Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Science and Technology Made in China

Posted by ishelianti on February 5, 2010

Science and Technology Made in China

Sudah satu bulan perdagangan bebas ASEAN-China dibuka. Efeknya di berbagai bidang mulai dirasakan. Penjualan telepon selular buatan China yang berharga sangat murah namun berteknologi canggih meningkat lebih dari dua kali lipat setiap harinya. Mobil bermerk Eropa namun dibuat di China siap memasuki pasar Indonesia dengan harga jual di bawah mobil merek Jepang yang notabene dibuat di Indonesia. Sebelum kran perdagangan bebas dibuka pun sebenarnya, di  sekitar kita telah dibanjiri produk China. Dari produk yang berharga murah seperti mainan anak dari plastik dan pakaian jadi, sampai produk mahal seperti komputer jinjing.

Ambisi China menjadi leader dalam produk teknologi tidak hanya pada produk-produk teknologi kasat mata yang tersebut di atas. Di dunia ilmu pengetahuan seperti publikasi internasional misalnya, China sangat luar biasa. Pada tahun 1996 China hanya menempati urutan kesembilan dalam memproduksi publikasi ilmiah internasional dengan hanya sekitar 27 ribu publikasi. Akan tetapi pada tahun 2007, rangkingnya melonjak naik menjadi posisi kedua setelah Amerika Serikat, dengan jumlah publikasi sekitar 181 ribu dokumen pada tahun tersebut atau 12% dari publikasi internasional yang ada di seluruh dunia.

Beberapa tahun belakangan ini, para saintis dan komunitas ilmiah China pun sangat aktif menggiatkan pertemuan-pertemuan ilmiah internasional. Mereka berusaha menjadi pemimpin ilmu pengetahuan di Asia dengan mengumpulkan para saintis, akademisi, pebisnis dari berbagai negara di Asia dalam pertemuan ilmiah ini. Paket pertemuan ilmiah ini mereka rangkai satu paket dengan kunjugan ke beberapa daerah wisata yang menjadi high light di China. Sehingga mereka melakukan diseminasi ilmu pengetahuan dan koordinasi dengan para saintis internasional sekaligus promosi pariwisata negaranya.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi China yang luar biasa ini bukan tanpa persoalan. Barang-barang China yang dijual di Indonesia memang terkenal berharga murah. Namun, kualitas dan pelayanan purna jual yang belum berkembang baik, menyebabkan sebagian kalangan berpikir ulang untuk membeli produk China jika ingin mempunyai barang yang awet.

Demikian pula dengan publikasi ilmiah internasional yang dielu-elukan, bukanlah tanpa kekurangan. Tingginya jumlah publikasi ilmiah internasional oleh saintis China tidak diimbangi dengan tingginya indeks sitasi, suatu indikator yang menunjukkan seberapa penting publikasi tersebut menjadi referensi bagi saintis lainnya. Menurut Jurnal Nature, banyak ditemukan publikasi yang berdasarkan riset fiktif ataupun hasil plagiat ataupun manipulasi data yang pernah ada sebelumnya dalam publikasi internasional ilmuwan China. Fenomena ini ditengarai diakibatkan tingginya tekanan untuk menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional yang berkualitas. Tekanan ini berkaitan dengan mudahnya dana penelitian dengan jumlah sangat besar mengucur jika institusi penelitian ataupun universitas atau peneliti mempunyai jejak rekam yang baik dalam penerbitan jurnal internasional.

Dua persoalan yang diangkat di atas bisa jadi hanya merupakan salah satu fase pembelajaran yang baik bagi China. Saat ini, memang kuantitas produk Iptek masih lebih diperhatikan daripada kualitas di China. Tapi beberapa tahun ke depan, China benar-benar akan menjadi pemimpin yang tangguh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kita melihat sejarah Iptek Jepang. Ketika mobil-mobil Jepang pertama kali sampai di pasaran internasional tak sedikit yang meremehkan kualitasnya. Tetapi sekarang, siapa yang tidak kenal Toyota sebagai produsen mobil nomer wahid di dunia?

Perdagangan bebas Asean-China sudah berjalan. Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang ketakutan akan terebutnya pasar domestik dan didikte dalam kepemimpinan Ilmu pengetahuan dan teknologi oleh China. Jika Thailand saja optimis bisa mengekspor produk kulinernya ke China, yang dengan demikian berarti akan merambah dunia. Kenapa Indonesia tidak mencoba pada bidang lainnya? Tidak cukup hanya dengan membeli produk buatan dalam negeri, diperlukan semangat yang lebih dari itu.

Kita dapat belajar secara intens sekarang dari China. Pemerintah China sangat serius mengerahkan seluruh daya upaya, sumber daya alam, penghasilan negaranya bahkan para diasporanya untuk pendidikan dan iptek sebagai mesin penggerak pengembangan ekonomi yang berkesinambungan. Dari tahun 2002, China mengalokasikan anggaran negaranya yang besar pada penelitian dan pengembangan. Tindak tanggung-tangung pada tahun 2002 itu, alokasi China untuk Iptek adalah lebih dari 86 trilyun rupiah, atau no 3 di dunia setelah Amerika dan Jepang.

Namun untuk sedikit menghibur, China belum jadi leader yang sebenarnya dalam Iptek. Meskipun berkembang pesat, jumlah peneliti China baru 633 per satu juta penduduk. Meski pasti sangat jauh dari keadaan Indonesia, China dalam hal ini masih tertinggal dari USA yang mempunyai 4526 peneliti per satu juta penduduk atau Jepang yang jumlah penelitinya 5085 orang per satu juta penduduk. Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Penulis:

Is Helianti

Perekayasa BPPT

Advertisements

One Response to “Science and Technology Made in China”

  1. yusuf said

    bagus artikelnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: