Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Archive for the ‘sosial politik’ Category

Science and Technology Made in China

Posted by ishelianti on February 5, 2010

Science and Technology Made in China

Sudah satu bulan perdagangan bebas ASEAN-China dibuka. Efeknya di berbagai bidang mulai dirasakan. Penjualan telepon selular buatan China yang berharga sangat murah namun berteknologi canggih meningkat lebih dari dua kali lipat setiap harinya. Mobil bermerk Eropa namun dibuat di China siap memasuki pasar Indonesia dengan harga jual di bawah mobil merek Jepang yang notabene dibuat di Indonesia. Sebelum kran perdagangan bebas dibuka pun sebenarnya, di  sekitar kita telah dibanjiri produk China. Dari produk yang berharga murah seperti mainan anak dari plastik dan pakaian jadi, sampai produk mahal seperti komputer jinjing.

Ambisi China menjadi leader dalam produk teknologi tidak hanya pada produk-produk teknologi kasat mata yang tersebut di atas. Di dunia ilmu pengetahuan seperti publikasi internasional misalnya, China sangat luar biasa. Pada tahun 1996 China hanya menempati urutan kesembilan dalam memproduksi publikasi ilmiah internasional dengan hanya sekitar 27 ribu publikasi. Akan tetapi pada tahun 2007, rangkingnya melonjak naik menjadi posisi kedua setelah Amerika Serikat, dengan jumlah publikasi sekitar 181 ribu dokumen pada tahun tersebut atau 12% dari publikasi internasional yang ada di seluruh dunia.

Beberapa tahun belakangan ini, para saintis dan komunitas ilmiah China pun sangat aktif menggiatkan pertemuan-pertemuan ilmiah internasional. Mereka berusaha menjadi pemimpin ilmu pengetahuan di Asia dengan mengumpulkan para saintis, akademisi, pebisnis dari berbagai negara di Asia dalam pertemuan ilmiah ini. Paket pertemuan ilmiah ini mereka rangkai satu paket dengan kunjugan ke beberapa daerah wisata yang menjadi high light di China. Sehingga mereka melakukan diseminasi ilmu pengetahuan dan koordinasi dengan para saintis internasional sekaligus promosi pariwisata negaranya.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi China yang luar biasa ini bukan tanpa persoalan. Barang-barang China yang dijual di Indonesia memang terkenal berharga murah. Namun, kualitas dan pelayanan purna jual yang belum berkembang baik, menyebabkan sebagian kalangan berpikir ulang untuk membeli produk China jika ingin mempunyai barang yang awet.

Demikian pula dengan publikasi ilmiah internasional yang dielu-elukan, bukanlah tanpa kekurangan. Tingginya jumlah publikasi ilmiah internasional oleh saintis China tidak diimbangi dengan tingginya indeks sitasi, suatu indikator yang menunjukkan seberapa penting publikasi tersebut menjadi referensi bagi saintis lainnya. Menurut Jurnal Nature, banyak ditemukan publikasi yang berdasarkan riset fiktif ataupun hasil plagiat ataupun manipulasi data yang pernah ada sebelumnya dalam publikasi internasional ilmuwan China. Fenomena ini ditengarai diakibatkan tingginya tekanan untuk menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional yang berkualitas. Tekanan ini berkaitan dengan mudahnya dana penelitian dengan jumlah sangat besar mengucur jika institusi penelitian ataupun universitas atau peneliti mempunyai jejak rekam yang baik dalam penerbitan jurnal internasional.

Dua persoalan yang diangkat di atas bisa jadi hanya merupakan salah satu fase pembelajaran yang baik bagi China. Saat ini, memang kuantitas produk Iptek masih lebih diperhatikan daripada kualitas di China. Tapi beberapa tahun ke depan, China benar-benar akan menjadi pemimpin yang tangguh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kita melihat sejarah Iptek Jepang. Ketika mobil-mobil Jepang pertama kali sampai di pasaran internasional tak sedikit yang meremehkan kualitasnya. Tetapi sekarang, siapa yang tidak kenal Toyota sebagai produsen mobil nomer wahid di dunia?

Perdagangan bebas Asean-China sudah berjalan. Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang ketakutan akan terebutnya pasar domestik dan didikte dalam kepemimpinan Ilmu pengetahuan dan teknologi oleh China. Jika Thailand saja optimis bisa mengekspor produk kulinernya ke China, yang dengan demikian berarti akan merambah dunia. Kenapa Indonesia tidak mencoba pada bidang lainnya? Tidak cukup hanya dengan membeli produk buatan dalam negeri, diperlukan semangat yang lebih dari itu.

Kita dapat belajar secara intens sekarang dari China. Pemerintah China sangat serius mengerahkan seluruh daya upaya, sumber daya alam, penghasilan negaranya bahkan para diasporanya untuk pendidikan dan iptek sebagai mesin penggerak pengembangan ekonomi yang berkesinambungan. Dari tahun 2002, China mengalokasikan anggaran negaranya yang besar pada penelitian dan pengembangan. Tindak tanggung-tangung pada tahun 2002 itu, alokasi China untuk Iptek adalah lebih dari 86 trilyun rupiah, atau no 3 di dunia setelah Amerika dan Jepang.

Namun untuk sedikit menghibur, China belum jadi leader yang sebenarnya dalam Iptek. Meskipun berkembang pesat, jumlah peneliti China baru 633 per satu juta penduduk. Meski pasti sangat jauh dari keadaan Indonesia, China dalam hal ini masih tertinggal dari USA yang mempunyai 4526 peneliti per satu juta penduduk atau Jepang yang jumlah penelitinya 5085 orang per satu juta penduduk. Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Penulis:

Is Helianti

Perekayasa BPPT

Advertisements

Posted in sosial politik | Tagged: | 1 Comment »

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Posted by ishelianti on September 3, 2009

Ini ada artikel saya jaman baheula ( 8 tahunan lalu kali ya?). Saya sedang merenung tentang banyaknya kontent dan kompleksnya tuntutan kurikulum anak SD saat ini. Terus terang, sedari kecil saya tak pernah diperintah untuk belajar atau dibimbing dalam mengerti pelajaran. Mengalir begitu saja.Tapi melihat tuntutan kurikulum saat ini, rasanya sama dengan menjerumuskan anak jika saya hanya percaya anak saya pasti bisa tanpa membimbingnya belajar secara intens di rumah.Tuntutan dan konten kurikulum khususnya pembelajaran akademik sangat tinggi. Kadang saya berpikir, apa perlu kelas satu kelas dua belajar seperti ini? Apakah ini berujung pada pengembangan kapasitas intelektual anak atau malah tidak dapat membentuk dasar akademis yang kuat sama sekali?

Mudah-mudahan tulisan ini tidak basi, dan dapat menjadi masukan dan bahan perenungan saya pribadi.

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Mengamati rapot SD Jepang, maka dapat disimpulkan bahwa rapot SD Jepang
banyak mengalami perubahan.Perubahan ini adalah hasil evaluasi yang
terus-menerus sejak masa pasca perang dunia kedua sampai sekarang. Beberapa
orang Jepang teman sekerja saya memaparkan demikian. Semua yang hampir
seusia dengan saya mengatakan bahwa rapot murid SD Jepang sekarang sangat
berubah dibandingkan rapot mereka dulu ketika SD. Para ibu yang
menyekolahkan anak-anaknya juga mendukung data ini. Rapot anak pertama dan
ketiga mereka yang terpaut beberapa tahun sangat berbeda. Baik mata
pendidikan (sebagai ganti menyebut mata pelajaran) yang dilaporkan maupun
cara pelaporannya. Ada baiknya saya uraikan secara sistematis tentang
pandangan kebijakan Depdikbud Jepang tentang pendidikan dasar yang mendasari
perubahan yang tercermin dengan berubahnya isi rapot.

Sekitar tahun 1947, sebagai negara yang baru saja kalah perang, Jepang mulai
membenahi segala bidang kehidupan masyarakatnya, termasuk pendidikan.
Evaluasi tentang sistem pendidikan, komposisi mata pendidikan tingkat rendah
(sekolah dasar) selalu menjadi bahan perdebatan hangat dan evaluasi sejak
tahun enam puluhan. Sama seperti Indonesia sekarang ini, sehabis perang
dunia II Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) juga
merupakan mata pelajaran pokok di SD. Namun, karena misi pendidikan dasar
secara integral adalah bukan hanya membentuk dasar kemampuan baca, tulis,
berhitung namun juga menanamkan ketrampilan dasar sebagai manusia sebagai
makhluk sosial. Nampaknya ini tidak tercapai dengan sistem mata pelajaran
yang hanya menekankan pada kemapuan intelektual di kala itu. Lewat
penelitian dan evaluasi panjang akhirnya Monbusho (Depdikbud) Jepang di
tahun 1988 mengumumkan untuk menghilangkan pelajaran IPA dan IPS di Sekolah
Dasar, dan menggantinya dengan mata pendidikan baru yang bisa jadi merupakan
kombinasi pelajaran IPS dan IPA diintegrasikan dengan penanaman nilai-nilai
luhur. Mata pendidikan baru ini bernama seikatsuka (seikatsu= hidup
sehari-hari, ka= istilah untuk menyebut mata pelajaran) Beberapa sub dari
pelajaran seikatsuka adalah: bagaimana hidup dengan cara yang sehat dan
aman, bergaul dengan orang-orang sekitar kita, berinteraksi dengan alam,
memanfaatkan fasilitas umum, dan sebagainya. Di samping itu, Depdikbud
Jepang mencanangkan pendidikan yang integral dan meminta semua pendidik
untuk memasukan nilai-nilai luhur ke dalam setiap mata pendidikan.

Tahun 1990, penerapan kurikulum SD dengan komposisi mata pendidikan yang
baru mulai diterapkan. Khususnya untuk SD kelas 1,2, dan 3 banyak mengalami
perubahan. IPS dan IPA yang dahulu hanya pelajaran monoton, kini digantikan
dengan mata pendidikan seikatsuka yang memasukkan unsur IPS, IPA, bermain,
dan berkomunikasi (bahasa) di dalamnya. Di dalam seikatsuka terperinci
kegiatan belajar yang mendetail di mana murid-murid kelas satu dijadwalkan
untuk bermain dan memperhatikan keadaan taman terdekat, mengenal sekolah
mereka dan orang-orang yang berperan dalam sekolah dari kepala sekolah, para
guru, penjaga kantin sampai penjaga sekolah, belajar mengurus dan menyayangi
hewan peliharaan seperti kelinci bersama-sama, memperkenalkan ayah, ibu, dan
saudara-saudara mereka dan sebagainya. Sedangkan di kelas dua, ada pelajaran
bagaimana menanam tanaman dari biji hingga tumbuh besar, berjalan-jalan
mengenal kota di mana mereka tinggal, mengadakan festival mainan dsb. Bisa
dikatakan, jumlah pelajaran yang mengharuskan anak kelas satu dan dua SD
untuk duduk tekun di meja dan pekerjaan rumah yang membuat lelah anak-anak,
menurun dengan drastis dibanding waktu-waktu lampau. Oleh karena itu
kehidupan sekolah dasar adalah hal yang menyenangkan dan mengasikkan buat
para murid, bukan lagi menjadi momok karena banyaknya beban seperti di masa
lampau.
Agaknya, perubahan dalam kurikulum SD itu juga berangkat dari falsafah
Jepang dalam mendidik generasi mereka. Yaitu: 1. Mendidik anak-anak untuk
menjadi orang yang kaya hati sehingga menyayangi, menghormati orang lain,
dan menyayangi makhluk hidup lain. 2. Mementingkan pendidikan dasar yang
sangat mendasar yang sesuai dengan karakter dan kekhasan anak masing-masing,
karena setiap anak adalah unik. 3. Memacu anak untuk mandiri dalam belajar
dan mendidik diri mereka sendiri sejak kecil. 4. Menciptakan manusia yang
menghormati budaya luhur dan dapat bergaul dalam masyarakat internasional.
Falsafah-falsafah ini sebisa mungkin harus dimasukkan dalam setiap mata
pendidikan dan difahami oleh para pendidik. Sehingga, mata pendidikan yang
dulu sangat menekankan melulu kecerdasan seorang anak, sekarang ditekankan
kepada mengembangkan ketrampilan anak untuk bersosialisai dan berkembang
sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.

Perubahan ini pun tercermin dalam rapot anak-anak SD Jepang. Mata pendidikan
seikatsuka selain bahasa (membaca dan menulis) dan berhitung sangat ditulis
dengan rinci. Bentuk mata pendidikan yang dinilai memang menggunakan istilah
yang beragam untuk tiap sekolah. Namun secara garis besar ada mata
pendidikan, bagaimana sikap anak dalam memberi salam kepada orang lain,
bagaimana nilai anak ketika bekerja sama dengan orang lain, bagaimana sikap
anak ketika bergaul dengan orang lain, bagaimana sikap sang anak dalam
memelihara tumbuhan atau binatang, bagaimana sikap anak dalam
mengekspresikan pikirannya, dll. Tidak berlebihan jika dikatakan rapot
tersebut menunjukkan perhatian sekolah pada hakikat dasar mendidik anak.
Untuk kelas 1, 2, dan 3, nilai mereka pun bukan nilai kuantitaf yang
ditunjukkan dengan angka seperti delapan atau enam. Tetapi dengan komentar
pujian atau memberi semangat: “sudah berusaha dengan baik” atau “mari
berusaha sedikit lagi”, yang biasanya disimbolkan dengan lingkaran (untuk
yang pertama) atau segitiga (untuk yang terakhir). Tidak ada nilai negatif
untuk anak. Dan untuk SD kelas empat ke atas, nilai A, B, C memang
diterapkan. Namun, ini adalah nilai mutlak per anak, bukan nilai komparatif.
Setiap anak dihargai oleh usaha mereka masing-masing untuk meningkatkan
diri. Oleh karena itu di SD Jepang, tak ada sistem rangking yang
membandingkan satu anak dengan lainnya, ini berdasarkan filsafah pendidikan
dasar yang menekankan pada perkembangan khas setiap anak secara perorangan.
Satu kelas bisa saja semuanya memperoleh nilai A atau dobel lingkaran untuk
satu mata pendidikan. Akan tetapi nilai A ini sangat berbeda untuk tiap
anak. Misalnya, anak yang pemalu dan sulit berinteraksi dengan
kawan-kawannya, bisa saja memperoleh nilai A untuk mata pendidikan
berinteraksi dan bekerja sama sesama kawan sama dengan seorang anak yang
memang supel dan pandai bergaul. Dengan catatan, A bagi anak pertama,
mungkin berkaitan dengan peningkatan yang dicapainya dibandingkan dengan
catur wulan lalu, dan nilai A bagi yang kedua adalah memang sikap unggul
sang anak dalam bergaul. Demikian pula pelajaran-pelajaran lainnya.

Sistem kurikulum dan rapot yang seperti ini, walaupun adalah hasil akumulasi
pemikiran, penelitian serta evaluasi pihak-pihak terkait khususnya Depdikbud
Jepang, sampai sekarang masih terus dievaluasi. Khususnya permasalahan
tertinggal pada pelajaran seikatsuka ini di kelas tiga ke atas. Di mana
ketika murid kelas satu dan kelas dua menikmati pelajaran IPS dan IPA dalam
frame yang menyenangkan, akan tetapi ketika mereka menginjak kelas tiga ke
atas mereka harus belajar seperti muatan yang dulu dengan style yang serius.
Duduk dengan rapi dan menyimak buku. Sehingga sebagian guru merasa kesulitan
ketika mengajarkan mata pendidikan ini di kelas tiga, karena di kelas ini
lah peralihan dari belajar dalam bentuk menyenangkan ke belajar untuk
mengembangkan daya intelektual terjadi. Ditambah lagi, banyak pula beberapa
orang tua Jepang yang ambisius yang kawatir dengan pendidikan anak-anak
mereka di sekolah dasar sekarang. Apakah dengan bentuk pendidikan yang
seperti ini, anak-anak mereka mampu berkompetisi untuk memasuki perguruan
tinggi elit? Terlepas dari itu semua, kepedulian pemerintahan Jepang akan
pendidikan generasi masa depan mereka patut diacungi jempol. Mereka berani
merombak kemapanan dalam sistem pendidikan dasar yang tercermin dalam rapot,
dengan harapan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual
tetapi juga kepribadian.

Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | 6 Comments »

Dua “Je”, Persamaan dan Perbedaan

Posted by ishelianti on December 28, 2008

Antara Jerman dan Jepang, Persamaan dan Perbedaan

Hampir dua belas tahun tinggal di Jepang dan tiga bulan tinggal di Jerman, selalu menarik membandingkan sikap dan budaya masyarakat dua negara ini. Berikut beberapa yang bisa diamati di antara keduanya. Menurut Anda, mana yang lebih pas untuk ditiru di Indonesia?

Persamaan:

  1. Jerman dan Jepang adalah dua Negara yang sama-sama kalah di Perang Dunia kedua. Mereka sama-sama bertekuk lutut pada Amerika Serikat dan sekutunya. Hancur lebur pada PD II, tetapi menjadi Negara paling terkemuka di benuanya masing-masing setelah itu. Sampai sekarang, mungkin karena efek kalah perang, kedekatan politik mereka dengan Amerika Serikat sangat kuat.
  2. Umumnya orang Jerman dan Jepang adalah orang-orang yang serius. Mereka mengerjakan pekerjaan mereka, apapun, dengan serius dan efisien.
  3. Taat peraturan. Sifat ini sangat terasa jika kita berhadapan dengan mereka dalam hal hukum, atau hitam di atas putih (tertulis). Orang Jerman dan Jepang kaku luar biasa terhadap hukum, tak ada pintu khusus bagi pejabat tinggi sekalipun dalam hal berbau hukum. Mereka pun sangat memperhatikan yang tertulis di atas kertas atau MOU atau kontrak. Melenceng dari situ, mereka akan tuntut. Menuntut yang tidak terulis di atas kertas, jangan harap kita akan mendapatkannya! Umumnya, mereka juga benci pada pelanggar peraturan.
  4. Menghargai waktu. Umumnya mereka benci pada budaya jam karet, apalagi terlambat di saat meeting atau rapat atau kuliah.
  5. Cenderung homogen. Jerman dan Jepang adalah masyarakat yang cenderung homogen dalam hal budaya. Mereka bukan masyarakat yang punya pengalaman banyak terhadap multikultural atau keberagaman agama. Bahkan nasionalisme sempit pernah membawa mereka pada masa lalu yang suram, dan seolah-olah nasionalisme adalah hal yang buruk untuk dimiliki. Tanyakan tentang nasionalisme pada generasi muda Jerman dan Jepang. Jawabannya pasti mirip, ”Untuk apa?”
  6. Sangat menghargai produk dalam negeri. Dua negara ini memang membayar mahal upah SDMnya. Karena itu barang-barang asli buatan Jerman atau Jepang seperti elektronik sangat berkelas dan mahal, dan menjadi kebanggaan tersendiri bila mereka memilikinya.

Perbedaan:

  1. Orang Jerman penikmat hidup, sedangkan orang Jepang pencinta kerja. Orang Jerman berusaha keras hanya pada jam kerja, dan bermain habis-habisan juga pada saat libur. Mereka punya jatah cuti 50 hari kerja, yang jika disatukan dengan Sabtu Minggu selama cuti tersebut bisa lebih dari 2 bulan dalam setahun! Mereka tak suka lembur, karena bagi sebagian mereka, lembur equal dengan tidak efisien. Bagi mereka efisien dalam bekerja berarti datang tepat waktu, bekerja efisien di saat jam kerja, dan pulang tepat waktu adalah harga mati. Sedangkan orang Jepang memang cenderung ”gila kerja”. Mereka nampak menemukan kenikmatan dalam bekerja. Bahkan ketika perekonomian Jepang dalam grafik melesat naik, semboyan perusahaanku adalah keluargakulah yang mendorongnya. Sebenarnya mereka punya jatah cuti 20 harian dalam setahun. Tetapi umumnya hanya dipakai beberapa hari di musim panas (liburan obon), dan beberapa hari di musim dingin menjelang tahun baru (oshogatsu). Budaya gila kerja kadang berimbas di dalam rapat atau seminar. Di Jepang tertidur pada saat-saat rapat atau seminar bagi para ”penggila kerja” kadang sangat ditoleransi dan dimaklumi, tapi tidak di Jerman!
  2. Budaya antri di Jerman mirip Indonesia, walau kadar menyerobot relatif lebih sopan. Jika anda taat antri menunggu masuk kereta di jam sibuk, dijamin anda susah mendapat tempat duduk! Apalagi jika naik kereta jarak jauh saat malam akhir pekan. Di Jerman kita cuma harus antri dengan tertib ketika kita mengambil uang di ATM atau membayar di kasir. Karena di tempat ini mereka memencet nomor pin untuk mengambil uang atau auto debet yang sangat ingin mereka lindungi kerahasiaannya! Akan tetapi di Jepang hampir semua tempat anda harus antri. Ketika menunggu bis, menunggu kereta di Jepang harus selalu antri, berbaris di tempat yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk. Anda menyerobot, tak ada ampun! Tetapi ini menjadi fair, yang datang lebih dahulu kemungkinan mendapatkan tempat duduk menjadi besar.
  3. Di Jerman kereta dan bus tak selalu on time. Lima belas menit terlambat untuk jadwal bis, atau kereta biasa, bahkan terkadang 1.5 jam terlambat juga bisa dimaklumi ntuk sebuah kereta maglevaif! Namun demikian, sistem jaringan informasi kereta Jerman lebih tertata dan nyaman diakses dengan internet. Di Jepang, kita harus membeli buku jadwal bulanan untuk mengetahui jadwal pasti khususnya kereta jarak jauh.

Di Jepang, jadwal kereta on time sudah menjadi umum dan harus. Bahkan ketka di Tokyo, saya kadang mengadjust jam sesuai dengan jadwal ketika peluit kereta ditiup dan pintu kereta tertutup, saking saya percaya pada tepat waktunya. Kereta di Jepang biasanya hanya telat saat salju tebal atau angin taufan.

4. Kaum akademik Jerman umumnya high profile dan rasa PD mereka tinggi. Tak jarang para mahasiwa/peneliti pendatang dari Asia atau negara berkembang harus mendapat perlakuan under estimate lebih dahulu ketika mereka datang. Tetapi tidak demikian di Jepang. Orang Jepang umumnya humble. Mereka bak pepatah air tenang bertanda dalam. Mereka sangat menghargai para mahasiswa asing yang umumnya pekerja keras, walau kadang belum tentu bekerja dengan cerdas.

5. Di Jerman, konsumen harus banyak mengalah, tetapi di Jepang konsumen adalah dewa. Servis yang tidak memuaskan dan penyambutan alakadarnya sudah biasa di Jerman. Jika ada petugas loket yang harus pulang karena jam pulang, dia tidak akan menggubris antrian panjang para pelanggan. Kadang sikap supir bus yang kelelahan juga membuat tak nyaman. Tetapi jika anda di Jepang, para petugas yang akan makan siang pun biasanya tidak tega jika melihat yang antri begitu banyak. Umumnya mereka dengan sukarela membuka kembali loket yang tadinya sudah mereka tutup untuk mengurangi antrian. Di Jepang jika barang yang anda beli cacat dan anda kembalikan, maka anda akan mendapatkan bonus dan permohonan maaf berkali-kali dari toko.

      Posted in sosial politik | Tagged: | 2 Comments »

      Budaya Kerja, antara Jerman dan Jepang

      Posted by ishelianti on October 12, 2008

      Menarik membandingkan kultur kerja orang-orang yang bergerak di bidang riset dan akademis di dua negara maju ini. Jerman dan Jepang. Dua penduduk negara ini dikenal sangat serius dan efisien.

      Di Jepang, jam kerja saya dulu “unlimited”. Dengan fasilitas universitas dari laboratorium, ruang komputer, perpustakaan yang on line 24 jam, jam kerja “unlimited” ini seperti mendapat justifikasi. Orang Jepang biasa kerja dari jam 9 pagi sampai di atas jam 9. Lab masih ramai di jam 11 malam, bukan hal asing. Justru aneh kalau lab sudah gelap di jam 6 sore. Ketika menghadapi dead line baik thesis maupun paper seminar, saya bersama mahasiswa lain biasa tidak tidur sampai dini hari, tapi kelayapan di dalam lab bereksperimen.

      Lain lagi di Jerman. Di sini kerja dimulai jam setengah sembilan. Tetapi dijamin jam 6 sudah sepi. Kalau pun ada sisa-sisa manusia berlalulalang, biasanya sebagian besar orang asing, yang mungkin berpikiran mirip dengan saya. Buat apa pulang ke apartemen, karena tidak ada yang menunggu.

      Tetapi bukan berarti orang Jerman bekerjanya santai. Baru beberapa hari di sini saya menemukan suasana itu. Suasana serba terencana, serba cepat, serba serius pada jam kerja. Langkah-langkah cepat dan panjang sepanjang lorong laboratorium. Tak ada obrolan kepanjangan ngalor ngidul saat jam kerja, kecuali diskusi masalah kerja. Tak ada pekerjaan sampingan seperti berinternet ria yang tidak berurusan dengan pekerjaan. Ini yang bikin saya tidak enak hati sering-sering chatting sembari kerja. Semuanya serius dengan apa yang harus selesai dan mereka kerjakan hari itu. Sehingga jam 6 sebelum makan malam mereka sudah bisa pulang.

      Di Jepang, memang jam kerja seperti unlimited, dan imbasnya pekerjaan malah kadang jadi tidak efisien. Waktu yang panjang kadang tidak benar-benar 100% untuk bekerja. Ketika jam makan malam, profesor yang rumahnya dekat dengan kampus memang biasanya pulang untuk makan malam. Setelah anak-anak mereka tidur, mereka bekerja lagi sampai sesuka mereka.

      Ketika di Jepang, saya berpikir orang Jepang itu sangat feodal. Budaya senior dan junior sangat ketat. Apa kata senior itulah yang dikatakan juniornya. Apalagi apa kata Profesor, biasanya kebanyakan harga mati.

      Tetapi ternyata di Jerman juga demikian. Profesi profesor di Jerman adalah profesi sakti. Profesor di Jerman ternyata sangat jaim dan tak suka dibantah oleh mahasiswanya. Suasana meeting akademis yang saya kira akan penuh dengan diskusi-diskusi dan argumentasi seru, belum saya temukan. Hanya ada laporan mahasiswa, saran dari profesor, namun tak ada bantahan atau diskusi asyik lainnya Atau apakah presepsi saya tentang Jerman dulu itu tertukar dengan tentang Amerika, ya? Entahlah. Tapi yang jelas ketika profesor yang bicara di meeting, ruangan jadi sangat senyap, bahkan saya jadi tidak enak hati ketika mengeluarkan lap top dari tas karena suara resleting jadi terdengar begitu keras.

      Namun, terlepas dari perbedaan style mereka dalam bekerja. Orang-orang di negara maju ini adalah orang-orang yang sangat serius dalam hal mengerjakan apapun yang terbaik secara detail untuk mencapai target.

      Posted in penelitian, sosial politik | Tagged: | 1 Comment »

      Raksasa Ekonomi; Berkah Brain Drain?

      Posted by ishelianti on June 20, 2008

      Seputar Indonesia (SINDO) Minggu, 8 Oktober 2006

      Pengamat ekonomi Goldman Sachs memprediksikan bahwa India akan menjadi negara yang berekonomi kuat ketiga setelah USA dan China di tahun 2025. Sebelum mencapai hal ini, di tahun 2020 India akan menjadi yang nomor satu di dunia sebagai pusat yang memproduksi pengetahuan dan teknologi, demikian optimisme Kepala Dewan Saintifik dan Riset Industri India, Dr Mashelkar, seorang mantan brain drain yang berkomitmen kuat dan berpengaruh pada perkembangan sains dan teknologi di negaranya (Science magazine 2005).

      Optimisme yang mungkin sedikit kelewatan dari Dr Mashelkan memang beralasan. Karena revolusi diam-diam selama lima tahun terakhir sedang terjadi di India. Ratusan perusahaan global berbasis teknologi canggih, seperti Motorola, Intel, dan IBM mendirikan pusat riset dan pengembangannya (R&D) di India. Perusahaan General Electric (GE), yang mengembangkan pusat R & Dnya di India dengan 2400 pegawai (sepertiganya adalah reversed brain drain India). Ini menjadikan menjadi pusat litbang GE kedua terbesar di dunia.

      Alasan GE memilih India? India memang negara berkembang, tetapi infrastruktur yang ditawarkannya tidaklah kalah hebat dengan negara maju, namun pembiayaan R&D tidaklah sedahsyat negara maju, demikian Jack Welch, CEO legendaris GE mengatakan.

      Berlombanya perusahaan global menanamkan investasinya di India terkait erat dengan globalisasi ekonomi yang tentu saja dibarengi dengan globalisasi teknologi. Perusahaan besar dunia tersebut memahami bahwa untuk dapat survive dalam persaingan global mereka tidak dapat bertahan dengan mempertahankan kompetensi intinya dengan litbang internal di negara asalnya sendirian. Harus ada cara lebih cerdas untuk bertahan, yaitu dengan mengembangkan produk dengan cara yang lebih murah, yaitu dengan outsourcing (memesan sebagian komponen produk pada negara lain), atau mendirikan pusat litbang di negara yang memungkinkan penyelenggaraannya dengan jauh lebih murah. India menangkap peluang ini.

      Tidak hanya investasi pusat R&D perusahaan global yang tumbuh pesat. Perkembangan sektor swasta made in asli India, khususnya industri yang berbasis teknologi canggih seperti bioteknologi dan teknologi informasi juga tak kalah.

      Industri Bioteknologi dan IT

      Menurut Mani dalam makalahnya di jurnal Int. J. Technology and Globalisation 2006, industri bioteknologi dan teknologi informasi (IT) adalah penyumbang signifikan dalam peningkatan pendapatan kotor perkapita (GDP) (dan tentu saja peningkatan ekonomi India). Memang, sumbangan industri berbasis teknologi baru ini tidak terlalu menonjol mengurangi angka kemiskinan India yang sekitar 26% itu. Namun Mani mengemukakan dalam makalahnya bahwa peran industri berbasis biotek dan IT berhasil mengurangiketidaksetaraan atau mengurangi gap miskin kaya di India, karena berhasil menciptakan kaum menengah tangguh.

      Industri berbasis IT dan bioteknologi paling tidak menyumbang 5% GDP India di tahun 2005, dan diprediksikan akan terus meningkat.

      Industri obat-obatan domestik India misalnya, menghasilkan 22% dari seluruh obat generik yang ada di pasaran global. Industri biotek lokal juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Sebagai contoh Shantha Biotech. Perusahaan ini berawal modal kecil, yang memproduksi hasil biotek orisinilnya. Sekarang, paling tidak sepertiga dari vaksin Hepatitis B yang beredar di pasaran domestik India adalah produk dari Shantha.

      Dulu, pasaran ini dikuasai oleh vaksin impor yang harganya berlipat, sekarang mereka menjual vaksin hanya sekitar 30 sen USD (atau 3000 rupiah) per dosis. Perusahaan ini pun sekarang bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa US yang berbasis biotek dalam pengembangan dan pemasaran internasional rekombinasi DNA vaksin Hepatitis-B di masa dekat.

      India dan Brain Drain

      Mengapa perkembangan industri berbasis teknologi baru demikian pesat di India? Mengapa pula reputasi India sangat baik bagi kalangan industri global untuk membuka pusat R&Dnya di India?

      Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan perkembangan industri berbasis sains dan teknologi yang pesat di India saat ini berhubungan erat dengan sejarah panjang negara ini mengalami brain drain, yaitu fenomena beremmigrasinya SDM yang berketrampilan dan berpengetahuan tinggi dari India ke negara maju, khususnya AS.

      Mari kita tengok.

      Selama dekade 1990-an adalah masa keemasan bagi para sarjana India yang ingin melakukan brain drain ke Amerika Serikat. Banyak perusahaan di Amerika, khususnya yang bergerak di bidang IT menawarkan green visa (visa menetap permanen) bagi orang pintar IT dari India. Dari 195 000 visa untuk pekerja profesional di Amerika yang dikeluarkan selama dekade 1990-an, 45%nya diberikan pada para brain drain India! Alasannya, reputasi kaum terampil India sangat baik. Sarjana lulusan IT India rata-rata berbakat, fasih berbahasa Inggris, dan tidak banyak menuntut. Tentunya, penawaran visa ini suatu undangan yang menggiurkan bagi orang-orang pintar ini.

      Dari sudut pandangan individu, tak ada yang lebih membuat bersemangat bagi orang muda yang pintar, selain mereka dapat berkarya dan mendapat penghargaan dan penghidupan yang layak dari hasil karyanya, hatta di negeri orang.

      Prestasi penduduk Amerika asal India ini memang sangat cemerlang. Di tahun 1998, warga negara India di Amerika menguasai 775 perusahaan teknologi informasi dengan omset 3.6 milyar USD (35 trlyun rupiah ) per tahun dan sanggup menyediakan 16 600 lapangan kerja! Karena itu pada saat itu mereka adalah pembayar pajak yang signifikan di AS.

      Akan tetapi bagi pemerintah India, saat itu, tentu saja lain persoalan. India adalah negara yang sangat parah mengalami brain drain. Sejak India merdeka dari Inggris tahun 1947, hengkangnya para SDM berskill tinggi dan berpendidikan membuat pemerintahan India sakit kepala.

      Menurut laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun 2001, India kehilangan paling tidak 2 milyar US dolar (atau sekitar 18 trilyun rupiah), jika nilai para SDM trampil yang brain drain dikonversi ke dalam hitungan ekonomi!

      Selama periode 1998-2001, hanya 27% SDM program doktoral yang kembali ke India setelah menyelesaikan studinya di USA. Berarti sebanyak tiga perempat dari orang-orang pintar itu memilih tetap tinggal di AS dan mencari pekerjaan di sana.

      Tabel 1. Penerima gelar doktor dalam sains dan engineering dan persentase tetap tinggal di AS dari beberapa Negara

      Kebijakan Pemanfaatan para Diaspora

      Pemerintah India memahami bahwa para brain drain adalah aset bangsa yang tidak boleh diabaikan dan disia-siakan. Keberadaan SDM India berketrampilan dan berpendidikan tinggi di negara maju harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan ekonomi, sains dan teknologi negara asal (India) yang selama ini telah menderita karenanya.

      Maka pemerintah India mulai proaktif menjalankan kebijakan pemanfaatan para brain drain yang tersebar (diaspora) di seluruh dunia untuk berkontribusi bagi kemajuan India. Alih-alih menghalangi para orang pintarnya brain drain, India malah seolah membiarkan para SDMnya untuk brain drain dan berdiaspora di berbagai negara dengan beragam ketrampilan dan pengalaman yang mungkin lebih sukar mereka peroleh jika berada di negeri sendiri. Namun, mereka ternyata tak hanya diam. Mereka menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat mengubah brain drain menjadi brain gain.

      Pertama, India menyusun kebijakan-kebijakan untuk membuat iklim yang kondusif bagi penanaman investasi modal asing. Misalnya, mereka terus mempertinggi kualitas perguruan tinggi dan lembaga riset, mengarahkan lembaga riset untuk menghasilkan riset yang berorientasi industri, mendirikan pusat-pusat teknologi informasi untuk perluasan jaringan, juga terus mempromosikan hal-hal menarik bagi investor: upah SDM trampil yang jauh lebih murah dari negara maju dan populasi manusia yang dapat berbahasa Inggris.

      Sehingga diharapkan banyak perusahaan asing yang berbasis teknologi dan riset mau berinvestasi di India, khusunya di investasi pusat R&D. Dengan demikian diharapkan dapat menekan jumlah para brain drain ke negara maju. Mereka akan terserap pada R&D perusahaan asing yang ada di dalam negeri. Pada gilirannya, kondisi yang kondusif untuk riset dan berkarya akan mendorong para diaspora untuk pulang ke negaranya, berkarya dan berinvestasi di negaranya, membesarkan anak-anak mereka di India, dan pada akhirnya membesarkan perekonimian India.

      Di samping itu India juga membuat kebijakan-kebijakan yang menarik bagi para brain drain agar menjadi brain gain dan kembali ke negaranya dengan membuat kebijakan yang sinergis antar departemen. Misalnya kementrian yang mengurusi warga India di perantauan ditingkatkan anggarannya 5 kali lipat. Bekerja sama dengan Departemen urusan LN mereka membuat ketetapan akan dua kewarganegaraan, pengakuan atas orang keturunan India, kerja sama riset yang ditujukan untuk para saintis yang bekerja di LN untuk mengajar di universitas dalam negeri, dan lain-lain. Menariknya mereka juga mengurusi usaha diplomatik untuk tetap berhubungan dengan para diaspora, misalnya merayakan pencapaian prestasi gemilang mereka di luar negeri sana.

      Kebijakan pemerintah India rupanya bersambut karena menjadi penyelamat yang tepat bagi para brain drain, khususnya di bidang teknologi informasi yang mau tidak mau menjadikan negeri asalnya sebagai tempat berlabuh.

      Masa keemasan ekonomi dan kejayaan teknologi informasi mulai memudar di AS sejak tahun 2000. Krisis ekonomi AS menyebabkan banyak perusahaan IT yang bangkrut dan mau tidak mau harus memPHK para staf ahlinya. Berduyunlah arus balik brain drain ke India. Sebagian yang pernah menjadi pengusaha di Silicon Valley. mendirikan perusahaan di Bangalore.

      Trend berinvestasi di negara asal juga didukung oleh kondisi bahwa perusahaan besar negara maju cenderung melakukan kebijakan outsourcing dalam mendapatkan software agar dapat lebih kompetitif di era global. Sehingga banyaklah perusahaan IT yang memproduksi software untuk diekspor ke perusaahaan IT di AS.

      Misalnya kisah Nagarajan. seorang braindrain alumni Silicon Valley yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran. jika pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu 2.2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

      Jadi mungkin tak berlebihan jika perkembangan ekonomi berbasis sains dan teknologi yang pesat di India sekarang ini adalah berkah dari brain drain.

      Penulis: Dr. Is Helianti. MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri. BPPT, menyelsaikan S1 hingga Posdoktoral di Jepang.

      Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | Tagged: , , | 1 Comment »

      Indonesia di dalam KRD Rangkas Bitung Jakarta

      Posted by ishelianti on April 4, 2008

      Sewaktu kecil, saya sering menyaksikan kereta ini melewati Pasar Kebayoran. Yang ada di kepala saya dulu, bagaimana mungkin kereta dekil dan kumal dengan orang yang sudah memenuhi pintu itu dijejali lagi para pedagang ayam dan sayuran yang memaksa masuk.

      Dan beberapa puluh tahun kemudian, believe or not, ternyata saya menaikinya! Dan masih terbengong-bengong dengan keterjejalannya sehingga kaki saya terasa menggantung dan harus banyak beristigfar untuk mencegah amarah yang sudah sampai dikerongkongan karena harus berdesakan dengan penumpang laki-laki. Tersewot-sewot di tengah himpitan manusia pedagang kaki lima yang masih nekat memaksa lewat dengan barang dagangan yang sebenar-benarnya sudah tidak mempunyai space. Terlongong-longong karena jendela di kereta ini serba guna. Jadi tempat meludah, tempat melempar sampah, sekaligus pintu darurat untuk keluar masuk!

      Keadaan di atas tentu ketika sedang rush hour. Ketika para orang kecil dari daerah pinggiran Rangkas Bitung ataupun Serpong berkeringat dan lusuh berangkat kerja mencari sesuap rizki di Jakarta. Sungguh, beberapa kali naik KRD saya takjub dengan daya tahan orang-orang ini. Melewati jarak yang cukup panjang dengan kondisi yang tak layak, lalu masih harus memeras tenaga di tempat kerja, dengan gaji yang tak cukup untuk makan beberapa anggotaa keluarga selama sebulan, pulang pergi setiap hari. Diulang lagi, setiap hari! Saya saja yang naik KRD ini beberapa kali (sepertinya belum sepenuh jumlah jari tangan), setelah itu selalu membatin, tidak mau lagi naik kereta kumuh, mengundang stress, dan menyebalkan ini.

      Tapi, itulah saudaraku. Profil-profil manusia Indonesia yang mungkin mayoritas di negeri ini. Profil-profil manusia pasrah dan nrimo dengan keadaan. Sehingga terkadang mereka tak sadar bahwa mereka mempunyai hak untuk dilayani dengan transportasi umum yang lebih baik oleh pemerintah. Bagi mereka, tak apalah kondisi tak manusiawi, asal bisa terangkut ke tempat kerja dengan harga karcis murah dan bebas macet. Tak apalah capai (yang tidak sedikit) asal masih bisa punya tenaga sisa di tempat kerja, dan sedikit sisa lagi ketika menemui keluarga sepulang kerja. Di tengah populasi padat di dalam KRD, bahkan banyak yang masih bisa tertawa dan bercanda sesamanya. Luar biasa!

      Sebenarnya, saya tak “wajib” naik KRD dari segi dana. Tetapi, terkadang jadwal pekerjaan seperti rapat agak susah dikejar dengan berharap pada Ciujung. Sementara jadwal eksperimen di lab juga tidak mungkin begitu saja dilalaikan. Jadilah KRD alternatif terakhir jika Ciujung atau KRL ekonomi tidak saya dapatkan pada jam-jam tanggung.

      Walau berpayah-payah, banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari naik KRD ini. Merasakan betapa masyarakat Indonesia demikian susah payah untuk berangkat kerja, sehingga mengingatkan saya untuk kerap bersyukur untuk kemewahan yang saya rasakan selama ini, membonceng motor di belakang suami dan tak harus berdesak-desak setiap hari. Menyadari bahwa pendapatan saya, yang kerap saya risaukan tak sepadan dengan pendidikan, kerja keras, dan dedikasi, adalah jauh berlipat dari mereka, sehingga saya punya pilihan untuk sedikit boros naik Ciujung yang full AC. Selalu bersyukur, bahwa hati saya menjadi lebih peka pada kesusahan orang lain, karena saya merasakannya dengan kulit saya selama di KRD itu. Selalu mengingat, bahwa di sebagian harta yang saya miliki adalah hak-hak mereka yang mungkin menjadi penumpang KRD.

      Hmmm… Mungkin ide ini kekanak-kanakan. Andai saja ada pejabat seperti pemimpin daerah ataupun anggota DPR(D) menyamar sebagai penumpang kebanyakan di KRD. Pastilah keadaan KRD Rangkas Bitung-Jakarta tak akan dibiarkan terus seperti ini. Karena kulit mereka bersentuhan langsung dengan penderitaan dan kesusahan rakyat. Yakinlah Pak/Bu Pejabat, jika mereka begitu nrimo dengan kondisi yang luar biasa seperti ini, sedikit perhatian dari instansi terkait dengan menambah jumlah kereta mungkin akan memperlebar senyum nerimo mereka, dan mereka akan mendoakan Anda dengan kebaikan!

      Posted in sosial politik | Tagged: , | 2 Comments »

      Apa kabar Indonesia? (refleksi setahun setelah pulang dari Jepang)

      Posted by ishelianti on March 12, 2008

      Apa kabar Indonesia? Dulu, pertanyaan ini kerap saya lontarkan kepada rekan-rekan yang baru saja pulang berlibur ke tanah air. Atau, ketika kesibukan studi dan riset membuat saya tak sempat membuka-buka surat kabar lewat internet.

      Kini, setelah hampir satu tahun menghirup kembali udara tanah air, hidup bersama debu-debunya, berpanas-panas dan berkeringat di bawah terik mataharinya, pertanyaan kekangenan itu seperti berganti dengan kekhawatiran. Ada apa lagi Indonesia?

      Ada apa lagi Indonesia? Indonesia, khususnya Jakarta, memang masih panas. Terakhir ini, kekeringan melanda beberapa daerah, sehingga untuk merebus makananan pun penduduk tidak sanggup. Air tidak dapat diperoleh! Sumur kering, sungai kering, dan tak ada uang untuk membeli air mineral galon. Yang kering ternyata bukan hanya tenggorokan, tetapi juga sawah-sawah, yang terpaksa harus dipuso. Gagal panen! Padahal baru beberapa waktu yang lalu petani harus menjual harga gabahnya di bawah harga standard. Mereka harus menjual hasil panen sangat jauh lebih murah dari usaha, tenaga, dan waktu yang telah mereka curahkan. Kini, mereka dibayang-bayangi oleh (lagi) kemelaratan akibat puso. Rupanya, hutan-hutan memang hanya milik segelintir orang. Bukan seluruh anak bangsa. Akibatnya, mereka rakus menebang hutan untuk menggendutkan perut-perut, sehingga tak acuh bahwa jika terjadi banjir dan kekeringan anak bangsa lainlah yang langsung merasakan akibatnya.

      Ada apa lagi Indonesia? Bom bali masih belum lepas dari ingatan, sekarang bom Marriot membawa ketakutan baru. Seolah, hegemoni adi daya mendapat justifikasi yang sempurna dengan peledakan ini. Padahal di Aceh sana, ledakan granat dan letusan senjata, terjadi hampir tiap hari. Belasan perempuan harus menjadi janda dan anak-anak harus menjadi yatim. Ditambah, traumatik karena ayah mereka yang diduga GAM atau Pai (aparat) diculik ketika sedang di rumah bersama mereka. Di manakah rasa aman?

      Entahlah!
      Tukang ojek di Depok pun harus waswas karena motor mereka yang belum lunas kredit menjadi incaran para perampok.

      Ada apa lagi Indonesia? Tahun ajaran baru menyisakan begitu banyak ketidakpuasan. SD dan SMP yang konon wajib belajar dan gratis menurut konsep, ternyata berani pasang uang pendaftaran jutaan. Ibu-ibu di angkot mengeluh, darimana dapat uang sebesar itu dalam waktu instant? Kata mereka. Yang merasa susah bukan hanya mereka yang kepala keluarganya harus dirumahkan. Tetapi yang bekerja namun berpenghasilan pas-pasan pun turut resah. Belum lagi biaya PTN yang sekarang nyaris sama dengan swasta.

      Sungguh, susah menumbuhkan rasa optimis, bahwa semua keadaan ini akan membaik dengan salah satu senjata ampuh, yaitu pendidikan. Padahal saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa pendidikan bisa merubah kondisi centang perenang yang terus berlangsung sekarang. Pendidikan adalah salah satu jalan “terjal” bagi kaum bawah untuk merubah nasibnya. Tetapi jalan itu nampaknya sekarang hampir diblokir buat mereka. Tak lagi terjal namun masih mungkin didaki, melainkan hampir ditutup rapat buat orang-orang tak berduit.

      Ada apa lagi Indonesia? Kemiskinan makin terasakan di mana-mana. Selama perjalanan naik Patas Depok-Kalibata, saya bisa menikmati pengamen lagu, puisi, dan kencring-kencring si Upik atau Buyung. Ditambah panitia pembangunan Mesjid yang meminta amal jariah. Begitu turun terminal dan melewati jembatan penyeberangan untuk membeli susu si kecil di supermarket (karena susunya hanya bisa didapat di tempat seperti ini), langkah saya diikuti oleh kaki-kaki kecil yang berebut meminta uang.

      Padahal seharusnya jam-jam seperti itu mereka ada di sekolah, atau bermain-main di pelataran rumah. Saya berdoa mudah-mudahan jembatan ini bukan tempat bermalam mereka setiap hari. Walau, belakangan saya tahu, bahwa Allah menghendaki kenyataan lain bagi doa saya. Anak-anak jalanan ini terlihat jelas dari jalan, jika kita melewati jalan Margonda. Kadang hati saya protes, kemana Pak Badru Kamal dan jajarannya? Kemana aleg-aleg yang pasti melihat para pengemis kecil ini dari mobil dinas mereka? Apalah artinya uang seribu atau lima ratus yang diberikan oleh orang-orang yang lewat? Tak akan menyelesaikan masalah, tak akan dapat menawarkan masa depan yang lebih baik buat kanak-kanak itu. Saya harus berbuat sesuatu! Sayang….Biasanya saya hanya bisa berhenti sampai di sini. Ah, mungkin saya tak lebih dan tak kurang sama dengan mereka yang tak punya empati….

      Ada apa lagi Indonesia? Cerita derita nampaknya makin panjang, karena ternyata banyak para pemimpin, orang-orang besar, dan orang-orang-orang kaya yang tak sensitif pada kemelaratan nasional. Banyak uang negara yang dihamburkan hanya untuk beli baju wakil rakyat milyaran rupiah, dan pamer servis mobil mewah untuk para delegasi negara tetangga di pertemuan multinegara internasional. Artis kaya menghamburkan ratusan juta untuk pesta ulang tahun semalaman. Bagaimana bisa sensitif? Setiap hari mereka tinggal di rumah nyaman, pergi ke tempat kerja yang nyaman, lalu pulang kembali tidur di kasur empuk yang nyaman. Tak ada cerita kemiskinan di sekitar, tak ada keluhan penderitaan karena tak bisa berobat -hatta ke puskesmas. Cuma terdengar sayup-sayup atau terlihat samar-samar dari balik kaca gelap mobil bermerek mahal.

      Ya, Allah…Jangan-jangan, saya pun termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak sensitif ini…?

      Ada apa lagi Indonesia? Di sela-sela cerita kemiskinan, kepapaan, dan ketakberdayaan banyak anak bangsa, saya masih bisa mendengar cerita Bapak tukang becak asal Cianjur yang dengan gembira bercerita bisa mengirim uang kepada anak istrinya. Jika sedang laku dia bisa dapat 50.000 rupiah sehari. Atau, cerita Slamet tukang sayur langganan, yang bisa untung lumayan dan menyekolahkan semua anak-anaknya di Brebes sana. Paling tidak, ada orang-orang kecil yang tetap bisa menikmati rizki yang lumayan untuk kehidupan mereka. Buat saya, cerita kecil mereka cukup melipur larakarena terlalu seringnya mendengar dan melihat kemelaratan dan ketidakberdayaan di sekitar.

      Ada apa lagi Indonesia? Di tengah hingar-bingar tontonan TV yang makin tak mengindahkan hak azasi kanak-kanak saya masih bisa membaca berita anak-anak yang berprestasi. Mereka kreatif, mereka cerdas. Paling tidak, mereka menjadi cercah harapan perjalanan panjang bangsa ini. Saya juga masih mendapatkan ucapan terima kasih dari anak tetangga yang sangat nakal, sehabis dia membaca buku di taman bacaan di rumah. Saya lega, anak yang nakal pun, ternyata masih tahu berterima kasih.

      Ada apa lagi Indonesia? Kekhawatiran atas masa depan tanah yang saya cintai ini memang selalu meriak. Tetapi, ketika saya menemukan mata bening itu, tawa lucu itu, saya lantas optimis lagi. Bangsa ini masih punya masa depan yang berarti! Saya tanam harapan itu pada pemilik mata bening dan tawa lucu itu. Dan saya yakin, di tempat lain orang tua lain juga menanamkan harapan yang sama pada anak-anak mereka. Jika keadaan ini tak berubah pada generasi sekarang, saya benar-benar berharap, generasi si kecil dapat mengubahnya. Mudah-mudahan Allah bisa membimbing kami mempersiapkan bekal yang cukup baginya, agar dia punya kekuatan jauh melebihi orang tuanya. Semoga pula, Allah tetap menghidupkan nurani kami, di terpaan kondisi yang kadang membikin tumpul kepekaan hati. Ya Allah, ijinkanlah…..

      (Satu tahun aniversary hidup kembali di tanah air, 2003)

      Posted in sosial politik | Tagged: , | Leave a Comment »

      Meneladani sikap memohon maaf ala pejabat Jepang. Mungkinkah?

      Posted by ishelianti on March 12, 2008

      Sebuah berita luar negeri dari negeri Sakura menampilkan foto PM Jepang, Fukuda, sedang membungkuk dalam-dalam di hadapan pers. Fukuda meminta maaf pada masyarakat Jepang atas ketidakbecusan Pemerintah Jepang dalam mengelola uang pensiun yang diambil dari pajak masyarakat. Peristiwa Fukuda membungkuk memohon maaf adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya, ia telah meminta maaf yang serupa kepada masyarakat yang dipimpinnya karena kantung-kantung darah di Palang Merah Jepang tercemar virus hepatitis sehingga menimbulkan korban di masyarakat.

      Ketidakbecusan mengurus dana pensiun dan terkontaminasinya kantung darah dengan virus hepatitis adalah dua buah peristiwa yang merugikan masyarakat Jepang. Namun sebenarnya pangkalnya tidak terjadi di saat pemerintahan Fukuda. Keduanya terkait erat dengan kinerja pemerintah sebelumnya. Tetapi, toh, Fukuda tetap mengekspresikan penyesalan. Memohon maaf sebagai pihak pemerintah yang seharusnya mengayomi masyarakat dengan kinerja dan kebijakannya. Bukan berkelit bahwa itu telah terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya, dan dia hanya menerima getahnya.

      Kejadian meminta maaf dari politisi atau birokrat tinggi pemerintah di Jepang bukan hal yang aneh. Koizumi, PM sebelum Abe, pun dulu pernah membungkuk dalam-dalam sebagai simbol permintaan maaf pada sebagaian masyarakat, khususnya pada para warga Jepang lanjut usia mantan penderita kusta. Para lansia penderita kusta itu telah dirugikan secara sosial, moral, dan ekonomi, karena kebijakan pemerintah Jepang sejak paska Perang Dunia II . Kebijakan yang mengisolasi para penderita kusta secara fisik, psikologis, dan sosial dari masyarakatnya di suatu daerah tertentu, yang nyata jelas bertentangan dengan HAM. Maaf koizumi dibarengi dengan kebijakan pemerintahnya untuk memulihkan nama baik, aspek sosial, dan moril para mantan penderita kusta dengan berbagai konpensasi.

      Lagi. Apakah Koizumi saat itu meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan pemerintah saat ia memerintah? Tidak! Kesalahan kebijakan itu telah terjadi sejak paska perang, dan pemerintahan di bawah Koizumi baru sempat mengoreksinya!

      Lalu, tahukah anda mengapa PM Mori mendapat mosi tidak percaya dari parlemen sehingga dia harus mengundurkan diri sebagai PM? Sebab yang paling signifikan ternyata adalah sikap ketidak pedulian dan tidak simpatiknya dengan nasib beberapa warga Jepang. Dia tetap melanjutkan bermain golf, meski telah dikabari bahwa kapal angkutan laut Jepang ditabrak oleh kapal selam AS sehingga 9 warga Jepang tewas dalam insiden tersebut.

      Ketika beberapa politisi anggota parlemen terbukti menerima suap dan atau terlibat skandal politik lainnya, dengan wajah penuh penyesalan mereka membungkuk dalam-dalam di hadapan kamera dan mengundurkan diri. Begitu pula para pejabat publik ketika ternyata kinerjanya kacau, sehingga terjadi kebocoran radiasi nuklir PLTN atau kecelakaan kereta lisrik yang menyebabkan banyak nyawa manusia melayang. Maka jajaran puncak bagai berlomba membungkuk dan dengan legowo mengundurkan diri dari jabatannya.

      Apa yang bisa diambil pelajaran?

      Sebagai politisi ataupun pejabat yang sekarang memegang kekuasaan dalam pemerintah, rasa tanggung jawablah yang membuat mereka membungkuk memohon maaf atas kesalahan kepada rakyat yang dilayaninya. Permohonan maaf dan penyesalan, kadang dalam bentuk ekstrem seperti mengundurkan diri dari jabatan atau bahkan bunuh diri.

      Secara partisipasi politik masyarakat Jepang umumnya minim, karena rata-rata jumlah mereka yang memilih dalam pemilihan kepala daerah atau legislatif tak sampai 50% dari jumlah yang berhak memilih. Namun demikian masyarakat Jepang pada umumnya masyarakat yang sangat kritis terhadap kinerja pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat. Mereka memahami, politisi yang kemudian memegang tampuk kekuasaan pada dasarnya harus mampu melayani dan berempati dengan kesusahan masyarakat. Tak peduli kesalahan berpangkal pada rezim siapa, tetapi ketika kesalahan itu tak dibenahi, maka rezim masa kini pun dituntut minta maaf. Yang tak peduli dan tak bersimpati terhadap kesusahan rakyat, harus bersiap untuk didongkel.

      Lalu mari menoleh ke Indonesia. Terlepas dari berbedanya kultur masyarakat Jepang dan Indonesia, tetapi esensi dari tugas politisi yang menjadi legislatif ataupun pejabat yang memimpin di pemerintah pusat maupun daerah adalah sama. Yaitu mengayomi dan melayani masyarakatnya. Ketika mereka melakukan kesalahan kebijakan atau tak mampu mengoreksi kesalahan kebijakan masa lampau, mereka seharusnya meminta maaf dan mengkompensasinya dengan kinerja.

      Sungguh, rasanya saya ingin membaca berita: “Pemerintah meminta maaf karena sampai saat ini belum mampu menangani korban lumpur lapindo secara lebih baik, atau belum mampu menangani korupsi yang memenuhi rasa keadilan.” Saya sungguh ingin melihat di layar TV atau dengan terharu membaca di head line berita di koran lokal bahwa Pemerintah DKI Jakarta memohon maaf atas kebijakan separator bus waynya dan belum bisa memperbaiki jalan-jalan yang telah merenggut beberapa nyawa, atau kebijakannya memberi ijin bisnis properti perumahan elit di pantai Jakarta bagian utara dengan mengorbankan habitat bakau sehingga menyebabkan kampung warga yang berdekatan pantai dibanjiri air laut.

      Alih-alih mengatakan. “Ini sepenuhnya bukan tanggung jawab pemerintah. Ini warisan pemerintah lalu. Ini adalah karena curah hujan yang tinggi. Ini adalah karena ketidakdisiplinan pengemudi atau pengendara motor. Ini adalah karena pemanasan global yang menyebabkan pasangnya permukaan laut.”

      Karena meminta maaf atas kesalahan, yang para pemimpin seharusnya mampu mengoreksi kesalahan itu, saya pikir akan sedikit mengobati luka hati orang-orang kecil, walaupun tak sampai menyembuhkannya. Meminta maaf mungkin bisa memberi rasa nyaman dan terayomi, bahwa para pemimpin selalu menyadari tanggung jawab mereka dan tidak melupakan mereka. Meminta maaf juga cermin ekspresi kesungguhan dan kesadaran bahwa mereka harus lebih bekerja keras karena masih banyak yang harus dibenahi. Mungkinkah dan kapankah?

      Penulis: Is Helianti, peneliti dan pernah bermukim di Jepang

      Posted in sosial politik | Tagged: , | Leave a Comment »