Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Antara penelitian pengembangan dan komersialisasi

Posted by ishelianti on February 22, 2011

Bekerja di lembaga penelitian dan pengembangan di negara berkembang seperti Indonesia tidak mudah. Saya tak hendak mengeluh tentang gaji, karena ini terasa memalukan. Yang lebih berat justru tanggapan masyarakat terhadap keberadaan lembaga riset itu sendiri dan kebijakan tentang penelitian dan pengembangan yang ada.
Dalam obrolan santai rapat orang tua dan murid, seorang ibu dari teman anak saya yang seorang guru dengan enteng nyeletuk, ”BPPT kok gak jelas ya Bu manfaatnya…” Hmm..

Walau ibu tadi hanya menyinggung BPPT, tapi saya pikir dia akan memberi komentar yang sama jika dalam obrolan, saya katakan saya bekerja di LIPI atau BATAN misalnya. Buat banyak orang awam, keberadaan lembaga penelitian adalah posisi tak tersentuh ibarat menara gading. Jika di negara maju, sedikit yang mempertanyakan peran dan output dari menara gading ini. Karena dalam kehidupan mereka, peran inovasi dan iptek terasa, tapi tidak demikian di tanah air. Sudah di menara gading, tak terlihat jelas pula apa manfaatnya. Mungkin begitu yang ada di pikiran masyarakat kebanyakan.
Salah satu cara, agar Iptek terasa jelas manfaatnya buat masyarakat adalah dengan menyumbangkan hasil karya litbang kepada masyarakat termasuk industri tentunya, yaitu dengan mengkomersialisasikan hasil penelitian. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya..entah mengapa saya gelisah dengan kondisi sekarang…
Peneliti di Indonesia, saya kira, jarang yang melakukan penelitian an sich. Pasti. Karena kalau cuma penelitian an sich tak akan dapat dana insentif. Rata-rata, bahkan yang di universitas sekalipun, melakukannya dengan tujuan yang jelas ”untuk apa dan berguna untuk masyarakat”. Jarang ada riset dasar yang hanya karena ”ingin tahu” ada apa, bagaimana, dan mengapa. Rasanya itu menjadi ”barang haram” di lembaga riset kita, bahkan di fakultas ilmu murni bukan teknik suatu universitas sekalipun.
Tapi kondisi yang sangat menekan agar hasil karya ini termanfaatkan oleh industri, secepatnya dan seinstan-instannya, kadang menjadi bumerang. Bagi banyak peneliti ini menjadi tekanan dan beban berat. Seolah-olah fakta bahwa hasil karya peneliti hanya jadi sekedar laporan mutlak kesalahan peneliti. Seolah-olah penelitilah yang tak mau tahu urusan masyarakat dan meneliti seenak suasana hatinya. Seolah-olah mereka yang bergaji tak lebih dari PNS lain itu sumber utama kesalahan hasil riset tak termanfaatkan dengan baik.
Banyak orang lupa. Bahwa di tanah air kita, iklim yang baik untuk memproduksi nyaris tak ada. Tak usahlah memakai produk yang merupakan hasil teknologi yang pasti perlu investasi. Bahkan memproduksi sepatu ataupun baju yang konten teknologinya sederhana lalu menjualnya sebagai produk dalam negeri jatuhnya lebih mahal daripada impor dari China. Jadi, bagaimana bisa bersaing? Apatah lagi produk yang memakai paten dalam negeri yang isinya inovasi teknologi, yang notabene hasil investasi waktu, otak, tenaga, dan biaya?
Banyak dari kita yang tak menyadari pula, bahwa tak semua hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti itu harus berujung komersialisasi. Adalah kenyataan, dari yang diteliti dan dikembangkan hanya sedikit yang bisa mencapai komersialisasi. Hatta di negara maju sekalipun! Komersialisasi hasil litbang juga bukan instan seperti Indonesian Idol. Dikarantina lalu bisa jadi bintang. Komersialisasi hasil litbang tentu lebih perlu passion, kesabaran, ketekunan, dan fokus. Bukan hanya 2 tahun bekerja sim salabim ada produk yang OK. Tanpa ketekunan, kesabaran dan passion, cuma produk riset abal-abal yang bisa kita keluarkan.
Tekanan yang besar untuk segera mengkomersialisasikan hasil penelitian dan pengembangan juga membuat sebagian kalangan memandang rendah pada publikasi ilmiah internasional. Seolah-olah tak ada korelasi antara jumlah publikasi internasional suatu bangsa dengan kemajuan Ipteknya. Seolah-olah publikasi ilmiah itu tak memberi kontribusi apapun pada masyarakat. Padahal kemajuan Iptek dan kemahsyuran bangsa bertumpu pada hal ini.
Memang publikasi ilmiah tak memberi dampak kasat mata seperti komersialisasi. Tetapi tak dapat diingkari, publikasi ilmiah adalah bahan baku ilmu pengetahuan dan inovasi selanjutnya. Publikasi ilmiah kalau diumpamakan seperti olahraga. Menjadi pendukung eksistensi suatu bangsa untuk dipandang di dunia internasional.
Tekanan yang besar untuk komersialisasi hasil riset juga membawa kita pada titik ekstrem lain. Kita melupakan ilmu dasar sebagai modal kita menjadi bangsa yang lebih pintar, lebih bijak, dan unik. Misalnya, jika sekarang kita tak peduli pada sumber daya hayati kita yang banyak ribuan species nya pun belum bernama, dengan alasan tak ada dana luang untuk penelitian dasar taksonomi mikroba ataupun tumbuhan, tunggulah sampai orang lain mempelajarinya dan memanfaatkannya.
Tak ada yang salah dengan komersialisasi hasil litbang. Semua mencita-citakannya dan menginginkannya. Tetapi ketika kita bersikap ekstrem bak pendulum, lupa dengan proses karena ingin instan dan tergesa, tunggulah negara kita menjadi tak bernyawa dalam Iptek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s