Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Budaya Kerja, antara Jerman dan Jepang

Posted by ishelianti on October 12, 2008

Menarik membandingkan kultur kerja orang-orang yang bergerak di bidang riset dan akademis di dua negara maju ini. Jerman dan Jepang. Dua penduduk negara ini dikenal sangat serius dan efisien.

Di Jepang, jam kerja saya dulu “unlimited”. Dengan fasilitas universitas dari laboratorium, ruang komputer, perpustakaan yang on line 24 jam, jam kerja “unlimited” ini seperti mendapat justifikasi. Orang Jepang biasa kerja dari jam 9 pagi sampai di atas jam 9. Lab masih ramai di jam 11 malam, bukan hal asing. Justru aneh kalau lab sudah gelap di jam 6 sore. Ketika menghadapi dead line baik thesis maupun paper seminar, saya bersama mahasiswa lain biasa tidak tidur sampai dini hari, tapi kelayapan di dalam lab bereksperimen.

Lain lagi di Jerman. Di sini kerja dimulai jam setengah sembilan. Tetapi dijamin jam 6 sudah sepi. Kalau pun ada sisa-sisa manusia berlalulalang, biasanya sebagian besar orang asing, yang mungkin berpikiran mirip dengan saya. Buat apa pulang ke apartemen, karena tidak ada yang menunggu.

Tetapi bukan berarti orang Jerman bekerjanya santai. Baru beberapa hari di sini saya menemukan suasana itu. Suasana serba terencana, serba cepat, serba serius pada jam kerja. Langkah-langkah cepat dan panjang sepanjang lorong laboratorium. Tak ada obrolan kepanjangan ngalor ngidul saat jam kerja, kecuali diskusi masalah kerja. Tak ada pekerjaan sampingan seperti berinternet ria yang tidak berurusan dengan pekerjaan. Ini yang bikin saya tidak enak hati sering-sering chatting sembari kerja. Semuanya serius dengan apa yang harus selesai dan mereka kerjakan hari itu. Sehingga jam 6 sebelum makan malam mereka sudah bisa pulang.

Di Jepang, memang jam kerja seperti unlimited, dan imbasnya pekerjaan malah kadang jadi tidak efisien. Waktu yang panjang kadang tidak benar-benar 100% untuk bekerja. Ketika jam makan malam, profesor yang rumahnya dekat dengan kampus memang biasanya pulang untuk makan malam. Setelah anak-anak mereka tidur, mereka bekerja lagi sampai sesuka mereka.

Ketika di Jepang, saya berpikir orang Jepang itu sangat feodal. Budaya senior dan junior sangat ketat. Apa kata senior itulah yang dikatakan juniornya. Apalagi apa kata Profesor, biasanya kebanyakan harga mati.

Tetapi ternyata di Jerman juga demikian. Profesi profesor di Jerman adalah profesi sakti. Profesor di Jerman ternyata sangat jaim dan tak suka dibantah oleh mahasiswanya. Suasana meeting akademis yang saya kira akan penuh dengan diskusi-diskusi dan argumentasi seru, belum saya temukan. Hanya ada laporan mahasiswa, saran dari profesor, namun tak ada bantahan atau diskusi asyik lainnya Atau apakah presepsi saya tentang Jerman dulu itu tertukar dengan tentang Amerika, ya? Entahlah. Tapi yang jelas ketika profesor yang bicara di meeting, ruangan jadi sangat senyap, bahkan saya jadi tidak enak hati ketika mengeluarkan lap top dari tas karena suara resleting jadi terdengar begitu keras.

Namun, terlepas dari perbedaan style mereka dalam bekerja. Orang-orang di negara maju ini adalah orang-orang yang sangat serius dalam hal mengerjakan apapun yang terbaik secara detail untuk mencapai target.

Advertisements

One Response to “Budaya Kerja, antara Jerman dan Jepang”

  1. […] perbedaan pola kerja lab. antara peneliti di Jepang dan peneliti di Jerman. Silakan klik ke sini untuk membaca tulisan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: