Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Catatan Kehidupan: Jangan pernah remehkan mereka

Posted by ishelianti on May 20, 2012

Ketika hendak memilih maskapai penerbangan sebelum berangkat, teman-teman kantor memberi saran. Sebaiknya jangan memilih emirates, apalagi aku berangkat sendirian dan memakai jilbab pula. Alasannya, maskapai ini bertujuan Dubai (sebagai tempat transit) ini kerap mengangkut TKW yang bekerja sebagai tenaga kasar dan PRT di negara minyak. Dan tahu sendirilah, perlakuan para oknum bandara, hatta orang maskapai terhadap para TKW. Memang ada beberapa cerita pengalaman menyebalkan dan tidak nyaman berkaitan dengan menjelang boarding ke suatu negara minyak apalagi jika kita memakai jilbab. Bisa jadi para petugas pukul rata, semua yang berjilbab TKW, dan layak diperlakukan tidak sopan.

 

Namun dari semua travel biro yang aku tanyakan semua menjawab seragam. Emirates menawarkan harga yang relatif paling murah saat itu. Aku cukup bimbang. Namun, akhirnya, karena kami tak punya tabungan cukup banyak untuk membeli tiket Lufthansa atau KLM (biaya tiket akan direimburse setelah aku tiba di Jerman), aku putuskan untuk memakai Emirates. Toh, aku memakai service paspor, dan toh juga aku memang ”TKW”, walaupun bidang pekerjaanku berbeda dengan para TKW tersebut. Jadi, so what gitu lho..?

 

Alhamdulillah, tak ada hambatan bearti baik saat check in maupun saat boarding. Di ruang boarding belasan wanita berjilbab bergerombol di salah satu ruangan, dengan wajah-wajah mereka yang lugu. Aku yang datang di barisan belakang memilih duduk sesuai dengan zona ruang yang tertera di boarding pass di dekat seorang ibu yang berpenampilan educated, bersih, dan wangi. Melihat aku duduk di sampingnya, entah kenapa, Ibu yang necis itu mendadak pergi dan pindah ke kursi lain. Aku agak heran. Mungkin dia pikir aku juga seorang TKW yang memang kadang-kadang sangat talkactive dan norak pada orang yang baru dikenalnya. Hmmm…Mungkinkah aku juga akan bersikap seperti ibu itu karena tidak nyaman jika berada sekelompok dengan para TKW itu..? Mungkin iya, karena pada awalnya aku juga enggan disamakan dengan TKW sehingga cukup ambil pusing dengan masalah airlines.

 

Lalu aku di sini. Di sebuah negara dengan bahasa yang benar asing dan lingkungan yang sama sekali baru. Beberapa hari aku masih sedikit jet lag, terbangun di jam 12 malam atau jam 2 pagi dan sangat mengantuk di siang menjelang sore. Ketika terbangun tengah malam, di gelap malam, kesepian besar menghantamku. Aku kangen anakku, kangen suamiki. Di tanah air, ketika aku terbangun, mereka selalu ada di dekatku. Namun saat ini..? Kalau aku tidak segera mengambil air wudhu, shalat, lalu membaca Al Quran, mungkin esok harinya aku sudah berkemas memajukan jadwal tiket untuk pulang.

 

Di saat itulah aku teringat mereka, wanita-wanita lugu para TKW itu. Ooh, tentu mereka mengalami kesepian yang sama denganku. Dihantam kerinduan nan dalam pada anak dan suami. Mengalami kebisuan karena mereka tidak bisa bicara bahasa setempat, harus menjadi buta huruf karena mereka tidak bisa membaca bahasa asing. Mereka mungkin juga tergopoh-gopoh dan heboh sepertiku. Di tengah lingkungan baru yang sama sekali asing dan harus menjalin relasi baru dengan orang-orang asing yang berbeda laku dan budaya.

 

Aku cukup beruntung, para kolega Jerman helpful dan ramah. Aku dapat memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan mereka. Kerinduanku pada keuarga segera sirna di siang hari ketika bekerja, dan menikmati bahwa dunia riset dan sains adalah universal, dan siapapun bisa asyik berbicara tanpa batas budaya dan negara di dalamnya. Aku masih bisa bercakap dengan anak dan suamiku dengan SMS, telpon, YM, dan webcam yang dapat mengobati kerinduan.

 

Sedangkan mereka? Bisa jadi majikan mereka tak mau tahu, bahwa mereka perlu beberapa waktu untuk beradaptasi, sehingga langsung mendapat cap bodoh tak bisa bekerja, lalu dicampakkan begitu saja. Atau ada yang mendapatkan perlakuan-perlakuan yang nista yang sering kita dengar di surat kabar.

 

Aah, aku jadi malu pernah meremehkan mereka. Dari banyak aspek mereka jauh-jauh lebih kuat, tangguh, dan hebat. Meninggalkan anak dan suami yang mereka cintai dan akan selalu mereka kangeni. Karena mereka mungkin hanya punya sedikit akses pada alat komunikasi. Bisa jadi kangen mereka sudah berbongkah-bongkah di hati, namun mereka bertahan dan berjuang di suatu negeri asing untuk suatu level kehidupan yang sebenarnya kerap kita -orang yang cukup- tak mensyukurinya. Mereka adalah wanita dan ibu perkasa, tanpa pernah membusungkan dada. Mereka adalah pejuang dan pahlawan tanpa merasa bahwa mereka boleh berbangga untuk itu. Dari itu, jangan pernah remehkan mereka.

(Muenster Oct 2008)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: