Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Archive for the ‘Paper’ Category

Jurnal Internasional, siapa takut? Ketika menjadi Author

Posted by ishelianti on October 27, 2010

 

Berbicara tentang budaya menulis karya ilmiah atau paper di jurnal internasional di kalangan Indonesia terkadang memang membuat sesak dada. Di ASEAN saja, Indonesia tertatih di belakang 3 negara jiran: Singapura, Thailand, dan Malaysia walau sedikit sejajar dengan Filipina, dalam hal publikasi internasional. Bahkan, jika kondisi begini terus, tidak mustahil Vietnam akan menyalip.

Tentu, kita tak mau menjadi pecundang. Perlu usaha kecil namun terus-menerus untk menyadarkan kalangan ilmiah, peneliti, dan akademis untuk mengejar ketertinggalan ini. Juga membuka mata kalangan industri dan pihak terkait yang selama ini nampak “melecehkan” peran publikasi ilmiah. Bahwa peran Iptek dalam pembangunan dapat dilihat dengan parameter karya ilmiah yang diakui internasional yang dihasilkannya. Kita bisa menengok dengan mudah, negara-negara yang maju ekonominya adalah negara yang banyak mengeluarkan publikasi internasional: USA, Jepang, Jerman, dan China. Yang terakhir bahkan jumlah publikasi internasionalnya naik berlipat seiring keyakinan diri menjadi negara raksasa ekonomi baru. Memang, tulisan ilmiah yang diakui secara internasional bagaikan ada di menara gading, sedangkan paten terasa down to earth. Mungkin itu karena kita lupa, sebenarnya karya ilmiah akan menjadi down to earth pada akhirnya , ketika sudah terakumulasi, teruji, dan terkonfirmasi.

 

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi salah satu dari usaha kecil di atas.

 

Dalam proses akumulasi pengetahuan dalam bentuk publikasi ilmiah, Author adalah peran sentral. Karena keberadaan Author yang melakukan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya itulah ilmu pengetahuan terakumulasi, terkonfirmasi, dan teruji, lalu menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh publik. Pengetahuan ini digunakan untuk melakukan inovasi dan pengembangan teknologi, analisa data, juga dikembangkan lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman kita akan suatu objek pengetahuan.

 

Menulis hasil karya ilmiah dari suatu proyek penelitian adalah kewajiban setiap mereka yang mendapatkan dana penelitian dari pihak manapun, apatah lagi negara. Istilahnya publikasi ilmiah adalah akuntabilitas akademisi yang menerima dana. Bahkan ada yang secara ekstrem mengatakan, bahwa kaum ilmiah dan akademisi yang mendapatkan dana penelitian namun tidak melaporkan karya ilmiahnya dalam bentuk publikasi mirip dengan para koruptor. Karena dana itu menjadi tidak jelas larinya dan publik tidak dapat melihat hasil kerjanya.

 

Nah, bagaimana menjadi Author?

 

Seorang Editor Jurnal Internasional mengatakan, bahwa seharusnya semua penelitian bisa diterbitkan sebagai tulisan ilmiah di jurnal. Syaratnya adalah ”Good Science”. Maksudnya, penelitian itu dilakukan dengan prinsip-prinsip sains yang baik dan jujur, ada data yang bisa dipertanggungjawabkan, ada kontrol untuk menetapkan kevalidan data, ada kesimpulan yang bisa dihasilkan. Jadi ketika ditulis, tidak asbun, tidak ngasal. Seratus persen saya sependapat dengan pendapat ini.

 

Dalam ”good science” bisa jadi kebaruan atau novelty menjadi hal yang penting. Banyak dari peneliti Indonesia yang ”ngeper” ketika berbicara kebaruan, termasuk saya dulu. Saya teringat, ketika saya ”ngeper” tersebut, Profesor saya mengatakan: ”Kebaruan itu bertingkat-tingkat. Jika kamu melakukan suatu penelitian tanpa merefer buta 100% karya orang lain, dijamin ada kebaruan dan orisinalitas kamu di dalamnya. Jika setiap orang di dunia ini semua pandai menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tentu akan membuat dunia ilmu pengetahuan kacau balau dan tak akan ada pemenang nobel. Temukanlah dan ekspresikanlah kebaruan penelitianmu, di aspek mana dia berbeda dari yang sudah ada, walupun mungkin hanya menjadi aspek kecil dalam ilmu pengetahuan.” Kalimat yang pada waktu itu terus terang melegakan saya, yang masih sangat naif mengartikan arti kebaruan. Dan membuat saya bisa menulis paper pertama saya di jurnal Applied Microbiology and Biotechnology..:-)

 

Ada juga Profesor lain yang mengatakan, ada dua jalan yang bisa dipilih bagi mereka yang bergelut di dunia penelitian dan iptek. Pertama, bergelut di suatu bidang di mana banyak orang yang sudah lebih dahulu bergelut di dalamnya. Kalau kita memilih ini, keuntungannya adalah akumulasi pengetahuan berupa data sudah banyak, kita bisa meneliti, menyimpulkan penelitian, dan menulis hasilnya relatif lebih mudah. Tetapi, kekurangannya kita sulit mendapat kebaruan yang ”signifikan” menggoncang ilmu pengetahuan, hanya yang memimpin lah yang berhak atas penghargaan menemukan novelty yang dahsyat. Bidang seperti ini contohnya banyak terdapat dalam bioteknologi moderen.

 

Sedangkan yang kedua adalah pilihan untuk menggeluti bidang yang jarang dikerumuni orang. Sebagai konsekwensi dari pilihan ini, data mungkin sangat sulit didapat, apalagi kumpulan data terdahulu untuk perbandingan. Tapi kabar baiknya, data yang didapat walaupun relatif sedikit akan sangat dihargai untuk publikasi internasional.

Mana yang kita pilih, atau tepatnya, sekarang di tempat mana kita berada?

 

Dalam kasus saya. Karena, saya kurang lebih ada di kelompok yang pertama, maka saya harus berbesar hati, bahwa saya harus bisa memilih di jurnal internasional mana karya saya bisa diterbitkan, di jurnal level apakah karya saya bisa diterima? Maka, kita harus pandai memilih jurnal apa yang kita jadikan target.

 

Banyak paper yang ditolak bukan karena paper itu tidak good science. Tetapi karena paper tersebut ”salah alamat”. Banyak paper yang ditolak oleh jurnal berimpact factor tinggi bukan karena tidak punya kebaruan, tetapi karena level kebaruan yang diminta jurnal tersebut levelnya lebih tinggi. Banyak reviewer yang memandang sebelah mata sebuah manuskrip, bukan karena tidak bagus, tetapi karena Author tidak berhasil meyakinkan reviewer di mana letak kebaruan penelitiannya.

 

Itulah kuncinya. Mengenali karakter penelitian kita, memilih jurnal internasional yang mengadopsi bidang kita dalam segi scope maupun level impact factornya, dan mengkomunikasikan kebaruan dengan sejelasnya. Dan tentu saja mempersiapkan manuskrip yang well prepared sehingga mengesankan reviewer. Bahasa Inggris memang rada menakutkan. Tetapi dengan kesadaran bahwa kita bukan native speaker, kita bisa lebih bisa membebaskan diri dari tekanan harus bisa bernarasi sempurna. Sehingga efeknya dapat menulis dengan lebih baik. Rasanya Bahasa Inggris sama saja dengan Bahasa Indonesia. Untuk membuat kalimat yang mudah dimengerti haruslah S-P-O-K dan tak banyak kalimat majemuk. (bersambung)

Posted in Paper, penelitian | 1 Comment »