Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Meneladani sikap memohon maaf ala pejabat Jepang. Mungkinkah?

Posted by ishelianti on March 12, 2008

Sebuah berita luar negeri dari negeri Sakura menampilkan foto PM Jepang, Fukuda, sedang membungkuk dalam-dalam di hadapan pers. Fukuda meminta maaf pada masyarakat Jepang atas ketidakbecusan Pemerintah Jepang dalam mengelola uang pensiun yang diambil dari pajak masyarakat. Peristiwa Fukuda membungkuk memohon maaf adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya, ia telah meminta maaf yang serupa kepada masyarakat yang dipimpinnya karena kantung-kantung darah di Palang Merah Jepang tercemar virus hepatitis sehingga menimbulkan korban di masyarakat.

Ketidakbecusan mengurus dana pensiun dan terkontaminasinya kantung darah dengan virus hepatitis adalah dua buah peristiwa yang merugikan masyarakat Jepang. Namun sebenarnya pangkalnya tidak terjadi di saat pemerintahan Fukuda. Keduanya terkait erat dengan kinerja pemerintah sebelumnya. Tetapi, toh, Fukuda tetap mengekspresikan penyesalan. Memohon maaf sebagai pihak pemerintah yang seharusnya mengayomi masyarakat dengan kinerja dan kebijakannya. Bukan berkelit bahwa itu telah terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya, dan dia hanya menerima getahnya.

Kejadian meminta maaf dari politisi atau birokrat tinggi pemerintah di Jepang bukan hal yang aneh. Koizumi, PM sebelum Abe, pun dulu pernah membungkuk dalam-dalam sebagai simbol permintaan maaf pada sebagaian masyarakat, khususnya pada para warga Jepang lanjut usia mantan penderita kusta. Para lansia penderita kusta itu telah dirugikan secara sosial, moral, dan ekonomi, karena kebijakan pemerintah Jepang sejak paska Perang Dunia II . Kebijakan yang mengisolasi para penderita kusta secara fisik, psikologis, dan sosial dari masyarakatnya di suatu daerah tertentu, yang nyata jelas bertentangan dengan HAM. Maaf koizumi dibarengi dengan kebijakan pemerintahnya untuk memulihkan nama baik, aspek sosial, dan moril para mantan penderita kusta dengan berbagai konpensasi.

Lagi. Apakah Koizumi saat itu meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan pemerintah saat ia memerintah? Tidak! Kesalahan kebijakan itu telah terjadi sejak paska perang, dan pemerintahan di bawah Koizumi baru sempat mengoreksinya!

Lalu, tahukah anda mengapa PM Mori mendapat mosi tidak percaya dari parlemen sehingga dia harus mengundurkan diri sebagai PM? Sebab yang paling signifikan ternyata adalah sikap ketidak pedulian dan tidak simpatiknya dengan nasib beberapa warga Jepang. Dia tetap melanjutkan bermain golf, meski telah dikabari bahwa kapal angkutan laut Jepang ditabrak oleh kapal selam AS sehingga 9 warga Jepang tewas dalam insiden tersebut.

Ketika beberapa politisi anggota parlemen terbukti menerima suap dan atau terlibat skandal politik lainnya, dengan wajah penuh penyesalan mereka membungkuk dalam-dalam di hadapan kamera dan mengundurkan diri. Begitu pula para pejabat publik ketika ternyata kinerjanya kacau, sehingga terjadi kebocoran radiasi nuklir PLTN atau kecelakaan kereta lisrik yang menyebabkan banyak nyawa manusia melayang. Maka jajaran puncak bagai berlomba membungkuk dan dengan legowo mengundurkan diri dari jabatannya.

Apa yang bisa diambil pelajaran?

Sebagai politisi ataupun pejabat yang sekarang memegang kekuasaan dalam pemerintah, rasa tanggung jawablah yang membuat mereka membungkuk memohon maaf atas kesalahan kepada rakyat yang dilayaninya. Permohonan maaf dan penyesalan, kadang dalam bentuk ekstrem seperti mengundurkan diri dari jabatan atau bahkan bunuh diri.

Secara partisipasi politik masyarakat Jepang umumnya minim, karena rata-rata jumlah mereka yang memilih dalam pemilihan kepala daerah atau legislatif tak sampai 50% dari jumlah yang berhak memilih. Namun demikian masyarakat Jepang pada umumnya masyarakat yang sangat kritis terhadap kinerja pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat. Mereka memahami, politisi yang kemudian memegang tampuk kekuasaan pada dasarnya harus mampu melayani dan berempati dengan kesusahan masyarakat. Tak peduli kesalahan berpangkal pada rezim siapa, tetapi ketika kesalahan itu tak dibenahi, maka rezim masa kini pun dituntut minta maaf. Yang tak peduli dan tak bersimpati terhadap kesusahan rakyat, harus bersiap untuk didongkel.

Lalu mari menoleh ke Indonesia. Terlepas dari berbedanya kultur masyarakat Jepang dan Indonesia, tetapi esensi dari tugas politisi yang menjadi legislatif ataupun pejabat yang memimpin di pemerintah pusat maupun daerah adalah sama. Yaitu mengayomi dan melayani masyarakatnya. Ketika mereka melakukan kesalahan kebijakan atau tak mampu mengoreksi kesalahan kebijakan masa lampau, mereka seharusnya meminta maaf dan mengkompensasinya dengan kinerja.

Sungguh, rasanya saya ingin membaca berita: “Pemerintah meminta maaf karena sampai saat ini belum mampu menangani korban lumpur lapindo secara lebih baik, atau belum mampu menangani korupsi yang memenuhi rasa keadilan.” Saya sungguh ingin melihat di layar TV atau dengan terharu membaca di head line berita di koran lokal bahwa Pemerintah DKI Jakarta memohon maaf atas kebijakan separator bus waynya dan belum bisa memperbaiki jalan-jalan yang telah merenggut beberapa nyawa, atau kebijakannya memberi ijin bisnis properti perumahan elit di pantai Jakarta bagian utara dengan mengorbankan habitat bakau sehingga menyebabkan kampung warga yang berdekatan pantai dibanjiri air laut.

Alih-alih mengatakan. “Ini sepenuhnya bukan tanggung jawab pemerintah. Ini warisan pemerintah lalu. Ini adalah karena curah hujan yang tinggi. Ini adalah karena ketidakdisiplinan pengemudi atau pengendara motor. Ini adalah karena pemanasan global yang menyebabkan pasangnya permukaan laut.”

Karena meminta maaf atas kesalahan, yang para pemimpin seharusnya mampu mengoreksi kesalahan itu, saya pikir akan sedikit mengobati luka hati orang-orang kecil, walaupun tak sampai menyembuhkannya. Meminta maaf mungkin bisa memberi rasa nyaman dan terayomi, bahwa para pemimpin selalu menyadari tanggung jawab mereka dan tidak melupakan mereka. Meminta maaf juga cermin ekspresi kesungguhan dan kesadaran bahwa mereka harus lebih bekerja keras karena masih banyak yang harus dibenahi. Mungkinkah dan kapankah?

Penulis: Is Helianti, peneliti dan pernah bermukim di Jepang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: