja keras. Selain itu rata-rata dari mereka mempunyai keinginan untuk selalu belajar dan selalu memperbaikin hasil kerja mereka. Mungkin sifat-sifat dasar ini menjadi salah satu pendukung kehebatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca dan tulis masyarakat Jepang.

Banyaknya fasilitas membaca, surga buat penggemar buku

Menurut data dari bunkanews (situs khusus tentang media massa berbahasa Jepang), jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Toko buku yang ada tak melulu toko buku baru. Masih menurut bunkanews, toko buku bekas atau toko buku tua menempati presentase sepertiga jumlah toko buku. Artinya, jumlah toko buku bekas adalah separuh jumlah toko buku baru. Keberadaan toko buku bekas ini sangat menolong konsumen buku, karena mereka bisa mendapatkan buk  mendapatkan buku-buku tua yang sangat bernilai namun sudah tak lagi diterbitkan. Toko-toko buku ini berani
untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Mengapa demikian? Karena kaki para konsumen buku terus mengalir sampai malam. Banyak di antara mereka yang datang hanya untuk sekedar “tachi yomi” (artinya membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli) melepas kebosanan di malam hari. Tachiyomi sekilas tampaknya hanya merusak pemandangan toko. Namun ternyata oplag penjualan berbanding lurus dengan jumlah orang yang tachiyomi. Artinya, ada kencenderungan sehabis tachiyomi orang tergerak untuk
membeli bacaan lainnya. Selain toko buku, perpustakan pun sangat mudah kita temui di sekitar kita. Di daerah pedesaan, biasanya, perpustakaan ini dikelola oleh pemerintah daerah setingkat kecamatan
Sebab itu, meskipun di pedesaan buku bukanlah barang mahal yang sulit di dapat.

Rata-rata orang Jepang gemar membaca, atau paling tidak, gemarmencari informasi -yang tampak remeh sekalipun- dari orang lain. Bahkan banyak para artis yang mempunyai hobi membaca. Kecenderungan ini dipakai oleh para penerbit sebagai ajang promosi buku-buku merekadi televisi.Di salah satu televisi swasta ada acara yang disebutacara “toko buku Sekiguchi”. Dalam acara ini para artis atau pelawak mempresentasikan referensi suatu buku, sedangkan artis lain yanghadir diminta untuk membeli berdasarkan kesan mereka terhadappresentasi tersebut dari kocek mereka sendiri. Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lamatoko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar TV dan memesan lewat internet atau telpon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah “televisi shopping”, namun yang
dipromosikan adalah buku. Ketika kita masuk ke sebuah toko buku, biasanya ada beberapa hal khas yang kita jumpai. Pertama, biasanya buku-buku bacaan di Jepang, novel, kumpulan essai, ataupun ilmiah populer didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Sehingga kita tidak enggan membawa buku tersebut baik ketika dalam perjalanan ke kantor ataupun berbelanja. Orang yang membaca buku (tentu juga komik
ataupun majalah) akan sangat mudah kita temui di bis-bis kota ataupun di kereta-kereta listrik. Kedua, kita akan susah mendapatkan buku- buku berbahasa Inggris di toko-toko buku Jepang pada umumnya. Ini
karena, para penerbit Jepang sangat memperhatikan penerjemahan buku- buku hasil karya penulis dari negara-negara lain.

Bahkan banyak kasus buku best seller yang diterbitkan di negara lain diterbitkan pula
terjemahannya di Jepang dalam waktu yang hampir berbarengan, seperti buku Harry Potter yang ngetop di Amerika itu. Ini tentu saja karunia bagi masyarakat Jepang khususnya para penggemar buku. Mereka bisa
menikmati hasil karya penulis-penulis beken negara lain dalam bahasa mereka sendiri. Suatu karunia yang kita pikir hanya dipunyai oleh negara-negara berbahasa Inggris, seperti Amerika atau sebagian negara
Eropa. Hanya toko-toko besar tertentu (dan biasanya di daerah perkotaan) yang menyediakan buku-buku impor berbahasa Inggris dan bukan terjemahannya.

Mengarang Sejak Kanak-Kanak

Budaya baca masyarakat Jepang yang tinggi ini tentu saja merupakan efek timbal balik dari tingginya budaya tulis mereka. Ada konsumen karena ada produsen, ada produsen karena ada konsumen. Budaya tulis Jepang sudah  biasaya selalu mempunyai tugas “sakubun” (artinya mengarang) dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya, ketika mereka libur musim panas, musim dingin, atau libur kenaikan kelas, selalu ada tugas sakubun
tentang apa yang mereka kerjakan, rasakan, dan alami selama liburan. Atau, ketika hari-hari tertentu, hari ayah atau hari ibu, murid-murid SD ditugaskan untuk membuat sakubun tentang ayah dan ibu mereka.
Kesan mereka terhadap ayah dan ibu mereka masing-masing ditulis dalam bentuk sakubun, lalu hasil karangan tersebut mereka presentasikan di depan kelas.

Ketika mereka akan lulus SD, mereka ditugaskan untukmengarang tentang impian (cita-cita) mereka ketika mereka dewasa kelak. Tentu saja tulisan mereka ini didokumetasikan dalam bentuk buku dan disimpan dengan baik oleh pihak sekolah. Sehingga mereka bisa bernostalgia dengan impian masa kanak-kanak mereka, ketika mereka bereuni setelah dewasa dan membaca sakubun mereka ketika sekolah dasar. Maka tak heran, jika rata-rata anak Jepang pandai mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan lewat rangkaian kata-kata. Ditambah lagi, karena bahasa Jepang adalah bahasa yang dibangun bukan berdasarkan huruf melainkan karakter gambar (yaitu kanji). Ini menjadikannya sangat kaya dengan ungkapan dan nuansa dan sangat ekspresif untuk bahasa sastra tulis. Sebagai contoh, kata “berpikir”.

Biasanya, orang Jepang menggunakan karakter atau kanji yang berbeda untuk berpikir yang menggunakan akal seperti dalam kalimat: “Berpikir tentang kejadian alam semesta”, dengan berpikir yang menggunakan
perasaan seperti dalam kalimat “Berpikir tentang mu membuat saya terkenang-kenang masa lalu”. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Siapa Saja bisa Jadi Penulis

Tingginya budaya tulis masyarakat Jepang juga dikarenakan merekaadalah “learning society”, yaitu masyarakat yang senang belajar dan ingin well informed. Rata-rata dari orang Jepang senang untuk mencoba mensistemasikan segala informasi yang mereka dapatkan dan mendokumentasikannya menjadi pengetahuan praktis yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Siapapun, apapun profesinya dapat
menjadi penulis amatiran dan menerbitkan buku yang dapat menjadi informasi untuk orang lain. Dari ibu rumah tangga biasa sampai kalangan artis sangat mudah membuat buku ataupun tulisan. Tidak
berlebihan jika banyak dari orang Jepang yang punya keinginan untuk menulis buku tentang diri mereka sendiri (otobiografi) sebelum merekameninggal, sebagai “jejak” atau “tanda” mereka pernah hidup di dunia
ini.

Ada seorang ibu rumah tangga yang mengalami pindah rumah beberapa kali, dan dari pengalamannya tersebut dia menulis sebuah buku tentang pindah rumah yang efisien sekaligus menyenangkan. Juga dari
pengalaman, ada ibu rumah tangga yang menulis satu buku tentang kiat- kiat untuk memutuskan membuang atau menyimpan suatu barang. Hal-hal yang mereka tulis memang tampak sepele, tapi hal-hal tersebut
terkadang menjadi penting dan bermanfaat pada saat-saat tertentu. Sehingga penerbit berani menerbitkan tulisan mereka dan dilirik oleh konsumen di toko buku. Contoh lain adalah seorang artis yang terkena
kanker rahim di saat hamil, sehingga dia harus menggugurkan kandungannya untuk penyembuhan kankernya dan kelangsungan hidupnya.

Sang artis menulis perjuangannya melawan kanker, menyampaikan tentang apa yang dia rasakan, pikirkan, dan alami dalam satu buku. Buku ini memang buku seorang penulis “amatiran” namun sarat dengan pesan-pesan untuk para ibu dan penyemangat wanita-wanita yang mempunyai penderitaan yang sama. Masih banyak lagi contoh lain yang menggambarkan betapa menulis dan menerbitkan buku bukanlah hak khusus penulis profesional belaka dalam  semua orang yang ingin menyampaikan pengetahuannya, pesannya, dan
keberadaannya kepada orang lain.

Budaya baca dan tulis masyarakat Jepang nampaknya juga tak bisa  dipisahkan dari keberadaan komik, yaitu buku cerita fiksi bergambar. Bisa dikatakan Jepang adalah masyarakat yang kaya akan komik. Berbagai jenis komik akan mudah kita dapatkan di toko-toko buku bahkan convinient store 24 jam. Ada komik humor, komik cerita
imajinasi, atau komik yang erat dengan pendidikan. Bahkan film-film kartun Jepang hampir seluruhnya (juga yang diputar di Indonesia sekarang ini) adalah berasal dari karya komik.

Ada seorang sosiologi yang mengatakan, bahwa orang asing bisa belajar tentang representatif masyarakat Jepang lewat salah satu komik Jepang yang telah dianimasikan seperti “Keluarga Sazae”. Komik filem ini sudah diproduksi sampai puluhan ribu seri sejak puluhan tahun lalu dan menggambarkan sebuah keluarga Jepang dua abad keturunan, abad, orang
tua, dan kakek nenek. Tokoh-tokoh kartun ini berkembang dari tokoh utama (Sazae) kecil sampai dia menikah dan mempunyai anak. Sayang, pertumbuhan sang tokoh berhenti sampai di situ.

Walaupun demikian, pembuat komik “Keluarga Sazae” pun dimasukkan dalam daftar sastrawan Jepang yang memberikan kontribusi besar pada pendidikan masyarakat Jepang. Karena itu, imej komik di Jepang tidaklah melulu buruk, bahkan dihargai keberadaannya dalam budaya tulis dan baca di masyarakat Jepang. Begitulah masyarakat negara matahari terbit ini. Kita dapat melihat bahwa budaya tulis dan baca mereka yang tinggi didorong oleh besarnya apresiasi mereka terhadap hasil karya orang lain, hasil proses kreatif orang lain, juga besarnya keinginan mereka untuk berbagi informasi dengan orang lain dan mengekspresikan diri. Mudah-mudahan beberapa tahun kedepan, suatu masyarakat dengan kecenderungan yang sama akan kita jumpai di tanah air. Semoga.(is01)

Posted in Uncategorized | 6 Comments »

Ketika tulisan saya dibajak….

Posted by ishelianti on October 21, 2009

Ketika menulis artikel di media maya, saya sudah mengetahui resikonya. Bahwa orang yang tidak beretika akan seenaknya copy paste tulisan saya dan diakuinya sebagai miliknya sendiri. Tapi sedih juga, ketika dengan mata kepala sendiri membaca langsung tulisan saya diatas namakan orang lain. Beberapa tulisan yang dibajak adalah artikel tentang pengamatan saya terhadap perilaku dan budaya masyarakat Jepang, seperti : “Memasyarakatkan Iptek belajar dari Jepang”, “Melongok Budaya Baca Tulis Masyarakat Jepang” yang saya tulis ketika saya masih tinggal untuk studi di sana.

Saya dan beberapa teman-teman sekota di wilayah Hokuriku pernah mengelola Majalah Muslimah On Line yang judulnya “Hokuriku MuslimahOn Line”.  Sekarang sudah tidak terbitlagi karena kami sudah kembali ke tanah air. Banyak artikel dari majalah on line ini yang dikopi paste ke milis-milis tanpa menyebut yang membuat. Parahnya, juga ada yang mengklaim dia yang membuat sementara initial penulis yang biasanya saya singkat di paling akhir artikel bersamaan dengan nomer misalnya (is01) masih tercantum di artikel. Lalu ada juga yang mengirimnya ke surat kabar tanpa malu-malu!

Mungkin saya harus maklum. Bangsa ini memang masih kurang menghargai hak cipta seseorang. Padahal hak cipta bersifat deklaratif, artinya dia melekat pada sang pembuat saat hasil karya itu dipublikasikan oleh sang pembuat. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari tulisan saya di dunia maya, saya juga tidak keberatan ketika tulisan itu disebar tanpa seijin saya, asalkan nama saya dicantumkan sebagai penulis. Ini adalah kesepakatan moral yang universal. Jadi jelas saya tersinggung ketika ada orang yang dengan tanpa malu hati mengakui 100% hasil kreativitas dan analisa saya sebagai tulisannya.

Lewat blog ini saya katakan, bahwa silakan 100% mengkopipaste tulisan saya. Namun bersikap sportiflah, bahwa cuma itulah yang anda lakukan dengan menyebut bahwa saya penulisnya, bukan dengan menghapus nama saya lalu menggantinya dengan nama anda…

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Catatan 20 tahun berjilbab ~Antara Jilbab, Kajian Islam, dan Teroris

Posted by ishelianti on October 15, 2009

Membaca dan mendengar berita akhir-akhir ini sangat menyesakkan dada. Salah satunya, Densus88 menggerebek sebuah rumah kos di Ciputat dan menembak mati para tersangka teroris. Sesak dada, karena menurut berita ada mahasiswa-mahasiswa generasi harapan yang tersangkut kasus ini. Para mahasiswa yang taat beribadah dan bersemangat dalam mengkaji Islam, disinyalir berkaitan. Seorang mahasiswa lain mengisahkan bahwa dia hampir saja direkrut oleh para tersangka teroris, didekati secara agresif sehingga ketakutan.

Di tengah berita seperti itu banyak yang berkecamuk dalam benak. Antara lain, efek domino dari pemberitaan dan fakta ini. Bahwa kajian Islam di kampus-kampus mungkin akan ditakuti oleh para generasi muda dan para orang tua yang mempunyai anak mahasiswa. Karena mengikuti kajian keislaman rutin, lalu menjadi taat beribadah dan taat menjalankan perintah agama identik dengan mendekat pada teroris. Padahal bisa dijamin sebagian besar kajian Islam, pengajian, dan majelis ilmu yang ada sama sekali jauh dari suasana tersebut.

Karena itu saya ingin menuliskan pengalaman pribadi saya untuk saya bagi, terutama bagi adik-adik mahasiswa. Pengalaman hidup yang bagi saya merupakan harta kekayaan tak ternilai yang membuat saya terus bersyukur telah melaluinya. Dan semoga bermanfaat khusunya dalam membuat kita untuk terus belajar menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Sehingga kita tak ragu berlari mendatangi hidayah dengan rajin-rajin menghadiri kajian Islam yang kaya manfaat, namun tidak meninggalkan daya kritis sebagai pemuda…

Bulan Oktober ini, tepat 20 tahun saya memakai jilbab, tepatnya busana yang menutup aurat. Sebenarnya, ini bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bagi saya yang mengikuti pendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah tentu bukan prestasi. Berjilbab tentulah sama artinya dengan mengapa saya harus sholat, mengapa saya harus puasa, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kewajiban yang saya pilih dengan kepala sehat, yakini, dan tanpa paksaan untuk saya jalankan.

Berjilbab menjadi spesial buat saya karena momentum berjilbab inilah yang selalu mengingatkan saya untuk dapat menjalani apa yang saya yakini benar dengan memohon bimbingan Allah selalu. Momentum jilbab inilah yang menjadikan titik berangkat saya untuk selalu ingin berusaha jadi muslimah hamba Allah yang sejati tanpa kehilangan diri sendiri. (Walau sejujurnya, saya merasa masih jauh dari sosok muslimah hamba Allah yang sejati)

Selain bersyukur pada Allah atas hidayah ini, tentu saja saya harus berterima kasih pada kajian-kajian keislaman di STAN waktu itu. Berterima kasih pada mentor-mentor kajian yang telah membukakan mata saya akan keindahan islam, keindahan berakhlak mulia, keindahan mengasihi dan berbakti pada ibu dan bapak, keindahan bersikap santun dan baik pada semua orang, muslim dan non-muslim.

Sebelum mengkaji Islam, sebelum berjilbab, saya bisa jadi anak yang kasar pada orang tua. Anak yang tak bisa maklum pada kekurangan manusiawi mereka sebagai orang tua. Tetapi mengkaji Islam, berjilbab, membuat saya malu untuk sering-sering berbantahan dengan ibu. Banyak perilaku-perilaku positif yang saya latih setelah berjilbab dan mengikuti kajian Islam secara rutin. Berkat jilbab dan mengkaji Islam secara rutin dan tentu saja hidayah Allah SWT saya mantap menikah di usia muda, percaya diri untuk mengambil beasiswa ke Jepang dan meneruskan hingga doktor, mantap menekuni dunia kerja penelitian dengan idealisme ibadah membangun tanah air yang saya cintai, dan meyakini di jalan profesi inilah dakwah saya.

Tentu bukan tanpa dinamika. Saya pernah gelisah ketika ada pendapat bahwa muslimah ”haram” bekerja. Muslimah cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Dan banyak dari angkatan saya yang drop out dengan sengaja dari kuliah karena alasan ini. Nalar saya sebagai remaja memberontak. Jadi muslimah tidak boleh berprestasi? Muslimah tidak boleh bekerja? Berjilbab equal dengan kemandekan? Alhamdulillah, saya tak pernah menanggalkan daya kritis saya. Kegelisahan saya terjawab, dan sekarang seperti yang anda baca, saya bekerja dan tetap berjilbab dengan segala sikap yang saya yakini…:-)

Karena itu, tetaplah berlari menggapai hidayah dan bimbingan Allah. Jangan menjauh dari kajian Islam hanya karena takut terjatuh dalam jeratan teroris. Kajian-kajian islam adalah kegiatan yang positif. Daripada menghabiskan masa remaja dengan kegiatan yang tak tentu arah atau malah menyerempet hal-hal yang menyimpang seperti narkoba atau pergaulan bebas. Tetapi tetaplah open mind, berdiskusi dengan banyak pemikiran, bergaul dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip diri, bersikap kritis dengan prasangka baik. Dan tentu yang utama, selalu berdoa mohon petunjuk Allah untuk membimbing kita selalu agar selalu ada dalam kebaikan. Islam itu indah dan menjadi muslim itu adalah membawa misi menjadikan nilai-nilainya  rahmatan lil alamin….

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »