Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Berkaca pada (Bioteknologi )Thailand

Posted by ishelianti on March 1, 2014

Thailand boleh mengalami kerentanan politik. Penguasanya diguncang ketidak kepercayaan dan isu klasik negara berkembang (KKN). Masih banyak demo anti  pemerintah  yang bahkan mengakibatkan korban jiwa.  Begitu juga kondisi  rendahnya penghargaan terhadap pendidikan, jomplangnya daerah kaya dan miskin, adalah pemandangan sehari-hari, begitu kata kawan Thailand semasa sekolah di Jepang. Mirip-miriplah dengan kita.

Tetapi, begitu Anda masuk ke kawasan Biotech (National Center for Genetic Engineering and Biotechnology) -yang merupakan salah satu anggota National Science and Technology Development Agency (NSTDA) di bawah kementrian sains dan teknologi Thailand- kita benar-benar berada di sebuah institusi penelitian negara maju. Di banyak dinding atau pintu lab mereka tertera tangan mengepal dengan tulisan seperti ini: “Fight for Science”.  Menunjukkan filosofi mereka, bahwa mereka bukan sekedar bekerja, tetapi berjuang. Dengan melihat sekilas, kita tahu gedung lab mereka dibangun tidak dengan asal-asalan. Alat-alat mereka jauh di atas standar negara berkembang. Bahkan yang dari negara maju pun mengatakan lab mereka adalah “the most generous lab in the world”.

Wifi temporer dengan penggunaan terkontrol dengan user dan password ada di mana-mana.  Para stafnya fasih berbahasa Inggris. Antar lab saling terkoordinasi secara baik. Hasil publikasinya jangan ditanya. Mereka tanpa banyak bicara mempunyai ratusan publikasi internasional. Ketika, melihat mereka presentasi di konferensi, terlihat penelitian mereka berakar dari fondasi yang kuat dan akumulasi dari penelitian bertahun-tahun. Bukan penelitian parsial atau pun baru dikerjakan beberapa bulan.

Jelas iri. Tentu iri yang positif. Iri yang  mengundang semangat agar bisa juga maju untuk melebihi mereka. Kita sama-sama negara berkembang, dan dalam banyak hal seperti tertulis di atas, menghadapi masalah yang mirip. Kalau mau menambah “pede” agar semangat, bahkan potensi kita lebih besar. Penduduk kita lebih dari 240 juta. Keanekaragaman hayati kita jauh lebih beragam.  Sementara Thailand hanya berpenduduk 60 juta. Keanekaragaman hayati mereka secara kasar kasat mata di bawah kita, tetapi karena eksplorasi mereka secara saintifik lebih maju, terlihat mereka lebih unggul.

Hanya…Kita memang kurang serius. Bukan berarti di tanah air tidak ada peneliti atau penggiat Iptek yang serius. Tentu banyak. Tetapi bisa apakah kumpulan peneliti atau penggiat Iptek yang serius itu berbuat, jika tanpa didukung kebijakan dan politik yang mendukung sains dan teknologi? Pemerintah Thailand sepertinya sangat menyadari, sebagai negara yang masih dominan agraris dan mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, bioteknologi akan berperan besar di masa depan untuk meningkatkan daya saing mereka. Mereka ingin, setidaknya menjadi leader bioteknologi di Asia. Kesadaran dan semangat mereka tertuang jelas dalam kebijakan.

Dari dukungan pemerintah saja, misalnya. Thailand mengalokasikan 0.25% dari GDPnya untuk riset (sekitar 13 trilyun); sedangkan Indonesia hanya 0.08% saja dari GDP (sekitar 10 trilyun). Dan tahun ini mereka berjuang agar dana riset bisa meningkat sampai 1%. Para pimpinan “Biotech” Thailand menyadari, banyak orang-orang muda yang baru selesai bersekolah di LN pulang ke Thailand dengan kapabilitas yang baik yang harus dibuat betah di dunia penelitian yang produktif. Salah satunya adalah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mereka, sehingga mereka bisa fokus dan menghasilkan penelitian yang diakui internasional. Jika mereka tekun dan dapat menjadi peneliti senior dengan dedikatif di atas lima tahun, mereka punya penghasilan yang sangat lumayan. Itu yang terbaca dengan jelas melalui  presentasi mereka yang di atas rata-rata saat konferensi.

Jika bicara cita-cita, tentu kita harus menggantungkannya setinggi langit. Cita-cita kita mestinya bukan Thailand. Cita-cita kita mestinya negara maju. Tetapi, untuk tempat berkaca, Thailand bisa jadi cermin yang tepat.

 

 

 

Advertisements

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Kami dan Rahmat

Posted by ishelianti on November 20, 2013

 

 

Siapa yang tidak mau punya anak berprestasi hebat dan juara kelas? Pasti sebagian besar kita orang tua berharap seperti itu. Ketika Rahmat mulai bersekolah pun demikian. Harapan saya melambung, ingin dia juara kelas, seperti kami, bapak dan ibunya ketika kecil (maaf, teman, tidak bermaksud menyombong).

Kami merasa sejak kecil adalah orang-orang yang tekun dalam belajar dan gigih. Saya selalu terobsesi jadi juara sejak SD. Ingin menjadi juara itu seperti kompensasi karena sebenarnya pada aspek-aspek tertentu saya merasa rendah diri. Berprestasi akademis menyebabkan saya percaya diri, dan aspek yang bikin minder itu tertutup karenanya. Dari SD kelas 4 saya mulai senang belajar dan selalu mencari cara bagaimana saya menemukan cara belajar yang jitu, mengingat lebih banyak, mengerti lebih cepat. Sebisa mungkin, saya selalu ingin unggul di segala pelajaran. Walau, harus diakui, saya kedodoran di praktek olahraga dan ketrampilan (karena ini berhubungan erat dengan faktor genetis..:-D), tetapi toh saya unggul di teori, karena saya rajin belajar.

Di SMA saya selalu tertantang untuk memecahkan soal-soal apapun, dari Matematika, Kimia, sampai Fisika.  Saya selalu tampak terdepan dalam memahami pelajaran, bukan karena saya jenius, tetapi semata-mata karena saya belajar sendiri lebih dahulu. Penguasaan saya di bidang pelajaran ini juga membuat saya sudah menjadi guru les privat sejak SMP, yang bisa menambah uang saku dan uang beli buku. Tapi, preferensi saya mulai mengerucut, saya malas belajar PSPB, PMP, Geografi, dan Agama (Islam). Bagi saya pelajaran-pelajaran ini sama sekali tidak menantang dan menyebalkan. Saya sering bolos membaca di perpustakaan ketika pelajaran ini berlangsung (tapi, percaya atau tidak banyak teman-teman dahulu yang tidak percaya saya sering membolos. Yah, saya memang terlanjur dianggap anak teladan, rajin menabung, dan tidak sombong…:-D).

 

Suami saya juga demikian. Ibu mertua saya sering bercerita, betapa pengawas ruangan harus membujuk Mahfudz kecil agar segera keluar ruangan, karena Mahfudz kecil adalah satu-satunya anak yang masih bolak-balik mengecek jawaban soalnya, padahal sehari-harinya selalu mendapat nilai sempurna. Jadi tidak berlebihan bukan harapan kami? Apalagi saya tahu Rahmat cerdas, cepat menangkap, dan kemampuan logikanya tinggi. Kalau dia mau, menghafal apapun akan sangat mudah. Tetapi seiring tahun demi tahum, sepertinya saya harus meredefinisi yang namanya prestasi. Rahmat amat jarang menjadi sepuluh besar. Dia teramat cuek dengan tetek bengek belajar. Bahkan sejak kelas 3 saya dipusingkan dengan tulisannya yang sangat aduhai dan susah dibaca. Tapi dia kadang memberi kejutan. Saya sama sekali tidak menyangka dia terpilih ikut olimpiade matematika, tapi dia ternyata terpilih dua kali untuk itu. Walau tidak menang, tapi paling tidak saya tahu dia tidak tertinggal dalam pelajaran matematika. Rahmat memang kurang tertarik untuk belajar mata pelajaran di sekolah. Tetapi ketika dia ingin tahu sesuatu, dia akan berusaha untuk mendapatkan jawabannya. Kami selalu mendapat pengetahuan-pengetahuannya yang spesifik dari Rahmat, dari nomor lokomotif kereta, model-model truk merek Scania yang spesifik, detil lampu mobil berbagai merek, riwayat pabrik karoseri, cara memodifikasi game Euro Truck Simulator, jalan-jalan di London yang dia lalui ketika main game, cara memodifikasi lego, dan lain-lain.  

 

Kami merenung, sebenarnya yang penting itu jadi juaranya, atau dia jadi bertanggung jawab dengan belajarnya? Yang penting itu nilai-nilai yang didapatkannya atau dia jadi faham dan belajar sesuatu darinya? Mana yang lebih baik, Rahmat enjoy sekolah dengan gayanya yang sangat my pace tapi faham pelajaran walaupun nilainya standar, atau dia menjadi pribadi yang terlalu tegang dan mudah stress karena selalu berpikir harus paling unggul? Akhirnya saya memilih untuk mengarahkan Rahmat sesuai dengan ketertarikannya, menanamkannya untuk bertanggung jawab belajar, tanpa memaksanya pintar dan unggul di semua bidang.  Ketika kami menengok ke belakang, memang bukan juara kelas yang membuat kami bisa menjadi manusia dewasa seperti sekarang. Tetapi daya juang untuk selalu terus belajar dalam hiduplah yang menopang kami dapat tinggal belajar serta mandiri di negeri orang dengan beasiswa, lalu memulai hidup di tanah air dengan segala keterbatasan. Itulah yang harus kami tanamkan padanya, walaupun Rahmat menjadi demikian tidak dengan gaya dan cara yang harus sama. Karena kami mengerti pada akhirnya, Rahmat memang anak kami, tetapi dia bukan kami. Kami bertanggung jawab untuk mengarahkannya hingga potensi yang ada padanya bisa terwujud optimal, bukan memaksanya untuk menjadi seperti kami di waktu dahulu.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Catatan Kehidupan: Jangan pernah remehkan mereka

Posted by ishelianti on May 20, 2012

Ketika hendak memilih maskapai penerbangan sebelum berangkat, teman-teman kantor memberi saran. Sebaiknya jangan memilih emirates, apalagi aku berangkat sendirian dan memakai jilbab pula. Alasannya, maskapai ini bertujuan Dubai (sebagai tempat transit) ini kerap mengangkut TKW yang bekerja sebagai tenaga kasar dan PRT di negara minyak. Dan tahu sendirilah, perlakuan para oknum bandara, hatta orang maskapai terhadap para TKW. Memang ada beberapa cerita pengalaman menyebalkan dan tidak nyaman berkaitan dengan menjelang boarding ke suatu negara minyak apalagi jika kita memakai jilbab. Bisa jadi para petugas pukul rata, semua yang berjilbab TKW, dan layak diperlakukan tidak sopan.

 

Namun dari semua travel biro yang aku tanyakan semua menjawab seragam. Emirates menawarkan harga yang relatif paling murah saat itu. Aku cukup bimbang. Namun, akhirnya, karena kami tak punya tabungan cukup banyak untuk membeli tiket Lufthansa atau KLM (biaya tiket akan direimburse setelah aku tiba di Jerman), aku putuskan untuk memakai Emirates. Toh, aku memakai service paspor, dan toh juga aku memang ”TKW”, walaupun bidang pekerjaanku berbeda dengan para TKW tersebut. Jadi, so what gitu lho..?

 

Alhamdulillah, tak ada hambatan bearti baik saat check in maupun saat boarding. Di ruang boarding belasan wanita berjilbab bergerombol di salah satu ruangan, dengan wajah-wajah mereka yang lugu. Aku yang datang di barisan belakang memilih duduk sesuai dengan zona ruang yang tertera di boarding pass di dekat seorang ibu yang berpenampilan educated, bersih, dan wangi. Melihat aku duduk di sampingnya, entah kenapa, Ibu yang necis itu mendadak pergi dan pindah ke kursi lain. Aku agak heran. Mungkin dia pikir aku juga seorang TKW yang memang kadang-kadang sangat talkactive dan norak pada orang yang baru dikenalnya. Hmmm…Mungkinkah aku juga akan bersikap seperti ibu itu karena tidak nyaman jika berada sekelompok dengan para TKW itu..? Mungkin iya, karena pada awalnya aku juga enggan disamakan dengan TKW sehingga cukup ambil pusing dengan masalah airlines.

 

Lalu aku di sini. Di sebuah negara dengan bahasa yang benar asing dan lingkungan yang sama sekali baru. Beberapa hari aku masih sedikit jet lag, terbangun di jam 12 malam atau jam 2 pagi dan sangat mengantuk di siang menjelang sore. Ketika terbangun tengah malam, di gelap malam, kesepian besar menghantamku. Aku kangen anakku, kangen suamiki. Di tanah air, ketika aku terbangun, mereka selalu ada di dekatku. Namun saat ini..? Kalau aku tidak segera mengambil air wudhu, shalat, lalu membaca Al Quran, mungkin esok harinya aku sudah berkemas memajukan jadwal tiket untuk pulang.

 

Di saat itulah aku teringat mereka, wanita-wanita lugu para TKW itu. Ooh, tentu mereka mengalami kesepian yang sama denganku. Dihantam kerinduan nan dalam pada anak dan suami. Mengalami kebisuan karena mereka tidak bisa bicara bahasa setempat, harus menjadi buta huruf karena mereka tidak bisa membaca bahasa asing. Mereka mungkin juga tergopoh-gopoh dan heboh sepertiku. Di tengah lingkungan baru yang sama sekali asing dan harus menjalin relasi baru dengan orang-orang asing yang berbeda laku dan budaya.

 

Aku cukup beruntung, para kolega Jerman helpful dan ramah. Aku dapat memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan mereka. Kerinduanku pada keuarga segera sirna di siang hari ketika bekerja, dan menikmati bahwa dunia riset dan sains adalah universal, dan siapapun bisa asyik berbicara tanpa batas budaya dan negara di dalamnya. Aku masih bisa bercakap dengan anak dan suamiku dengan SMS, telpon, YM, dan webcam yang dapat mengobati kerinduan.

 

Sedangkan mereka? Bisa jadi majikan mereka tak mau tahu, bahwa mereka perlu beberapa waktu untuk beradaptasi, sehingga langsung mendapat cap bodoh tak bisa bekerja, lalu dicampakkan begitu saja. Atau ada yang mendapatkan perlakuan-perlakuan yang nista yang sering kita dengar di surat kabar.

 

Aah, aku jadi malu pernah meremehkan mereka. Dari banyak aspek mereka jauh-jauh lebih kuat, tangguh, dan hebat. Meninggalkan anak dan suami yang mereka cintai dan akan selalu mereka kangeni. Karena mereka mungkin hanya punya sedikit akses pada alat komunikasi. Bisa jadi kangen mereka sudah berbongkah-bongkah di hati, namun mereka bertahan dan berjuang di suatu negeri asing untuk suatu level kehidupan yang sebenarnya kerap kita -orang yang cukup- tak mensyukurinya. Mereka adalah wanita dan ibu perkasa, tanpa pernah membusungkan dada. Mereka adalah pejuang dan pahlawan tanpa merasa bahwa mereka boleh berbangga untuk itu. Dari itu, jangan pernah remehkan mereka.

(Muenster Oct 2008)

Posted in Uncategorized | Tagged: | Leave a Comment »

Catatan kehidupan: Seorang ibu dari Johannesburg

Posted by ishelianti on May 20, 2012

 

 

Rambut pirangnya telah tipis dan memutih, tubuh tuanya yang gemuk  ditopang oleh kakinya yang berjalan agak lambat, kulitnya telah keriput dan terpapar oleh banyak komedo usia ketuaan. Mungkin sebaya ibuku, atau bisa jadi lebih. Saat ruang boarding di Bandara Dubai masih kosong, dia adalah sosok pertama yang mengangguk tersenyum padaku.

Ternyata sosok tua ini luar biasa. Dia telah menempuh perjalanan jauh dari Johannesburg di Selatan Afrika menuju Belanda. Dengan bahasa Inggris yang amat lambat dia bercerita. Anaknya yang tinggal di Belanda sangat menanti dan membutuhkan kehadirannya. Keletihannya menempuh belasan jam perjalanan dengan ongkos puluhan juta tak sebanding dengan kebahagiaan anak perempuannya yang tengah berharap kedatangannya. Kukira dia akan bercerita tentang cucu perempuannya juga, atau kegesitan anaknya yang menjadi wanita karir di Belanda. Ternyata….Dengan mata berkaca, dia bercerita. Anak perempuannya yang ternyata sebaya denganku, menderita sakit kanker usus besar. Beberapa hari lalu, baru saja dioperasi dengan memberi lubang  diperutnya, agar sisa makanan hasil pencernaan dapat dikeluarkan tanpa melalui usus besar.

 

Aku tercekat dan tak dapat mengeluarkan kata-kata. Mungkin kecemasan dan keperihan hatinya mendorongnya untuk berbagi derita denganku, orang asing yang baru saja ditemuinya di Bandara negeri asing. Ah, betapa…Aku hanya berkata padanya untuk terus berdoa. Karena doalah yang dapat menenangkan kecemasan dan kegundahan dan bahkan memberikan keajaiban. Dan, aku katakan padanya, yang pasti putrinya akan sangat bahagia dengan kehadirannya dan akan merasa lebih baik… Buat seorang ibu, aku tahu, kebahagian darah dagingnya walaupun dia harus bersusahpayah untuk itu, adalah kebanggaannya! Dan tak ada yang dapat melebihi keperihan hati seorang ibu selain melihat penderitaan anak yang dilahirkannya!

(Dubai, Oct 2 2008)

Posted in mutiara kehidupan | Leave a Comment »

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

Posted by ishelianti on September 23, 2011

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

 

Berita di internet, radio, dan televisi akhir-akhir ini membuat saya sangat prihatin. Prihatin karena berita tersebut berisi kekerasan (yang bikin semangat negatif) dan juga karena ini mengenai almamater SMA tempat saya menimba ilmu dan menikmati masa remaja selama 3 tahun di dalamnya.

Mudah-mudahan kenangan pribadi ini bisa untuk berbagi, bahwa sekolah ini tak berbeda dengan sekolah lainnya di tanah air…Walau terkesan “menyeramkan” karena pemberitaan akhir-akhir ini…

Tahun 1980-an SMA 6 terkenal sebagai SMA borjuis. Artis-artis populer ataupun foto model cantik, ganteng, keren, bersekolah di situ. Anak para pejabat bersekolah di situ. Anak-anak menengah atas, bahkan anak orang terkaya di Indonesia bersekolah di situ. Mungkin sisi glamour seperti ini yang lebih terkenal saat itu, mengenggelamkan sisi lainnya, bahwa sekolah ini juga mempunyai anak-anak didik yang sangat berpotensi untuk berprestasi.

Saya termasuk yang “nervous” memasuki sekolah ini pada mulanya. Bagaimana tidak. Saya berasal dari SMP bukan favorit, yang jauh dari terkenal dan tidak terbiasa dengan semuanya di atas. Selagi SMP saya biasa berjalan kaki ke sekolah. Bukan karena dekat, tetapi karena itulah satu-satunya akses termurah menuju ke sekolah. Tapi saat itu sebagai ABG, saya yakin, sekolah ini akan memberi saya pengajaran dan lingkungan belajar yang terbaik. Sehingga saya akan bisa menjadi lebih pintar.

Harapan saya terbukti. Teman-teman saya ketika itu pintar-pintar sekali. Beberapa dari mereka sudah saya “kenal muka” sejak SD karena sering bertemu di berbagai kompetisi. Banyak yang pintar bahasa Inggris seperti para “native speaker”. Mereka mengobrol dalam bahasa Inggris, sehingga ketika saya di dekat mereka serasa berada di Washington..:-D Banyak yang piawai dalam berdiskusi dan berdebat. Mengurai pendapat mereka dengan cerdas dan runtut sambil merefer kepada buku-buku yang mereka baca. Wah…buat saya ini pengalaman yang mengesankan. Seolah menemukan lingkungan belajar yang menantang, yang membuat saya mempunyai motivasi internal untuk berprestasi secara akademis.

Guru-guru di dalamnya, sama seperti guru-guru di sekolah lain. Mereka tidaklah lebih makmur ataupun sejahtera daripada rekan-rekan mereka di sekolah lain. Mereka sebagian besar sama seperti sosok pahlawan tanpa tanda jasa di sekolah lainnya. “Low profile” dan sederhana. Tentu guru yang menyebalkan ada. Dan itu pasti ada di manapun, di seluruh sekolah di Indonesia. Tapi tak ada yang mengajarkan pada kami semua bahwa: tawuran itu baik, bersikap tidak sopan itu baik, kekerasan itu baik. Kami diajarkan nilai-nilai kebaikan sama seperti di sekolah lainnya. Dan saya percaya, sampai saat ini, detik ini, saat berita heboh ini masih memanas, para guru pun tak ada yang mengajarkan murid-muridnya hal yang ngawur.

Kalau tawuran, sebenarnya di masa itu (dan bahkan di masa sekarang!) bukan hak ekslusif SMA 6. Kala itu tawuran antar STM juga hal yang “lumrah”. Bahkan kadang lebih “seram”, karena mereka kan lumrah saja membawa obeng dan alat-alat mesin lainnya. Dan, tak ada satupun guru kami yang membiarkan tawuran, mentoleransinya, apalagi mendukungnya. Namun, para pahlawan tanpa tanda jasa itu, berbeda dengan orang di “luar pagar”, mereka bertahun bergaul dengan para ABG yang masih berproses mencari jati diri. Mengerti yang namanya “tarik ulur” dalam mendidik ABG (yang kadang memang memang rumit dan menyebalkan). Karena itu, kadang terlihat sebagian mereka mungkin “tak tegas” dalam mengeksekusi.

Kini, dua puluh dua tahun sejak kami menanggalkan seragam putih abu-abu, mengarungi kehidupan lebih luas dan lebih berwarna, para alumni masih sering bertemu. Di dunia maya dan di dunia nyata. Walau saya bukan “aktivis” reuni tapi saya bangga pada teman-teman.  Dulu, sama seperti saya, mereka adalah remaja yang mencari, kadang sotoy, kadang tidak sopan, dan menyebalkan. Kini, mereka sebagian besar adalah orang-orang yang berhasil. Dokter spesialis jenis apapun dapat ditemui. Profesional bergelar master ataupun doktor dapat dengan mudah dicari. Pengusaha sukses apalagi. Di balik sikap mereka yang kalau ketemu seperti berhura-hura, tapi kepedulian sosial dan solidaritas yang tinggi ada di sana. Mereka proaktif membantu teman yang susah dalam menjalani kehidupan. Membantu para guru yang sakit dan memerlukan biaya. Pokoknya untuk membantu orang, mereka akan bergembira, sama seperti mereka bergembira ketika makan-makan.

Solidaritas dan kepedulian pada sekolah, mungkin lahir karena rasa terima kasih mereka pada SMA ini, pada para pahlawan tanpa tanda jasa, dan kawan-kawan sepermainan dan seangkatan. Yang telah memberi 3 tahun sekeping pelajaran tidak hanya akademis tetapi juga pelajaran kehidupan, sebagaimana saya juga merasakannya.

 

*****

Buat teman-teman alumni SMA 6 Jakarta: sumbangsih kita pada kebaikan untuk masyarakat adalah cermin rasa syukur kita pada Tuhan dan rasa terima kasih kita pada SMA ini

Buat adik-adik angkatan yang tepatnya mungkin anak-anakku: perlihatkan pada dunia, bahwa tawuran bukanlah brand SMA 6.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Perempuan, Sains, dan Teknologi

Posted by ishelianti on May 28, 2011

Dari obrolan teman-teman ada data yang mengatakan bahwa CPNS BPPT -yang mayoritas harusnya jadi research engineer itu- sebagian besar adalah perempuan. Kalau mengambil sampel di unit kerja saya saja misalnya, memang benar pegawai baru yang masuk semua perempuan. Konon dari obrolan, memang yang ikut tes juga mayoritas perempuan. Where are the boys going? Entahlah….

Saya ingat, perusahaan kosmetika kecantikan L’Oreal mempunyai program fellowship untuk “woman in science”. Suatu bentuk riset grant yang dipoles demikian rupa agar prestisius –padahal besaran dana biasa saja- yang ditujukan untuk mendukung para peneliti wanita yang terpilih dari belasan finalis. Alasan L’Oreal, katanya saat ini jumlah wanita yang berkecimpung di sains dan teknologi masih sangat sedikit. Fenomena tersebut, masih menurut L’Oreal, bukan hanya di Perancis, tetapi di Eropa keseluruhan, Amerika, dan negara maju lainnya.

Tetapi, ketika saya melongok ke unit kerja saya. Jujur saja, yang aktif sebagian besar wanita lho…Makanya bagi saya ketika bekerja di tanah air, saya tidak sensitive gender. Karena di keliling saya, mayoritas perempuan. Kami bebas berdiskusi dan ngotot ketika rapat dengan kolega maupun atasan laki-laki. Bahkan kadang lebih galak dan bawel daripada para bapak. Tak ada rasa kami tak mendapat kesempatan yang sama.

Saya dari dulu tidak pernah percaya, bahwa kapasitas intelektual perempuan inferior daripada lelaki. Namun, ketika di Jepang, di univeristas saya (JAIST), PhD student yang perempuan adalah makhuk langka. Waktu itu, satu angkatan, hanya saya yang perempuan, orang asing pula. Jadi kemana-mana single fighter..:-D Tapi memang begitulah di Jepang. Lebih sulit menemukan perempuan Jepang yang susah payah belajar untuk meraih PhD atau yang berprofesi professor di Jepang daripada di tanah air. Mungkin kalau di sisi itu, perempuan Indonesia selangkah lebih maju ya?

Lain lagi di Jerman, di tempat saya berkesempatan untuk pos doc 3 bulan. Lab tempat saya riset dipenuhi oleh Girls’ power. Mayoritas student adalah perempuan. Dan akhir-akhir ini saya membandingkan dengan suasana BPPT. Sepertinya jika bidang yang menyangkut life science, perempuan memang menduduki porsi mayoritas. Begitu pula dengan porsi mahasiswa S1/S2 yang pernah saya bimbing. Dari 9 orang, cuma 3 orang cowok! Tapi, kalau itu berkaitan dengan teknologi informasi, seperti PTIK (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, BPPT), sepertinya mayoritas laki-laki. Kalau melihat fenomena, teman-teman saya yang menonjol ketika SMA, yang cowok memang kebanyakan mengambil teknik elektro atau informasi. Apakah fenomena ini umum ? Wanita lebih banyak berkecimpung di life science, sedangkan laki-laki merambah di bidang selain itu? Saya perlu mengumpulkan data lebih banyak sepertinya…:-D

Kalau alasan kenapa BPPT peminatnya lebih banyak perempuan dan juga yang lebih banyak aktif perempuan mungkinkah berkaitan dengan penghasilan dan kenyamana masa depan? Wanita bukanlah tulang punggung keluarga. Gaji mereka umumnya bukan sumber utama kehidupan rumah tangga. Jadi mereka lebih toleran dengan masalah gaji yang seperti diketahui umum, begitulah..:-D. Ketika bekerja pun, mereka tidak ngoyo cari sampingan atau obyekan. Gaji saja sudah nrimo…Makanya, yang pada ngasong kebanyakan para Bapak, karena merekalah tulang punggung keluarga.Apatah lagi jika memang cuma si Bapak yang mencari nafkah. Ini simpulan dari hasil pengamatan dan analisa saya.

Kembali ke masalah komposisi pegawai baru, menurut saya sebenarnya tak ada beda kapasitas intelektual laki-laki dan perempuan. Seharusnya, walau jumlahnya lebih banyak perempuan, jika diberdayakan secara optimal, tentu akan menghasilkan kinerja yang sama. Karena seharusnya profesionalitas dalam sains dan teknologi bukan terletak pada gender, tetapi pada manusianya.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Antara penelitian pengembangan dan komersialisasi

Posted by ishelianti on February 22, 2011

Bekerja di lembaga penelitian dan pengembangan di negara berkembang seperti Indonesia tidak mudah. Saya tak hendak mengeluh tentang gaji, karena ini terasa memalukan. Yang lebih berat justru tanggapan masyarakat terhadap keberadaan lembaga riset itu sendiri dan kebijakan tentang penelitian dan pengembangan yang ada.
Dalam obrolan santai rapat orang tua dan murid, seorang ibu dari teman anak saya yang seorang guru dengan enteng nyeletuk, ”BPPT kok gak jelas ya Bu manfaatnya…” Hmm..

Walau ibu tadi hanya menyinggung BPPT, tapi saya pikir dia akan memberi komentar yang sama jika dalam obrolan, saya katakan saya bekerja di LIPI atau BATAN misalnya. Buat banyak orang awam, keberadaan lembaga penelitian adalah posisi tak tersentuh ibarat menara gading. Jika di negara maju, sedikit yang mempertanyakan peran dan output dari menara gading ini. Karena dalam kehidupan mereka, peran inovasi dan iptek terasa, tapi tidak demikian di tanah air. Sudah di menara gading, tak terlihat jelas pula apa manfaatnya. Mungkin begitu yang ada di pikiran masyarakat kebanyakan.
Salah satu cara, agar Iptek terasa jelas manfaatnya buat masyarakat adalah dengan menyumbangkan hasil karya litbang kepada masyarakat termasuk industri tentunya, yaitu dengan mengkomersialisasikan hasil penelitian. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya..entah mengapa saya gelisah dengan kondisi sekarang…
Peneliti di Indonesia, saya kira, jarang yang melakukan penelitian an sich. Pasti. Karena kalau cuma penelitian an sich tak akan dapat dana insentif. Rata-rata, bahkan yang di universitas sekalipun, melakukannya dengan tujuan yang jelas ”untuk apa dan berguna untuk masyarakat”. Jarang ada riset dasar yang hanya karena ”ingin tahu” ada apa, bagaimana, dan mengapa. Rasanya itu menjadi ”barang haram” di lembaga riset kita, bahkan di fakultas ilmu murni bukan teknik suatu universitas sekalipun.
Tapi kondisi yang sangat menekan agar hasil karya ini termanfaatkan oleh industri, secepatnya dan seinstan-instannya, kadang menjadi bumerang. Bagi banyak peneliti ini menjadi tekanan dan beban berat. Seolah-olah fakta bahwa hasil karya peneliti hanya jadi sekedar laporan mutlak kesalahan peneliti. Seolah-olah penelitilah yang tak mau tahu urusan masyarakat dan meneliti seenak suasana hatinya. Seolah-olah mereka yang bergaji tak lebih dari PNS lain itu sumber utama kesalahan hasil riset tak termanfaatkan dengan baik.
Banyak orang lupa. Bahwa di tanah air kita, iklim yang baik untuk memproduksi nyaris tak ada. Tak usahlah memakai produk yang merupakan hasil teknologi yang pasti perlu investasi. Bahkan memproduksi sepatu ataupun baju yang konten teknologinya sederhana lalu menjualnya sebagai produk dalam negeri jatuhnya lebih mahal daripada impor dari China. Jadi, bagaimana bisa bersaing? Apatah lagi produk yang memakai paten dalam negeri yang isinya inovasi teknologi, yang notabene hasil investasi waktu, otak, tenaga, dan biaya?
Banyak dari kita yang tak menyadari pula, bahwa tak semua hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti itu harus berujung komersialisasi. Adalah kenyataan, dari yang diteliti dan dikembangkan hanya sedikit yang bisa mencapai komersialisasi. Hatta di negara maju sekalipun! Komersialisasi hasil litbang juga bukan instan seperti Indonesian Idol. Dikarantina lalu bisa jadi bintang. Komersialisasi hasil litbang tentu lebih perlu passion, kesabaran, ketekunan, dan fokus. Bukan hanya 2 tahun bekerja sim salabim ada produk yang OK. Tanpa ketekunan, kesabaran dan passion, cuma produk riset abal-abal yang bisa kita keluarkan.
Tekanan yang besar untuk segera mengkomersialisasikan hasil penelitian dan pengembangan juga membuat sebagian kalangan memandang rendah pada publikasi ilmiah internasional. Seolah-olah tak ada korelasi antara jumlah publikasi internasional suatu bangsa dengan kemajuan Ipteknya. Seolah-olah publikasi ilmiah itu tak memberi kontribusi apapun pada masyarakat. Padahal kemajuan Iptek dan kemahsyuran bangsa bertumpu pada hal ini.
Memang publikasi ilmiah tak memberi dampak kasat mata seperti komersialisasi. Tetapi tak dapat diingkari, publikasi ilmiah adalah bahan baku ilmu pengetahuan dan inovasi selanjutnya. Publikasi ilmiah kalau diumpamakan seperti olahraga. Menjadi pendukung eksistensi suatu bangsa untuk dipandang di dunia internasional.
Tekanan yang besar untuk komersialisasi hasil riset juga membawa kita pada titik ekstrem lain. Kita melupakan ilmu dasar sebagai modal kita menjadi bangsa yang lebih pintar, lebih bijak, dan unik. Misalnya, jika sekarang kita tak peduli pada sumber daya hayati kita yang banyak ribuan species nya pun belum bernama, dengan alasan tak ada dana luang untuk penelitian dasar taksonomi mikroba ataupun tumbuhan, tunggulah sampai orang lain mempelajarinya dan memanfaatkannya.
Tak ada yang salah dengan komersialisasi hasil litbang. Semua mencita-citakannya dan menginginkannya. Tetapi ketika kita bersikap ekstrem bak pendulum, lupa dengan proses karena ingin instan dan tergesa, tunggulah negara kita menjadi tak bernyawa dalam Iptek.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Beriklan dulu ya….?

Posted by ishelianti on February 13, 2011

Lama tidak menulis untuk Blog ini. Ternyata merawat itu lebih sulit ya daripada memulai? Dulu cita-cita saya membuat blog ini, agar saya mendapat pahala amal jariah dari yang saya tuliskan di blog ini. Pahala amal jariah ilmu tentunya. Karena niat saya ingin menulis banyak buku sebenarnya, namun apa daya, waktu belum memungkinkan. Tetapi, ternyata sulit juga untuk bisa teratur menulis hatta di sebuah blog.

Maka, daripada sepi dan melompong, ijinkan saya beriklan ya? Ini bukan buat keperluan pribadi. Tapi masih dalam kerangka diseminasi ilmu pengetahuan dan sharing wawasan teknologi.

Yang pertama,
pada teman-teman yang berkecimpung di bidang Mikrobiologi ataupun bidang lain yang terkait dengannya dan ingin mempublikasikan hasil risetnya, silakan submit ke Microbiology Indonesia (MI):
http://www.permi.or.id/journal/index.php/mionline/
atau mengirim naskah langsung ke microbiology.indonesia@permi.or.id

Tanpa bermaksud narsis (walaupun narsis juga ga papa kali ya…toh beriklan..:-D), MI adalah jurnal resmi terbitan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia yang cukup berwibawa di Indonesia. Diakreditasi A oleh DIKTI 4 kali berturut-turut, mempunyai edisi on line dan print out, dewan editor nasional dan internasional yang handal, dan jaringan reviewer dalam dan luar negeri. Visi kami ingin menjadikan MI jurnal yang disegani paling tidak di ASEAN. Mudah-mudahan..:-D

Yang kedua,
Laboratorium tempat saya bekerja juga mempunyai kegiatan “pelayanan teknologi” berupa pelatihan untuk teman-teman yang ingin lebih mengetahui dan mendalami tentang teknik biologi molekuler, seperti PCR, teknik kloning di E. coli, ataupun teknik kloning di Bacillus. Kami juga melayani jasa identifikasi bakteria dengan teknik biologi molekuler.
Bagi yang minat atau sekedar berdiskusi silakan hubungi saya di ishelianti@webmail.bppt.go.id

Terima kasih…

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Jurnal Internasional, siapa takut? Ketika menjadi Author

Posted by ishelianti on October 27, 2010

 

Berbicara tentang budaya menulis karya ilmiah atau paper di jurnal internasional di kalangan Indonesia terkadang memang membuat sesak dada. Di ASEAN saja, Indonesia tertatih di belakang 3 negara jiran: Singapura, Thailand, dan Malaysia walau sedikit sejajar dengan Filipina, dalam hal publikasi internasional. Bahkan, jika kondisi begini terus, tidak mustahil Vietnam akan menyalip.

Tentu, kita tak mau menjadi pecundang. Perlu usaha kecil namun terus-menerus untk menyadarkan kalangan ilmiah, peneliti, dan akademis untuk mengejar ketertinggalan ini. Juga membuka mata kalangan industri dan pihak terkait yang selama ini nampak “melecehkan” peran publikasi ilmiah. Bahwa peran Iptek dalam pembangunan dapat dilihat dengan parameter karya ilmiah yang diakui internasional yang dihasilkannya. Kita bisa menengok dengan mudah, negara-negara yang maju ekonominya adalah negara yang banyak mengeluarkan publikasi internasional: USA, Jepang, Jerman, dan China. Yang terakhir bahkan jumlah publikasi internasionalnya naik berlipat seiring keyakinan diri menjadi negara raksasa ekonomi baru. Memang, tulisan ilmiah yang diakui secara internasional bagaikan ada di menara gading, sedangkan paten terasa down to earth. Mungkin itu karena kita lupa, sebenarnya karya ilmiah akan menjadi down to earth pada akhirnya , ketika sudah terakumulasi, teruji, dan terkonfirmasi.

 

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi salah satu dari usaha kecil di atas.

 

Dalam proses akumulasi pengetahuan dalam bentuk publikasi ilmiah, Author adalah peran sentral. Karena keberadaan Author yang melakukan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya itulah ilmu pengetahuan terakumulasi, terkonfirmasi, dan teruji, lalu menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh publik. Pengetahuan ini digunakan untuk melakukan inovasi dan pengembangan teknologi, analisa data, juga dikembangkan lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman kita akan suatu objek pengetahuan.

 

Menulis hasil karya ilmiah dari suatu proyek penelitian adalah kewajiban setiap mereka yang mendapatkan dana penelitian dari pihak manapun, apatah lagi negara. Istilahnya publikasi ilmiah adalah akuntabilitas akademisi yang menerima dana. Bahkan ada yang secara ekstrem mengatakan, bahwa kaum ilmiah dan akademisi yang mendapatkan dana penelitian namun tidak melaporkan karya ilmiahnya dalam bentuk publikasi mirip dengan para koruptor. Karena dana itu menjadi tidak jelas larinya dan publik tidak dapat melihat hasil kerjanya.

 

Nah, bagaimana menjadi Author?

 

Seorang Editor Jurnal Internasional mengatakan, bahwa seharusnya semua penelitian bisa diterbitkan sebagai tulisan ilmiah di jurnal. Syaratnya adalah ”Good Science”. Maksudnya, penelitian itu dilakukan dengan prinsip-prinsip sains yang baik dan jujur, ada data yang bisa dipertanggungjawabkan, ada kontrol untuk menetapkan kevalidan data, ada kesimpulan yang bisa dihasilkan. Jadi ketika ditulis, tidak asbun, tidak ngasal. Seratus persen saya sependapat dengan pendapat ini.

 

Dalam ”good science” bisa jadi kebaruan atau novelty menjadi hal yang penting. Banyak dari peneliti Indonesia yang ”ngeper” ketika berbicara kebaruan, termasuk saya dulu. Saya teringat, ketika saya ”ngeper” tersebut, Profesor saya mengatakan: ”Kebaruan itu bertingkat-tingkat. Jika kamu melakukan suatu penelitian tanpa merefer buta 100% karya orang lain, dijamin ada kebaruan dan orisinalitas kamu di dalamnya. Jika setiap orang di dunia ini semua pandai menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tentu akan membuat dunia ilmu pengetahuan kacau balau dan tak akan ada pemenang nobel. Temukanlah dan ekspresikanlah kebaruan penelitianmu, di aspek mana dia berbeda dari yang sudah ada, walupun mungkin hanya menjadi aspek kecil dalam ilmu pengetahuan.” Kalimat yang pada waktu itu terus terang melegakan saya, yang masih sangat naif mengartikan arti kebaruan. Dan membuat saya bisa menulis paper pertama saya di jurnal Applied Microbiology and Biotechnology..:-)

 

Ada juga Profesor lain yang mengatakan, ada dua jalan yang bisa dipilih bagi mereka yang bergelut di dunia penelitian dan iptek. Pertama, bergelut di suatu bidang di mana banyak orang yang sudah lebih dahulu bergelut di dalamnya. Kalau kita memilih ini, keuntungannya adalah akumulasi pengetahuan berupa data sudah banyak, kita bisa meneliti, menyimpulkan penelitian, dan menulis hasilnya relatif lebih mudah. Tetapi, kekurangannya kita sulit mendapat kebaruan yang ”signifikan” menggoncang ilmu pengetahuan, hanya yang memimpin lah yang berhak atas penghargaan menemukan novelty yang dahsyat. Bidang seperti ini contohnya banyak terdapat dalam bioteknologi moderen.

 

Sedangkan yang kedua adalah pilihan untuk menggeluti bidang yang jarang dikerumuni orang. Sebagai konsekwensi dari pilihan ini, data mungkin sangat sulit didapat, apalagi kumpulan data terdahulu untuk perbandingan. Tapi kabar baiknya, data yang didapat walaupun relatif sedikit akan sangat dihargai untuk publikasi internasional.

Mana yang kita pilih, atau tepatnya, sekarang di tempat mana kita berada?

 

Dalam kasus saya. Karena, saya kurang lebih ada di kelompok yang pertama, maka saya harus berbesar hati, bahwa saya harus bisa memilih di jurnal internasional mana karya saya bisa diterbitkan, di jurnal level apakah karya saya bisa diterima? Maka, kita harus pandai memilih jurnal apa yang kita jadikan target.

 

Banyak paper yang ditolak bukan karena paper itu tidak good science. Tetapi karena paper tersebut ”salah alamat”. Banyak paper yang ditolak oleh jurnal berimpact factor tinggi bukan karena tidak punya kebaruan, tetapi karena level kebaruan yang diminta jurnal tersebut levelnya lebih tinggi. Banyak reviewer yang memandang sebelah mata sebuah manuskrip, bukan karena tidak bagus, tetapi karena Author tidak berhasil meyakinkan reviewer di mana letak kebaruan penelitiannya.

 

Itulah kuncinya. Mengenali karakter penelitian kita, memilih jurnal internasional yang mengadopsi bidang kita dalam segi scope maupun level impact factornya, dan mengkomunikasikan kebaruan dengan sejelasnya. Dan tentu saja mempersiapkan manuskrip yang well prepared sehingga mengesankan reviewer. Bahasa Inggris memang rada menakutkan. Tetapi dengan kesadaran bahwa kita bukan native speaker, kita bisa lebih bisa membebaskan diri dari tekanan harus bisa bernarasi sempurna. Sehingga efeknya dapat menulis dengan lebih baik. Rasanya Bahasa Inggris sama saja dengan Bahasa Indonesia. Untuk membuat kalimat yang mudah dimengerti haruslah S-P-O-K dan tak banyak kalimat majemuk. (bersambung)

Posted in Paper, penelitian | 1 Comment »

Science and Technology Made in China

Posted by ishelianti on February 5, 2010

Science and Technology Made in China

Sudah satu bulan perdagangan bebas ASEAN-China dibuka. Efeknya di berbagai bidang mulai dirasakan. Penjualan telepon selular buatan China yang berharga sangat murah namun berteknologi canggih meningkat lebih dari dua kali lipat setiap harinya. Mobil bermerk Eropa namun dibuat di China siap memasuki pasar Indonesia dengan harga jual di bawah mobil merek Jepang yang notabene dibuat di Indonesia. Sebelum kran perdagangan bebas dibuka pun sebenarnya, di  sekitar kita telah dibanjiri produk China. Dari produk yang berharga murah seperti mainan anak dari plastik dan pakaian jadi, sampai produk mahal seperti komputer jinjing.

Ambisi China menjadi leader dalam produk teknologi tidak hanya pada produk-produk teknologi kasat mata yang tersebut di atas. Di dunia ilmu pengetahuan seperti publikasi internasional misalnya, China sangat luar biasa. Pada tahun 1996 China hanya menempati urutan kesembilan dalam memproduksi publikasi ilmiah internasional dengan hanya sekitar 27 ribu publikasi. Akan tetapi pada tahun 2007, rangkingnya melonjak naik menjadi posisi kedua setelah Amerika Serikat, dengan jumlah publikasi sekitar 181 ribu dokumen pada tahun tersebut atau 12% dari publikasi internasional yang ada di seluruh dunia.

Beberapa tahun belakangan ini, para saintis dan komunitas ilmiah China pun sangat aktif menggiatkan pertemuan-pertemuan ilmiah internasional. Mereka berusaha menjadi pemimpin ilmu pengetahuan di Asia dengan mengumpulkan para saintis, akademisi, pebisnis dari berbagai negara di Asia dalam pertemuan ilmiah ini. Paket pertemuan ilmiah ini mereka rangkai satu paket dengan kunjugan ke beberapa daerah wisata yang menjadi high light di China. Sehingga mereka melakukan diseminasi ilmu pengetahuan dan koordinasi dengan para saintis internasional sekaligus promosi pariwisata negaranya.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi China yang luar biasa ini bukan tanpa persoalan. Barang-barang China yang dijual di Indonesia memang terkenal berharga murah. Namun, kualitas dan pelayanan purna jual yang belum berkembang baik, menyebabkan sebagian kalangan berpikir ulang untuk membeli produk China jika ingin mempunyai barang yang awet.

Demikian pula dengan publikasi ilmiah internasional yang dielu-elukan, bukanlah tanpa kekurangan. Tingginya jumlah publikasi ilmiah internasional oleh saintis China tidak diimbangi dengan tingginya indeks sitasi, suatu indikator yang menunjukkan seberapa penting publikasi tersebut menjadi referensi bagi saintis lainnya. Menurut Jurnal Nature, banyak ditemukan publikasi yang berdasarkan riset fiktif ataupun hasil plagiat ataupun manipulasi data yang pernah ada sebelumnya dalam publikasi internasional ilmuwan China. Fenomena ini ditengarai diakibatkan tingginya tekanan untuk menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional yang berkualitas. Tekanan ini berkaitan dengan mudahnya dana penelitian dengan jumlah sangat besar mengucur jika institusi penelitian ataupun universitas atau peneliti mempunyai jejak rekam yang baik dalam penerbitan jurnal internasional.

Dua persoalan yang diangkat di atas bisa jadi hanya merupakan salah satu fase pembelajaran yang baik bagi China. Saat ini, memang kuantitas produk Iptek masih lebih diperhatikan daripada kualitas di China. Tapi beberapa tahun ke depan, China benar-benar akan menjadi pemimpin yang tangguh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kita melihat sejarah Iptek Jepang. Ketika mobil-mobil Jepang pertama kali sampai di pasaran internasional tak sedikit yang meremehkan kualitasnya. Tetapi sekarang, siapa yang tidak kenal Toyota sebagai produsen mobil nomer wahid di dunia?

Perdagangan bebas Asean-China sudah berjalan. Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang ketakutan akan terebutnya pasar domestik dan didikte dalam kepemimpinan Ilmu pengetahuan dan teknologi oleh China. Jika Thailand saja optimis bisa mengekspor produk kulinernya ke China, yang dengan demikian berarti akan merambah dunia. Kenapa Indonesia tidak mencoba pada bidang lainnya? Tidak cukup hanya dengan membeli produk buatan dalam negeri, diperlukan semangat yang lebih dari itu.

Kita dapat belajar secara intens sekarang dari China. Pemerintah China sangat serius mengerahkan seluruh daya upaya, sumber daya alam, penghasilan negaranya bahkan para diasporanya untuk pendidikan dan iptek sebagai mesin penggerak pengembangan ekonomi yang berkesinambungan. Dari tahun 2002, China mengalokasikan anggaran negaranya yang besar pada penelitian dan pengembangan. Tindak tanggung-tangung pada tahun 2002 itu, alokasi China untuk Iptek adalah lebih dari 86 trilyun rupiah, atau no 3 di dunia setelah Amerika dan Jepang.

Namun untuk sedikit menghibur, China belum jadi leader yang sebenarnya dalam Iptek. Meskipun berkembang pesat, jumlah peneliti China baru 633 per satu juta penduduk. Meski pasti sangat jauh dari keadaan Indonesia, China dalam hal ini masih tertinggal dari USA yang mempunyai 4526 peneliti per satu juta penduduk atau Jepang yang jumlah penelitinya 5085 orang per satu juta penduduk. Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Penulis:

Is Helianti

Perekayasa BPPT

Posted in sosial politik | Tagged: | 1 Comment »