Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Kami dan Rahmat

Posted by ishelianti on November 20, 2013

 

 

Siapa yang tidak mau punya anak berprestasi hebat dan juara kelas? Pasti sebagian besar kita orang tua berharap seperti itu. Ketika Rahmat mulai bersekolah pun demikian. Harapan saya melambung, ingin dia juara kelas, seperti kami, bapak dan ibunya ketika kecil (maaf, teman, tidak bermaksud menyombong).

Kami merasa sejak kecil adalah orang-orang yang tekun dalam belajar dan gigih. Saya selalu terobsesi jadi juara sejak SD. Ingin menjadi juara itu seperti kompensasi karena sebenarnya pada aspek-aspek tertentu saya merasa rendah diri. Berprestasi akademis menyebabkan saya percaya diri, dan aspek yang bikin minder itu tertutup karenanya. Dari SD kelas 4 saya mulai senang belajar dan selalu mencari cara bagaimana saya menemukan cara belajar yang jitu, mengingat lebih banyak, mengerti lebih cepat. Sebisa mungkin, saya selalu ingin unggul di segala pelajaran. Walau, harus diakui, saya kedodoran di praktek olahraga dan ketrampilan (karena ini berhubungan erat dengan faktor genetis..:-D), tetapi toh saya unggul di teori, karena saya rajin belajar.

Di SMA saya selalu tertantang untuk memecahkan soal-soal apapun, dari Matematika, Kimia, sampai Fisika.  Saya selalu tampak terdepan dalam memahami pelajaran, bukan karena saya jenius, tetapi semata-mata karena saya belajar sendiri lebih dahulu. Penguasaan saya di bidang pelajaran ini juga membuat saya sudah menjadi guru les privat sejak SMP, yang bisa menambah uang saku dan uang beli buku. Tapi, preferensi saya mulai mengerucut, saya malas belajar PSPB, PMP, Geografi, dan Agama (Islam). Bagi saya pelajaran-pelajaran ini sama sekali tidak menantang dan menyebalkan. Saya sering bolos membaca di perpustakaan ketika pelajaran ini berlangsung (tapi, percaya atau tidak banyak teman-teman dahulu yang tidak percaya saya sering membolos. Yah, saya memang terlanjur dianggap anak teladan, rajin menabung, dan tidak sombong…:-D).

 

Suami saya juga demikian. Ibu mertua saya sering bercerita, betapa pengawas ruangan harus membujuk Mahfudz kecil agar segera keluar ruangan, karena Mahfudz kecil adalah satu-satunya anak yang masih bolak-balik mengecek jawaban soalnya, padahal sehari-harinya selalu mendapat nilai sempurna. Jadi tidak berlebihan bukan harapan kami? Apalagi saya tahu Rahmat cerdas, cepat menangkap, dan kemampuan logikanya tinggi. Kalau dia mau, menghafal apapun akan sangat mudah. Tetapi seiring tahun demi tahum, sepertinya saya harus meredefinisi yang namanya prestasi. Rahmat amat jarang menjadi sepuluh besar. Dia teramat cuek dengan tetek bengek belajar. Bahkan sejak kelas 3 saya dipusingkan dengan tulisannya yang sangat aduhai dan susah dibaca. Tapi dia kadang memberi kejutan. Saya sama sekali tidak menyangka dia terpilih ikut olimpiade matematika, tapi dia ternyata terpilih dua kali untuk itu. Walau tidak menang, tapi paling tidak saya tahu dia tidak tertinggal dalam pelajaran matematika. Rahmat memang kurang tertarik untuk belajar mata pelajaran di sekolah. Tetapi ketika dia ingin tahu sesuatu, dia akan berusaha untuk mendapatkan jawabannya. Kami selalu mendapat pengetahuan-pengetahuannya yang spesifik dari Rahmat, dari nomor lokomotif kereta, model-model truk merek Scania yang spesifik, detil lampu mobil berbagai merek, riwayat pabrik karoseri, cara memodifikasi game Euro Truck Simulator, jalan-jalan di London yang dia lalui ketika main game, cara memodifikasi lego, dan lain-lain.  

 

Kami merenung, sebenarnya yang penting itu jadi juaranya, atau dia jadi bertanggung jawab dengan belajarnya? Yang penting itu nilai-nilai yang didapatkannya atau dia jadi faham dan belajar sesuatu darinya? Mana yang lebih baik, Rahmat enjoy sekolah dengan gayanya yang sangat my pace tapi faham pelajaran walaupun nilainya standar, atau dia menjadi pribadi yang terlalu tegang dan mudah stress karena selalu berpikir harus paling unggul? Akhirnya saya memilih untuk mengarahkan Rahmat sesuai dengan ketertarikannya, menanamkannya untuk bertanggung jawab belajar, tanpa memaksanya pintar dan unggul di semua bidang.  Ketika kami menengok ke belakang, memang bukan juara kelas yang membuat kami bisa menjadi manusia dewasa seperti sekarang. Tetapi daya juang untuk selalu terus belajar dalam hiduplah yang menopang kami dapat tinggal belajar serta mandiri di negeri orang dengan beasiswa, lalu memulai hidup di tanah air dengan segala keterbatasan. Itulah yang harus kami tanamkan padanya, walaupun Rahmat menjadi demikian tidak dengan gaya dan cara yang harus sama. Karena kami mengerti pada akhirnya, Rahmat memang anak kami, tetapi dia bukan kami. Kami bertanggung jawab untuk mengarahkannya hingga potensi yang ada padanya bisa terwujud optimal, bukan memaksanya untuk menjadi seperti kami di waktu dahulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: