Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Apa kabar Indonesia? (refleksi setahun setelah pulang dari Jepang)

Posted by ishelianti on March 12, 2008

Apa kabar Indonesia? Dulu, pertanyaan ini kerap saya lontarkan kepada rekan-rekan yang baru saja pulang berlibur ke tanah air. Atau, ketika kesibukan studi dan riset membuat saya tak sempat membuka-buka surat kabar lewat internet.

Kini, setelah hampir satu tahun menghirup kembali udara tanah air, hidup bersama debu-debunya, berpanas-panas dan berkeringat di bawah terik mataharinya, pertanyaan kekangenan itu seperti berganti dengan kekhawatiran. Ada apa lagi Indonesia?

Ada apa lagi Indonesia? Indonesia, khususnya Jakarta, memang masih panas. Terakhir ini, kekeringan melanda beberapa daerah, sehingga untuk merebus makananan pun penduduk tidak sanggup. Air tidak dapat diperoleh! Sumur kering, sungai kering, dan tak ada uang untuk membeli air mineral galon. Yang kering ternyata bukan hanya tenggorokan, tetapi juga sawah-sawah, yang terpaksa harus dipuso. Gagal panen! Padahal baru beberapa waktu yang lalu petani harus menjual harga gabahnya di bawah harga standard. Mereka harus menjual hasil panen sangat jauh lebih murah dari usaha, tenaga, dan waktu yang telah mereka curahkan. Kini, mereka dibayang-bayangi oleh (lagi) kemelaratan akibat puso. Rupanya, hutan-hutan memang hanya milik segelintir orang. Bukan seluruh anak bangsa. Akibatnya, mereka rakus menebang hutan untuk menggendutkan perut-perut, sehingga tak acuh bahwa jika terjadi banjir dan kekeringan anak bangsa lainlah yang langsung merasakan akibatnya.

Ada apa lagi Indonesia? Bom bali masih belum lepas dari ingatan, sekarang bom Marriot membawa ketakutan baru. Seolah, hegemoni adi daya mendapat justifikasi yang sempurna dengan peledakan ini. Padahal di Aceh sana, ledakan granat dan letusan senjata, terjadi hampir tiap hari. Belasan perempuan harus menjadi janda dan anak-anak harus menjadi yatim. Ditambah, traumatik karena ayah mereka yang diduga GAM atau Pai (aparat) diculik ketika sedang di rumah bersama mereka. Di manakah rasa aman?

Entahlah!
Tukang ojek di Depok pun harus waswas karena motor mereka yang belum lunas kredit menjadi incaran para perampok.

Ada apa lagi Indonesia? Tahun ajaran baru menyisakan begitu banyak ketidakpuasan. SD dan SMP yang konon wajib belajar dan gratis menurut konsep, ternyata berani pasang uang pendaftaran jutaan. Ibu-ibu di angkot mengeluh, darimana dapat uang sebesar itu dalam waktu instant? Kata mereka. Yang merasa susah bukan hanya mereka yang kepala keluarganya harus dirumahkan. Tetapi yang bekerja namun berpenghasilan pas-pasan pun turut resah. Belum lagi biaya PTN yang sekarang nyaris sama dengan swasta.

Sungguh, susah menumbuhkan rasa optimis, bahwa semua keadaan ini akan membaik dengan salah satu senjata ampuh, yaitu pendidikan. Padahal saya adalah orang yang sangat percaya, bahwa pendidikan bisa merubah kondisi centang perenang yang terus berlangsung sekarang. Pendidikan adalah salah satu jalan “terjal” bagi kaum bawah untuk merubah nasibnya. Tetapi jalan itu nampaknya sekarang hampir diblokir buat mereka. Tak lagi terjal namun masih mungkin didaki, melainkan hampir ditutup rapat buat orang-orang tak berduit.

Ada apa lagi Indonesia? Kemiskinan makin terasakan di mana-mana. Selama perjalanan naik Patas Depok-Kalibata, saya bisa menikmati pengamen lagu, puisi, dan kencring-kencring si Upik atau Buyung. Ditambah panitia pembangunan Mesjid yang meminta amal jariah. Begitu turun terminal dan melewati jembatan penyeberangan untuk membeli susu si kecil di supermarket (karena susunya hanya bisa didapat di tempat seperti ini), langkah saya diikuti oleh kaki-kaki kecil yang berebut meminta uang.

Padahal seharusnya jam-jam seperti itu mereka ada di sekolah, atau bermain-main di pelataran rumah. Saya berdoa mudah-mudahan jembatan ini bukan tempat bermalam mereka setiap hari. Walau, belakangan saya tahu, bahwa Allah menghendaki kenyataan lain bagi doa saya. Anak-anak jalanan ini terlihat jelas dari jalan, jika kita melewati jalan Margonda. Kadang hati saya protes, kemana Pak Badru Kamal dan jajarannya? Kemana aleg-aleg yang pasti melihat para pengemis kecil ini dari mobil dinas mereka? Apalah artinya uang seribu atau lima ratus yang diberikan oleh orang-orang yang lewat? Tak akan menyelesaikan masalah, tak akan dapat menawarkan masa depan yang lebih baik buat kanak-kanak itu. Saya harus berbuat sesuatu! Sayang….Biasanya saya hanya bisa berhenti sampai di sini. Ah, mungkin saya tak lebih dan tak kurang sama dengan mereka yang tak punya empati….

Ada apa lagi Indonesia? Cerita derita nampaknya makin panjang, karena ternyata banyak para pemimpin, orang-orang besar, dan orang-orang-orang kaya yang tak sensitif pada kemelaratan nasional. Banyak uang negara yang dihamburkan hanya untuk beli baju wakil rakyat milyaran rupiah, dan pamer servis mobil mewah untuk para delegasi negara tetangga di pertemuan multinegara internasional. Artis kaya menghamburkan ratusan juta untuk pesta ulang tahun semalaman. Bagaimana bisa sensitif? Setiap hari mereka tinggal di rumah nyaman, pergi ke tempat kerja yang nyaman, lalu pulang kembali tidur di kasur empuk yang nyaman. Tak ada cerita kemiskinan di sekitar, tak ada keluhan penderitaan karena tak bisa berobat -hatta ke puskesmas. Cuma terdengar sayup-sayup atau terlihat samar-samar dari balik kaca gelap mobil bermerek mahal.

Ya, Allah…Jangan-jangan, saya pun termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak sensitif ini…?

Ada apa lagi Indonesia? Di sela-sela cerita kemiskinan, kepapaan, dan ketakberdayaan banyak anak bangsa, saya masih bisa mendengar cerita Bapak tukang becak asal Cianjur yang dengan gembira bercerita bisa mengirim uang kepada anak istrinya. Jika sedang laku dia bisa dapat 50.000 rupiah sehari. Atau, cerita Slamet tukang sayur langganan, yang bisa untung lumayan dan menyekolahkan semua anak-anaknya di Brebes sana. Paling tidak, ada orang-orang kecil yang tetap bisa menikmati rizki yang lumayan untuk kehidupan mereka. Buat saya, cerita kecil mereka cukup melipur larakarena terlalu seringnya mendengar dan melihat kemelaratan dan ketidakberdayaan di sekitar.

Ada apa lagi Indonesia? Di tengah hingar-bingar tontonan TV yang makin tak mengindahkan hak azasi kanak-kanak saya masih bisa membaca berita anak-anak yang berprestasi. Mereka kreatif, mereka cerdas. Paling tidak, mereka menjadi cercah harapan perjalanan panjang bangsa ini. Saya juga masih mendapatkan ucapan terima kasih dari anak tetangga yang sangat nakal, sehabis dia membaca buku di taman bacaan di rumah. Saya lega, anak yang nakal pun, ternyata masih tahu berterima kasih.

Ada apa lagi Indonesia? Kekhawatiran atas masa depan tanah yang saya cintai ini memang selalu meriak. Tetapi, ketika saya menemukan mata bening itu, tawa lucu itu, saya lantas optimis lagi. Bangsa ini masih punya masa depan yang berarti! Saya tanam harapan itu pada pemilik mata bening dan tawa lucu itu. Dan saya yakin, di tempat lain orang tua lain juga menanamkan harapan yang sama pada anak-anak mereka. Jika keadaan ini tak berubah pada generasi sekarang, saya benar-benar berharap, generasi si kecil dapat mengubahnya. Mudah-mudahan Allah bisa membimbing kami mempersiapkan bekal yang cukup baginya, agar dia punya kekuatan jauh melebihi orang tuanya. Semoga pula, Allah tetap menghidupkan nurani kami, di terpaan kondisi yang kadang membikin tumpul kepekaan hati. Ya Allah, ijinkanlah…..

(Satu tahun aniversary hidup kembali di tanah air, 2003)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: