Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?

Posted by ishelianti on November 14, 2007

Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?Sumber: Berita IPTEK Kamis, 07 April 2005, 09:42:24 WibOleh Is Helianti

Setiap tahun di bulan Maret, bertambahlah Doktor lulusan Jepang asal Indonesia. Ini dikarenakan kalender akademik Jepang diawali di bulanApril, dan diakhiri di bulan Maret. Mahasiswa Indonesia menempatiposisi yang cukup besar di Jepang setelah China dan Korea. Hampirselalu terjadi pergulatan batin dan diskusi yang panjang bagi paradoktor baru asal Indonesia. Bertahan di Jepang kah? Atau langsungpulang ke tanah air? Kira-kira demikian yang terjadi jika selesai program doktoral, mereka ditawari kesempatan yang lebih luas, Postdoktoral atau bekerja di perusahaan.

Sebenarnya, jawaban bagi sebagian mereka tidaklah rumit. Jika adakesempatan untuk belajar lebih banyak, mengapa tidak? Tetapi, tidakdemikian bagi banyak kalangan yang melihatnya dari kaca mata investasidan balas jasa kepada negara. Bekerjanya para doktor di LN iniotomatis menjadi “brain drain” yang merugikan negara.

Kebanyakanmereka disekolahkan dengan uang negara (yang berasal dari pajak rakyat), lalu mengapa tidak mau pulang secepatnya dan berbakti padarakyat?

Brain drain; fenomena lebih senangnya para intelektual berkiprah dinegara-negara maju adalah fenomena klasik. Betapa banyak dosen dan peneliti yang capai-capai disekolahkan pemerintah, lebih asik bekerjadi negara tetangga atau negara tempat mereka pernah bersekolah. Bahwa,l ebih senangnya kaum cerdas ini di LN adalah masalah pendapatan dan penghargaan yang tak sebanding dengan yang mereka terima jika merekadi LN.

Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan beberapa fakta ilmiah yang telah dikaji sehingga dapat memberi suatu pandangan lain, tentangbrain drain. Bahwa, brain drain bisa jadi merupakan suatu asset.

Sejarah Brain Drain

Fenomena brain drain dimulai ketika banyaknya SDM-SDM trampil dari Eropa seperti Inggris, Jerman, juga Kanada memasuki Amerika dan menjadikan Amerika sebagai dream land pasca perang dunia II. Seiringdengan melajunya kedigdayaan Amerika, maka immigrant yang memasukiAmerika di tahun 1980-an adalah para SDM trampil dan ahli dari Asiaseperti China, Taiwan, India, dan Korea Selatan.

Tahun 1990-an, ketikaHabibie memulai mengirimkan para remaja potensial lulusan SMA ke LN,”brain drainer” dari Indonesia pun melonjak. Tahun 1990-an USmengalami masa keemasan ekonomi. Gaji tinggi dan berbagai insentifseperti Green Card ditawarkan bagi SDM-SDM immigrant yang ahli danberprestasi yang dapat berkontribusi besar bagi kemajuan negeri Paman Sam ini. Tentu ini juga berlaku bagi para mahasiswa Indonesia di sana. Ketika krisis multidimensional mulai meledak di tahun 1998-an, banyakmahasiswa yang sudah lulus sekolah lebih bertahan memilih di LN,daripada kembali ke Indonesia yang belum jelas menjanjikan apapun untuk masa depan mereka.

Sebenarnya, bukan hanya Indonesia saja yang menderita brain drain.Fenomena banyaknya orang pandai yang lebih senang di negara maju ketimbang di negaranya sendiri (yang termasuk negara berkembang)bukanlah fenomena yang aneh. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), secarakhusus bahkan melakukan kajian tentang efek brain drain terhadap negara berkembang. Dalam konferensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan tahun 1996 disebutkan , paling tidak benua Afrika kehilangan 60 000 orang tenaga trampilnya antara tahun 1985-1990. Jikadikonversikan ke dalam nilai mata uang adalah sekitar sebesar $ 184000 setiap orang. Atau dalam kurun lima tahun itu Benua Afrikamenderita kerugian hampir 12 milyar USD.

Di tahun 1980-an, Amerika sebagai negara penerima brain drain terbesar diuntungkan sekitar 20 000 dolar per tahun untuk satu orang tenagatrampil hasil brain drainnya.

Tetapi, pandangan bahwa brain drain melulu sesuatu yang merugikan danm enggerogoti negara berkembang, akhir-akhir ini banyak dibantah oleh para ahli. Antara lain Prof Dr Saxenian dalam banyak makalahnya,megatakan bahwa pada dasarnya brain drain tidak lah abadi. Tetapi, dia hanya suatu siklus saja di dalam fenomena globalisasi yang dinamakan brain circulation. Semua brain drain berpotensi besar menjadi reverse brain drain yang memberi keuntungan pada negara pengirim. Contohnyaadalah kasus India dan Taiwan.

Reverse Brain Drain, Belajar dari Taiwan dan India

Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka mengalami braindrain, sekaligus betapa suksesnya mereka menggaet para braindrainernya untuk kembali atau berkontribusi positif terhadapnegaranya. Tahun 1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya Indonesia saatini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang yang hanya bisa menyuplai banyak tenaga kerja murah bagi negara maju. Hubungan dengan negara-negara maju dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia sekarang. Bukan berdiri sama tinggi ataupun duduk sama rendah.

Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas atau intelektual Taiwan bersekolah lalu bekerja di Negara maju, seperti Amerika Serikat.Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah kebijakan yang membuat iklim ekonomi dan pengembangan Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah Pemerintah Taiwan mendekati para brain drainer yang berdiam di LN dan sudah banyak mempunyai modal. Mereka di harapkan dapat berkontribusi modal untuk pembangunan negaranya.

Pendekatan simpatik dari pemerintah bersambut. Para warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain. Para SDM unggul ini, tidak hanya menyumbangkan modalnya, bahkan pikiran dan karyanyapada negaranya.Contohnya, Miin Wu, “braindrainer” yang lulus PhD dari Stanford tahun1976. Lalu dia bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikanperusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satuperusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300juta/tahun dan menyerap 2 800 tenaga kerja. Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang Taiwan tidaklah menjadi negara yang takut kehilangan orang-orang pintarnya.Sebagaimana dilaporkan dalam Financial Development tahun 1999, hanyakurang dari 10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di tahun 1990 yangtetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau, hampir sebagian besarmereka kembali ke negaranya. Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakuisebagai negara yang leading dalam bidang ekonomi dan teknologi informasinya. Semua berkat reversed brain drain!

Langkah Taiwan, nampaknya sedang diikuti oleh India saat ini. India juga merupakan negara yang sangat menderita karena brain drain. Menurut data, di tahun 1996 kurang dari 25 % warga negara India yangkembali ke negaranya setelah selesai PhD di Amerika tahun 1990-1991. Berarti pada tahun tersebut, sebagian besar orang-orang terpilih inimemilih tetap tinggal di AS.Prestasi penduduk Amerika asal India di dream land tersebut memangtidak main-main. Tahun 1970-1990-an SDM India dengan kualitas tinggibrain drain ke USA. Di tahun 1998 profesional asal India menguasai 775perusahaan teknologi di Silicon Valley dengan omset $3.6 milyar danpenyediaan 16 600 lapangan kerja!

Akan tetapi, ternyata trend brain drain ini mulai berubah sejak akhirtahun 1999. Sejak awal tahun 2000 sampai kini diperkirakan, terjadi reversed brain drain besar-besaran ke India. Sekitar 35 000 warganegara India kembali ke negaranya, baik untuk tinggal permanen ataupun sementara.Kembalinya WN India ke negaranya, sebenarnya tak lepas dari kondisiperekonomian di US sendiri, yang sejak tahun 1999 tidak sekondusifsebelumnya. Kondisi resesi di US, menyebabkan banyak perusahaan yang menutup perusahaanya dan mem-PHK para tenaga ahlinya. Kesempatanbekerja dan iming-iming insentif bagi para orang cerdas ini tidaklah segemerlap sebelumnya.

Amerikapun mulai menerapkan kebijakanoutsourcing, khususnya dalam bidang teknologi informasi sepertipenyediaan software. Mereka memesan ke negara-negara seperti Taiwan dan India yang dipandang punya kemampuan karena lebih murah secara biaya. Para WN India yang telah mengenyam pendidikan dan pengalaman berprofesi dan berbisnis menangkap peluang ini. Maka, mereka berlomba pulang ke negaranya, dan menjadi jembatan penghubung antara paratenaga trampil yang menetap di India dan jaringan pasar di LN denganmenjadi pengusaha ataupun konsultan di negaranya.

Misalnya kisah Nagarajan, seorang “braindrainer” alumni Silicon Valleyyang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologiinformasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannyamempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran, jikapemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiranindustri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akanmendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akanmampu menyediakan 2,2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

Beberapaintelektual India dengan bangganya menunjukkan beberapa WN Inggrisyang saat ini brain drain ke perusahaan India, karena perusahaantersebut mampu membayar ahli dari Inggris tersebut lebih daripada Inggris sendiri!

Bagaimana dengan Indonesia?

Warga negara Indonesia yang mendapat kesempatan bersekolah di LN dengan beasiswa atau berkiprah di sana pada dasarnya adalah SDM terpilih sehingga merupakan asset bangsa. Keunggulan merekalah yangmenyebabkan mereka juga mendapat peluang untuk lebih lama di LN dengan tawaran penelitian lanjutan atau bekerja di perusahaan di sana. Jadi potensi yang ada ini, rasanya sangat sayang jika diabaikan, hanyakarena mereka “disertir”, “pembelot”, dan sebagainya. Seharusnyalah pemerintah memanfaatkan asset bangsa yang terserak di negeri orangini, seperti yang telah dilakukan India dan Taiwan. Karena mereka potensial memberi keuntungan sebagai r eversed brain drain danmenjadi jembatan penghubung dengan jaringan internasional.

Pendekatanyang bijak tentu harus dilakukan.Pada dasarnya, mereka yang memilih untuk tetap tinggal di LN, bekerjadan berkiprah di sana tak perlu dipertanyakan rasa nasionalismenya.Indonesia, sebagai tanah air dan kecintaan tentulah tak semudah itudilupakan. Banyak yang tetap tinggal di LN merasakan kehadirannya diluar negeri, lebih dapat berkontribusi ke tanah air, tinimbang merekaberada di Indonesia.

Mereka giat melakukan kegiatan pengumpulanbeasiswa untuk anak-anak tak mampu. Bagi mereka yang telah bekerja diuniveristas sebagai peneliti ataupun pengajar maka jaringaninternasional dibidang penelitian dan Iptek tentu menjadi lebihterbuka. Kesempatan beasiswa atau lowongan program doctoral misalnya,menjadi lebih mudah diakses lewat keberadaan mereka.

Pengalaman bekerja secara professional tentunya jauh lebih baikketimbang “cuma” pengalaman belajar formal yang mereka bawa jikamereka pulang ke tanah air. Setidaknya mereka punya kemampuan know howsecara manajerial dan institusional yang lebih praktis dan dalam. Jikamereka mapan dengan posisi mereka di LN, maka para peneliti,professional, atau pebisnis yang mapan ini tentulah dapat menjadi linkantara komunitas yang sama atau produser lokal di tanah air denganmasyarakat internasional.

Beberapa saran bagi pemerintah yang mungkin bisa dilakukan dalammengatasi fenomena brain drain ini. Bagi mereka yang PNS, diberikebebasan untuk memilih.Tetap bekerja di LN tanpa batas waktu tetapiharus mengundurkan diri dengan hormat. Uang pengembalian beasiswa ataudenda proses PTUN dikelola untuk kepentingan masyarakat secaratransparan dan akuntabel. Atau, diberikan jangka waktu terbatas untukberada di LN. Bisa juga mereka dibebaskan PTUN dengan syarat wajibsecara hukum kembali ke Indonesia suatu saat kelak, dan wajib menjadipenghubung pengembangan ekonomi, industri, dan iptek.

Selain itu, harus diciptakan kondisi yang kondusif, sehingga para lulusan luar negeri ini dapat berkiprah optimal dan sepenuh hati ditanah air. Negara tetangga kita, Malaysia misalnya, tidak takutkehilangan para orang unggulnya yang sekolah di tanah orang. Dengansendirinya, tanpa dipaksa, rata-rata mereka kembali ke Malaysia untukmembaktikan dirinya pada masyarakat tanah airnya. Ini dikarenakan,Malaysia menciptakan iklim yang nyaman bagi para tenaga trampil danahli, baik di penelitian, perguruan tinggi maupun bidang professionallainnya. Mereka mendapat penghargaan yang layak sesuai pendidikan,keahlian, dan prestasi kerja mereka.

Pemerintah Thailand sampai membuat program khusus untuk menarik paratenaga ahlinya di LN untuk balik ke Thailand lewat proyek “ReverseBrain Drain”. Proyek ini dilakukan oleh National Scientific andTecnology Agency of Thailand. Mereka membuka pendaftaran untuk paratenaga trampil/ahli di LN untuk mengisi lowongan pekerjaan bergengsidi Thailand dengan imbalan yang dua kali lipat daripada tenaga kerjadomestik. Walaupun, banyak memperoleh kritikan, khususnya dari paraalumni dalam negeri, karena masalah diskriminatif gaji. Akan tetapi,semangat gebrakan kebijakannya mungkin patut dicontoh.

Yang terakhir, namun tak kalah penting, adalah kiprah para intelektualkita di dalam negeri sendiri. Para brain drain India yang menjadi reversed brain drain sangat tergugah dan terinspirasi olehrekan-rekannya yang memilih hidup dan bekerja keras di tanah air.Mereka merasa harus bisa berkontribusi yang sepadan dengan para rekandi tanah air bagi kemajuan bangsa, walaupun mereka di LN sekalipun.Inilah sumber kekuatan mereka untuk membangun Iptek, khususnyaindustri teknologi informasi India saat ini.

Dr. Is Helianti, MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT. Alumni Universitas Jepang

Advertisements

4 Responses to “Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?”

  1. Ass. bu…
    gimana kabar Rahmat? Gak nyangka ketemu di dunia maya. Berat euy buat dibaca….

  2. gak berat kok utk dibaca, dibanding artikel ilmiah lainnya yg pernah saya baca tentunya:) bagus artikelnya, bisa jadi pencerahan.salam kenal

  3. ishelianti said

    terima kasih mbak ratna atas kunjungannya..:-)
    salam kenal kembali…

  4. […] 2005. Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset. https://ishelianti.wordpress.com/2007/11/14/brain-drain-dari-cibiran-menjadi-aset/ (diakses 20 September […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: