Catatan empat tahun menjadi peneliti di BPPT
Malam ini, ketika sedang membereskan berkas-berkas penting mata saya tertumbuk pada sebuah SK. SK CPNS saya 4 tahun lalu, tertanggal 1 Desember 2003. Tidak ada yang istimewa dengan SK tersebut. Semua PNS di instansi pemerintah pasti memilikinya, dan menyimpan dokumen penting tersebut dengan cermat karena sangat ”keramat”. Kenaikan pangkat bisa jadi mandek kalau kita kehilangan SK ini.
Tapi saya tak hendak membicarakan tentang dokumen tersebut. Hanya ketika saya melihat SK ini, benak saya mengajak untuk sekedar tak memandangi kertas tersebut dan menyimpannya baik-baik di map dokumen penting. Rasanya saya ingin berkontemplasi tentang perjalanan menjadi seorang peneliti selama 4 tahun di tanah air. Hmm, mungkin bukan peneliti, karena secara legalitas formal, saya memang belum berhak menyandang profesi itu. Aplikasi peneliti saya masih macet di tengah jalan. Tetapi, terus terang, saya lebih senang menamakan pekerjaan saya peneliti daripada PNS. Mungkin saya terbawa arus pandang masyarakat yang memandang minor pada pekerjaan PNS. Pekerja nyantai bukan pekerja keras, dan layak saja mendapat pendapatan di bawah standar hidup cukup karena tidak profesional. Well, jadi ijinkan saya tetap memakai peneliti. Biar lebih keren sehingga saya lebih bersemangat berkontemplasi J.
Saya teringat, saya begitu bersyukur ketika akhirnya saya dapat diterima menjadi CPNS di BPPT. Wanita, menikah, usia pas 33 tahun dengan satu anak batita mendapat kerja di negeri yang mempunyai angka pengangguran tinggi ini, saya merasa tentu saja patut bersyukur. Banyak yang bilang saya pesimistis dan under estimate dengan kemampuan pribadi. Waktu itu saya sudah doktor lulusan LN hampir 3 tahun sebelumnya, dan pengalaman posdok pun ada. Mengapa merasa begitu tak berdaya dan mau melamar di institusi pemerintah? Dan mengapa pula demikian bersyukurnya hanya karena diterima di LPND seperti BPPT? Namun, ketika itu saya telah merasakan begitu susah mendapat peluang untuk mengaktualisasi diri dengan status tetap dan jelas. Riwayat pendidikan S1 sampai S3 di Jepang tanpa cantolan almamater dalam negeri, walaupun terlihat keren, tetapi ternyata sangat susah untuk menjadi modal mendapatkan pekerjaan akademisi tetap di tanah air. Ada tawaran di institut negeri terkenal Bandung, tetapi akhirnya saya batalkan, karena saya prediksikan tidak akan optimal mengelola dua rumah tangga yang berjauhan (waktu itu belum ada tol Cipularang). Menanyakan peluang menjadi akademisi universitas negeri terkenal di Depok, tetapi jawabannya seragam di setiap jurusan. Kami perlu pengajar qualified tetapi tidak bisa memberi gaji yang pantas. Bisa jadi basa-basi, bisa jadi memang begitu realitanya. Melamar di beberapa PTS, dibilang jurusan yang berkaitan dengan bidang saya sepi mahasiswa dan mungkin sebentar lagi akan ditutup, jadi tak perlu pengajar baru.
Jadilah, saya mengisi waktu saya dengan menjadi dosen tamu di beberapa mata kuliah di sebuah universitas negeri di mana teman sewaktu Jepang menjadi penanggung jawab mata kuliah tersebut. Saya juga berusaha tetap membaca dan menulis, seperti kegiatan yang saya lakukan ketika sekolah di Jepang. Juga menulis buku teks sekolah. Tetapi ada satu hal yang terus saya kangeni. Suasana laboratorium dan eksperimen! Sepertinya, saya bukan tipe orang yang bisa jadi pintar hanya dengan membaca teks book. Saya perlu penghayatan apa yang saya baca di literatur dengan memegang mikropipet dan menguji coba! Karena itu, sangatlah wajar, ketika saya diterima menjadi CPNS BPPT, syukur saya tidak terhingga pada Yang Maha Pendengar dan Pengabul doa.
Kini, tak terasa sudah empat tahun saya menjadi peneliti di BPPT. Pasang surut semangat banyak saya rasakan. Ketika sedang pasang semangat, ini terus menggugah saya untuk terus konsisten menjadi peneliti (berstatus PNS) di negeri ini. Walau gaji yang diterima jauh di bawah jika dibandingkan dengan sewaktu posdok, ataupun honor mengajar empat kali di program ekstensi! Meskipun begitu banyak kenyataan yang kadang membentur nurani.Saya senang dan gembira, ternyata BPPT tak ”semiskin” yang saya kira. Dan saya bisa melakukan penelitian, pekerjaan keren dan kaya manfaat, seperti halnya ketika di Jepang! Peralatan lumayan, bahan kimia yang serba mahal pun tersedia. Tinggal kemauan kerja. Maaf saja. Dulu sebelum pulang saya sempat begitu under estimate dengan kondisi penelitian di tanah air. Tak terbayangkan bahwa LPND Indonesia punya mikropipet dan enzim restriksi! Bahkan pada Sensei, sebelum pamit pulang ke tanah air, saya sempat minta didoakan agar saya tak berkhianat dengan memilih bekerja sebagai penerjemah bahasa Jepang saking hopelessnya. Saya menyenangi pekerjaan ini. Ini dunia saya. Ini sebagian dari hidup saya. Saya belajar banyak di bidang pekerjaan ini dan merasa terus ter update. Saya senang dengan sensasi harap-harap cemas ketika menunggu hasil eksperimen. Satu? Atau Nolkah? Ketika hasil Nol tentu kecewa, tetapi harapan agar eksperimen berhasil tetap ada. Saya menikmati ketika menemukan info baru dari paper dan berdiskusi dengan teman-teman. Saya terlarut dalam proses menulis dan banyak belajar dari kegagalan. Saya putuskan untuk tak peduli gaji. Bukan tidak butuh. Tetapi karena memikirkannya akan mengganggu kenikmatan kerja. Dan berharap dapat terus belajar dan belajar. Kadang, terselip bangga bekerja di institusi yang mempunyai banyak master, doktor, dan APU. Merasa keren pula mempunyai teman-teman yang pandai berbilingual.
Tetapi kebanggan ini kadang menjadi kegalauan yang menyayat, karena ternyata bertambahnya jumlah master dan doktor di tanah air khususnya BPPT tak berbanding lurus dengan meningkatnya kemauan bekerja, membaiknya sistem, meningkatnya pemanfaatan hasil penelitian di masyarakat, juga kesejahteraan. Saya tak hendak diskusi hal kompleks yang serupa lingkaran setan ini di sini. Hanya terkadang, memang realitas menyebalkan seperti sistem, ketidakkonsistenan kebijakan, ketidakjelasan masa depan karir dan lain-lain, membuat semangat saya surut dan bete. Kalau sedang bete, rasanya saya ingin bolos dari kerja selama sebulan. Bermain dengan anak atau menulis novelJ.Tetapi biasanya, sehari tidak kerja saja, saya merasa useless. Kalau sedang bete ingin rasanya saya ambil posdok sepuluh tahun di Jepang sana dan melongok lab ketika pulang kampung sajaJ.
Tidak terasa. Empat tahun. Apa yang sudah saya lakukan dalam pekerjaan ini? Bolak-balik lab, dengan rutinitas robot? Sekedar memenuhi absen dan untuk itu dapat uang makan dan terlihat rajin di mata atasan, dan merasa sudah bekerja? Apakah saya akan tetap dapat bertahan jika ada kondisi yang memaksa saya “mental”? Sejujurnya, saya merasa tidak punya kelebihan apa-apa dalam hal amal sholeh di mata Allah. Karena itu, saya selalu, ingin pekerjaan menjadi penelitilah menjadi amal shaleh yang khas saya di hadapanNya, yang bisa secara signifikan memberatkan timbangan amal ibadah saya di yaumul hisab. Inilah motivasi terdalam saya, dan bahan bakar semangat saya ketika semangat itu hampir padam. Saya ingin, tanpa bermaksud mengatakannya dengan gaya bahasa bersayap. Berbuat yang berarti lewat riset untuk orang-orang yang saya cintai, orang-orang yang saya hormati, untuk tanah air yang di atasnya saya tumbuh besar dan mengerti makna berbakti, juga untuk (penghuni mayoritas negeri ini) orang-orang kecil dan susah yang telah sudi berbagi anggaran dari negara -yang mungkin sebenarnya mereka perlukan untuk meningkatkan kesejahteraan- untuk riset. Saya ingin, ketika anak saya dewasa, saya tetap bangga dan senang dengan pekerjaan saya sebagai peneliti dan membuatnya bangga karena mempunyai seorang ibu seperti saya. Dan pada saat itu, Here I am, dengan isi kontemplasi yang mungkin lebih dalam dan lebih bermanfaat daripada kontemplasi 4 tahun ini.
(Is Helianti, PNS, golongan III/c)