Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Raksasa Ekonomi; Berkah Brain Drain?

Posted by ishelianti on June 20, 2008

Seputar Indonesia (SINDO) Minggu, 8 Oktober 2006

Pengamat ekonomi Goldman Sachs memprediksikan bahwa India akan menjadi negara yang berekonomi kuat ketiga setelah USA dan China di tahun 2025. Sebelum mencapai hal ini, di tahun 2020 India akan menjadi yang nomor satu di dunia sebagai pusat yang memproduksi pengetahuan dan teknologi, demikian optimisme Kepala Dewan Saintifik dan Riset Industri India, Dr Mashelkar, seorang mantan brain drain yang berkomitmen kuat dan berpengaruh pada perkembangan sains dan teknologi di negaranya (Science magazine 2005).

Optimisme yang mungkin sedikit kelewatan dari Dr Mashelkan memang beralasan. Karena revolusi diam-diam selama lima tahun terakhir sedang terjadi di India. Ratusan perusahaan global berbasis teknologi canggih, seperti Motorola, Intel, dan IBM mendirikan pusat riset dan pengembangannya (R&D) di India. Perusahaan General Electric (GE), yang mengembangkan pusat R & Dnya di India dengan 2400 pegawai (sepertiganya adalah reversed brain drain India). Ini menjadikan menjadi pusat litbang GE kedua terbesar di dunia.

Alasan GE memilih India? India memang negara berkembang, tetapi infrastruktur yang ditawarkannya tidaklah kalah hebat dengan negara maju, namun pembiayaan R&D tidaklah sedahsyat negara maju, demikian Jack Welch, CEO legendaris GE mengatakan.

Berlombanya perusahaan global menanamkan investasinya di India terkait erat dengan globalisasi ekonomi yang tentu saja dibarengi dengan globalisasi teknologi. Perusahaan besar dunia tersebut memahami bahwa untuk dapat survive dalam persaingan global mereka tidak dapat bertahan dengan mempertahankan kompetensi intinya dengan litbang internal di negara asalnya sendirian. Harus ada cara lebih cerdas untuk bertahan, yaitu dengan mengembangkan produk dengan cara yang lebih murah, yaitu dengan outsourcing (memesan sebagian komponen produk pada negara lain), atau mendirikan pusat litbang di negara yang memungkinkan penyelenggaraannya dengan jauh lebih murah. India menangkap peluang ini.

Tidak hanya investasi pusat R&D perusahaan global yang tumbuh pesat. Perkembangan sektor swasta made in asli India, khususnya industri yang berbasis teknologi canggih seperti bioteknologi dan teknologi informasi juga tak kalah.

Industri Bioteknologi dan IT

Menurut Mani dalam makalahnya di jurnal Int. J. Technology and Globalisation 2006, industri bioteknologi dan teknologi informasi (IT) adalah penyumbang signifikan dalam peningkatan pendapatan kotor perkapita (GDP) (dan tentu saja peningkatan ekonomi India). Memang, sumbangan industri berbasis teknologi baru ini tidak terlalu menonjol mengurangi angka kemiskinan India yang sekitar 26% itu. Namun Mani mengemukakan dalam makalahnya bahwa peran industri berbasis biotek dan IT berhasil mengurangiketidaksetaraan atau mengurangi gap miskin kaya di India, karena berhasil menciptakan kaum menengah tangguh.

Industri berbasis IT dan bioteknologi paling tidak menyumbang 5% GDP India di tahun 2005, dan diprediksikan akan terus meningkat.

Industri obat-obatan domestik India misalnya, menghasilkan 22% dari seluruh obat generik yang ada di pasaran global. Industri biotek lokal juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Sebagai contoh Shantha Biotech. Perusahaan ini berawal modal kecil, yang memproduksi hasil biotek orisinilnya. Sekarang, paling tidak sepertiga dari vaksin Hepatitis B yang beredar di pasaran domestik India adalah produk dari Shantha.

Dulu, pasaran ini dikuasai oleh vaksin impor yang harganya berlipat, sekarang mereka menjual vaksin hanya sekitar 30 sen USD (atau 3000 rupiah) per dosis. Perusahaan ini pun sekarang bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa US yang berbasis biotek dalam pengembangan dan pemasaran internasional rekombinasi DNA vaksin Hepatitis-B di masa dekat.

India dan Brain Drain

Mengapa perkembangan industri berbasis teknologi baru demikian pesat di India? Mengapa pula reputasi India sangat baik bagi kalangan industri global untuk membuka pusat R&Dnya di India?

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan perkembangan industri berbasis sains dan teknologi yang pesat di India saat ini berhubungan erat dengan sejarah panjang negara ini mengalami brain drain, yaitu fenomena beremmigrasinya SDM yang berketrampilan dan berpengetahuan tinggi dari India ke negara maju, khususnya AS.

Mari kita tengok.

Selama dekade 1990-an adalah masa keemasan bagi para sarjana India yang ingin melakukan brain drain ke Amerika Serikat. Banyak perusahaan di Amerika, khususnya yang bergerak di bidang IT menawarkan green visa (visa menetap permanen) bagi orang pintar IT dari India. Dari 195 000 visa untuk pekerja profesional di Amerika yang dikeluarkan selama dekade 1990-an, 45%nya diberikan pada para brain drain India! Alasannya, reputasi kaum terampil India sangat baik. Sarjana lulusan IT India rata-rata berbakat, fasih berbahasa Inggris, dan tidak banyak menuntut. Tentunya, penawaran visa ini suatu undangan yang menggiurkan bagi orang-orang pintar ini.

Dari sudut pandangan individu, tak ada yang lebih membuat bersemangat bagi orang muda yang pintar, selain mereka dapat berkarya dan mendapat penghargaan dan penghidupan yang layak dari hasil karyanya, hatta di negeri orang.

Prestasi penduduk Amerika asal India ini memang sangat cemerlang. Di tahun 1998, warga negara India di Amerika menguasai 775 perusahaan teknologi informasi dengan omset 3.6 milyar USD (35 trlyun rupiah ) per tahun dan sanggup menyediakan 16 600 lapangan kerja! Karena itu pada saat itu mereka adalah pembayar pajak yang signifikan di AS.

Akan tetapi bagi pemerintah India, saat itu, tentu saja lain persoalan. India adalah negara yang sangat parah mengalami brain drain. Sejak India merdeka dari Inggris tahun 1947, hengkangnya para SDM berskill tinggi dan berpendidikan membuat pemerintahan India sakit kepala.

Menurut laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun 2001, India kehilangan paling tidak 2 milyar US dolar (atau sekitar 18 trilyun rupiah), jika nilai para SDM trampil yang brain drain dikonversi ke dalam hitungan ekonomi!

Selama periode 1998-2001, hanya 27% SDM program doktoral yang kembali ke India setelah menyelesaikan studinya di USA. Berarti sebanyak tiga perempat dari orang-orang pintar itu memilih tetap tinggal di AS dan mencari pekerjaan di sana.

Tabel 1. Penerima gelar doktor dalam sains dan engineering dan persentase tetap tinggal di AS dari beberapa Negara

Kebijakan Pemanfaatan para Diaspora

Pemerintah India memahami bahwa para brain drain adalah aset bangsa yang tidak boleh diabaikan dan disia-siakan. Keberadaan SDM India berketrampilan dan berpendidikan tinggi di negara maju harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan ekonomi, sains dan teknologi negara asal (India) yang selama ini telah menderita karenanya.

Maka pemerintah India mulai proaktif menjalankan kebijakan pemanfaatan para brain drain yang tersebar (diaspora) di seluruh dunia untuk berkontribusi bagi kemajuan India. Alih-alih menghalangi para orang pintarnya brain drain, India malah seolah membiarkan para SDMnya untuk brain drain dan berdiaspora di berbagai negara dengan beragam ketrampilan dan pengalaman yang mungkin lebih sukar mereka peroleh jika berada di negeri sendiri. Namun, mereka ternyata tak hanya diam. Mereka menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat mengubah brain drain menjadi brain gain.

Pertama, India menyusun kebijakan-kebijakan untuk membuat iklim yang kondusif bagi penanaman investasi modal asing. Misalnya, mereka terus mempertinggi kualitas perguruan tinggi dan lembaga riset, mengarahkan lembaga riset untuk menghasilkan riset yang berorientasi industri, mendirikan pusat-pusat teknologi informasi untuk perluasan jaringan, juga terus mempromosikan hal-hal menarik bagi investor: upah SDM trampil yang jauh lebih murah dari negara maju dan populasi manusia yang dapat berbahasa Inggris.

Sehingga diharapkan banyak perusahaan asing yang berbasis teknologi dan riset mau berinvestasi di India, khusunya di investasi pusat R&D. Dengan demikian diharapkan dapat menekan jumlah para brain drain ke negara maju. Mereka akan terserap pada R&D perusahaan asing yang ada di dalam negeri. Pada gilirannya, kondisi yang kondusif untuk riset dan berkarya akan mendorong para diaspora untuk pulang ke negaranya, berkarya dan berinvestasi di negaranya, membesarkan anak-anak mereka di India, dan pada akhirnya membesarkan perekonimian India.

Di samping itu India juga membuat kebijakan-kebijakan yang menarik bagi para brain drain agar menjadi brain gain dan kembali ke negaranya dengan membuat kebijakan yang sinergis antar departemen. Misalnya kementrian yang mengurusi warga India di perantauan ditingkatkan anggarannya 5 kali lipat. Bekerja sama dengan Departemen urusan LN mereka membuat ketetapan akan dua kewarganegaraan, pengakuan atas orang keturunan India, kerja sama riset yang ditujukan untuk para saintis yang bekerja di LN untuk mengajar di universitas dalam negeri, dan lain-lain. Menariknya mereka juga mengurusi usaha diplomatik untuk tetap berhubungan dengan para diaspora, misalnya merayakan pencapaian prestasi gemilang mereka di luar negeri sana.

Kebijakan pemerintah India rupanya bersambut karena menjadi penyelamat yang tepat bagi para brain drain, khususnya di bidang teknologi informasi yang mau tidak mau menjadikan negeri asalnya sebagai tempat berlabuh.

Masa keemasan ekonomi dan kejayaan teknologi informasi mulai memudar di AS sejak tahun 2000. Krisis ekonomi AS menyebabkan banyak perusahaan IT yang bangkrut dan mau tidak mau harus memPHK para staf ahlinya. Berduyunlah arus balik brain drain ke India. Sebagian yang pernah menjadi pengusaha di Silicon Valley. mendirikan perusahaan di Bangalore.

Trend berinvestasi di negara asal juga didukung oleh kondisi bahwa perusahaan besar negara maju cenderung melakukan kebijakan outsourcing dalam mendapatkan software agar dapat lebih kompetitif di era global. Sehingga banyaklah perusahaan IT yang memproduksi software untuk diekspor ke perusaahaan IT di AS.

Misalnya kisah Nagarajan. seorang braindrain alumni Silicon Valley yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran. jika pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu 2.2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

Jadi mungkin tak berlebihan jika perkembangan ekonomi berbasis sains dan teknologi yang pesat di India sekarang ini adalah berkah dari brain drain.

Penulis: Dr. Is Helianti. MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri. BPPT, menyelsaikan S1 hingga Posdoktoral di Jepang.

Advertisements

One Response to “Raksasa Ekonomi; Berkah Brain Drain?”

  1. aditya wahyudi said

    selamat sore, saya salah satu mahasiswa manajemen bisnis yang ingin mengambil skripsi mengenai sumber daya manusia. Saya sangat tertarik mengenai fenomena Brain Brain dan pengoptimalan reversed brain drain bagi peningkatan devisa negara kita, untuk hal ini bolehkah saya meminta sedikit saran maupun referensi buku yang relevan mengenai fenomena ini sebagai bahan rujukan saya. terimakasih sebelumnya…

    regard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: