Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Dua “Je”, Persamaan dan Perbedaan

Posted by ishelianti on December 28, 2008

Antara Jerman dan Jepang, Persamaan dan Perbedaan

Hampir dua belas tahun tinggal di Jepang dan tiga bulan tinggal di Jerman, selalu menarik membandingkan sikap dan budaya masyarakat dua negara ini. Berikut beberapa yang bisa diamati di antara keduanya. Menurut Anda, mana yang lebih pas untuk ditiru di Indonesia?

Persamaan:

  1. Jerman dan Jepang adalah dua Negara yang sama-sama kalah di Perang Dunia kedua. Mereka sama-sama bertekuk lutut pada Amerika Serikat dan sekutunya. Hancur lebur pada PD II, tetapi menjadi Negara paling terkemuka di benuanya masing-masing setelah itu. Sampai sekarang, mungkin karena efek kalah perang, kedekatan politik mereka dengan Amerika Serikat sangat kuat.
  2. Umumnya orang Jerman dan Jepang adalah orang-orang yang serius. Mereka mengerjakan pekerjaan mereka, apapun, dengan serius dan efisien.
  3. Taat peraturan. Sifat ini sangat terasa jika kita berhadapan dengan mereka dalam hal hukum, atau hitam di atas putih (tertulis). Orang Jerman dan Jepang kaku luar biasa terhadap hukum, tak ada pintu khusus bagi pejabat tinggi sekalipun dalam hal berbau hukum. Mereka pun sangat memperhatikan yang tertulis di atas kertas atau MOU atau kontrak. Melenceng dari situ, mereka akan tuntut. Menuntut yang tidak terulis di atas kertas, jangan harap kita akan mendapatkannya! Umumnya, mereka juga benci pada pelanggar peraturan.
  4. Menghargai waktu. Umumnya mereka benci pada budaya jam karet, apalagi terlambat di saat meeting atau rapat atau kuliah.
  5. Cenderung homogen. Jerman dan Jepang adalah masyarakat yang cenderung homogen dalam hal budaya. Mereka bukan masyarakat yang punya pengalaman banyak terhadap multikultural atau keberagaman agama. Bahkan nasionalisme sempit pernah membawa mereka pada masa lalu yang suram, dan seolah-olah nasionalisme adalah hal yang buruk untuk dimiliki. Tanyakan tentang nasionalisme pada generasi muda Jerman dan Jepang. Jawabannya pasti mirip, ”Untuk apa?”
  6. Sangat menghargai produk dalam negeri. Dua negara ini memang membayar mahal upah SDMnya. Karena itu barang-barang asli buatan Jerman atau Jepang seperti elektronik sangat berkelas dan mahal, dan menjadi kebanggaan tersendiri bila mereka memilikinya.

Perbedaan:

  1. Orang Jerman penikmat hidup, sedangkan orang Jepang pencinta kerja. Orang Jerman berusaha keras hanya pada jam kerja, dan bermain habis-habisan juga pada saat libur. Mereka punya jatah cuti 50 hari kerja, yang jika disatukan dengan Sabtu Minggu selama cuti tersebut bisa lebih dari 2 bulan dalam setahun! Mereka tak suka lembur, karena bagi sebagian mereka, lembur equal dengan tidak efisien. Bagi mereka efisien dalam bekerja berarti datang tepat waktu, bekerja efisien di saat jam kerja, dan pulang tepat waktu adalah harga mati. Sedangkan orang Jepang memang cenderung ”gila kerja”. Mereka nampak menemukan kenikmatan dalam bekerja. Bahkan ketika perekonomian Jepang dalam grafik melesat naik, semboyan perusahaanku adalah keluargakulah yang mendorongnya. Sebenarnya mereka punya jatah cuti 20 harian dalam setahun. Tetapi umumnya hanya dipakai beberapa hari di musim panas (liburan obon), dan beberapa hari di musim dingin menjelang tahun baru (oshogatsu). Budaya gila kerja kadang berimbas di dalam rapat atau seminar. Di Jepang tertidur pada saat-saat rapat atau seminar bagi para ”penggila kerja” kadang sangat ditoleransi dan dimaklumi, tapi tidak di Jerman!
  2. Budaya antri di Jerman mirip Indonesia, walau kadar menyerobot relatif lebih sopan. Jika anda taat antri menunggu masuk kereta di jam sibuk, dijamin anda susah mendapat tempat duduk! Apalagi jika naik kereta jarak jauh saat malam akhir pekan. Di Jerman kita cuma harus antri dengan tertib ketika kita mengambil uang di ATM atau membayar di kasir. Karena di tempat ini mereka memencet nomor pin untuk mengambil uang atau auto debet yang sangat ingin mereka lindungi kerahasiaannya! Akan tetapi di Jepang hampir semua tempat anda harus antri. Ketika menunggu bis, menunggu kereta di Jepang harus selalu antri, berbaris di tempat yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk. Anda menyerobot, tak ada ampun! Tetapi ini menjadi fair, yang datang lebih dahulu kemungkinan mendapatkan tempat duduk menjadi besar.
  3. Di Jerman kereta dan bus tak selalu on time. Lima belas menit terlambat untuk jadwal bis, atau kereta biasa, bahkan terkadang 1.5 jam terlambat juga bisa dimaklumi ntuk sebuah kereta maglevaif! Namun demikian, sistem jaringan informasi kereta Jerman lebih tertata dan nyaman diakses dengan internet. Di Jepang, kita harus membeli buku jadwal bulanan untuk mengetahui jadwal pasti khususnya kereta jarak jauh.

Di Jepang, jadwal kereta on time sudah menjadi umum dan harus. Bahkan ketka di Tokyo, saya kadang mengadjust jam sesuai dengan jadwal ketika peluit kereta ditiup dan pintu kereta tertutup, saking saya percaya pada tepat waktunya. Kereta di Jepang biasanya hanya telat saat salju tebal atau angin taufan.

4. Kaum akademik Jerman umumnya high profile dan rasa PD mereka tinggi. Tak jarang para mahasiwa/peneliti pendatang dari Asia atau negara berkembang harus mendapat perlakuan under estimate lebih dahulu ketika mereka datang. Tetapi tidak demikian di Jepang. Orang Jepang umumnya humble. Mereka bak pepatah air tenang bertanda dalam. Mereka sangat menghargai para mahasiswa asing yang umumnya pekerja keras, walau kadang belum tentu bekerja dengan cerdas.

5. Di Jerman, konsumen harus banyak mengalah, tetapi di Jepang konsumen adalah dewa. Servis yang tidak memuaskan dan penyambutan alakadarnya sudah biasa di Jerman. Jika ada petugas loket yang harus pulang karena jam pulang, dia tidak akan menggubris antrian panjang para pelanggan. Kadang sikap supir bus yang kelelahan juga membuat tak nyaman. Tetapi jika anda di Jepang, para petugas yang akan makan siang pun biasanya tidak tega jika melihat yang antri begitu banyak. Umumnya mereka dengan sukarela membuka kembali loket yang tadinya sudah mereka tutup untuk mengurangi antrian. Di Jepang jika barang yang anda beli cacat dan anda kembalikan, maka anda akan mendapatkan bonus dan permohonan maaf berkali-kali dari toko.

      Advertisements

      2 Responses to “Dua “Je”, Persamaan dan Perbedaan”

      1. mbak Yun said

        Is,
        hebat pengamatan anda

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

      Connecting to %s

       
      %d bloggers like this: