Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Archive for the ‘Artkel di Media Massa’ Category

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Posted by ishelianti on September 3, 2009

Ini ada artikel saya jaman baheula ( 8 tahunan lalu kali ya?). Saya sedang merenung tentang banyaknya kontent dan kompleksnya tuntutan kurikulum anak SD saat ini. Terus terang, sedari kecil saya tak pernah diperintah untuk belajar atau dibimbing dalam mengerti pelajaran. Mengalir begitu saja.Tapi melihat tuntutan kurikulum saat ini, rasanya sama dengan menjerumuskan anak jika saya hanya percaya anak saya pasti bisa tanpa membimbingnya belajar secara intens di rumah.Tuntutan dan konten kurikulum khususnya pembelajaran akademik sangat tinggi. Kadang saya berpikir, apa perlu kelas satu kelas dua belajar seperti ini? Apakah ini berujung pada pengembangan kapasitas intelektual anak atau malah tidak dapat membentuk dasar akademis yang kuat sama sekali?

Mudah-mudahan tulisan ini tidak basi, dan dapat menjadi masukan dan bahan perenungan saya pribadi.

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Mengamati rapot SD Jepang, maka dapat disimpulkan bahwa rapot SD Jepang
banyak mengalami perubahan.Perubahan ini adalah hasil evaluasi yang
terus-menerus sejak masa pasca perang dunia kedua sampai sekarang. Beberapa
orang Jepang teman sekerja saya memaparkan demikian. Semua yang hampir
seusia dengan saya mengatakan bahwa rapot murid SD Jepang sekarang sangat
berubah dibandingkan rapot mereka dulu ketika SD. Para ibu yang
menyekolahkan anak-anaknya juga mendukung data ini. Rapot anak pertama dan
ketiga mereka yang terpaut beberapa tahun sangat berbeda. Baik mata
pendidikan (sebagai ganti menyebut mata pelajaran) yang dilaporkan maupun
cara pelaporannya. Ada baiknya saya uraikan secara sistematis tentang
pandangan kebijakan Depdikbud Jepang tentang pendidikan dasar yang mendasari
perubahan yang tercermin dengan berubahnya isi rapot.

Sekitar tahun 1947, sebagai negara yang baru saja kalah perang, Jepang mulai
membenahi segala bidang kehidupan masyarakatnya, termasuk pendidikan.
Evaluasi tentang sistem pendidikan, komposisi mata pendidikan tingkat rendah
(sekolah dasar) selalu menjadi bahan perdebatan hangat dan evaluasi sejak
tahun enam puluhan. Sama seperti Indonesia sekarang ini, sehabis perang
dunia II Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) juga
merupakan mata pelajaran pokok di SD. Namun, karena misi pendidikan dasar
secara integral adalah bukan hanya membentuk dasar kemampuan baca, tulis,
berhitung namun juga menanamkan ketrampilan dasar sebagai manusia sebagai
makhluk sosial. Nampaknya ini tidak tercapai dengan sistem mata pelajaran
yang hanya menekankan pada kemapuan intelektual di kala itu. Lewat
penelitian dan evaluasi panjang akhirnya Monbusho (Depdikbud) Jepang di
tahun 1988 mengumumkan untuk menghilangkan pelajaran IPA dan IPS di Sekolah
Dasar, dan menggantinya dengan mata pendidikan baru yang bisa jadi merupakan
kombinasi pelajaran IPS dan IPA diintegrasikan dengan penanaman nilai-nilai
luhur. Mata pendidikan baru ini bernama seikatsuka (seikatsu= hidup
sehari-hari, ka= istilah untuk menyebut mata pelajaran) Beberapa sub dari
pelajaran seikatsuka adalah: bagaimana hidup dengan cara yang sehat dan
aman, bergaul dengan orang-orang sekitar kita, berinteraksi dengan alam,
memanfaatkan fasilitas umum, dan sebagainya. Di samping itu, Depdikbud
Jepang mencanangkan pendidikan yang integral dan meminta semua pendidik
untuk memasukan nilai-nilai luhur ke dalam setiap mata pendidikan.

Tahun 1990, penerapan kurikulum SD dengan komposisi mata pendidikan yang
baru mulai diterapkan. Khususnya untuk SD kelas 1,2, dan 3 banyak mengalami
perubahan. IPS dan IPA yang dahulu hanya pelajaran monoton, kini digantikan
dengan mata pendidikan seikatsuka yang memasukkan unsur IPS, IPA, bermain,
dan berkomunikasi (bahasa) di dalamnya. Di dalam seikatsuka terperinci
kegiatan belajar yang mendetail di mana murid-murid kelas satu dijadwalkan
untuk bermain dan memperhatikan keadaan taman terdekat, mengenal sekolah
mereka dan orang-orang yang berperan dalam sekolah dari kepala sekolah, para
guru, penjaga kantin sampai penjaga sekolah, belajar mengurus dan menyayangi
hewan peliharaan seperti kelinci bersama-sama, memperkenalkan ayah, ibu, dan
saudara-saudara mereka dan sebagainya. Sedangkan di kelas dua, ada pelajaran
bagaimana menanam tanaman dari biji hingga tumbuh besar, berjalan-jalan
mengenal kota di mana mereka tinggal, mengadakan festival mainan dsb. Bisa
dikatakan, jumlah pelajaran yang mengharuskan anak kelas satu dan dua SD
untuk duduk tekun di meja dan pekerjaan rumah yang membuat lelah anak-anak,
menurun dengan drastis dibanding waktu-waktu lampau. Oleh karena itu
kehidupan sekolah dasar adalah hal yang menyenangkan dan mengasikkan buat
para murid, bukan lagi menjadi momok karena banyaknya beban seperti di masa
lampau.
Agaknya, perubahan dalam kurikulum SD itu juga berangkat dari falsafah
Jepang dalam mendidik generasi mereka. Yaitu: 1. Mendidik anak-anak untuk
menjadi orang yang kaya hati sehingga menyayangi, menghormati orang lain,
dan menyayangi makhluk hidup lain. 2. Mementingkan pendidikan dasar yang
sangat mendasar yang sesuai dengan karakter dan kekhasan anak masing-masing,
karena setiap anak adalah unik. 3. Memacu anak untuk mandiri dalam belajar
dan mendidik diri mereka sendiri sejak kecil. 4. Menciptakan manusia yang
menghormati budaya luhur dan dapat bergaul dalam masyarakat internasional.
Falsafah-falsafah ini sebisa mungkin harus dimasukkan dalam setiap mata
pendidikan dan difahami oleh para pendidik. Sehingga, mata pendidikan yang
dulu sangat menekankan melulu kecerdasan seorang anak, sekarang ditekankan
kepada mengembangkan ketrampilan anak untuk bersosialisai dan berkembang
sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.

Perubahan ini pun tercermin dalam rapot anak-anak SD Jepang. Mata pendidikan
seikatsuka selain bahasa (membaca dan menulis) dan berhitung sangat ditulis
dengan rinci. Bentuk mata pendidikan yang dinilai memang menggunakan istilah
yang beragam untuk tiap sekolah. Namun secara garis besar ada mata
pendidikan, bagaimana sikap anak dalam memberi salam kepada orang lain,
bagaimana nilai anak ketika bekerja sama dengan orang lain, bagaimana sikap
anak ketika bergaul dengan orang lain, bagaimana sikap sang anak dalam
memelihara tumbuhan atau binatang, bagaimana sikap anak dalam
mengekspresikan pikirannya, dll. Tidak berlebihan jika dikatakan rapot
tersebut menunjukkan perhatian sekolah pada hakikat dasar mendidik anak.
Untuk kelas 1, 2, dan 3, nilai mereka pun bukan nilai kuantitaf yang
ditunjukkan dengan angka seperti delapan atau enam. Tetapi dengan komentar
pujian atau memberi semangat: “sudah berusaha dengan baik” atau “mari
berusaha sedikit lagi”, yang biasanya disimbolkan dengan lingkaran (untuk
yang pertama) atau segitiga (untuk yang terakhir). Tidak ada nilai negatif
untuk anak. Dan untuk SD kelas empat ke atas, nilai A, B, C memang
diterapkan. Namun, ini adalah nilai mutlak per anak, bukan nilai komparatif.
Setiap anak dihargai oleh usaha mereka masing-masing untuk meningkatkan
diri. Oleh karena itu di SD Jepang, tak ada sistem rangking yang
membandingkan satu anak dengan lainnya, ini berdasarkan filsafah pendidikan
dasar yang menekankan pada perkembangan khas setiap anak secara perorangan.
Satu kelas bisa saja semuanya memperoleh nilai A atau dobel lingkaran untuk
satu mata pendidikan. Akan tetapi nilai A ini sangat berbeda untuk tiap
anak. Misalnya, anak yang pemalu dan sulit berinteraksi dengan
kawan-kawannya, bisa saja memperoleh nilai A untuk mata pendidikan
berinteraksi dan bekerja sama sesama kawan sama dengan seorang anak yang
memang supel dan pandai bergaul. Dengan catatan, A bagi anak pertama,
mungkin berkaitan dengan peningkatan yang dicapainya dibandingkan dengan
catur wulan lalu, dan nilai A bagi yang kedua adalah memang sikap unggul
sang anak dalam bergaul. Demikian pula pelajaran-pelajaran lainnya.

Sistem kurikulum dan rapot yang seperti ini, walaupun adalah hasil akumulasi
pemikiran, penelitian serta evaluasi pihak-pihak terkait khususnya Depdikbud
Jepang, sampai sekarang masih terus dievaluasi. Khususnya permasalahan
tertinggal pada pelajaran seikatsuka ini di kelas tiga ke atas. Di mana
ketika murid kelas satu dan kelas dua menikmati pelajaran IPS dan IPA dalam
frame yang menyenangkan, akan tetapi ketika mereka menginjak kelas tiga ke
atas mereka harus belajar seperti muatan yang dulu dengan style yang serius.
Duduk dengan rapi dan menyimak buku. Sehingga sebagian guru merasa kesulitan
ketika mengajarkan mata pendidikan ini di kelas tiga, karena di kelas ini
lah peralihan dari belajar dalam bentuk menyenangkan ke belajar untuk
mengembangkan daya intelektual terjadi. Ditambah lagi, banyak pula beberapa
orang tua Jepang yang ambisius yang kawatir dengan pendidikan anak-anak
mereka di sekolah dasar sekarang. Apakah dengan bentuk pendidikan yang
seperti ini, anak-anak mereka mampu berkompetisi untuk memasuki perguruan
tinggi elit? Terlepas dari itu semua, kepedulian pemerintahan Jepang akan
pendidikan generasi masa depan mereka patut diacungi jempol. Mereka berani
merombak kemapanan dalam sistem pendidikan dasar yang tercermin dalam rapot,
dengan harapan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual
tetapi juga kepribadian.

Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | 6 Comments »

Metagenomik, Era Baru Bioteknologi

Posted by ishelianti on June 22, 2008

Kompas Senin, 06 Juni 2005

Oleh: Is Helianti

INOVASI dan daya kreasi para peneliti di dunia ilmiah telah melahirkan banyak perkembangan baru dalam sains dan teknologi, tak terkecuali di bidang biologi. Era pembacaan seluruh rantai DNA (genom) satu spesies makhluk hidup telah menjadi hal “biasa” di negara maju sana. Tak kurang genom dari ratusan spesies mikroba, tikus, padi hingga manusia telah selesai dibaca.

NAMUN, tampaknya babak pembacaan genom satu spesies makhluk hidup telah mencapai titik jenuh bagi sebagian ilmuwan. Sekarang ini, mereka beralih pada tantangan yang lebih besar. Yaitu, membaca seluruh DNA dari suatu ekosistem lengkap (bukan hanya satu organisme), yang diistilahkan dengan metagenom. Ilmu yang mempelajari metagenom ini disebut metagenomik.

Secara detailnya, proyek metagenom ini adalah usaha membaca seluruh DNA dari komunitas mikroba dalam ekosistem kecil, misalnya segenggam tanah, sepuluh mililiter air laut, atau isi perut manusia. Dengan membaca seluruh cetak biru genetik dari seluruh spesies organisme yang ada pada satu ekosistem, ilmuwan berharap dapat mengetahui jenis organisme (mikroba) apa saja yang terdapat dalam ekosistem mikro tersebut, serta bagaimana mereka bekerja bersama.

Tentu saja usaha ini tidaklah mudah. Keanekaragaman mikroba dalam ekosistem mikro sekalipun sangatlah tinggi. Dalam satu gram tanah subur atau satu mililiter air laut misalnya, bisa saja dijumpai ribuan spesies mikroba, yang dari aspek genetik jauh lebih kompleks daripada genom manusia.

Selain dari lingkungan yang subur yang berarti kaya akan kehidupan, para ilmuwan juga mencoba untuk membaca metagenom dari lokasi-lokasi yang sepi dari kehidupan, seperti lingkungan ekstrem di dasar laut dalam atau daerah pertambangan yang penuh kontaminan berbahaya. Hasil penelitian proses pembacaan metagenom dari daerah-daerah ekstrem yang jarang kehidupan ini pun menyatakan bahwa lebih banyak gen baru yang ditemukan daripada dalam genom manusia. Padahal, dalam genom manusia pun, masih lebih dari setengah jumlah gen yang ada, belum kita ketahui fungsinya.

Pro dan kontra

Sampai saat ini, para peneliti umumnya menggunakan approach isolasi satu spesies makhluk hidup (baik itu mikroba, tumbuhan, ataupun hewan), mengidentifikasi, lalu membaca seluruh gen/DNA (genom)-nya untuk mempelajari makhluk hidup tersebut lebih lanjut lagi. Tetapi metagenomik mengambil approach yang bertolak belakang. Metagenomik memulainya dari DNA organisme (apa pun) yang bahkan sama sekali tidak diketahui, lalu setelah itu baru mencoba memecahkan apa sebenarnya organisme-organisme yang ada di situ yang mengandung DNA-DNA tersebut.

Pendekatan yang tidak umum ini di kalangan ahli mikrobiologi sendiri menimbulkan pro dan kontra akan nilai penting dari data ilmiah yang didapat.

Para peneliti yang setuju dengan approach ini antara lain mengatakan bahwa hanya satu persen dari mikroorganisme yang ada di Planet Bumi ini yang bisa ditumbuhkan di laboratorium atau dibiakkan dalam medium artificial. Jadi sisanya, sembilan puluh sembilan persen tidak bisa (atau setidaknya belum bisa) dikulturkan dengan teknologi isolasi dan kultivasi yang ada sekarang ini, atau diistilahkan dengan unculturable. Padahal bisa jadi mikroba yang unculturable ini justru menyimpan gen-gen baru yang dapat diaplikasikan dalam industri ataupun bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu bisa dikatakan, ilmu mikrobiologi sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang yang sembilan puluh sembilan persen ini.

Tetapi, peneliti dimungkinkan untuk mengekstraksi DNA dari sample tanah atau air laut tanpa perlu identifikasi makhluk hidup apa yang menjadi sumber DNA tersebut. Kita memang tidak tahu penampilan, bentuk (morfologi), ataupun karakter dari masing-masing spesies tersebut, namun, kita bisa tahu kode genetiknya.

Demikian menurut Venter, saintis sekaligus pebisnis unggul pemilik perusahaan biotek Celera Genomics yang merupakan salah seorang pionir dalam proyek metagenom ini. Perusahaan Celera Genomics yang dipimpinnya berhasil menepis keraguan dunia akan keberhasilan proyek pembacaan genom manusia, karena sukses membaca genom manusia yang panjangnya 3.000 mega base pair (Mbp) itu dalam waktu tiga tahun!

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa pembacaan metagenom dari mikroekosistem tidaklah punya arti apa-apa. Dr Davies, seorang profesor emeritus mikrobiologi Universitas British Columbia, bahkan mengatakan bahwa membaca sekuens seluruh DNA yang ada di sample tanah hanyalah akan menjadi sampah. Komentar ini mungkin berkaitan dengan pengalaman penelitiannya sendiri. Profesor ini pernah memulai bisnis perusahaan biotek untuk menemukan antibiotik baru dengan mengekstraksi genom DNA dari sampel mikroba tanah yang tidak dapat dikulturkan. Akan tetapi, approach tersebut menemui jalan buntu. Karena produksi antibiotik diregulasi oleh banyak gen. Sehingga tidak dimungkinkan untuk mendapatkan fragmen DNA yang cukup panjang yang mengandung seluruh gen yang diperlukan untuk memproduksi antibiotik dalam satu klon dari pustaka metagenom tersebut.

Menurut rofesor Davies, hasil pembacaan metagenom hanyalah seperti katalog. Metagenom memaparkan semua gen tetapi tidak memberikan informasi informasi apa pun tentang gen apa yang aktif dan gen mana yang tidak, serta bagaimana bakteri-bakteri tersebut berinteraksi satu sama lain. Kita tidak mendapatkan karakter apa pun dari bakteri yang ada, lalu bagaimana kita bisa tahu apa yang mereka lakukan? Demikian argumen profesor ini.

Argumen ini dibantah oleh saintis dari The Institute of Genome Research (TIGER), Dr Gill. Menurut dia, jika kita mendapatkan cetak biru genetik suatu organisme, kita dapat trace back untuk merekonstruksi sistem metabolismenya, walaupun tanpa mengetahui nama organisme tersebut. Jadi, data genom saja itu sudah cukup bernilai.

Informasi cetak biru genetik akan membantu ilmuwan memperkirakan nutrisi apa yang diperlukan oleh organisme sumber DNA tersebut. Sehingga dapat menjadikan mikroba yang bersangkutan yang sebelumnya tidak bisa dikulturkan menjadi mikroba yang dapat diisolasi dan dikultivasi di laboratorium. Dan ketika seluruh gen dalam suatu organisme diketahui, maka dengan teknologi DNA/gen chips akan mudah diketahui gen mana yang aktif atau tidak ketika diberikan stres lingkungan yang berbeda-beda.

Sumber biokatalis baru

Sebenarnya, metagenom walaupun tampak baru dari segi istilah, telah mulai dilakukan sejak tahun 1980-an. Para peneliti saat itu mencoba meneliti gen 16S rRNA dari sampel konsorsium mikroba. Gen ini menjadi penanda spesies suatu makhluk hidup dan dipunyai oleh seluruh makhluk hidup di Planet Bumi ini. Gen ini, meski berasal dari spesies yang berbeda-beda, banyak mempunyai bagian yang conserve atau homolog satu sama lain. Jadi, spesies yang sama mempunyai susunan DNA yang hampir sama, sedangkan semakin dekat kekerabatan dua makhluk hidup, maka akan semakin banyak bagian dari gen ini yang overlap atau homolog.

Dengan menganalisis gen 16S rRNA yang relatif pendek (sekitar 1.500 bp) dari konsorsium bakteri ini, maka saintis mengetahui ada berapa jenis mikroba global. Akan tetapi, kita tidak mendapatkan informasi apa pun tentang bagaimana bakteri itu berfungsi.

Lalu, sejak tahun 1990-an, para saintis mencoba untuk menganalisa gen yang lebih besar dan panjang untuk mencari gen yang sesuai dengan keperluan hidup manusia. Misalnya, gen penyandi enzim fungsional yang bermanfaat untuk industri sebagai biokatalis.

Setelah sampel dari lingkungan didapat, maka total DNA dari sample tersebut diekstraksi, lalu dikloning dengan teknik shotgun cloning. Total DNA ini dipotong secara random dengan enzim pemotong DNA yang spesifik. Fragmen DNA dengan berbagai ukuran ini lalu diligasikan secara random ke dalam DNA vektor dan dimasukkan ke dalam kultur E coli. Dari sini dipilihlah transforman atau klon (E coli yang mengandung insert fragmen DNA) yang fungsional mengekspresikan enzim target.

Perpaduan fragmentasi DNA total dan kloning secara random sehingga menghasilkan ribuan transforman E coli seperti di atas disebut dengan pustaka metagenom. Metode pustaka metagenom ini telah membuahkan hasil seperti dilakukan oleh beberapa saintis. Tanpa harus susah payah mengisolasi satu spesies lalu mengoptimasi kultivasi isolat yang perlu waktu lama, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit, beberapa tim peneliti berhasil menemukan gen-gen baru penyandi enzim yang bermanfaat untuk industri, seperti amilase, agarase, amidase, ataupun selulase.

Contoh lainnya, perusahaan Diersa dengan pustaka metagenom berhasil menemukan enzim lipase jenis baru yang dapat memangkas setengah biaya produksi pembuatan obat penurun kolesterol Lipitor.

Menyusun ribuan “puzzle”

Menemukan satu atau beberapa gen sekaligus enzim aktifnya dengan pustaka metagenom seperti di atas mungkin masih relatif sederhana. Sekali kita menemukan gen sekaligus produknya (enzim) yang fungsional dalam klon E coli, lalu kita sekuensing gen itu, persoalan selesai. Namun, jika kita ingin membaca seluruh gen dari mikroba yang ada dalam satu komunitas tentu jauh lebih ruwet lagi.

Setelah seluruh fragmen DNA dari sample kita dapatkan lalu kita kloning secara random, maka tugas berikutnya adalah membaca susunan DNA dari fragmen insert yang terdapat dalam jutaan klon satu per satu. Metode shotgun kloning seperti ini pula yang dipakai untuk membaca genom manusia yang besarnya 3.000 Mbp itu.

Seluruh sekuens dari fragmen-fragmen DNA itu lalu disusun secara berurutan dengan melihat susunan DNA yang overlap (ini dilakukan oleh komputer). Jadi ibaratnya, seperti menyusun puzzle dari serpihan-serpihan kecil untuk membentuk gambar utuh yang besar. Pada proyek genom manusia, pekerjaan ini relatif lebih mudah karena genom itu hanya berasal dari satu spesies walaupun ukurannya sangat besar.

Pada proses pembacaan metagenom mikroba dari lingkungan, proses tentu menjadi tidak sesederhana itu. Karena, mungkin saja segenggam sampel tanah mengandung ribuan spesies mikroba. Jadi, membaca metagenom sampel ini seperti menyambung serpihan-serpihan untuk menyusun ribuan lembar puzzle yang gambarnya berbeda-beda! Secara simulasi dan perhitungan komputer penyusunan ribuan puzzle ini memungkinkan. Meski demikian, banyak pula saintis yang skeptis.

Seperti menjawab keraguan itu, tim dari Universitas California Berkeley sukses membaca metagenom dari komunitas yang lebih kecil. Mereka berhasil membaca seluruh genom mikroba dari sejumput tanah di daerah pertambangan, 400 meter di bawah pertambangan biji besi Iron Mountain, California, di mana daerah tambang ini mengeluarkan limbah asam beracun yang mencemari sekitarnya. Tim ini mengatakan ada tujuh spesies mikroba (entah itu bakteri atau archaea) yang mendiami lokasi ekstrem mematikan itu. Dua di antaranya telah diketahui genomnya secara lengkap.

Selain metagenom dari lingkungan di luar manusia, metagenom di dalam mikro ekosistem tubuh manusia juga sedang diteliti. Beberapa saintis ada yang memfokuskan penelitian untuk membaca metagenom komunitas bakteri yang ada di saluran pencernaan manusia seperti lambung yang juga berkondisi ekstrem (sangat asam). Dari hasil penelitian saat ini, diketahui bahwa perubahan komunitas bakteri dalam saluran pencernaan akan menyebabkan mulas, diare, atau gangguan pencernaan lainnya. Proyek metagenom bakteri penghuni lambung ataupun usus manusia akan bisa memberikan informasi pola populasi bakteri. Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh prediksi waktu kritis seseorang akan jatuh sakit sehingga diagnosa dan pengobatan lebih mudah dilakukan.

Walaupun ada keraguan dari beberapa saintis lain tentang nilai pentingnya pembacaan metagenom, saintis prometagenomik jalan terus. Mereka percaya, sebagai makhluk hidup yang menempati biomassa bumi sebesar enam puluh persen di Planet Bumi ini, mikroba adalah maestro kimia paling genius di planet kita. Mikrobalah yang menjadi sumber antibiotik (dan obat-obatan lainnya), enzim, gen pembunuh serangga yang dimanfaatkan dalam tanaman transgenik, dan sebagainya. Mikroba pula yang memainkan peran penting dalam siklus lingkungan, seperti mengubah gas nitrogen di udara menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman, pemasok separuh oksigen Bumi, juga menguraikan toksik dan polutan. Mikroba pulalah yang berperan besar dalam membantu hidup manusia mengelola zat gizi yang dimakannya. Karena itu, proyek metagenom mikroba pasti menjanjikan sesuatu yang istimewa.

Rasanya sudah tak sabar melihat perkembangan sains dan teknologi berikutnya berkat proyek metagenom ini.

Dr Is Helianti MSc Peneliti rekayasa genetik dan enzim pada Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT

Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , | 1 Comment »

Raksasa Ekonomi; Berkah Brain Drain?

Posted by ishelianti on June 20, 2008

Seputar Indonesia (SINDO) Minggu, 8 Oktober 2006

Pengamat ekonomi Goldman Sachs memprediksikan bahwa India akan menjadi negara yang berekonomi kuat ketiga setelah USA dan China di tahun 2025. Sebelum mencapai hal ini, di tahun 2020 India akan menjadi yang nomor satu di dunia sebagai pusat yang memproduksi pengetahuan dan teknologi, demikian optimisme Kepala Dewan Saintifik dan Riset Industri India, Dr Mashelkar, seorang mantan brain drain yang berkomitmen kuat dan berpengaruh pada perkembangan sains dan teknologi di negaranya (Science magazine 2005).

Optimisme yang mungkin sedikit kelewatan dari Dr Mashelkan memang beralasan. Karena revolusi diam-diam selama lima tahun terakhir sedang terjadi di India. Ratusan perusahaan global berbasis teknologi canggih, seperti Motorola, Intel, dan IBM mendirikan pusat riset dan pengembangannya (R&D) di India. Perusahaan General Electric (GE), yang mengembangkan pusat R & Dnya di India dengan 2400 pegawai (sepertiganya adalah reversed brain drain India). Ini menjadikan menjadi pusat litbang GE kedua terbesar di dunia.

Alasan GE memilih India? India memang negara berkembang, tetapi infrastruktur yang ditawarkannya tidaklah kalah hebat dengan negara maju, namun pembiayaan R&D tidaklah sedahsyat negara maju, demikian Jack Welch, CEO legendaris GE mengatakan.

Berlombanya perusahaan global menanamkan investasinya di India terkait erat dengan globalisasi ekonomi yang tentu saja dibarengi dengan globalisasi teknologi. Perusahaan besar dunia tersebut memahami bahwa untuk dapat survive dalam persaingan global mereka tidak dapat bertahan dengan mempertahankan kompetensi intinya dengan litbang internal di negara asalnya sendirian. Harus ada cara lebih cerdas untuk bertahan, yaitu dengan mengembangkan produk dengan cara yang lebih murah, yaitu dengan outsourcing (memesan sebagian komponen produk pada negara lain), atau mendirikan pusat litbang di negara yang memungkinkan penyelenggaraannya dengan jauh lebih murah. India menangkap peluang ini.

Tidak hanya investasi pusat R&D perusahaan global yang tumbuh pesat. Perkembangan sektor swasta made in asli India, khususnya industri yang berbasis teknologi canggih seperti bioteknologi dan teknologi informasi juga tak kalah.

Industri Bioteknologi dan IT

Menurut Mani dalam makalahnya di jurnal Int. J. Technology and Globalisation 2006, industri bioteknologi dan teknologi informasi (IT) adalah penyumbang signifikan dalam peningkatan pendapatan kotor perkapita (GDP) (dan tentu saja peningkatan ekonomi India). Memang, sumbangan industri berbasis teknologi baru ini tidak terlalu menonjol mengurangi angka kemiskinan India yang sekitar 26% itu. Namun Mani mengemukakan dalam makalahnya bahwa peran industri berbasis biotek dan IT berhasil mengurangiketidaksetaraan atau mengurangi gap miskin kaya di India, karena berhasil menciptakan kaum menengah tangguh.

Industri berbasis IT dan bioteknologi paling tidak menyumbang 5% GDP India di tahun 2005, dan diprediksikan akan terus meningkat.

Industri obat-obatan domestik India misalnya, menghasilkan 22% dari seluruh obat generik yang ada di pasaran global. Industri biotek lokal juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Sebagai contoh Shantha Biotech. Perusahaan ini berawal modal kecil, yang memproduksi hasil biotek orisinilnya. Sekarang, paling tidak sepertiga dari vaksin Hepatitis B yang beredar di pasaran domestik India adalah produk dari Shantha.

Dulu, pasaran ini dikuasai oleh vaksin impor yang harganya berlipat, sekarang mereka menjual vaksin hanya sekitar 30 sen USD (atau 3000 rupiah) per dosis. Perusahaan ini pun sekarang bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa US yang berbasis biotek dalam pengembangan dan pemasaran internasional rekombinasi DNA vaksin Hepatitis-B di masa dekat.

India dan Brain Drain

Mengapa perkembangan industri berbasis teknologi baru demikian pesat di India? Mengapa pula reputasi India sangat baik bagi kalangan industri global untuk membuka pusat R&Dnya di India?

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan perkembangan industri berbasis sains dan teknologi yang pesat di India saat ini berhubungan erat dengan sejarah panjang negara ini mengalami brain drain, yaitu fenomena beremmigrasinya SDM yang berketrampilan dan berpengetahuan tinggi dari India ke negara maju, khususnya AS.

Mari kita tengok.

Selama dekade 1990-an adalah masa keemasan bagi para sarjana India yang ingin melakukan brain drain ke Amerika Serikat. Banyak perusahaan di Amerika, khususnya yang bergerak di bidang IT menawarkan green visa (visa menetap permanen) bagi orang pintar IT dari India. Dari 195 000 visa untuk pekerja profesional di Amerika yang dikeluarkan selama dekade 1990-an, 45%nya diberikan pada para brain drain India! Alasannya, reputasi kaum terampil India sangat baik. Sarjana lulusan IT India rata-rata berbakat, fasih berbahasa Inggris, dan tidak banyak menuntut. Tentunya, penawaran visa ini suatu undangan yang menggiurkan bagi orang-orang pintar ini.

Dari sudut pandangan individu, tak ada yang lebih membuat bersemangat bagi orang muda yang pintar, selain mereka dapat berkarya dan mendapat penghargaan dan penghidupan yang layak dari hasil karyanya, hatta di negeri orang.

Prestasi penduduk Amerika asal India ini memang sangat cemerlang. Di tahun 1998, warga negara India di Amerika menguasai 775 perusahaan teknologi informasi dengan omset 3.6 milyar USD (35 trlyun rupiah ) per tahun dan sanggup menyediakan 16 600 lapangan kerja! Karena itu pada saat itu mereka adalah pembayar pajak yang signifikan di AS.

Akan tetapi bagi pemerintah India, saat itu, tentu saja lain persoalan. India adalah negara yang sangat parah mengalami brain drain. Sejak India merdeka dari Inggris tahun 1947, hengkangnya para SDM berskill tinggi dan berpendidikan membuat pemerintahan India sakit kepala.

Menurut laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun 2001, India kehilangan paling tidak 2 milyar US dolar (atau sekitar 18 trilyun rupiah), jika nilai para SDM trampil yang brain drain dikonversi ke dalam hitungan ekonomi!

Selama periode 1998-2001, hanya 27% SDM program doktoral yang kembali ke India setelah menyelesaikan studinya di USA. Berarti sebanyak tiga perempat dari orang-orang pintar itu memilih tetap tinggal di AS dan mencari pekerjaan di sana.

Tabel 1. Penerima gelar doktor dalam sains dan engineering dan persentase tetap tinggal di AS dari beberapa Negara

Kebijakan Pemanfaatan para Diaspora

Pemerintah India memahami bahwa para brain drain adalah aset bangsa yang tidak boleh diabaikan dan disia-siakan. Keberadaan SDM India berketrampilan dan berpendidikan tinggi di negara maju harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan ekonomi, sains dan teknologi negara asal (India) yang selama ini telah menderita karenanya.

Maka pemerintah India mulai proaktif menjalankan kebijakan pemanfaatan para brain drain yang tersebar (diaspora) di seluruh dunia untuk berkontribusi bagi kemajuan India. Alih-alih menghalangi para orang pintarnya brain drain, India malah seolah membiarkan para SDMnya untuk brain drain dan berdiaspora di berbagai negara dengan beragam ketrampilan dan pengalaman yang mungkin lebih sukar mereka peroleh jika berada di negeri sendiri. Namun, mereka ternyata tak hanya diam. Mereka menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat mengubah brain drain menjadi brain gain.

Pertama, India menyusun kebijakan-kebijakan untuk membuat iklim yang kondusif bagi penanaman investasi modal asing. Misalnya, mereka terus mempertinggi kualitas perguruan tinggi dan lembaga riset, mengarahkan lembaga riset untuk menghasilkan riset yang berorientasi industri, mendirikan pusat-pusat teknologi informasi untuk perluasan jaringan, juga terus mempromosikan hal-hal menarik bagi investor: upah SDM trampil yang jauh lebih murah dari negara maju dan populasi manusia yang dapat berbahasa Inggris.

Sehingga diharapkan banyak perusahaan asing yang berbasis teknologi dan riset mau berinvestasi di India, khusunya di investasi pusat R&D. Dengan demikian diharapkan dapat menekan jumlah para brain drain ke negara maju. Mereka akan terserap pada R&D perusahaan asing yang ada di dalam negeri. Pada gilirannya, kondisi yang kondusif untuk riset dan berkarya akan mendorong para diaspora untuk pulang ke negaranya, berkarya dan berinvestasi di negaranya, membesarkan anak-anak mereka di India, dan pada akhirnya membesarkan perekonimian India.

Di samping itu India juga membuat kebijakan-kebijakan yang menarik bagi para brain drain agar menjadi brain gain dan kembali ke negaranya dengan membuat kebijakan yang sinergis antar departemen. Misalnya kementrian yang mengurusi warga India di perantauan ditingkatkan anggarannya 5 kali lipat. Bekerja sama dengan Departemen urusan LN mereka membuat ketetapan akan dua kewarganegaraan, pengakuan atas orang keturunan India, kerja sama riset yang ditujukan untuk para saintis yang bekerja di LN untuk mengajar di universitas dalam negeri, dan lain-lain. Menariknya mereka juga mengurusi usaha diplomatik untuk tetap berhubungan dengan para diaspora, misalnya merayakan pencapaian prestasi gemilang mereka di luar negeri sana.

Kebijakan pemerintah India rupanya bersambut karena menjadi penyelamat yang tepat bagi para brain drain, khususnya di bidang teknologi informasi yang mau tidak mau menjadikan negeri asalnya sebagai tempat berlabuh.

Masa keemasan ekonomi dan kejayaan teknologi informasi mulai memudar di AS sejak tahun 2000. Krisis ekonomi AS menyebabkan banyak perusahaan IT yang bangkrut dan mau tidak mau harus memPHK para staf ahlinya. Berduyunlah arus balik brain drain ke India. Sebagian yang pernah menjadi pengusaha di Silicon Valley. mendirikan perusahaan di Bangalore.

Trend berinvestasi di negara asal juga didukung oleh kondisi bahwa perusahaan besar negara maju cenderung melakukan kebijakan outsourcing dalam mendapatkan software agar dapat lebih kompetitif di era global. Sehingga banyaklah perusahaan IT yang memproduksi software untuk diekspor ke perusaahaan IT di AS.

Misalnya kisah Nagarajan. seorang braindrain alumni Silicon Valley yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran. jika pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu 2.2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

Jadi mungkin tak berlebihan jika perkembangan ekonomi berbasis sains dan teknologi yang pesat di India sekarang ini adalah berkah dari brain drain.

Penulis: Dr. Is Helianti. MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri. BPPT, menyelsaikan S1 hingga Posdoktoral di Jepang.

Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | Tagged: , , | 1 Comment »

GFP, Gen Pewarta yang Berpendar Indah

Posted by ishelianti on May 25, 2008

Di dalam majalah ilmiah ataupun berita di televisi, mungkin anda pernah melihat tikus percobaan berpendar hijau, atau daun tembakau bercahaya hijau di kegelapan. Pemandangan yang tidak biasa dan membuat terpesona ini tidak akan kita jumpai pada tikus ataupun tembakau alami. Para ilmuwan memang sengaja membuatnya. Namun, bukan untuk tujuan keindahan visual semata.

More…

Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , | Leave a Comment »

Kolaborasi Internasional Bioprospeksi, Belajar dari Costa Rica

Posted by ishelianti on May 25, 2008

Indonesia adalah negara megabiodiversity di dunia. Akhir-akhir ini, kesadaran akan pentingnya memberi nilai tambah pada sumber daya hayati dan pemanfaatan keragaman hayatinya sehingga dapat memberi nilai komersial sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi bangsa makin mengemuka. Istilah “bioprospeksi”, yaitu eksplorasi, ekstraksi, dan pemanfatan keragaman hayati untuk mendapatkan senyawa biologis yang mempunyai nilai jual dan komersialisasi tinggi menjadi isu global. Senyawa biologis tersebut dapat berupa obat-obatan, anti mikroba, anti viral, enzim industri, dan sebagainya.

More….

Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?

Posted by ishelianti on November 14, 2007

Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?Sumber: Berita IPTEK Kamis, 07 April 2005, 09:42:24 WibOleh Is Helianti

Setiap tahun di bulan Maret, bertambahlah Doktor lulusan Jepang asal Indonesia. Ini dikarenakan kalender akademik Jepang diawali di bulanApril, dan diakhiri di bulan Maret. Mahasiswa Indonesia menempatiposisi yang cukup besar di Jepang setelah China dan Korea. Hampirselalu terjadi pergulatan batin dan diskusi yang panjang bagi paradoktor baru asal Indonesia. Bertahan di Jepang kah? Atau langsungpulang ke tanah air? Kira-kira demikian yang terjadi jika selesai program doktoral, mereka ditawari kesempatan yang lebih luas, Postdoktoral atau bekerja di perusahaan.

Sebenarnya, jawaban bagi sebagian mereka tidaklah rumit. Jika adakesempatan untuk belajar lebih banyak, mengapa tidak? Tetapi, tidakdemikian bagi banyak kalangan yang melihatnya dari kaca mata investasidan balas jasa kepada negara. Bekerjanya para doktor di LN iniotomatis menjadi “brain drain” yang merugikan negara.

Kebanyakanmereka disekolahkan dengan uang negara (yang berasal dari pajak rakyat), lalu mengapa tidak mau pulang secepatnya dan berbakti padarakyat?

Brain drain; fenomena lebih senangnya para intelektual berkiprah dinegara-negara maju adalah fenomena klasik. Betapa banyak dosen dan peneliti yang capai-capai disekolahkan pemerintah, lebih asik bekerjadi negara tetangga atau negara tempat mereka pernah bersekolah. Bahwa,l ebih senangnya kaum cerdas ini di LN adalah masalah pendapatan dan penghargaan yang tak sebanding dengan yang mereka terima jika merekadi LN.

Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan beberapa fakta ilmiah yang telah dikaji sehingga dapat memberi suatu pandangan lain, tentangbrain drain. Bahwa, brain drain bisa jadi merupakan suatu asset.

Sejarah Brain Drain

Fenomena brain drain dimulai ketika banyaknya SDM-SDM trampil dari Eropa seperti Inggris, Jerman, juga Kanada memasuki Amerika dan menjadikan Amerika sebagai dream land pasca perang dunia II. Seiringdengan melajunya kedigdayaan Amerika, maka immigrant yang memasukiAmerika di tahun 1980-an adalah para SDM trampil dan ahli dari Asiaseperti China, Taiwan, India, dan Korea Selatan.

Tahun 1990-an, ketikaHabibie memulai mengirimkan para remaja potensial lulusan SMA ke LN,”brain drainer” dari Indonesia pun melonjak. Tahun 1990-an USmengalami masa keemasan ekonomi. Gaji tinggi dan berbagai insentifseperti Green Card ditawarkan bagi SDM-SDM immigrant yang ahli danberprestasi yang dapat berkontribusi besar bagi kemajuan negeri Paman Sam ini. Tentu ini juga berlaku bagi para mahasiswa Indonesia di sana. Ketika krisis multidimensional mulai meledak di tahun 1998-an, banyakmahasiswa yang sudah lulus sekolah lebih bertahan memilih di LN,daripada kembali ke Indonesia yang belum jelas menjanjikan apapun untuk masa depan mereka.

Sebenarnya, bukan hanya Indonesia saja yang menderita brain drain.Fenomena banyaknya orang pandai yang lebih senang di negara maju ketimbang di negaranya sendiri (yang termasuk negara berkembang)bukanlah fenomena yang aneh. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), secarakhusus bahkan melakukan kajian tentang efek brain drain terhadap negara berkembang. Dalam konferensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan tahun 1996 disebutkan , paling tidak benua Afrika kehilangan 60 000 orang tenaga trampilnya antara tahun 1985-1990. Jikadikonversikan ke dalam nilai mata uang adalah sekitar sebesar $ 184000 setiap orang. Atau dalam kurun lima tahun itu Benua Afrikamenderita kerugian hampir 12 milyar USD.

Di tahun 1980-an, Amerika sebagai negara penerima brain drain terbesar diuntungkan sekitar 20 000 dolar per tahun untuk satu orang tenagatrampil hasil brain drainnya.

Tetapi, pandangan bahwa brain drain melulu sesuatu yang merugikan danm enggerogoti negara berkembang, akhir-akhir ini banyak dibantah oleh para ahli. Antara lain Prof Dr Saxenian dalam banyak makalahnya,megatakan bahwa pada dasarnya brain drain tidak lah abadi. Tetapi, dia hanya suatu siklus saja di dalam fenomena globalisasi yang dinamakan brain circulation. Semua brain drain berpotensi besar menjadi reverse brain drain yang memberi keuntungan pada negara pengirim. Contohnyaadalah kasus India dan Taiwan.

Reverse Brain Drain, Belajar dari Taiwan dan India

Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka mengalami braindrain, sekaligus betapa suksesnya mereka menggaet para braindrainernya untuk kembali atau berkontribusi positif terhadapnegaranya. Tahun 1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya Indonesia saatini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang yang hanya bisa menyuplai banyak tenaga kerja murah bagi negara maju. Hubungan dengan negara-negara maju dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia sekarang. Bukan berdiri sama tinggi ataupun duduk sama rendah.

Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas atau intelektual Taiwan bersekolah lalu bekerja di Negara maju, seperti Amerika Serikat.Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah kebijakan yang membuat iklim ekonomi dan pengembangan Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah Pemerintah Taiwan mendekati para brain drainer yang berdiam di LN dan sudah banyak mempunyai modal. Mereka di harapkan dapat berkontribusi modal untuk pembangunan negaranya.

Pendekatan simpatik dari pemerintah bersambut. Para warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain. Para SDM unggul ini, tidak hanya menyumbangkan modalnya, bahkan pikiran dan karyanyapada negaranya.Contohnya, Miin Wu, “braindrainer” yang lulus PhD dari Stanford tahun1976. Lalu dia bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikanperusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satuperusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300juta/tahun dan menyerap 2 800 tenaga kerja. Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang Taiwan tidaklah menjadi negara yang takut kehilangan orang-orang pintarnya.Sebagaimana dilaporkan dalam Financial Development tahun 1999, hanyakurang dari 10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di tahun 1990 yangtetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau, hampir sebagian besarmereka kembali ke negaranya. Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakuisebagai negara yang leading dalam bidang ekonomi dan teknologi informasinya. Semua berkat reversed brain drain!

Langkah Taiwan, nampaknya sedang diikuti oleh India saat ini. India juga merupakan negara yang sangat menderita karena brain drain. Menurut data, di tahun 1996 kurang dari 25 % warga negara India yangkembali ke negaranya setelah selesai PhD di Amerika tahun 1990-1991. Berarti pada tahun tersebut, sebagian besar orang-orang terpilih inimemilih tetap tinggal di AS.Prestasi penduduk Amerika asal India di dream land tersebut memangtidak main-main. Tahun 1970-1990-an SDM India dengan kualitas tinggibrain drain ke USA. Di tahun 1998 profesional asal India menguasai 775perusahaan teknologi di Silicon Valley dengan omset $3.6 milyar danpenyediaan 16 600 lapangan kerja!

Akan tetapi, ternyata trend brain drain ini mulai berubah sejak akhirtahun 1999. Sejak awal tahun 2000 sampai kini diperkirakan, terjadi reversed brain drain besar-besaran ke India. Sekitar 35 000 warganegara India kembali ke negaranya, baik untuk tinggal permanen ataupun sementara.Kembalinya WN India ke negaranya, sebenarnya tak lepas dari kondisiperekonomian di US sendiri, yang sejak tahun 1999 tidak sekondusifsebelumnya. Kondisi resesi di US, menyebabkan banyak perusahaan yang menutup perusahaanya dan mem-PHK para tenaga ahlinya. Kesempatanbekerja dan iming-iming insentif bagi para orang cerdas ini tidaklah segemerlap sebelumnya.

Amerikapun mulai menerapkan kebijakanoutsourcing, khususnya dalam bidang teknologi informasi sepertipenyediaan software. Mereka memesan ke negara-negara seperti Taiwan dan India yang dipandang punya kemampuan karena lebih murah secara biaya. Para WN India yang telah mengenyam pendidikan dan pengalaman berprofesi dan berbisnis menangkap peluang ini. Maka, mereka berlomba pulang ke negaranya, dan menjadi jembatan penghubung antara paratenaga trampil yang menetap di India dan jaringan pasar di LN denganmenjadi pengusaha ataupun konsultan di negaranya.

Misalnya kisah Nagarajan, seorang “braindrainer” alumni Silicon Valleyyang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologiinformasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannyamempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran, jikapemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiranindustri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akanmendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akanmampu menyediakan 2,2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

Beberapaintelektual India dengan bangganya menunjukkan beberapa WN Inggrisyang saat ini brain drain ke perusahaan India, karena perusahaantersebut mampu membayar ahli dari Inggris tersebut lebih daripada Inggris sendiri!

Bagaimana dengan Indonesia?

Warga negara Indonesia yang mendapat kesempatan bersekolah di LN dengan beasiswa atau berkiprah di sana pada dasarnya adalah SDM terpilih sehingga merupakan asset bangsa. Keunggulan merekalah yangmenyebabkan mereka juga mendapat peluang untuk lebih lama di LN dengan tawaran penelitian lanjutan atau bekerja di perusahaan di sana. Jadi potensi yang ada ini, rasanya sangat sayang jika diabaikan, hanyakarena mereka “disertir”, “pembelot”, dan sebagainya. Seharusnyalah pemerintah memanfaatkan asset bangsa yang terserak di negeri orangini, seperti yang telah dilakukan India dan Taiwan. Karena mereka potensial memberi keuntungan sebagai r eversed brain drain danmenjadi jembatan penghubung dengan jaringan internasional.

Pendekatanyang bijak tentu harus dilakukan.Pada dasarnya, mereka yang memilih untuk tetap tinggal di LN, bekerjadan berkiprah di sana tak perlu dipertanyakan rasa nasionalismenya.Indonesia, sebagai tanah air dan kecintaan tentulah tak semudah itudilupakan. Banyak yang tetap tinggal di LN merasakan kehadirannya diluar negeri, lebih dapat berkontribusi ke tanah air, tinimbang merekaberada di Indonesia.

Mereka giat melakukan kegiatan pengumpulanbeasiswa untuk anak-anak tak mampu. Bagi mereka yang telah bekerja diuniveristas sebagai peneliti ataupun pengajar maka jaringaninternasional dibidang penelitian dan Iptek tentu menjadi lebihterbuka. Kesempatan beasiswa atau lowongan program doctoral misalnya,menjadi lebih mudah diakses lewat keberadaan mereka.

Pengalaman bekerja secara professional tentunya jauh lebih baikketimbang “cuma” pengalaman belajar formal yang mereka bawa jikamereka pulang ke tanah air. Setidaknya mereka punya kemampuan know howsecara manajerial dan institusional yang lebih praktis dan dalam. Jikamereka mapan dengan posisi mereka di LN, maka para peneliti,professional, atau pebisnis yang mapan ini tentulah dapat menjadi linkantara komunitas yang sama atau produser lokal di tanah air denganmasyarakat internasional.

Beberapa saran bagi pemerintah yang mungkin bisa dilakukan dalammengatasi fenomena brain drain ini. Bagi mereka yang PNS, diberikebebasan untuk memilih.Tetap bekerja di LN tanpa batas waktu tetapiharus mengundurkan diri dengan hormat. Uang pengembalian beasiswa ataudenda proses PTUN dikelola untuk kepentingan masyarakat secaratransparan dan akuntabel. Atau, diberikan jangka waktu terbatas untukberada di LN. Bisa juga mereka dibebaskan PTUN dengan syarat wajibsecara hukum kembali ke Indonesia suatu saat kelak, dan wajib menjadipenghubung pengembangan ekonomi, industri, dan iptek.

Selain itu, harus diciptakan kondisi yang kondusif, sehingga para lulusan luar negeri ini dapat berkiprah optimal dan sepenuh hati ditanah air. Negara tetangga kita, Malaysia misalnya, tidak takutkehilangan para orang unggulnya yang sekolah di tanah orang. Dengansendirinya, tanpa dipaksa, rata-rata mereka kembali ke Malaysia untukmembaktikan dirinya pada masyarakat tanah airnya. Ini dikarenakan,Malaysia menciptakan iklim yang nyaman bagi para tenaga trampil danahli, baik di penelitian, perguruan tinggi maupun bidang professionallainnya. Mereka mendapat penghargaan yang layak sesuai pendidikan,keahlian, dan prestasi kerja mereka.

Pemerintah Thailand sampai membuat program khusus untuk menarik paratenaga ahlinya di LN untuk balik ke Thailand lewat proyek “ReverseBrain Drain”. Proyek ini dilakukan oleh National Scientific andTecnology Agency of Thailand. Mereka membuka pendaftaran untuk paratenaga trampil/ahli di LN untuk mengisi lowongan pekerjaan bergengsidi Thailand dengan imbalan yang dua kali lipat daripada tenaga kerjadomestik. Walaupun, banyak memperoleh kritikan, khususnya dari paraalumni dalam negeri, karena masalah diskriminatif gaji. Akan tetapi,semangat gebrakan kebijakannya mungkin patut dicontoh.

Yang terakhir, namun tak kalah penting, adalah kiprah para intelektualkita di dalam negeri sendiri. Para brain drain India yang menjadi reversed brain drain sangat tergugah dan terinspirasi olehrekan-rekannya yang memilih hidup dan bekerja keras di tanah air.Mereka merasa harus bisa berkontribusi yang sepadan dengan para rekandi tanah air bagi kemajuan bangsa, walaupun mereka di LN sekalipun.Inilah sumber kekuatan mereka untuk membangun Iptek, khususnyaindustri teknologi informasi India saat ini.

Dr. Is Helianti, MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT. Alumni Universitas Jepang

Posted in Artkel di Media Massa | Tagged: | 4 Comments »

Genom Mikroba, Proyek Masa Depan Manusia

Posted by ishelianti on November 9, 2007

Genom Mikroba, Proyek Masa Depan Manusia

Sumber: Kompas, 27 April 2003

Oleh: Is Helianti

Kemajuan dan penemuan baru di bidang bioteknologi memang luar biasa. Ditemukan DNA polymerase yang tahan panas dengan kemampuan membaca yang akurat, juga alat sekuens DNA pipa kapiler yang memungkinkan membaca sekuens DNA dengan banyak sampel, menyebabkan penelitian pembacaan genom menghasilkan prestasi yang luar biasa. Selesainya proyek pembacaan genom manusia mungkin tak terbayangkan akan secepat ini pada satu dekade lalu. Akan tetapi, ambisi negara-negara maju tak hanya berhenti pada pembacaan genom manusia. Amerika, Eropa, disusul Jepang, sekarang tengah giat melakukan pembacaan genom mikroba. Tentu banyak alasan yang membuat negara-negara maju ini bersaing dalam pembacaan genom mikroba.

Mikroba (meliputi virus, archaea, bakteri, jamur, dan protozoa), dapat dikatakan sebagai makhluk tertua dengan diversitas terbanyak di planet bumi. Mereka menempati 60 persen lebih biomassa dan telah hidup berevolusi paling tidak 3,8 miliar tahun. Mikroba memang dapat bertahan pada kondisi nyaman, ekstrem panas, dingin, berkonsentrasi garam tinggi, asam, basa, tekanan tinggi, bahkan di daerah-daerah yang mendekati kemustahilan untuk hidup makhluk hidup lain seperti lingkungan dengan radioaktivitas tinggi.

Makhluk cerdas

Diversitas yang beragam dan dapat ditemui di bermacam habitat ini membuktikan, bahwa mikroba adalah makhluk cerdas yang dapat beradaptasi dengan segala jenis lingkungan. Dengan kata lain mereka telah berhasil memecahkan segala persoalan di lingkungan yang mengancam eksistensinya -suatu hal yang masih dicari jawabannya oleh para ilmuwan sekarang.

Maka pembacaan genom berbagai jenis mikroba diharapkan dapat membantu manusia untuk mencari solusi persoalan pemulihan lingkungan, pertanian, pengobatan, penyediaan energi dan bahan bakar, sekaligus memahami sejarah kehidupan di planet bumi ini.

Secara teknis, karena genom mikroba jauh lebih kecil dan lebih sederhana daripada genom manusia (berkisar 0.6 Mega base pair sampai 10 Mega base pair, bandingkan dengan genom manusia yang lebih dari 3000 Mega base pair) proyek pembacaan genom satu jenis mikroba hanya akan memakan bilangan minggu bahkan mungkin hari.

Namun, dampaknya terhadap industri dan kemajuan sains dan teknologi tak kalah dahsyat dengan proyek genom manusia. Inilah yang membuat negara-negara maju tak membuang waktu untuk segera melakukannya.

Saat ini sekurangnya ada 20 jenis mikroba prokaryotes yang telah selesai pembacaannya, dan dipublikasikan secara terbuka. Proyek pembacaan genom hanyalah pintu gerbang untuk menguak segala rahasia kehidupan suatu organisme sekaligus harapan aplikasi di masa datang yang sangat menjanjikan.

DNA sekuens dari genom suatu makhluk hidup adalah blue print genetiknya. Sekuens keseluruhan DNA (genom) mengandung gen-gen yang menginstruksikan pembuatan protein-protein tertentu untuk membentuk struktur makhluk hidup, sekaligus agar secara keseluruhan struktur tersebut dapat berfungsi dengan baik dalam merespons lingkungannya.

Dengan mempelajari bagaimana genom memprediksikan fungsi suatu gen, maka manusia dapat memprediksikan pula biologi suatu organisme. Lompatan besar dalam peningkatan mutu vaksin, perbaikan alat untuk mendiagnosis penyakit, penemuan obat-obatan baru, penemuan biokatalis untuk industri, dan lain-lain, menjadi keniscayaan.

Berikut beberapa contoh mikroba yang telah selesai pembacaan genomnya, dan prospek yang diharapkan saat ini dan di masa datang.

Pengubah zat pati

Clostridium acetobutylicum adalah bakteri yang dapat mengubah zat pati menjadi pelarut organik aseton dan butanol yang sangat bermanfaat untuk industri. Pembacaan genom bakteri ini selesai pada tahun 1999. Dari informasi genomnya para ilmuwan berharap dapat memahami biokimia dari bakteri ini, sekaligus meneliti kemungkinan menggantikan proses produksi pelarut organik dengan menggunakan enzim rekombinasi dari bakteri ini dalam skala industri. Saat ini proses produksi aseton dan butanol bersandar pada pemakaian minyak dan gas.

Beberapa spesies lain dari genus bakteri ini seperti Clostridium tetani dan Clostridium botulinumi bersifat patogen, yaitu menyebabkan infeksi tetanus dan memproduksi racun botulism. Karena itu, perbandingan genom berbagai spesies bakteri ini akan memperdalam tentang apa yang membuat bakteri patogen ini menjadi berbahaya bagi manusia.

Tahan radioaktif

Deinococcus radioduran adalah mikroba yang dapat bertahan di lingkungan radio aktif berdosis tinggi yang membunuh hampir semua makhluk hidup lain. Bakteri ini dapat bertahan hidup pada tingkat radiasi 1,7 juta rad yang membuat bakteri E coli, kecoak (dan manusia) tak mungkin bertahan hidup (Nature, 2000). Informasi genom bakteri ini sangat potensial untuk proses bioremediasi seperti pembersihan lingkungan dari limbah radioaktif, logam berat, atau senyawa kimia organik. Saat ini para peneliti di Amerika Serikat sedang mengeksplorasi kapabilitas bakteri D radioduran dengan menambah gen dari organisme lain. Tambahan gen ini mengkodekan protein yang bisa mengubah logam berat menjadi biomassa yang lebih netral dan menguraikan zat organik berbahaya seperti toluene.

Diharapkan pula dengan mempelajari genom mikroba, manusia dapat lebih memahami proses terjadinya sel kanker yang diakibatkan oleh kerusakan DNA, sekaligus menemukan obat atau cara pengobatan kanker baru. Soalnya mikroba ini sanggup memperbaiki DNA-nya sendiri yang rusak karena pengaruh radiasi.

Penghasil gas metan

Archaea Methanococcus jannaschii adalah mikroba yang dapat menghasilkan gas metan. Mikroba ini ditemukan di lingkungan berasap hydrothermal, tanpa cahaya, tanpa oksigen, tanpa sumber zat karbon. Sifat yang sangat tidak biasa yang dimiliki oleh mikroba ini membawa pada kesimpulan bahwa domain makhluk hidup tidak hanya prokaryotes dan eukrayotes, tetapi ada domain baru yang terdiri dari mikroba yang berpenampilan prokaryotes, tetapi tak memiliki sifat prokaryotes sama sekali. Para ilmuwan mengelompokkan mikroba seperti ini dalam domain baru yaitu Archaea.

Klasifikasi makhluk hidup menjadi tiga domain adalah suatu revolusi penting dalam ilmu biologi. Selesainya pembacaan genom mikroba itu diharapkan mampu menjawab metode baru untuk menghasilkan bahan bakar. Dengan itu sekaligus diharapkan menjawab teka-teki kehidupan di awal terjadinya planet bumi, karena mikroba ini hidup di lingkungan yang persis dengan awal terbentuknya planet bumi.

Mikroba lain seperti Nitrosomonas europaea, Prochlorococcus marinu, Rhodopseudomonas palustris adalah organisme yang menjadikan karbon dioksida sebagai satu-satunya sumber nutrisi zat karbonnya. Mikroba-mikroba ini diduga mempunyai peranan penting dalam perubahan iklim. Dengan demikian informasi yang didapat dari genom mikroba-mikroba ini diharapkan mampu berperan mengatasi pemanasan global (global warming) dengan menstabilkan jumlah karbon dioksida di atmosfer.

Dari informasi genom mikroba yang telah selesai pembacaannya, para peneliti menemukan bahwa masih ada 40persen lebih dari open reading frame (gen yang potensial mengkodekan suatu protein) yang masih belum diketahui fungsi dan nilainya karena tidak ditemukan kemiripan dengan gen-gen yang telah dikumpulkan di data base. Ini adalah ladang baru penelitian yang luar biasa sulit sekaligus menantang dan mendorong terbentuknya bidang ilmu baru. Para peneliti ditantang untuk dapat memprediksi fungsi suatu protein hanya dari susunan DNAnya.

Proyek genom mikroba sampai saat ini memang hanya milik negara-negara maju bermodal besar. Aplikasi dahsyat dan kemajuan sains yang dijanjikan oleh proyek ini memang di depan mata. Namun, mudah-mudahan masa depan yang cerah ini bukan hanya milik manusia di negara yang bermodal besar. Indonesia tak kalah kaya dengan mikroba yang potensial untuk kehidupan masa depan. Mungkin “hal kecil” yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah bagaimana agar sumber daya alam yang berharga tersebut kita jaga tanpa takut untuk mengembangkannya. Juga penumbuhan sumber daya manusia agar mempunyai kapabilitas tak kalah dengan SDM di negara maju harus tetap dilakukan secara kontinu.

(Oleh Dr Is Helianti Pengamat tren bioteknologi dan peneliti ISTECS. Sekarang staff peneliti di BPPT)

Posted in Artkel di Media Massa | Tagged: , | 2 Comments »

Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang

Posted by ishelianti on November 9, 2007

Sumber: Kompas 16 September 2001

Memasyarakatkan Iptek, Belajar dari Jepang

Oleh: Is Helianti

JEPANG sekarang memang sedang berjuang keras untuk mencegah kebangkrutan ekonominya. Meskipun demikian, tak pelak lagi, Jepang masih nomor satu di Asia dalam hal penguasaan iptek. Bagi masyarakat Jepang informasi hasil perkembangan iptek nampak sudah menjadi teman sehari-hari.

Alat-alat listrik berteknologi baru bersaing muncul satu per satu di dunia industri elektronik, menawarkan alternatif baru pada konsumen. Dari kulkas berenergi rendah sampai mesin cuci dengan prinsip gelombang sonik yang tak perlu sabun cuci. Mobil hibridisasi yang ramah lingkungan karena tak banyak mengeluarkan gas karbon dioksida berlomba-lomba muncul di pasaran. Di bidang bioteknologi, Jepang mengejar ketinggalannya dari Amerika dan Eropa, dengan menyelesaikan pembacaan genom beberapa mikroba yang bernilai industri. Juga menyaingi Eropa dalam teknologi sapi kloning.

Implementasi konsep sosiolisasi iptek tampaknya telah begitu lekat dalam infra struktur masyarakat Jepang. Iptek telah menjadi budaya yang telah menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Media massa, industri, lembaga pendidikan (dari SD sampai universitas), dan lembaga penelitian pemerintah membuat kerja sama sinergis tanpa gembar-gembor dalam sosialisasi iptek.

Peran lembaga pendidikan

Budaya iptek Jepang adalah cerminan dari perkembangan iptek Jepang sendiri yang maju begitu pesat sejak kekalahannya dalam perang dunia kedua. Tahun 1958 Jepang mencanangkan pembebasan dari ketergantungan impor dan menjadi negara mandiri dalam memproduksi dengan berbasis iptek. Bersamaan dengan itu sosialisasi dan pendidikan iptek pada publik mulai gencar ditanamkan (Buku Putih Iptek Jepang).

Pada tahun tersebut juga mulai diterapkan pendidikan iptek sejak dini lewat pendidikan formal dari SD, SMP, SMA sampai universitas. Semangat untuk meneliti telah mulai ditanamkan sejak SD. Setiap liburan panjang para murid SD mendapat pekerjaan rumah penelitian bertema bebas. Hasil penelitian mereka dibuat laporan dan diumumkan di depan teman-teman sekelas.

Pada tingkat SMP dan SMA, setiap liburan musim panas, para guru ilmu alam dituntut untuk menyerahkan proporsal penelitian yang bisa dilaksanakan bersama-sama satu kelas.

Sedangkan pada tingkat perguruan tinggi, perguruan tinggi menempati peran sangat strategis. Di universitas Jepang berkumpul sepertiga dari keseluruhan jumlah tenaga peneliti yang berjumlah total 730.000 orang, dan sekitar 20 persen dari dana penelitian yang dianggarkan negara (sekitar 3.2 trilyun yen) dialokasikan untuk pengembangan riset dan penelitian di universitas (Departemen ekonomi, perdagangan, dan industri Jepang).

Karena itu di Jepang, universitas selain sebagai lembaga pendidikan yang menyuplai SDM-SDM spesialis juga adalah lembaga penelitian. Kegiatan penelitian di universitas telah dimulai secara struktur sejak tahun keempat undergraduate. Ini yang membedakan Jepang dengan Amerika Serikat.

Pada tahun kedua atau ketiga, para mahasiswa diprogramkan untuk melakukan kunjungan ke berbagai perusahaan. Tujuannya, di samping untuk memberi wawasan para mahasiswanya untuk memilih pekerjaan yang sesuai minatnya di masa depan, juga memberikan wawasan mereka tentang penerapan iptek secara riil di dunia industri.

Universitas juga dituntut untuk melayani masyarakat dalam informasi ilmiah dan kerja sama dengan pihak industri. Kerja sama dengan berbagai pihak industri dikenal dengan san-gaku-renkei (san berarti industri, gaku berarti dunia akademis, dan renkei berarti kerja sama), yang melahirkan kerja sama sinergis dalam pengembangan iptek. Pengembangan riset dasar dilakukan di universitas, sedangkan aplikasi dan komersialisasinya dilakukan oleh pihak industri.

Selain itu pelayanan kepada masyarakat sekitar kampus diwujudkan dengan penyelenggaraan open campus secara periodik. Di mana dalam satu hari kampus dibuka untuk dikunjungi masyarakat umum. Setiap laboratorium dalam kampus mendemonstrasikan hasil penelitian yang menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat umum dari berbagai usia, dari anak kecil sampai kakek nenek. Walau open campus ini baru dipopulerkan tahun-tahun terakhir, ternyata mendapat sambutan yang sangat baik dari pihak universitas maupun masyarakat sekitar.

Selain open campus, banyak universitas yang menyelenggarakan program sekolah musim panas atau satu hari menjadi mahasiswa. Program ini mengundang murid-murid di level sekolah menengah untuk merasakan menjadi mahasiswa dalam satu hari. Atau merasakan penelitian di universitas selama sepekan dalam sekolah musim panas.

Kerja sama cantik

Tak dapat dipungkiri, media massa, telah menjadi alat penyebaran iptek yang sangat efektif di Jepang. Khususnya televisi menjadi ajang promosi sekaligus sosialisasi sains dan teknologi baru. Ini merupakan cerminan dari konsep iptek mereka. Bahwa pengembangan iptek ditujukan untuk kestabilan dan kemajuan ekonomi bangsa. Maka persaingan perusahaan-perusahaan besar di bidang penjualan produk-produknya adalah equal dengan persaingan hasil pengembangan riset dan teknologi selama bertahun-tahun.

Televisi di samping sebagai ajang iklan produk-produk berteknologi baru, juga alat informasi yang efektif untuk memasyarakatkan iptek. Stasiun televisi, dari yang milik pemerintah sampai swasta, seperti berlomba-lomba menyajikan acara yang berbau ilmiah atau berbau sains dan teknologi.

Acara ini dikemas dalam bentuk bermacam-macam. Jika anda mau yang ringan-ringan saja, anda bisa mengikuti acara TV yang berbentuk quiz. Anda tinggal pilih quiz yang mana yang anda sukai. Jika anda tertarik dengan dunia binatang, tertarik dengan ekologi mereka, namun tak ingin bermumet-mumet seperti mahasiswa di jurusan zoologi, anda bisa saksikan. Anda dapat memahami bahasan sambil tertawa dengan senang hati. Ingin yang lebih serius, anda bisa menonton di chanel lain, yang menyajikan flora dan fauna dalam layar lebar (high vision).

Atau, jika anda tertarik dengan sejarah bangsa-bangsa di dunia, tertarik dengan berbagai kebudayaan di berbagai negara, ada pula acara quiz untuk itu. Bahkan, sebagai seorang Indonesia, saya sangat interest dengan acara ini. Banyak bagian Indonesia yang baru saya ketahui setelah melihat quiz ini, karena Indonesia beberapa kali muncul sebagai bahasa acara.

Tidak sampai di situ. Fenomena sehari-hari bahkan dijelaskan dengan ilmiah populer dan menarik. Misalnya, bagaimana memasak nasi yang enak, dengan terlebih dahulu meneliti parameter nasi yang enak tersebut bagaimana. Bagaimana kelengketannya, kandungan airnya, struktur permukaannya. Semua dengan eksperimen!

Informasi iptek baru, seperti pembacaan genom manusia atau pengobatan penyakit kanker yang paling mutakhir dikemas dalam acara khusus televisi dalam beberapa seri.

Bahkan musibah atau kecelakaan alat transportasi seperti kecelakaan pesawat bukan suatu hal yang begitu saja dilewatkan. Sebab-sebab untuk mencari penyebab kecelakaan dan analisanya sehingga tidak terulang di lain waktu juga menjadi ajang persaingan berita berbagai stasiun TV.

Walau acara-acara seperti ini kental dengan promosi suatu produk perusahaan. Tetapi tak mengurangi nilai ilmiah dan kejujuran. Karena para pakar dari universitas dan lembaga penelitian banyak dipakai untuk menjelaskan berbagai fenomena yang ada.

Jadi dalam sosialisasi iptek dengan TV ini banyak sekali yang diuntungkan. Stasiun televisi karena mendapat masukan dari iklan, pihak sponsor karena bisa mempromosikan produknya, para ahli yang bisa menjadi ajang publikasi kepakarannya dan penelitiannya, di tambah pihak pemirsa T yang menjadi tercerahkan oleh program iptek yang ditontonnya.

Anda pun bisa belajar autodidak lewat TV asal serius dan disiplin. Karena TV pendidikan milik pemerintah menyediakan program bahasa asing, dari Inggris sampai Rusia. Sayang belum ada bahasa Indonesia.

TV pendidikan pemerintah juga menyajikan kuliah dari berbagai profesor dari universitas secara periodik. Orang Jepang lulusan SMA bisa punya pengetahuan selevel mahasiswa graduate asal dia mau berlama-lama dan disiplin mendengarkan kuliah banyak profesor dari berbagai bidang lewat TV.

Dapat disimpulkan, televisi Jepang adalah bukan media hiburan semata-mata. Nampaknya, tanpa gembar-gembor, TV Jepang menyadari perannya yang sangat besar dalam sosialisasi iptek yang merupakan tulang punggung perekonomian mereka. Bagaimana menyajikan iptek dengan suasana menyenangkan dan menarik tanpa mengurangi bobot ilmiahnya, bagaimana menyajikan iptek dalam bahasa persuasif dan mudah dipahami orang awam nampaknya menjadi strategi pemasaran tiap-tiap stasiun televisi.

Media massa lain, seperti surat kabar daerah juga tak ketinggalan peran. Surat kabar daerah menyediakan kolom khusus untuk iptek setiap harinya, dan para wartawannya melakukan kunjungan secara periodik ke laboratorium-laboratorium universitas maupun lembaga penelitian daerah. Buat lembaga penelitian atau universitas, dengan dimasukkan hasil penelitiannya dalam kolom iptek koran, di samping merupakan salah satu sumbangsihnya kepada masyarakat, juga merupakan sarana publikasi peneliti dan lembaga yang bersangkutan.

Sosialisasi iptek di Indonesia

Sosialisasi iptek di Indonesia masih kembang kempis. Kenyataan yang harus segera dirubah. Walau ada pula beberapa kemajuan seperti adanya beberapa situs iptek yang menyajikan berita iptek yang di update setiap hari. Namun, lagi-lagi, ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan yang mampu ber-Internet, sehingga informasi iptek hanya bisa merambah masyarakat kelas menengah ke atas. Belum bisa merambah pedesaan dan daerah.

Di sinilah peran besar surat kabar daerah maupun stasiun televisi. Sudah saatnya untuk melirik iptek sebagai komoditas hiburan sekaligus informasi. Karena sekarang, di Indonesia TV dan koran daerah relatif telah menjamah pedesaan.

Di atas semua itu adalah kelancaran penelitian dan pengembangan iptek itu sendiri. Karena sosialisasi tentu saja membutuhkan produk penelitian, yang inovatif maupun improvitatif. Yang tak akan ada hasilnya jika penelitian mandek. Di sinilah dituntut peran besar perguruan tinggi dan lembaga penelitian, karena di dalamnya berkumpul SDM-SDM iptek.

Juga kesadaran para peneliti sendiri untuk memasyarakatkan penelitiannya sangat penting. Mungkin kita harus meniru para peneliti Filipina, yang menyiarkan penelitiannya lewat radio-radio. Karena di Filipina, konon hanya media inilah yang bisa merambah desa-desa. Peneliti tidak dapat meminta masyarakat dan negara untuk mengalokasikan dana besar untuk pengembangan iptek jika kita tidak untuk mengalokasikan dana besar untuk pengembangan iptek jika kita tidak mempromosikannya kepada masyarakat. Karena masyarakat yang mengerti dan sadar akan pentingnya iptek tidak dapat dihasilkan dalam waktu instant, tetapi membutuhkan waktu bertahap serta usaha para peneliti untuk memasyarakatkan sendiri iptek.

  • Is Helianti, peneliti postdoctoral dalam bidang biotek pada Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), dan juga peneliti ISTECS-Japan . Sekarang peneliti di BPPT.

Posted in Artkel di Media Massa | Tagged: , | 4 Comments »

Perang Terhadap Produk Rekayasa Genetika, Haruskah?

Posted by ishelianti on November 9, 2007

Sumber: Kompas Minggu, 26 Agustus 2001

Oleh: Is Helianti Perang terhadap Produk Rekayasa Genetika, Haruskah?

PRO dan kontra tentang produk transgenik atau produk hasil rekayasa genetika masih tetap hangat. Melihat perkembangan opini di surat kabar, mereka yang kontra terhadap produk hasil rekayasa genetikalah yang memenangkan opini publik. Paling tidak ini yang penulis amati dalam laporan berita atau opini di harian nasional seperti Kompas. Dari 30 artikel berbentuk laporan maupun opini yang muncul antara tahun 1999-2001 di Kompas, hanya tujuh buah yang bernuansa netral atau pro terhadap hasil produk rekayasa genetik. Selebihnya, sangat tendensius. Sebagian besar tulisan menyuarakan nuansa yang sama: produk rekayasa genetika berbahaya!

Teknologi rekayasa genetika sebenarnya bukanlah hasil orisinal para ilmuwan biotek. Dia hasil peniruan proses alamiah yang sudah ada seperti proses sintesis protein antibodi IgG dalam sel tubuh mamalia yang merupakan salah satu bentuk pertahanan tubuh dari serangan kuman penyakit. Beratus jenis antibodi IgG dalam tubuh mamalia dikodekan oleh berbagai gen DNA yang merupakan hasil potong dan tempel (rekombinasi) alamiah berbagai fragmen DNA di dalam sel.

Proses transfer gen antar-kingdom seperti bakteri Agrobacterium tumefaciens ke dalam sel inangnya sudah terjadi sejak dulu tanpa campur tangan manusia. Proses inilah yang mengilhami rekayasa genetika tanaman, dengan memanfaatkan plasmid Agrobacterium sebagai pembawa gen dari sifat yang ingin dicangkokkan pada suatu tanaman.

Teknologi rekayasa genetika dalam bentuk yang lebih konservatif juga kita temui dalam proses perkawinan silang untuk mendapatkan bibit unggul. Proses ini memakan waktu lama serta terikutnya sifat yang tak dinginkan dari tanaman penyilang. Sedangkan dalam rekayasa genetika modern, rekombinan dilakukan secara in vitro (di luar sel makhluk hidup), sehingga dimungkinkan mencangkok (kloning) hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu lebih cepat.

Seimbang

Terlepas dari motivasi ekonomi yang terkait dalam perang pro dan kontra produk rekayasa genetika, tampaknya kekhawatiran akan bahaya produk rekayasa genetika terhadap tubuh manusia inilah yang menjadi fokus utama. Apalagi jika produk tersebut makanan untuk manusia. Suatu kekawatiran yang wajar dan beralasan.

Sebagai contoh, di negara maju seperti Jepang, di mana masyarakat konsumennya terkenal sangat rewel, makanan produk rekayasa genetika memang kurang mendapat tempat. Padahal, genetic modified food (GMF) yang dilepas di pasaran Jepang telah mendapat pengujian dan evaluasi dari Departemen Pertanian dan Kehutanan Jepang secara transparan dan accountable. Para produsen juga diwajibkan memberi label, apakah mengandung produk rekayasa genetika atau tidak.

Akan tetapi, orang Jepang sama sekali tidak memasalahkan pemanfaatan produk rekayasa genetika dalam bidang lainnya. Ambil contoh saja pembudidayaan bunga tulip di Jepang menjadi berbagai jenis dan warna dengan teknologi ini. Demikian pula produk rekayasa genetika lainnya dalam bidang kedokteran, seperti produk hormon insulin atau interferon. Atau penggunaan enzim hasil rekayasa genetika selulase atau proteinase pada sabun cuci.

Di dalam sains memang selalu ada kemungkinan. Tak ada sesuatu yang absolut. Inilah yang tampaknya menjadi tembok antara orang awam dengan ilmuwan . Ilmuwan tidak bisa mengatakan sesuatu zat aman seratus persen. Ini tak hanya pada produk rekayasa genetika, tetapi juga produk alamiah lainnya.

Tomat alami misalnya, khususnya yang belum masak, mengandung zat tomatine yang berbahaya buat kesehatan, meskipun jumlahnya menurun bersamaan dengan masaknya tomat. Teh pun mengandung kafein yang juga merupakan zat berbahaya buat tubuh. Apakah lalu tomat dan teh berbahaya buat kesehatan? Juga, jika hanya dikatakan produk rekayasa genetika yang berbahaya, bagaimana dengan padi hasil persilangan?

Dari beberapa produk transgenik yang sudah dilepas di pasaran negara-negara maju, sepanjang penelitian ilmiah dengan teknologi dan pengamatan yang ada sekarang, tidak ada masalah dalam hal keamanan terhadap lingkungan ataupun tubuh manusia. Demikian kesimpulan Departemen Kesehatan Inggris dalam laporannya tahun 1999.

Sejak 20 tahun lalu teknologi ini dimanfaatkan hingga kini. Karena belum ada laporan ilmiah yang memaparkan efek negatif produk rekayasa genetika terhadap lingkungan maupun tubuh manusia, maka produk rekayasa genetika yang telah dievaluasi sesuai standar Jepang adalah aman. Ini kesimpulan Departemen Pertanian dan Kehutanan Jepang tahun lalu.

Kesimpulannya, perang antara yang pro dan kontra terhadap produk rekayasa genetika bisa dikatakan sebagai perang yang berdasarkan dugaan dan perasaan semata-mata. Sampai sekarang tak ada data ilmiah yang jelas-jelas mengatakan produk tersebut tidak aman. Wajar saja jika akan selalu ada pihak yang berseberangan terhadap produk rekayasa genetika berdasarkan perasaan mereka. Maka, informasi berimbang adalah hal penting untuk meluruskan ketimpangan opini yang ada.

Dampak ketimpangan opiniPerang antara pihak pro dan kontra ini sudah mulai di Eropa sejak tahun 1995, dan imbasnya sampai ke Tanah Air tiga tahun belakangan. Indonesia mau tak mau harus ikut arus globalisasi pangan, yang banyak merupakan produk impor, yang mungkin di antaranya adalah hasil rekayasa genetika.

Hanya, ada perbedaan antara perang di Indonesia dengan di negara-negara maju tersebut. Negara-negara maju tersebut telah menguasai teknologi rekayasa genetik ini, sehingga pihak yang kontra adalah pengontrol tangguh untuk membatasi penelitian agar sesuai etika sosial dan agama selain menjadi mitra-lawan yang memotivasi para peneliti biotek di sana untuk terus-menerus memperdalam dan mengevaluasi hasil penelitian mereka.

Di Indonesia, yang terjadi menangnya opini kontra dari pihak LSM ataupun lembaga konsumen yang secara tidak langsung akan menjadi kontra produktif terhadap penelitian keamanan produk itu sendiri.

Ketimpangan opini ini akan berpengaruh besar terhadap perkembangan sains dan teknologi di Tanah Air, khususnya bioteknologi, yang sudah banyak terhambat masalah dana. Opini yang berkembang dikhawatirkan akan mengurangi apresiasi masyarakat terpelajar terhadap penelitian ini, yang sebelumnya pun sudah rendah. Ini secara tidak langsung akan membuat penelitian bioteknologi, khususnya penelitian tentang pemuliaan tanaman atau pembudidayaan biomaterial seperti enzim melalui rekayasa genetika menjadi tidak bergairah dan stagnan.

Di dalam Agenda 21 Departemen Lingkungan Hidup Indonesia, disebutkan Indonesia masih sangat kekurangan SDM dalam bidang bioteknologi, apalagi rekayasa genetika. Perangsangan positif untuk menumbuhkan SDM bidang ini sangat diperlukan. Lihat saja, Indonesia kalah jauh dari India dan Thailand dalam hal partisipasi internasional dalam proyek penelitian genome padi IRGSP (International Rice Genome Sequence Project).

Bisa dibayangkan jika peningkatan jumlah SDM rekayasa genetik tersendat padahal kebutuhan akan hal itu sangat mendesak. Jadilah Indonesia sebagai negara yang konsumtif buta tanpa mampu memilah produk mana yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan ekosistem Indonesia. Jadilah Indonesia negara yang tidak produktif dalam produk rekayasa genetika. Dan yang lebih penting lagi, Indonesia tidak akan dapat menguasai teknologi ini padahal teknologi ini tak hanya melulu untuk pemuliaan bahan pangan.

Sudah saatnya para peneliti dan ilmuwan eksakta, khususnya bioteknologi, menunjukkan accountability-nya kepada publik. Memformulasikan pengetahuan dan penelitiannya dalam bahasa yang mudah dimengerti orang awam lewat artikel atau opini di media massa.

Inilah saatnya para peneliti turun dari menara gading. Sehingga peneliti bisa menjadikan sains dan teknologi lebih dekat dan lebih diapresiasi oleh masyarakat, melalui pemberitaan yang seimbang.

Is Helianti, peneliti post-doktoral pada Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), dan juga peneliti ISTECS-Jepang bidang life science. Saat ini peneliti di BPPT.

Posted in Artkel di Media Massa | Tagged: , | 2 Comments »

Kehidupan di Lingkungan Ekstrem

Posted by ishelianti on November 9, 2007

Sumber: Kompas Minggu, 22 Juli 2001

Kehidupan di Lingkungan Ekstrem

Oleh Is Helianti

MANUSIA dan hampir seluruh mamalia hampir mustahil bisa hidup di dalam lingkungan dengan kondisi sangat ekstrem. Sebutlah suhu yang teramat dingin atau teramat panas. Namun ada makhluk-makhluk berukuran mikro yang justru menyenangi hidup di lingkungan sangat panas atau sangat dingin seperti di atas. Mikroba-mikroba ini justru tidak dapat berkembang di lingkungan di mana sebagian besar makhluk hidup lain dapat hidup dengan nyaman di dalamnya.

Mikroba-mikroba ini biasa disebut “extremophile”. “Extremo” berarti sangat berlebihan (ekstrem), “phile” berarti menyukai. Jadi extremophile adalah mikroba yang menyukai lingkungan habitat ekstrem untuk kelangsungan hidupnya.

Makhluk hidup jenis ini, walaupun menurut dugaan banyak ilmuwan telah hidup di bumi jauh lebih tua daripada makhluk hidup lainnya, tetapi baru diketahui keberadaannya sekitar tahun 1980-an. Penelitian terhadap extremophile meningkat pesat sejak ditemukan mikroba yang dapat hidup mendekati suhu air mendidih oleh ilmuwan bernama Stetter dari Jerman. Sejak itu, penelitian untuk mengisolasi mikroba ini bagai menjadi boom di kalangan negara-negara maju seperti Jerman, Amerika, dan Jepang.

Keberagaman dan kehebatan karakter yang terdapat dalam extremophile sangat memikat hati para ilmuwan. Ada extremophile yang menyukai lingkungan yang bersuhu sangat tinggi mendekati suhu didih (90 derajat Celcius). Bahkan hasil penemuan akhir-akhir ini menunjukkan ada mikroba yang bisa hidup di suhu 130 derajat Celcius.

Extremophile yang menyenangi lingkungan sangat panas ini biasa disebut hyperthermophile. Penemuan hyperthermophile yang bisa hidup pada suhu di atas 100 deerajat Celcius membawa spekulasi kepada kemungkinan adanya mikroba yang bisa hidup pada suhu lebih tinggi di atasnya, misalnya 200 derajat Celcius.

Sampai suhu berapa kemungkinan kehidupan itu ada?

Tak ada yang bisa menjawab. Para ilmuwan berpendapat, bahwa hampir tidak mungkin ada kehidupan di atas suhu 300 derajat Celcius. Suhu ini adalah suhu batas di mana ikatan antar molekul dalam senyawa bisa bertahan. Lebih daripada itu tak akan mungkin terbentuk senyawa, karena setiap unsur menjadi sendiri-sendiri di atas suhu ini.

Extremophile yang lain ada yang bisa hidup pada suhu mendekati titik beku air. Bahkan sel mereka masih bisa membelah pada suhu di bawah nol, suhu di mana mikroba lain berhenti membelah diri. Ada juga yang menyukai lingkungan yang lebih asam dari cuka berkonsentrasi 100 persen, lingkungan yang membuat logam bisa berkarat dalam waktu singkat. Namun ada juga yang kebalikannya, yaitu hidup di lingkungan yang luar biasa basa atau lingkungan yang tinggi kadar garamnya. Ada pula yang bisa hidup di bawah lingkungan dengan tekanan 4 kali tekanan atmosfir.

Kebanyakan extremophile benar-benar menyenangi lingkungan yang kadang-kadang merupakan gabungan kondisi mematikan. Banyak dari extremophile yang hidup di suhu mendekati titik didih ditambah asam, atau bersuhu tinggi di tambah tekanan sangat tinggi, atau suhu tinggi ditambah tanpa oksigen.

Suatu kondisi yang mematikan bagi makhluk hidup lain, justru menyenangkan bagi extremophile. Di mana extremophile dapat ditemukan? Tentu saja di lingkungan yang memenuhi kondisi-kondisi di atas.

Penemuan pertama extremophile adalah di daerah vulkanik yang penuh dengan mata air panas.Penemuan itu membawa para ilmuwan untuk mengeksplorasi lingkungan yang lebih dahsyat daripada itu, misalnya lingkungan vulkanik yang penuh dengan asam belerang. Atau lingkungan vulkanik di bawah laut dalam, atau puncak gunung tinggi yang selalu bersuhu di bawah nol. Ternyata memang ada kehidupan di tengah asap belerang yang mengepul, serta ada kehidupan di antara panasnya kawah vulkanik dan dahsyatnya tekanan air di bawah laut.

Maka muncul hipotesa menarik tentang kehidupan di planet lain selain bumi. Tidak mustahil ada kehidupan di planet Mars, yang minim oksigen dan air itu. Sebab ternyata, di tempat-tempat yang beberapa puluh tahun lalu dipikirkan sebagai tempat yang mustahil untuk kehidupan ternyata ditemukan mikroba!

Eksplorasi ke lingkungan dahsyat seperti ini membutuhkan teknologi canggih yang biayanya sangat mahal, sehingga eksplorasi mikroba jenis ini hanya bisa dilakukan oleh negara berteknologi maju dan bermodal besar seperti Amerika atau pun Jepang.

Negara-negara maju ini mempertaruhkan modal dan teknologi bukan tanpa harapan. Harapan besar tertumpu pada produk biomaterial yang dihasilkan oleh extremophile ini, yaitu enzim.Enzim adalah protein yang berfungsi sebagai biokatalis yang terdapat di dalam setiap sel makhluk hidup. Dengan keberadaan enzim di dalam sel tubuh inilah, setiap reaksi kimia untuk menjaga kelangsungan hidup makhluk hidup terjadi. Karena extremophile menyenangi lingkungan ekstrim, maka enzim yang terdapat dalam tubuhnya biasanya menyenangi lingkungan ekstrim pula.

Sebagai contoh, hyperthermophile mempunyai enzim yang sangat stabil dan hanya dapat bereaksi pada suhu tinggi. Enzim seperti ini sangat ideal untuk proses reaksi dalam industri. Karena dalam masalah efektifitas, tak ada katalis yang mengungguli enzim. Enzim yang tidak rusak ketika bereaksi dan tahan lama dalam suhu tinggi menjadi impian para industrialis di bidang industri makanan atau minuman. Impian ini nampaknya menjadi kenyataan dengan ditemukannya extremophile ini.

Pembacaan genom dari extremophile juga menjadi salah satu projek besar di negara maju seperti Jepang. Harapan mereka, dengan dibacanya seluruh genom mikroba ini, maka pembudidayaan enzim yang terdapat di dalamnya dapat lebih mudah dan murah. Mereka bisa melakukan kloning pada makhluk hidup lain yang lebih moderat dan mudah kultivasinya seperti bakteri E. coli dengan berdasarkan informasi dari pembacaan genom tersebut. Secara biaya, tentu saja ini lebih murah, dibandingkan dengan kultivasi extremophile dalam skala besar yang memerlukan energi besar dan peralatan khusus karena keekstrimannya.

Bagaimana prospek di Indonesia?Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak laut dalam, gunung berapi dengan mata air panas, dan vulkanik di daerah laut. Oleh karena itu bisa dikatakan Indonesia adalah daerah potensial untuk habitat extremophile ini.

Di tengah persaingan negara maju untuk menambang mikroba yang bernilai industri sangat besar ini, Indonesia bisa jadi adalah pusat perhatian negara-negara maju yang ingin menambang mikroba ini dengan penawaran kerja sama. Indonesia membutuhkan kerjasama, karena penelitian dan isolasi terhadap mikroba ini memang membutuhkan teknologi tinggi dan biaya mahal.

Extremophile adalah salah satu sumber keragaman hayati yang sama pentingnya dengan tanaman atau hewan-hewan di hutan-hutan kita. Perlu kiranya undang-undang yang jelas untuk mengatur tentang hal ini agar Indonesia dan para penelitinya dapat menikmati hasil kerja sama dengan lebih adil.

* Is Helianti, peneliti post doktoral dalam bidang biotek pada Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), dan juga peneliti ISTECS-Japan.

Sekarang peneliti di BPPT

Posted in Artkel di Media Massa | Tagged: , | Leave a Comment »