Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

Posted by ishelianti on September 23, 2011

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

 

Berita di internet, radio, dan televisi akhir-akhir ini membuat saya sangat prihatin. Prihatin karena berita tersebut berisi kekerasan (yang bikin semangat negatif) dan juga karena ini mengenai almamater SMA tempat saya menimba ilmu dan menikmati masa remaja selama 3 tahun di dalamnya.

Mudah-mudahan kenangan pribadi ini bisa untuk berbagi, bahwa sekolah ini tak berbeda dengan sekolah lainnya di tanah air…Walau terkesan “menyeramkan” karena pemberitaan akhir-akhir ini…

Tahun 1980-an SMA 6 terkenal sebagai SMA borjuis. Artis-artis populer ataupun foto model cantik, ganteng, keren, bersekolah di situ. Anak para pejabat bersekolah di situ. Anak-anak menengah atas, bahkan anak orang terkaya di Indonesia bersekolah di situ. Mungkin sisi glamour seperti ini yang lebih terkenal saat itu, mengenggelamkan sisi lainnya, bahwa sekolah ini juga mempunyai anak-anak didik yang sangat berpotensi untuk berprestasi.

Saya termasuk yang “nervous” memasuki sekolah ini pada mulanya. Bagaimana tidak. Saya berasal dari SMP bukan favorit, yang jauh dari terkenal dan tidak terbiasa dengan semuanya di atas. Selagi SMP saya biasa berjalan kaki ke sekolah. Bukan karena dekat, tetapi karena itulah satu-satunya akses termurah menuju ke sekolah. Tapi saat itu sebagai ABG, saya yakin, sekolah ini akan memberi saya pengajaran dan lingkungan belajar yang terbaik. Sehingga saya akan bisa menjadi lebih pintar.

Harapan saya terbukti. Teman-teman saya ketika itu pintar-pintar sekali. Beberapa dari mereka sudah saya “kenal muka” sejak SD karena sering bertemu di berbagai kompetisi. Banyak yang pintar bahasa Inggris seperti para “native speaker”. Mereka mengobrol dalam bahasa Inggris, sehingga ketika saya di dekat mereka serasa berada di Washington..:-D Banyak yang piawai dalam berdiskusi dan berdebat. Mengurai pendapat mereka dengan cerdas dan runtut sambil merefer kepada buku-buku yang mereka baca. Wah…buat saya ini pengalaman yang mengesankan. Seolah menemukan lingkungan belajar yang menantang, yang membuat saya mempunyai motivasi internal untuk berprestasi secara akademis.

Guru-guru di dalamnya, sama seperti guru-guru di sekolah lain. Mereka tidaklah lebih makmur ataupun sejahtera daripada rekan-rekan mereka di sekolah lain. Mereka sebagian besar sama seperti sosok pahlawan tanpa tanda jasa di sekolah lainnya. “Low profile” dan sederhana. Tentu guru yang menyebalkan ada. Dan itu pasti ada di manapun, di seluruh sekolah di Indonesia. Tapi tak ada yang mengajarkan pada kami semua bahwa: tawuran itu baik, bersikap tidak sopan itu baik, kekerasan itu baik. Kami diajarkan nilai-nilai kebaikan sama seperti di sekolah lainnya. Dan saya percaya, sampai saat ini, detik ini, saat berita heboh ini masih memanas, para guru pun tak ada yang mengajarkan murid-muridnya hal yang ngawur.

Kalau tawuran, sebenarnya di masa itu (dan bahkan di masa sekarang!) bukan hak ekslusif SMA 6. Kala itu tawuran antar STM juga hal yang “lumrah”. Bahkan kadang lebih “seram”, karena mereka kan lumrah saja membawa obeng dan alat-alat mesin lainnya. Dan, tak ada satupun guru kami yang membiarkan tawuran, mentoleransinya, apalagi mendukungnya. Namun, para pahlawan tanpa tanda jasa itu, berbeda dengan orang di “luar pagar”, mereka bertahun bergaul dengan para ABG yang masih berproses mencari jati diri. Mengerti yang namanya “tarik ulur” dalam mendidik ABG (yang kadang memang memang rumit dan menyebalkan). Karena itu, kadang terlihat sebagian mereka mungkin “tak tegas” dalam mengeksekusi.

Kini, dua puluh dua tahun sejak kami menanggalkan seragam putih abu-abu, mengarungi kehidupan lebih luas dan lebih berwarna, para alumni masih sering bertemu. Di dunia maya dan di dunia nyata. Walau saya bukan “aktivis” reuni tapi saya bangga pada teman-teman.  Dulu, sama seperti saya, mereka adalah remaja yang mencari, kadang sotoy, kadang tidak sopan, dan menyebalkan. Kini, mereka sebagian besar adalah orang-orang yang berhasil. Dokter spesialis jenis apapun dapat ditemui. Profesional bergelar master ataupun doktor dapat dengan mudah dicari. Pengusaha sukses apalagi. Di balik sikap mereka yang kalau ketemu seperti berhura-hura, tapi kepedulian sosial dan solidaritas yang tinggi ada di sana. Mereka proaktif membantu teman yang susah dalam menjalani kehidupan. Membantu para guru yang sakit dan memerlukan biaya. Pokoknya untuk membantu orang, mereka akan bergembira, sama seperti mereka bergembira ketika makan-makan.

Solidaritas dan kepedulian pada sekolah, mungkin lahir karena rasa terima kasih mereka pada SMA ini, pada para pahlawan tanpa tanda jasa, dan kawan-kawan sepermainan dan seangkatan. Yang telah memberi 3 tahun sekeping pelajaran tidak hanya akademis tetapi juga pelajaran kehidupan, sebagaimana saya juga merasakannya.

 

*****

Buat teman-teman alumni SMA 6 Jakarta: sumbangsih kita pada kebaikan untuk masyarakat adalah cermin rasa syukur kita pada Tuhan dan rasa terima kasih kita pada SMA ini

Buat adik-adik angkatan yang tepatnya mungkin anak-anakku: perlihatkan pada dunia, bahwa tawuran bukanlah brand SMA 6.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: