Beasiswa untuk semua
Posted by ishelianti on July 29, 2009
Baru-baru ini ada dua berita yang membuat hati saya sedih dan miris. Yang pertama adalah berita tentang tertangkapnya beberapa mahasiswa ITB yang menjadi “jockey” test SPMB. Sedih, karena mereka adalah mahasiswa cemerlang di ITB. Bahkan ada yang pernah menjadi juara olimpiade sains dan matematika ketika di SMA. Disinyalir pula mereka berasal dari keluarga pas-pasan. Kenapa mereka melakukan kriminal di bidang pendidikan hanya untuk mengejar uang puluhan juta? Dimanfaatkan oleh segelintir orang berpunya tak bermoral dengan menggadaikan masa depan?
Berita kedua adalah fenomena banyaknya mahasiswi di Tuban Jawa Timur yang membiayai kuliahnya dengan menjadi istri “siri”. Dinikahi lelaki yang katanya “sah” secara agama, dengan syarat sang “suami” memberi biaya hidup dan kuliah mereka selama mereka menyelesaikan kuliah. Nikah siri menurut mereka untuk menghindari dari perzinahan. Sesudah selesai kuliah mereka bisa “bercerai”. Hmm… Seperti apa para mahasiswi calon ibu generasi bangsa ini memandang perkawinan dan bagaimana definisi mereka tentang perzinahan? Prihatin. Karena mereka yang melakukan ini juga para mahasiswi yang konon berasal dari keluarga tak mampu tapi tetap ingin melanjutkan kuliah. Maunya mereka dimanfaatkan oleh para “lelaki hidung belang” hanya demi lanjut kuliah?
Benang merah dari dua fenomena di atas sudah jelas. Mereka yang melakukannya adalah generasi muda yang tak menghayati nilai-nilai kebenaran universal dan agama. Di manakah ada nilai mulia yang mengedepankan kecurangan dan mendapatkan uang untuk itu? Nilai mulia manakah yang mempersandingkan pernikahan dengan kawin kontrak (yang defacto equal dengan zina) atas nama keinginan melanjutkan kuliah? Rasanya pendidikan agama yang konsisten antara teori dan praktek di rumah dan lingkungan akademis harus lebih dikedepankan.
Dan tak boleh berhenti sampai di situ. Para mahasiswa jockey dan mahasiswi “istri siri” adalah mewakili keadaan masyarakat pas-pasan” kebanyakan. Mereka ingin meraih masa depan dengan kuliah, sementara halangan ekonomi sedikit banyak membuat mereka bersikap “bodoh” yang malah mengorbankan masa depan. Lalu?
Mengapa dari dana pendidikan yang katanya sekarang sudah mendekati 20% itu tidak dianggarkan saja beasiswa untuk para mahasiswa yang berasal dari keluarga pas-pasan ini? Penerima beasiswa tidak harus berprestasi gilang gemilang diembel-embeli miskin baru boleh mendapat beasiswa. Tetapi beasiswa ini untuk seluruh mahasiswa yang mau bertanggung jawab menyelesaikan kuliahnya. Tentu beasiswa ini tidak gratis. Harus dikembalikan dengan mencicil ketika mereka telah mendapatkan pekerjaan. Menurut saya kebijakan ini sangat efektif di tengah biaya kuliah yang makin membumbung dan membuat ”hopeless” para kaum pas-pasan.
Kebijakan seperti ini berlaku di Negara maju Jepang. Hampir semua teman-teman mahasiswa Jepang saya ketika itu mempunyai beasiswa “kredit” dari pemerintah. Ketika mereka bekerja mereka kembalikan mencicil per bulan untuk itu. Mereka tidak selalu menonjol dalam akademis, tetapi paling tidak mereka dituntut untuk belajar dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan kuliah karena mereka punya hutang.
Mudah-mudahan tulisan saya ini dibaca oleh Pak Mendiknas, atau paling tidak calon Pak/Bu Mendiknas, atau paling tidak yang bisa membisiki mereka..:-)). Agar berita-berita sedih seperti di atas makin hilang diterpa angin reformasi yang memberikan kesempatan pendidikan yang setara untuk semua.