Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Catatan 20 tahun berjilbab ~Antara Jilbab, Kajian Islam, dan Teroris

Posted by ishelianti on October 15, 2009

Membaca dan mendengar berita akhir-akhir ini sangat menyesakkan dada. Salah satunya, Densus88 menggerebek sebuah rumah kos di Ciputat dan menembak mati para tersangka teroris. Sesak dada, karena menurut berita ada mahasiswa-mahasiswa generasi harapan yang tersangkut kasus ini. Para mahasiswa yang taat beribadah dan bersemangat dalam mengkaji Islam, disinyalir berkaitan. Seorang mahasiswa lain mengisahkan bahwa dia hampir saja direkrut oleh para tersangka teroris, didekati secara agresif sehingga ketakutan.

Di tengah berita seperti itu banyak yang berkecamuk dalam benak. Antara lain, efek domino dari pemberitaan dan fakta ini. Bahwa kajian Islam di kampus-kampus mungkin akan ditakuti oleh para generasi muda dan para orang tua yang mempunyai anak mahasiswa. Karena mengikuti kajian keislaman rutin, lalu menjadi taat beribadah dan taat menjalankan perintah agama identik dengan mendekat pada teroris. Padahal bisa dijamin sebagian besar kajian Islam, pengajian, dan majelis ilmu yang ada sama sekali jauh dari suasana tersebut.

Karena itu saya ingin menuliskan pengalaman pribadi saya untuk saya bagi, terutama bagi adik-adik mahasiswa. Pengalaman hidup yang bagi saya merupakan harta kekayaan tak ternilai yang membuat saya terus bersyukur telah melaluinya. Dan semoga bermanfaat khusunya dalam membuat kita untuk terus belajar menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Sehingga kita tak ragu berlari mendatangi hidayah dengan rajin-rajin menghadiri kajian Islam yang kaya manfaat, namun tidak meninggalkan daya kritis sebagai pemuda…

Bulan Oktober ini, tepat 20 tahun saya memakai jilbab, tepatnya busana yang menutup aurat. Sebenarnya, ini bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bagi saya yang mengikuti pendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah tentu bukan prestasi. Berjilbab tentulah sama artinya dengan mengapa saya harus sholat, mengapa saya harus puasa, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kewajiban yang saya pilih dengan kepala sehat, yakini, dan tanpa paksaan untuk saya jalankan.

Berjilbab menjadi spesial buat saya karena momentum berjilbab inilah yang selalu mengingatkan saya untuk dapat menjalani apa yang saya yakini benar dengan memohon bimbingan Allah selalu. Momentum jilbab inilah yang menjadikan titik berangkat saya untuk selalu ingin berusaha jadi muslimah hamba Allah yang sejati tanpa kehilangan diri sendiri. (Walau sejujurnya, saya merasa masih jauh dari sosok muslimah hamba Allah yang sejati)

Selain bersyukur pada Allah atas hidayah ini, tentu saja saya harus berterima kasih pada kajian-kajian keislaman di STAN waktu itu. Berterima kasih pada mentor-mentor kajian yang telah membukakan mata saya akan keindahan islam, keindahan berakhlak mulia, keindahan mengasihi dan berbakti pada ibu dan bapak, keindahan bersikap santun dan baik pada semua orang, muslim dan non-muslim.

Sebelum mengkaji Islam, sebelum berjilbab, saya bisa jadi anak yang kasar pada orang tua. Anak yang tak bisa maklum pada kekurangan manusiawi mereka sebagai orang tua. Tetapi mengkaji Islam, berjilbab, membuat saya malu untuk sering-sering berbantahan dengan ibu. Banyak perilaku-perilaku positif yang saya latih setelah berjilbab dan mengikuti kajian Islam secara rutin. Berkat jilbab dan mengkaji Islam secara rutin dan tentu saja hidayah Allah SWT saya mantap menikah di usia muda, percaya diri untuk mengambil beasiswa ke Jepang dan meneruskan hingga doktor, mantap menekuni dunia kerja penelitian dengan idealisme ibadah membangun tanah air yang saya cintai, dan meyakini di jalan profesi inilah dakwah saya.

Tentu bukan tanpa dinamika. Saya pernah gelisah ketika ada pendapat bahwa muslimah ”haram” bekerja. Muslimah cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Dan banyak dari angkatan saya yang drop out dengan sengaja dari kuliah karena alasan ini. Nalar saya sebagai remaja memberontak. Jadi muslimah tidak boleh berprestasi? Muslimah tidak boleh bekerja? Berjilbab equal dengan kemandekan? Alhamdulillah, saya tak pernah menanggalkan daya kritis saya. Kegelisahan saya terjawab, dan sekarang seperti yang anda baca, saya bekerja dan tetap berjilbab dengan segala sikap yang saya yakini…:-)

Karena itu, tetaplah berlari menggapai hidayah dan bimbingan Allah. Jangan menjauh dari kajian Islam hanya karena takut terjatuh dalam jeratan teroris. Kajian-kajian islam adalah kegiatan yang positif. Daripada menghabiskan masa remaja dengan kegiatan yang tak tentu arah atau malah menyerempet hal-hal yang menyimpang seperti narkoba atau pergaulan bebas. Tetapi tetaplah open mind, berdiskusi dengan banyak pemikiran, bergaul dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip diri, bersikap kritis dengan prasangka baik. Dan tentu yang utama, selalu berdoa mohon petunjuk Allah untuk membimbing kita selalu agar selalu ada dalam kebaikan. Islam itu indah dan menjadi muslim itu adalah membawa misi menjadikan nilai-nilainya  rahmatan lil alamin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: