Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

Posted by ishelianti on September 23, 2011

Putih Abu-abu, Dua Puluh Dua Tahun Lalu…

 

Berita di internet, radio, dan televisi akhir-akhir ini membuat saya sangat prihatin. Prihatin karena berita tersebut berisi kekerasan (yang bikin semangat negatif) dan juga karena ini mengenai almamater SMA tempat saya menimba ilmu dan menikmati masa remaja selama 3 tahun di dalamnya.

Mudah-mudahan kenangan pribadi ini bisa untuk berbagi, bahwa sekolah ini tak berbeda dengan sekolah lainnya di tanah air…Walau terkesan “menyeramkan” karena pemberitaan akhir-akhir ini…

Tahun 1980-an SMA 6 terkenal sebagai SMA borjuis. Artis-artis populer ataupun foto model cantik, ganteng, keren, bersekolah di situ. Anak para pejabat bersekolah di situ. Anak-anak menengah atas, bahkan anak orang terkaya di Indonesia bersekolah di situ. Mungkin sisi glamour seperti ini yang lebih terkenal saat itu, mengenggelamkan sisi lainnya, bahwa sekolah ini juga mempunyai anak-anak didik yang sangat berpotensi untuk berprestasi.

Saya termasuk yang “nervous” memasuki sekolah ini pada mulanya. Bagaimana tidak. Saya berasal dari SMP bukan favorit, yang jauh dari terkenal dan tidak terbiasa dengan semuanya di atas. Selagi SMP saya biasa berjalan kaki ke sekolah. Bukan karena dekat, tetapi karena itulah satu-satunya akses termurah menuju ke sekolah. Tapi saat itu sebagai ABG, saya yakin, sekolah ini akan memberi saya pengajaran dan lingkungan belajar yang terbaik. Sehingga saya akan bisa menjadi lebih pintar.

Harapan saya terbukti. Teman-teman saya ketika itu pintar-pintar sekali. Beberapa dari mereka sudah saya “kenal muka” sejak SD karena sering bertemu di berbagai kompetisi. Banyak yang pintar bahasa Inggris seperti para “native speaker”. Mereka mengobrol dalam bahasa Inggris, sehingga ketika saya di dekat mereka serasa berada di Washington..:-D Banyak yang piawai dalam berdiskusi dan berdebat. Mengurai pendapat mereka dengan cerdas dan runtut sambil merefer kepada buku-buku yang mereka baca. Wah…buat saya ini pengalaman yang mengesankan. Seolah menemukan lingkungan belajar yang menantang, yang membuat saya mempunyai motivasi internal untuk berprestasi secara akademis.

Guru-guru di dalamnya, sama seperti guru-guru di sekolah lain. Mereka tidaklah lebih makmur ataupun sejahtera daripada rekan-rekan mereka di sekolah lain. Mereka sebagian besar sama seperti sosok pahlawan tanpa tanda jasa di sekolah lainnya. “Low profile” dan sederhana. Tentu guru yang menyebalkan ada. Dan itu pasti ada di manapun, di seluruh sekolah di Indonesia. Tapi tak ada yang mengajarkan pada kami semua bahwa: tawuran itu baik, bersikap tidak sopan itu baik, kekerasan itu baik. Kami diajarkan nilai-nilai kebaikan sama seperti di sekolah lainnya. Dan saya percaya, sampai saat ini, detik ini, saat berita heboh ini masih memanas, para guru pun tak ada yang mengajarkan murid-muridnya hal yang ngawur.

Kalau tawuran, sebenarnya di masa itu (dan bahkan di masa sekarang!) bukan hak ekslusif SMA 6. Kala itu tawuran antar STM juga hal yang “lumrah”. Bahkan kadang lebih “seram”, karena mereka kan lumrah saja membawa obeng dan alat-alat mesin lainnya. Dan, tak ada satupun guru kami yang membiarkan tawuran, mentoleransinya, apalagi mendukungnya. Namun, para pahlawan tanpa tanda jasa itu, berbeda dengan orang di “luar pagar”, mereka bertahun bergaul dengan para ABG yang masih berproses mencari jati diri. Mengerti yang namanya “tarik ulur” dalam mendidik ABG (yang kadang memang memang rumit dan menyebalkan). Karena itu, kadang terlihat sebagian mereka mungkin “tak tegas” dalam mengeksekusi.

Kini, dua puluh dua tahun sejak kami menanggalkan seragam putih abu-abu, mengarungi kehidupan lebih luas dan lebih berwarna, para alumni masih sering bertemu. Di dunia maya dan di dunia nyata. Walau saya bukan “aktivis” reuni tapi saya bangga pada teman-teman.  Dulu, sama seperti saya, mereka adalah remaja yang mencari, kadang sotoy, kadang tidak sopan, dan menyebalkan. Kini, mereka sebagian besar adalah orang-orang yang berhasil. Dokter spesialis jenis apapun dapat ditemui. Profesional bergelar master ataupun doktor dapat dengan mudah dicari. Pengusaha sukses apalagi. Di balik sikap mereka yang kalau ketemu seperti berhura-hura, tapi kepedulian sosial dan solidaritas yang tinggi ada di sana. Mereka proaktif membantu teman yang susah dalam menjalani kehidupan. Membantu para guru yang sakit dan memerlukan biaya. Pokoknya untuk membantu orang, mereka akan bergembira, sama seperti mereka bergembira ketika makan-makan.

Solidaritas dan kepedulian pada sekolah, mungkin lahir karena rasa terima kasih mereka pada SMA ini, pada para pahlawan tanpa tanda jasa, dan kawan-kawan sepermainan dan seangkatan. Yang telah memberi 3 tahun sekeping pelajaran tidak hanya akademis tetapi juga pelajaran kehidupan, sebagaimana saya juga merasakannya.

 

*****

Buat teman-teman alumni SMA 6 Jakarta: sumbangsih kita pada kebaikan untuk masyarakat adalah cermin rasa syukur kita pada Tuhan dan rasa terima kasih kita pada SMA ini

Buat adik-adik angkatan yang tepatnya mungkin anak-anakku: perlihatkan pada dunia, bahwa tawuran bukanlah brand SMA 6.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Perempuan, Sains, dan Teknologi

Posted by ishelianti on May 28, 2011

Dari obrolan teman-teman ada data yang mengatakan bahwa CPNS BPPT -yang mayoritas harusnya jadi research engineer itu- sebagian besar adalah perempuan. Kalau mengambil sampel di unit kerja saya saja misalnya, memang benar pegawai baru yang masuk semua perempuan. Konon dari obrolan, memang yang ikut tes juga mayoritas perempuan. Where are the boys going? Entahlah….

Saya ingat, perusahaan kosmetika kecantikan L’Oreal mempunyai program fellowship untuk “woman in science”. Suatu bentuk riset grant yang dipoles demikian rupa agar prestisius –padahal besaran dana biasa saja- yang ditujukan untuk mendukung para peneliti wanita yang terpilih dari belasan finalis. Alasan L’Oreal, katanya saat ini jumlah wanita yang berkecimpung di sains dan teknologi masih sangat sedikit. Fenomena tersebut, masih menurut L’Oreal, bukan hanya di Perancis, tetapi di Eropa keseluruhan, Amerika, dan negara maju lainnya.

Tetapi, ketika saya melongok ke unit kerja saya. Jujur saja, yang aktif sebagian besar wanita lho…Makanya bagi saya ketika bekerja di tanah air, saya tidak sensitive gender. Karena di keliling saya, mayoritas perempuan. Kami bebas berdiskusi dan ngotot ketika rapat dengan kolega maupun atasan laki-laki. Bahkan kadang lebih galak dan bawel daripada para bapak. Tak ada rasa kami tak mendapat kesempatan yang sama.

Saya dari dulu tidak pernah percaya, bahwa kapasitas intelektual perempuan inferior daripada lelaki. Namun, ketika di Jepang, di univeristas saya (JAIST), PhD student yang perempuan adalah makhuk langka. Waktu itu, satu angkatan, hanya saya yang perempuan, orang asing pula. Jadi kemana-mana single fighter..:-D Tapi memang begitulah di Jepang. Lebih sulit menemukan perempuan Jepang yang susah payah belajar untuk meraih PhD atau yang berprofesi professor di Jepang daripada di tanah air. Mungkin kalau di sisi itu, perempuan Indonesia selangkah lebih maju ya?

Lain lagi di Jerman, di tempat saya berkesempatan untuk pos doc 3 bulan. Lab tempat saya riset dipenuhi oleh Girls’ power. Mayoritas student adalah perempuan. Dan akhir-akhir ini saya membandingkan dengan suasana BPPT. Sepertinya jika bidang yang menyangkut life science, perempuan memang menduduki porsi mayoritas. Begitu pula dengan porsi mahasiswa S1/S2 yang pernah saya bimbing. Dari 9 orang, cuma 3 orang cowok! Tapi, kalau itu berkaitan dengan teknologi informasi, seperti PTIK (Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, BPPT), sepertinya mayoritas laki-laki. Kalau melihat fenomena, teman-teman saya yang menonjol ketika SMA, yang cowok memang kebanyakan mengambil teknik elektro atau informasi. Apakah fenomena ini umum ? Wanita lebih banyak berkecimpung di life science, sedangkan laki-laki merambah di bidang selain itu? Saya perlu mengumpulkan data lebih banyak sepertinya…:-D

Kalau alasan kenapa BPPT peminatnya lebih banyak perempuan dan juga yang lebih banyak aktif perempuan mungkinkah berkaitan dengan penghasilan dan kenyamana masa depan? Wanita bukanlah tulang punggung keluarga. Gaji mereka umumnya bukan sumber utama kehidupan rumah tangga. Jadi mereka lebih toleran dengan masalah gaji yang seperti diketahui umum, begitulah..:-D. Ketika bekerja pun, mereka tidak ngoyo cari sampingan atau obyekan. Gaji saja sudah nrimo…Makanya, yang pada ngasong kebanyakan para Bapak, karena merekalah tulang punggung keluarga.Apatah lagi jika memang cuma si Bapak yang mencari nafkah. Ini simpulan dari hasil pengamatan dan analisa saya.

Kembali ke masalah komposisi pegawai baru, menurut saya sebenarnya tak ada beda kapasitas intelektual laki-laki dan perempuan. Seharusnya, walau jumlahnya lebih banyak perempuan, jika diberdayakan secara optimal, tentu akan menghasilkan kinerja yang sama. Karena seharusnya profesionalitas dalam sains dan teknologi bukan terletak pada gender, tetapi pada manusianya.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Antara penelitian pengembangan dan komersialisasi

Posted by ishelianti on February 22, 2011

Bekerja di lembaga penelitian dan pengembangan di negara berkembang seperti Indonesia tidak mudah. Saya tak hendak mengeluh tentang gaji, karena ini terasa memalukan. Yang lebih berat justru tanggapan masyarakat terhadap keberadaan lembaga riset itu sendiri dan kebijakan tentang penelitian dan pengembangan yang ada.
Dalam obrolan santai rapat orang tua dan murid, seorang ibu dari teman anak saya yang seorang guru dengan enteng nyeletuk, ”BPPT kok gak jelas ya Bu manfaatnya…” Hmm..

Walau ibu tadi hanya menyinggung BPPT, tapi saya pikir dia akan memberi komentar yang sama jika dalam obrolan, saya katakan saya bekerja di LIPI atau BATAN misalnya. Buat banyak orang awam, keberadaan lembaga penelitian adalah posisi tak tersentuh ibarat menara gading. Jika di negara maju, sedikit yang mempertanyakan peran dan output dari menara gading ini. Karena dalam kehidupan mereka, peran inovasi dan iptek terasa, tapi tidak demikian di tanah air. Sudah di menara gading, tak terlihat jelas pula apa manfaatnya. Mungkin begitu yang ada di pikiran masyarakat kebanyakan.
Salah satu cara, agar Iptek terasa jelas manfaatnya buat masyarakat adalah dengan menyumbangkan hasil karya litbang kepada masyarakat termasuk industri tentunya, yaitu dengan mengkomersialisasikan hasil penelitian. Tidak ada yang salah dengan ini. Hanya..entah mengapa saya gelisah dengan kondisi sekarang…
Peneliti di Indonesia, saya kira, jarang yang melakukan penelitian an sich. Pasti. Karena kalau cuma penelitian an sich tak akan dapat dana insentif. Rata-rata, bahkan yang di universitas sekalipun, melakukannya dengan tujuan yang jelas ”untuk apa dan berguna untuk masyarakat”. Jarang ada riset dasar yang hanya karena ”ingin tahu” ada apa, bagaimana, dan mengapa. Rasanya itu menjadi ”barang haram” di lembaga riset kita, bahkan di fakultas ilmu murni bukan teknik suatu universitas sekalipun.
Tapi kondisi yang sangat menekan agar hasil karya ini termanfaatkan oleh industri, secepatnya dan seinstan-instannya, kadang menjadi bumerang. Bagi banyak peneliti ini menjadi tekanan dan beban berat. Seolah-olah fakta bahwa hasil karya peneliti hanya jadi sekedar laporan mutlak kesalahan peneliti. Seolah-olah penelitilah yang tak mau tahu urusan masyarakat dan meneliti seenak suasana hatinya. Seolah-olah mereka yang bergaji tak lebih dari PNS lain itu sumber utama kesalahan hasil riset tak termanfaatkan dengan baik.
Banyak orang lupa. Bahwa di tanah air kita, iklim yang baik untuk memproduksi nyaris tak ada. Tak usahlah memakai produk yang merupakan hasil teknologi yang pasti perlu investasi. Bahkan memproduksi sepatu ataupun baju yang konten teknologinya sederhana lalu menjualnya sebagai produk dalam negeri jatuhnya lebih mahal daripada impor dari China. Jadi, bagaimana bisa bersaing? Apatah lagi produk yang memakai paten dalam negeri yang isinya inovasi teknologi, yang notabene hasil investasi waktu, otak, tenaga, dan biaya?
Banyak dari kita yang tak menyadari pula, bahwa tak semua hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti itu harus berujung komersialisasi. Adalah kenyataan, dari yang diteliti dan dikembangkan hanya sedikit yang bisa mencapai komersialisasi. Hatta di negara maju sekalipun! Komersialisasi hasil litbang juga bukan instan seperti Indonesian Idol. Dikarantina lalu bisa jadi bintang. Komersialisasi hasil litbang tentu lebih perlu passion, kesabaran, ketekunan, dan fokus. Bukan hanya 2 tahun bekerja sim salabim ada produk yang OK. Tanpa ketekunan, kesabaran dan passion, cuma produk riset abal-abal yang bisa kita keluarkan.
Tekanan yang besar untuk segera mengkomersialisasikan hasil penelitian dan pengembangan juga membuat sebagian kalangan memandang rendah pada publikasi ilmiah internasional. Seolah-olah tak ada korelasi antara jumlah publikasi internasional suatu bangsa dengan kemajuan Ipteknya. Seolah-olah publikasi ilmiah itu tak memberi kontribusi apapun pada masyarakat. Padahal kemajuan Iptek dan kemahsyuran bangsa bertumpu pada hal ini.
Memang publikasi ilmiah tak memberi dampak kasat mata seperti komersialisasi. Tetapi tak dapat diingkari, publikasi ilmiah adalah bahan baku ilmu pengetahuan dan inovasi selanjutnya. Publikasi ilmiah kalau diumpamakan seperti olahraga. Menjadi pendukung eksistensi suatu bangsa untuk dipandang di dunia internasional.
Tekanan yang besar untuk komersialisasi hasil riset juga membawa kita pada titik ekstrem lain. Kita melupakan ilmu dasar sebagai modal kita menjadi bangsa yang lebih pintar, lebih bijak, dan unik. Misalnya, jika sekarang kita tak peduli pada sumber daya hayati kita yang banyak ribuan species nya pun belum bernama, dengan alasan tak ada dana luang untuk penelitian dasar taksonomi mikroba ataupun tumbuhan, tunggulah sampai orang lain mempelajarinya dan memanfaatkannya.
Tak ada yang salah dengan komersialisasi hasil litbang. Semua mencita-citakannya dan menginginkannya. Tetapi ketika kita bersikap ekstrem bak pendulum, lupa dengan proses karena ingin instan dan tergesa, tunggulah negara kita menjadi tak bernyawa dalam Iptek.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Beriklan dulu ya….?

Posted by ishelianti on February 13, 2011

Lama tidak menulis untuk Blog ini. Ternyata merawat itu lebih sulit ya daripada memulai? Dulu cita-cita saya membuat blog ini, agar saya mendapat pahala amal jariah dari yang saya tuliskan di blog ini. Pahala amal jariah ilmu tentunya. Karena niat saya ingin menulis banyak buku sebenarnya, namun apa daya, waktu belum memungkinkan. Tetapi, ternyata sulit juga untuk bisa teratur menulis hatta di sebuah blog.

Maka, daripada sepi dan melompong, ijinkan saya beriklan ya? Ini bukan buat keperluan pribadi. Tapi masih dalam kerangka diseminasi ilmu pengetahuan dan sharing wawasan teknologi.

Yang pertama,
pada teman-teman yang berkecimpung di bidang Mikrobiologi ataupun bidang lain yang terkait dengannya dan ingin mempublikasikan hasil risetnya, silakan submit ke Microbiology Indonesia (MI):

http://www.permi.or.id/journal/index.php/mionline/

atau mengirim naskah langsung ke microbiology.indonesia@permi.or.id

Tanpa bermaksud narsis (walaupun narsis juga ga papa kali ya…toh beriklan..:-D), MI adalah jurnal resmi terbitan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia yang cukup berwibawa di Indonesia. Diakreditasi A oleh DIKTI 4 kali berturut-turut, mempunyai edisi on line dan print out, dewan editor nasional dan internasional yang handal, dan jaringan reviewer dalam dan luar negeri. Visi kami ingin menjadikan MI jurnal yang disegani paling tidak di ASEAN. Mudah-mudahan..:-D

Yang kedua,
Laboratorium tempat saya bekerja juga mempunyai kegiatan “pelayanan teknologi” berupa pelatihan untuk teman-teman yang ingin lebih mengetahui dan mendalami tentang teknik biologi molekuler, seperti PCR, teknik kloning di E. coli, ataupun teknik kloning di Bacillus. Kami juga melayani jasa identifikasi bakteria dengan teknik biologi molekuler.
Bagi yang minat atau sekedar berdiskusi silakan hubungi saya di ishelianti@webmail.bppt.go.id

Terima kasih…

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Jurnal Internasional, siapa takut? Ketika menjadi Author

Posted by ishelianti on October 27, 2010

 

Berbicara tentang budaya menulis karya ilmiah atau paper di jurnal internasional di kalangan Indonesia terkadang memang membuat sesak dada. Di ASEAN saja, Indonesia tertatih di belakang 3 negara jiran: Singapura, Thailand, dan Malaysia walau sedikit sejajar dengan Filipina, dalam hal publikasi internasional. Bahkan, jika kondisi begini terus, tidak mustahil Vietnam akan menyalip.

Tentu, kita tak mau menjadi pecundang. Perlu usaha kecil namun terus-menerus untk menyadarkan kalangan ilmiah, peneliti, dan akademis untuk mengejar ketertinggalan ini. Juga membuka mata kalangan industri dan pihak terkait yang selama ini nampak “melecehkan” peran publikasi ilmiah. Bahwa peran Iptek dalam pembangunan dapat dilihat dengan parameter karya ilmiah yang diakui internasional yang dihasilkannya. Kita bisa menengok dengan mudah, negara-negara yang maju ekonominya adalah negara yang banyak mengeluarkan publikasi internasional: USA, Jepang, Jerman, dan China. Yang terakhir bahkan jumlah publikasi internasionalnya naik berlipat seiring keyakinan diri menjadi negara raksasa ekonomi baru. Memang, tulisan ilmiah yang diakui secara internasional bagaikan ada di menara gading, sedangkan paten terasa down to earth. Mungkin itu karena kita lupa, sebenarnya karya ilmiah akan menjadi down to earth pada akhirnya , ketika sudah terakumulasi, teruji, dan terkonfirmasi.

 

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi salah satu dari usaha kecil di atas.

 

Dalam proses akumulasi pengetahuan dalam bentuk publikasi ilmiah, Author adalah peran sentral. Karena keberadaan Author yang melakukan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya itulah ilmu pengetahuan terakumulasi, terkonfirmasi, dan teruji, lalu menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh publik. Pengetahuan ini digunakan untuk melakukan inovasi dan pengembangan teknologi, analisa data, juga dikembangkan lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman kita akan suatu objek pengetahuan.

 

Menulis hasil karya ilmiah dari suatu proyek penelitian adalah kewajiban setiap mereka yang mendapatkan dana penelitian dari pihak manapun, apatah lagi negara. Istilahnya publikasi ilmiah adalah akuntabilitas akademisi yang menerima dana. Bahkan ada yang secara ekstrem mengatakan, bahwa kaum ilmiah dan akademisi yang mendapatkan dana penelitian namun tidak melaporkan karya ilmiahnya dalam bentuk publikasi mirip dengan para koruptor. Karena dana itu menjadi tidak jelas larinya dan publik tidak dapat melihat hasil kerjanya.

 

Nah, bagaimana menjadi Author?

 

Seorang Editor Jurnal Internasional mengatakan, bahwa seharusnya semua penelitian bisa diterbitkan sebagai tulisan ilmiah di jurnal. Syaratnya adalah ”Good Science”. Maksudnya, penelitian itu dilakukan dengan prinsip-prinsip sains yang baik dan jujur, ada data yang bisa dipertanggungjawabkan, ada kontrol untuk menetapkan kevalidan data, ada kesimpulan yang bisa dihasilkan. Jadi ketika ditulis, tidak asbun, tidak ngasal. Seratus persen saya sependapat dengan pendapat ini.

 

Dalam ”good science” bisa jadi kebaruan atau novelty menjadi hal yang penting. Banyak dari peneliti Indonesia yang ”ngeper” ketika berbicara kebaruan, termasuk saya dulu. Saya teringat, ketika saya ”ngeper” tersebut, Profesor saya mengatakan: ”Kebaruan itu bertingkat-tingkat. Jika kamu melakukan suatu penelitian tanpa merefer buta 100% karya orang lain, dijamin ada kebaruan dan orisinalitas kamu di dalamnya. Jika setiap orang di dunia ini semua pandai menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tentu akan membuat dunia ilmu pengetahuan kacau balau dan tak akan ada pemenang nobel. Temukanlah dan ekspresikanlah kebaruan penelitianmu, di aspek mana dia berbeda dari yang sudah ada, walupun mungkin hanya menjadi aspek kecil dalam ilmu pengetahuan.” Kalimat yang pada waktu itu terus terang melegakan saya, yang masih sangat naif mengartikan arti kebaruan. Dan membuat saya bisa menulis paper pertama saya di jurnal Applied Microbiology and Biotechnology..:-)

 

Ada juga Profesor lain yang mengatakan, ada dua jalan yang bisa dipilih bagi mereka yang bergelut di dunia penelitian dan iptek. Pertama, bergelut di suatu bidang di mana banyak orang yang sudah lebih dahulu bergelut di dalamnya. Kalau kita memilih ini, keuntungannya adalah akumulasi pengetahuan berupa data sudah banyak, kita bisa meneliti, menyimpulkan penelitian, dan menulis hasilnya relatif lebih mudah. Tetapi, kekurangannya kita sulit mendapat kebaruan yang ”signifikan” menggoncang ilmu pengetahuan, hanya yang memimpin lah yang berhak atas penghargaan menemukan novelty yang dahsyat. Bidang seperti ini contohnya banyak terdapat dalam bioteknologi moderen.

 

Sedangkan yang kedua adalah pilihan untuk menggeluti bidang yang jarang dikerumuni orang. Sebagai konsekwensi dari pilihan ini, data mungkin sangat sulit didapat, apalagi kumpulan data terdahulu untuk perbandingan. Tapi kabar baiknya, data yang didapat walaupun relatif sedikit akan sangat dihargai untuk publikasi internasional.

Mana yang kita pilih, atau tepatnya, sekarang di tempat mana kita berada?

 

Dalam kasus saya. Karena, saya kurang lebih ada di kelompok yang pertama, maka saya harus berbesar hati, bahwa saya harus bisa memilih di jurnal internasional mana karya saya bisa diterbitkan, di jurnal level apakah karya saya bisa diterima? Maka, kita harus pandai memilih jurnal apa yang kita jadikan target.

 

Banyak paper yang ditolak bukan karena paper itu tidak good science. Tetapi karena paper tersebut ”salah alamat”. Banyak paper yang ditolak oleh jurnal berimpact factor tinggi bukan karena tidak punya kebaruan, tetapi karena level kebaruan yang diminta jurnal tersebut levelnya lebih tinggi. Banyak reviewer yang memandang sebelah mata sebuah manuskrip, bukan karena tidak bagus, tetapi karena Author tidak berhasil meyakinkan reviewer di mana letak kebaruan penelitiannya.

 

Itulah kuncinya. Mengenali karakter penelitian kita, memilih jurnal internasional yang mengadopsi bidang kita dalam segi scope maupun level impact factornya, dan mengkomunikasikan kebaruan dengan sejelasnya. Dan tentu saja mempersiapkan manuskrip yang well prepared sehingga mengesankan reviewer. Bahasa Inggris memang rada menakutkan. Tetapi dengan kesadaran bahwa kita bukan native speaker, kita bisa lebih bisa membebaskan diri dari tekanan harus bisa bernarasi sempurna. Sehingga efeknya dapat menulis dengan lebih baik. Rasanya Bahasa Inggris sama saja dengan Bahasa Indonesia. Untuk membuat kalimat yang mudah dimengerti haruslah S-P-O-K dan tak banyak kalimat majemuk. (bersambung)

Posted in Paper, penelitian | 1 Comment »

Science and Technology Made in China

Posted by ishelianti on February 5, 2010

Science and Technology Made in China

Sudah satu bulan perdagangan bebas ASEAN-China dibuka. Efeknya di berbagai bidang mulai dirasakan. Penjualan telepon selular buatan China yang berharga sangat murah namun berteknologi canggih meningkat lebih dari dua kali lipat setiap harinya. Mobil bermerk Eropa namun dibuat di China siap memasuki pasar Indonesia dengan harga jual di bawah mobil merek Jepang yang notabene dibuat di Indonesia. Sebelum kran perdagangan bebas dibuka pun sebenarnya, di  sekitar kita telah dibanjiri produk China. Dari produk yang berharga murah seperti mainan anak dari plastik dan pakaian jadi, sampai produk mahal seperti komputer jinjing.

Ambisi China menjadi leader dalam produk teknologi tidak hanya pada produk-produk teknologi kasat mata yang tersebut di atas. Di dunia ilmu pengetahuan seperti publikasi internasional misalnya, China sangat luar biasa. Pada tahun 1996 China hanya menempati urutan kesembilan dalam memproduksi publikasi ilmiah internasional dengan hanya sekitar 27 ribu publikasi. Akan tetapi pada tahun 2007, rangkingnya melonjak naik menjadi posisi kedua setelah Amerika Serikat, dengan jumlah publikasi sekitar 181 ribu dokumen pada tahun tersebut atau 12% dari publikasi internasional yang ada di seluruh dunia.

Beberapa tahun belakangan ini, para saintis dan komunitas ilmiah China pun sangat aktif menggiatkan pertemuan-pertemuan ilmiah internasional. Mereka berusaha menjadi pemimpin ilmu pengetahuan di Asia dengan mengumpulkan para saintis, akademisi, pebisnis dari berbagai negara di Asia dalam pertemuan ilmiah ini. Paket pertemuan ilmiah ini mereka rangkai satu paket dengan kunjugan ke beberapa daerah wisata yang menjadi high light di China. Sehingga mereka melakukan diseminasi ilmu pengetahuan dan koordinasi dengan para saintis internasional sekaligus promosi pariwisata negaranya.

Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi China yang luar biasa ini bukan tanpa persoalan. Barang-barang China yang dijual di Indonesia memang terkenal berharga murah. Namun, kualitas dan pelayanan purna jual yang belum berkembang baik, menyebabkan sebagian kalangan berpikir ulang untuk membeli produk China jika ingin mempunyai barang yang awet.

Demikian pula dengan publikasi ilmiah internasional yang dielu-elukan, bukanlah tanpa kekurangan. Tingginya jumlah publikasi ilmiah internasional oleh saintis China tidak diimbangi dengan tingginya indeks sitasi, suatu indikator yang menunjukkan seberapa penting publikasi tersebut menjadi referensi bagi saintis lainnya. Menurut Jurnal Nature, banyak ditemukan publikasi yang berdasarkan riset fiktif ataupun hasil plagiat ataupun manipulasi data yang pernah ada sebelumnya dalam publikasi internasional ilmuwan China. Fenomena ini ditengarai diakibatkan tingginya tekanan untuk menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional yang berkualitas. Tekanan ini berkaitan dengan mudahnya dana penelitian dengan jumlah sangat besar mengucur jika institusi penelitian ataupun universitas atau peneliti mempunyai jejak rekam yang baik dalam penerbitan jurnal internasional.

Dua persoalan yang diangkat di atas bisa jadi hanya merupakan salah satu fase pembelajaran yang baik bagi China. Saat ini, memang kuantitas produk Iptek masih lebih diperhatikan daripada kualitas di China. Tapi beberapa tahun ke depan, China benar-benar akan menjadi pemimpin yang tangguh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti kita melihat sejarah Iptek Jepang. Ketika mobil-mobil Jepang pertama kali sampai di pasaran internasional tak sedikit yang meremehkan kualitasnya. Tetapi sekarang, siapa yang tidak kenal Toyota sebagai produsen mobil nomer wahid di dunia?

Perdagangan bebas Asean-China sudah berjalan. Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang ketakutan akan terebutnya pasar domestik dan didikte dalam kepemimpinan Ilmu pengetahuan dan teknologi oleh China. Jika Thailand saja optimis bisa mengekspor produk kulinernya ke China, yang dengan demikian berarti akan merambah dunia. Kenapa Indonesia tidak mencoba pada bidang lainnya? Tidak cukup hanya dengan membeli produk buatan dalam negeri, diperlukan semangat yang lebih dari itu.

Kita dapat belajar secara intens sekarang dari China. Pemerintah China sangat serius mengerahkan seluruh daya upaya, sumber daya alam, penghasilan negaranya bahkan para diasporanya untuk pendidikan dan iptek sebagai mesin penggerak pengembangan ekonomi yang berkesinambungan. Dari tahun 2002, China mengalokasikan anggaran negaranya yang besar pada penelitian dan pengembangan. Tindak tanggung-tangung pada tahun 2002 itu, alokasi China untuk Iptek adalah lebih dari 86 trilyun rupiah, atau no 3 di dunia setelah Amerika dan Jepang.

Namun untuk sedikit menghibur, China belum jadi leader yang sebenarnya dalam Iptek. Meskipun berkembang pesat, jumlah peneliti China baru 633 per satu juta penduduk. Meski pasti sangat jauh dari keadaan Indonesia, China dalam hal ini masih tertinggal dari USA yang mempunyai 4526 peneliti per satu juta penduduk atau Jepang yang jumlah penelitinya 5085 orang per satu juta penduduk. Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan.

Penulis:

Is Helianti

Perekayasa BPPT

Posted in sosial politik | Tagged: | 1 Comment »

MELONGOK BUDAYA BACA DAN TULIS MASYARAKAT JEPANG

Posted by ishelianti on October 21, 2009

  • Ini adalah salah satu artikel saya yang laku dibajak….:-))

Semoga manfaat!

======

Sampai saat ini, Jepang adalah satu-satunya negara di Asia yang mempunyai kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan raksasa dunia seperti Amerika. Tak heran, jika perdana mentri Malaysia Mahatir Muhammad, menjadikan Jepang sebagai kiblat pengembangan iptek ketimbang barat. Cerita mengenai kehebatan Jepang dapat bangkit dengan cepat dari puing-puing kekalahan perang dunia kedua, menginspirasi banyak negara di Asia untuk dapat menjadi seperti Jepang. Sifat dasar orang Jepang memang tekun dan pekerja keras. Selain itu rata-rata dari mereka mempunyai keinginan untuk selalu belajar dan selalu memperbaikin hasil kerja mereka. Mungkin sifat-sifat dasar ini menjadi salah satu pendukung kehebatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca dan tulis masyarakat Jepang.

Banyaknya fasilitas membaca, surga buat penggemar buku

Menurut data dari bunkanews (situs khusus tentang media massa berbahasa Jepang), jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Toko buku yang ada tak melulu toko buku baru. Masih menurut bunkanews, toko buku bekas atau toko buku tua menempati presentase sepertiga jumlah toko buku. Artinya, jumlah toko buku bekas adalah separuh jumlah toko buku baru. Keberadaan toko buku bekas ini sangat menolong konsumen buku, karena mereka bisa mendapatkan buk  mendapatkan buku-buku tua yang sangat bernilai namun sudah tak lagi diterbitkan. Toko-toko buku ini berani
untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Mengapa demikian? Karena kaki para konsumen buku terus mengalir sampai malam. Banyak di antara mereka yang datang hanya untuk sekedar “tachi yomi” (artinya membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli) melepas kebosanan di malam hari. Tachiyomi sekilas tampaknya hanya merusak pemandangan toko. Namun ternyata oplag penjualan berbanding lurus dengan jumlah orang yang tachiyomi. Artinya, ada kencenderungan sehabis tachiyomi orang tergerak untuk
membeli bacaan lainnya. Selain toko buku, perpustakan pun sangat mudah kita temui di sekitar kita. Di daerah pedesaan, biasanya, perpustakaan ini dikelola oleh pemerintah daerah setingkat kecamatan
Sebab itu, meskipun di pedesaan buku bukanlah barang mahal yang sulit di dapat.

Rata-rata orang Jepang gemar membaca, atau paling tidak, gemarmencari informasi -yang tampak remeh sekalipun- dari orang lain. Bahkan banyak para artis yang mempunyai hobi membaca. Kecenderungan ini dipakai oleh para penerbit sebagai ajang promosi buku-buku merekadi televisi.Di salah satu televisi swasta ada acara yang disebutacara “toko buku Sekiguchi”. Dalam acara ini para artis atau pelawak mempresentasikan referensi suatu buku, sedangkan artis lain yanghadir diminta untuk membeli berdasarkan kesan mereka terhadappresentasi tersebut dari kocek mereka sendiri. Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lamatoko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar TV dan memesan lewat internet atau telpon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah “televisi shopping”, namun yang
dipromosikan adalah buku. Ketika kita masuk ke sebuah toko buku, biasanya ada beberapa hal khas yang kita jumpai. Pertama, biasanya buku-buku bacaan di Jepang, novel, kumpulan essai, ataupun ilmiah populer didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Sehingga kita tidak enggan membawa buku tersebut baik ketika dalam perjalanan ke kantor ataupun berbelanja. Orang yang membaca buku (tentu juga komik
ataupun majalah) akan sangat mudah kita temui di bis-bis kota ataupun di kereta-kereta listrik. Kedua, kita akan susah mendapatkan buku- buku berbahasa Inggris di toko-toko buku Jepang pada umumnya. Ini
karena, para penerbit Jepang sangat memperhatikan penerjemahan buku- buku hasil karya penulis dari negara-negara lain.

Bahkan banyak kasus buku best seller yang diterbitkan di negara lain diterbitkan pula
terjemahannya di Jepang dalam waktu yang hampir berbarengan, seperti buku Harry Potter yang ngetop di Amerika itu. Ini tentu saja karunia bagi masyarakat Jepang khususnya para penggemar buku. Mereka bisa
menikmati hasil karya penulis-penulis beken negara lain dalam bahasa mereka sendiri. Suatu karunia yang kita pikir hanya dipunyai oleh negara-negara berbahasa Inggris, seperti Amerika atau sebagian negara
Eropa. Hanya toko-toko besar tertentu (dan biasanya di daerah perkotaan) yang menyediakan buku-buku impor berbahasa Inggris dan bukan terjemahannya.

Mengarang Sejak Kanak-Kanak

Budaya baca masyarakat Jepang yang tinggi ini tentu saja merupakan efek timbal balik dari tingginya budaya tulis mereka. Ada konsumen karena ada produsen, ada produsen karena ada konsumen. Budaya tulis Jepang sudah  biasaya selalu mempunyai tugas “sakubun” (artinya mengarang) dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya, ketika mereka libur musim panas, musim dingin, atau libur kenaikan kelas, selalu ada tugas sakubun
tentang apa yang mereka kerjakan, rasakan, dan alami selama liburan. Atau, ketika hari-hari tertentu, hari ayah atau hari ibu, murid-murid SD ditugaskan untuk membuat sakubun tentang ayah dan ibu mereka.
Kesan mereka terhadap ayah dan ibu mereka masing-masing ditulis dalam bentuk sakubun, lalu hasil karangan tersebut mereka presentasikan di depan kelas.

Ketika mereka akan lulus SD, mereka ditugaskan untukmengarang tentang impian (cita-cita) mereka ketika mereka dewasa kelak. Tentu saja tulisan mereka ini didokumetasikan dalam bentuk buku dan disimpan dengan baik oleh pihak sekolah. Sehingga mereka bisa bernostalgia dengan impian masa kanak-kanak mereka, ketika mereka bereuni setelah dewasa dan membaca sakubun mereka ketika sekolah dasar. Maka tak heran, jika rata-rata anak Jepang pandai mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan lewat rangkaian kata-kata. Ditambah lagi, karena bahasa Jepang adalah bahasa yang dibangun bukan berdasarkan huruf melainkan karakter gambar (yaitu kanji). Ini menjadikannya sangat kaya dengan ungkapan dan nuansa dan sangat ekspresif untuk bahasa sastra tulis. Sebagai contoh, kata “berpikir”.

Biasanya, orang Jepang menggunakan karakter atau kanji yang berbeda untuk berpikir yang menggunakan akal seperti dalam kalimat: “Berpikir tentang kejadian alam semesta”, dengan berpikir yang menggunakan
perasaan seperti dalam kalimat “Berpikir tentang mu membuat saya terkenang-kenang masa lalu”. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Siapa Saja bisa Jadi Penulis

Tingginya budaya tulis masyarakat Jepang juga dikarenakan merekaadalah “learning society”, yaitu masyarakat yang senang belajar dan ingin well informed. Rata-rata dari orang Jepang senang untuk mencoba mensistemasikan segala informasi yang mereka dapatkan dan mendokumentasikannya menjadi pengetahuan praktis yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Siapapun, apapun profesinya dapat
menjadi penulis amatiran dan menerbitkan buku yang dapat menjadi informasi untuk orang lain. Dari ibu rumah tangga biasa sampai kalangan artis sangat mudah membuat buku ataupun tulisan. Tidak
berlebihan jika banyak dari orang Jepang yang punya keinginan untuk menulis buku tentang diri mereka sendiri (otobiografi) sebelum merekameninggal, sebagai “jejak” atau “tanda” mereka pernah hidup di dunia
ini.

Ada seorang ibu rumah tangga yang mengalami pindah rumah beberapa kali, dan dari pengalamannya tersebut dia menulis sebuah buku tentang pindah rumah yang efisien sekaligus menyenangkan. Juga dari
pengalaman, ada ibu rumah tangga yang menulis satu buku tentang kiat- kiat untuk memutuskan membuang atau menyimpan suatu barang. Hal-hal yang mereka tulis memang tampak sepele, tapi hal-hal tersebut
terkadang menjadi penting dan bermanfaat pada saat-saat tertentu. Sehingga penerbit berani menerbitkan tulisan mereka dan dilirik oleh konsumen di toko buku. Contoh lain adalah seorang artis yang terkena
kanker rahim di saat hamil, sehingga dia harus menggugurkan kandungannya untuk penyembuhan kankernya dan kelangsungan hidupnya.

Sang artis menulis perjuangannya melawan kanker, menyampaikan tentang apa yang dia rasakan, pikirkan, dan alami dalam satu buku. Buku ini memang buku seorang penulis “amatiran” namun sarat dengan pesan-pesan untuk para ibu dan penyemangat wanita-wanita yang mempunyai penderitaan yang sama. Masih banyak lagi contoh lain yang menggambarkan betapa menulis dan menerbitkan buku bukanlah hak khusus penulis profesional belaka dalam  semua orang yang ingin menyampaikan pengetahuannya, pesannya, dan
keberadaannya kepada orang lain.

Budaya baca dan tulis masyarakat Jepang nampaknya juga tak bisa  dipisahkan dari keberadaan komik, yaitu buku cerita fiksi bergambar. Bisa dikatakan Jepang adalah masyarakat yang kaya akan komik. Berbagai jenis komik akan mudah kita dapatkan di toko-toko buku bahkan convinient store 24 jam. Ada komik humor, komik cerita
imajinasi, atau komik yang erat dengan pendidikan. Bahkan film-film kartun Jepang hampir seluruhnya (juga yang diputar di Indonesia sekarang ini) adalah berasal dari karya komik.

Ada seorang sosiologi yang mengatakan, bahwa orang asing bisa belajar tentang representatif masyarakat Jepang lewat salah satu komik Jepang yang telah dianimasikan seperti “Keluarga Sazae”. Komik filem ini sudah diproduksi sampai puluhan ribu seri sejak puluhan tahun lalu dan menggambarkan sebuah keluarga Jepang dua abad keturunan, abad, orang
tua, dan kakek nenek. Tokoh-tokoh kartun ini berkembang dari tokoh utama (Sazae) kecil sampai dia menikah dan mempunyai anak. Sayang, pertumbuhan sang tokoh berhenti sampai di situ.

Walaupun demikian, pembuat komik “Keluarga Sazae” pun dimasukkan dalam daftar sastrawan Jepang yang memberikan kontribusi besar pada pendidikan masyarakat Jepang. Karena itu, imej komik di Jepang tidaklah melulu buruk, bahkan dihargai keberadaannya dalam budaya tulis dan baca di masyarakat Jepang. Begitulah masyarakat negara matahari terbit ini. Kita dapat melihat bahwa budaya tulis dan baca mereka yang tinggi didorong oleh besarnya apresiasi mereka terhadap hasil karya orang lain, hasil proses kreatif orang lain, juga besarnya keinginan mereka untuk berbagi informasi dengan orang lain dan mengekspresikan diri. Mudah-mudahan beberapa tahun kedepan, suatu masyarakat dengan kecenderungan yang sama akan kita jumpai di tanah air. Semoga.(is01)

Posted in Uncategorized | 5 Comments »

Ketika tulisan saya dibajak….

Posted by ishelianti on October 21, 2009

Ketika menulis artikel di media maya, saya sudah mengetahui resikonya. Bahwa orang yang tidak beretika akan seenaknya copy paste tulisan saya dan diakuinya sebagai miliknya sendiri. Tapi sedih juga, ketika dengan mata kepala sendiri membaca langsung tulisan saya diatas namakan orang lain. Beberapa tulisan yang dibajak adalah artikel tentang pengamatan saya terhadap perilaku dan budaya masyarakat Jepang, seperti : “Memasyarakatkan Iptek belajar dari Jepang”, “Melongok Budaya Baca Tulis Masyarakat Jepang” yang saya tulis ketika saya masih tinggal untuk studi di sana.

Saya dan beberapa teman-teman sekota di wilayah Hokuriku pernah mengelola Majalah Muslimah On Line yang judulnya “Hokuriku MuslimahOn Line”.  Sekarang sudah tidak terbitlagi karena kami sudah kembali ke tanah air. Banyak artikel dari majalah on line ini yang dikopi paste ke milis-milis tanpa menyebut yang membuat. Parahnya, juga ada yang mengklaim dia yang membuat sementara initial penulis yang biasanya saya singkat di paling akhir artikel bersamaan dengan nomer misalnya (is01) masih tercantum di artikel. Lalu ada juga yang mengirimnya ke surat kabar tanpa malu-malu!

Mungkin saya harus maklum. Bangsa ini memang masih kurang menghargai hak cipta seseorang. Padahal hak cipta bersifat deklaratif, artinya dia melekat pada sang pembuat saat hasil karya itu dipublikasikan oleh sang pembuat. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari tulisan saya di dunia maya, saya juga tidak keberatan ketika tulisan itu disebar tanpa seijin saya, asalkan nama saya dicantumkan sebagai penulis. Ini adalah kesepakatan moral yang universal. Jadi jelas saya tersinggung ketika ada orang yang dengan tanpa malu hati mengakui 100% hasil kreativitas dan analisa saya sebagai tulisannya.

Lewat blog ini saya katakan, bahwa silakan 100% mengkopipaste tulisan saya. Namun bersikap sportiflah, bahwa cuma itulah yang anda lakukan dengan menyebut bahwa saya penulisnya, bukan dengan menghapus nama saya lalu menggantinya dengan nama anda…

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Catatan 20 tahun berjilbab ~Antara Jilbab, Kajian Islam, dan Teroris

Posted by ishelianti on October 15, 2009

Membaca dan mendengar berita akhir-akhir ini sangat menyesakkan dada. Salah satunya, Densus88 menggerebek sebuah rumah kos di Ciputat dan menembak mati para tersangka teroris. Sesak dada, karena menurut berita ada mahasiswa-mahasiswa generasi harapan yang tersangkut kasus ini. Para mahasiswa yang taat beribadah dan bersemangat dalam mengkaji Islam, disinyalir berkaitan. Seorang mahasiswa lain mengisahkan bahwa dia hampir saja direkrut oleh para tersangka teroris, didekati secara agresif sehingga ketakutan.

Di tengah berita seperti itu banyak yang berkecamuk dalam benak. Antara lain, efek domino dari pemberitaan dan fakta ini. Bahwa kajian Islam di kampus-kampus mungkin akan ditakuti oleh para generasi muda dan para orang tua yang mempunyai anak mahasiswa. Karena mengikuti kajian keislaman rutin, lalu menjadi taat beribadah dan taat menjalankan perintah agama identik dengan mendekat pada teroris. Padahal bisa dijamin sebagian besar kajian Islam, pengajian, dan majelis ilmu yang ada sama sekali jauh dari suasana tersebut.

Karena itu saya ingin menuliskan pengalaman pribadi saya untuk saya bagi, terutama bagi adik-adik mahasiswa. Pengalaman hidup yang bagi saya merupakan harta kekayaan tak ternilai yang membuat saya terus bersyukur telah melaluinya. Dan semoga bermanfaat khusunya dalam membuat kita untuk terus belajar menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Sehingga kita tak ragu berlari mendatangi hidayah dengan rajin-rajin menghadiri kajian Islam yang kaya manfaat, namun tidak meninggalkan daya kritis sebagai pemuda…

Bulan Oktober ini, tepat 20 tahun saya memakai jilbab, tepatnya busana yang menutup aurat. Sebenarnya, ini bukan prestasi yang harus dibanggakan. Bagi saya yang mengikuti pendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah tentu bukan prestasi. Berjilbab tentulah sama artinya dengan mengapa saya harus sholat, mengapa saya harus puasa, dan melaksanakan kewajiban lainnya. Kewajiban yang saya pilih dengan kepala sehat, yakini, dan tanpa paksaan untuk saya jalankan.

Berjilbab menjadi spesial buat saya karena momentum berjilbab inilah yang selalu mengingatkan saya untuk dapat menjalani apa yang saya yakini benar dengan memohon bimbingan Allah selalu. Momentum jilbab inilah yang menjadikan titik berangkat saya untuk selalu ingin berusaha jadi muslimah hamba Allah yang sejati tanpa kehilangan diri sendiri. (Walau sejujurnya, saya merasa masih jauh dari sosok muslimah hamba Allah yang sejati)

Selain bersyukur pada Allah atas hidayah ini, tentu saja saya harus berterima kasih pada kajian-kajian keislaman di STAN waktu itu. Berterima kasih pada mentor-mentor kajian yang telah membukakan mata saya akan keindahan islam, keindahan berakhlak mulia, keindahan mengasihi dan berbakti pada ibu dan bapak, keindahan bersikap santun dan baik pada semua orang, muslim dan non-muslim.

Sebelum mengkaji Islam, sebelum berjilbab, saya bisa jadi anak yang kasar pada orang tua. Anak yang tak bisa maklum pada kekurangan manusiawi mereka sebagai orang tua. Tetapi mengkaji Islam, berjilbab, membuat saya malu untuk sering-sering berbantahan dengan ibu. Banyak perilaku-perilaku positif yang saya latih setelah berjilbab dan mengikuti kajian Islam secara rutin. Berkat jilbab dan mengkaji Islam secara rutin dan tentu saja hidayah Allah SWT saya mantap menikah di usia muda, percaya diri untuk mengambil beasiswa ke Jepang dan meneruskan hingga doktor, mantap menekuni dunia kerja penelitian dengan idealisme ibadah membangun tanah air yang saya cintai, dan meyakini di jalan profesi inilah dakwah saya.

Tentu bukan tanpa dinamika. Saya pernah gelisah ketika ada pendapat bahwa muslimah ”haram” bekerja. Muslimah cukup menjadi ibu rumah tangga saja. Dan banyak dari angkatan saya yang drop out dengan sengaja dari kuliah karena alasan ini. Nalar saya sebagai remaja memberontak. Jadi muslimah tidak boleh berprestasi? Muslimah tidak boleh bekerja? Berjilbab equal dengan kemandekan? Alhamdulillah, saya tak pernah menanggalkan daya kritis saya. Kegelisahan saya terjawab, dan sekarang seperti yang anda baca, saya bekerja dan tetap berjilbab dengan segala sikap yang saya yakini…:-)

Karena itu, tetaplah berlari menggapai hidayah dan bimbingan Allah. Jangan menjauh dari kajian Islam hanya karena takut terjatuh dalam jeratan teroris. Kajian-kajian islam adalah kegiatan yang positif. Daripada menghabiskan masa remaja dengan kegiatan yang tak tentu arah atau malah menyerempet hal-hal yang menyimpang seperti narkoba atau pergaulan bebas. Tetapi tetaplah open mind, berdiskusi dengan banyak pemikiran, bergaul dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan prinsip diri, bersikap kritis dengan prasangka baik. Dan tentu yang utama, selalu berdoa mohon petunjuk Allah untuk membimbing kita selalu agar selalu ada dalam kebaikan. Islam itu indah dan menjadi muslim itu adalah membawa misi menjadikan nilai-nilainya  rahmatan lil alamin….

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Posted by ishelianti on September 3, 2009

Ini ada artikel saya jaman baheula ( 8 tahunan lalu kali ya?). Saya sedang merenung tentang banyaknya kontent dan kompleksnya tuntutan kurikulum anak SD saat ini. Terus terang, sedari kecil saya tak pernah diperintah untuk belajar atau dibimbing dalam mengerti pelajaran. Mengalir begitu saja.Tapi melihat tuntutan kurikulum saat ini, rasanya sama dengan menjerumuskan anak jika saya hanya percaya anak saya pasti bisa tanpa membimbingnya belajar secara intens di rumah.Tuntutan dan konten kurikulum khususnya pembelajaran akademik sangat tinggi. Kadang saya berpikir, apa perlu kelas satu kelas dua belajar seperti ini? Apakah ini berujung pada pengembangan kapasitas intelektual anak atau malah tidak dapat membentuk dasar akademis yang kuat sama sekali?

Mudah-mudahan tulisan ini tidak basi, dan dapat menjadi masukan dan bahan perenungan saya pribadi.

Melongok Rapot Sekolah Dasar Jepang

Mengamati rapot SD Jepang, maka dapat disimpulkan bahwa rapot SD Jepang
banyak mengalami perubahan.Perubahan ini adalah hasil evaluasi yang
terus-menerus sejak masa pasca perang dunia kedua sampai sekarang. Beberapa
orang Jepang teman sekerja saya memaparkan demikian. Semua yang hampir
seusia dengan saya mengatakan bahwa rapot murid SD Jepang sekarang sangat
berubah dibandingkan rapot mereka dulu ketika SD. Para ibu yang
menyekolahkan anak-anaknya juga mendukung data ini. Rapot anak pertama dan
ketiga mereka yang terpaut beberapa tahun sangat berbeda. Baik mata
pendidikan (sebagai ganti menyebut mata pelajaran) yang dilaporkan maupun
cara pelaporannya. Ada baiknya saya uraikan secara sistematis tentang
pandangan kebijakan Depdikbud Jepang tentang pendidikan dasar yang mendasari
perubahan yang tercermin dengan berubahnya isi rapot.

Sekitar tahun 1947, sebagai negara yang baru saja kalah perang, Jepang mulai
membenahi segala bidang kehidupan masyarakatnya, termasuk pendidikan.
Evaluasi tentang sistem pendidikan, komposisi mata pendidikan tingkat rendah
(sekolah dasar) selalu menjadi bahan perdebatan hangat dan evaluasi sejak
tahun enam puluhan. Sama seperti Indonesia sekarang ini, sehabis perang
dunia II Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) juga
merupakan mata pelajaran pokok di SD. Namun, karena misi pendidikan dasar
secara integral adalah bukan hanya membentuk dasar kemampuan baca, tulis,
berhitung namun juga menanamkan ketrampilan dasar sebagai manusia sebagai
makhluk sosial. Nampaknya ini tidak tercapai dengan sistem mata pelajaran
yang hanya menekankan pada kemapuan intelektual di kala itu. Lewat
penelitian dan evaluasi panjang akhirnya Monbusho (Depdikbud) Jepang di
tahun 1988 mengumumkan untuk menghilangkan pelajaran IPA dan IPS di Sekolah
Dasar, dan menggantinya dengan mata pendidikan baru yang bisa jadi merupakan
kombinasi pelajaran IPS dan IPA diintegrasikan dengan penanaman nilai-nilai
luhur. Mata pendidikan baru ini bernama seikatsuka (seikatsu= hidup
sehari-hari, ka= istilah untuk menyebut mata pelajaran) Beberapa sub dari
pelajaran seikatsuka adalah: bagaimana hidup dengan cara yang sehat dan
aman, bergaul dengan orang-orang sekitar kita, berinteraksi dengan alam,
memanfaatkan fasilitas umum, dan sebagainya. Di samping itu, Depdikbud
Jepang mencanangkan pendidikan yang integral dan meminta semua pendidik
untuk memasukan nilai-nilai luhur ke dalam setiap mata pendidikan.

Tahun 1990, penerapan kurikulum SD dengan komposisi mata pendidikan yang
baru mulai diterapkan. Khususnya untuk SD kelas 1,2, dan 3 banyak mengalami
perubahan. IPS dan IPA yang dahulu hanya pelajaran monoton, kini digantikan
dengan mata pendidikan seikatsuka yang memasukkan unsur IPS, IPA, bermain,
dan berkomunikasi (bahasa) di dalamnya. Di dalam seikatsuka terperinci
kegiatan belajar yang mendetail di mana murid-murid kelas satu dijadwalkan
untuk bermain dan memperhatikan keadaan taman terdekat, mengenal sekolah
mereka dan orang-orang yang berperan dalam sekolah dari kepala sekolah, para
guru, penjaga kantin sampai penjaga sekolah, belajar mengurus dan menyayangi
hewan peliharaan seperti kelinci bersama-sama, memperkenalkan ayah, ibu, dan
saudara-saudara mereka dan sebagainya. Sedangkan di kelas dua, ada pelajaran
bagaimana menanam tanaman dari biji hingga tumbuh besar, berjalan-jalan
mengenal kota di mana mereka tinggal, mengadakan festival mainan dsb. Bisa
dikatakan, jumlah pelajaran yang mengharuskan anak kelas satu dan dua SD
untuk duduk tekun di meja dan pekerjaan rumah yang membuat lelah anak-anak,
menurun dengan drastis dibanding waktu-waktu lampau. Oleh karena itu
kehidupan sekolah dasar adalah hal yang menyenangkan dan mengasikkan buat
para murid, bukan lagi menjadi momok karena banyaknya beban seperti di masa
lampau.
Agaknya, perubahan dalam kurikulum SD itu juga berangkat dari falsafah
Jepang dalam mendidik generasi mereka. Yaitu: 1. Mendidik anak-anak untuk
menjadi orang yang kaya hati sehingga menyayangi, menghormati orang lain,
dan menyayangi makhluk hidup lain. 2. Mementingkan pendidikan dasar yang
sangat mendasar yang sesuai dengan karakter dan kekhasan anak masing-masing,
karena setiap anak adalah unik. 3. Memacu anak untuk mandiri dalam belajar
dan mendidik diri mereka sendiri sejak kecil. 4. Menciptakan manusia yang
menghormati budaya luhur dan dapat bergaul dalam masyarakat internasional.
Falsafah-falsafah ini sebisa mungkin harus dimasukkan dalam setiap mata
pendidikan dan difahami oleh para pendidik. Sehingga, mata pendidikan yang
dulu sangat menekankan melulu kecerdasan seorang anak, sekarang ditekankan
kepada mengembangkan ketrampilan anak untuk bersosialisai dan berkembang
sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.

Perubahan ini pun tercermin dalam rapot anak-anak SD Jepang. Mata pendidikan
seikatsuka selain bahasa (membaca dan menulis) dan berhitung sangat ditulis
dengan rinci. Bentuk mata pendidikan yang dinilai memang menggunakan istilah
yang beragam untuk tiap sekolah. Namun secara garis besar ada mata
pendidikan, bagaimana sikap anak dalam memberi salam kepada orang lain,
bagaimana nilai anak ketika bekerja sama dengan orang lain, bagaimana sikap
anak ketika bergaul dengan orang lain, bagaimana sikap sang anak dalam
memelihara tumbuhan atau binatang, bagaimana sikap anak dalam
mengekspresikan pikirannya, dll. Tidak berlebihan jika dikatakan rapot
tersebut menunjukkan perhatian sekolah pada hakikat dasar mendidik anak.
Untuk kelas 1, 2, dan 3, nilai mereka pun bukan nilai kuantitaf yang
ditunjukkan dengan angka seperti delapan atau enam. Tetapi dengan komentar
pujian atau memberi semangat: “sudah berusaha dengan baik” atau “mari
berusaha sedikit lagi”, yang biasanya disimbolkan dengan lingkaran (untuk
yang pertama) atau segitiga (untuk yang terakhir). Tidak ada nilai negatif
untuk anak. Dan untuk SD kelas empat ke atas, nilai A, B, C memang
diterapkan. Namun, ini adalah nilai mutlak per anak, bukan nilai komparatif.
Setiap anak dihargai oleh usaha mereka masing-masing untuk meningkatkan
diri. Oleh karena itu di SD Jepang, tak ada sistem rangking yang
membandingkan satu anak dengan lainnya, ini berdasarkan filsafah pendidikan
dasar yang menekankan pada perkembangan khas setiap anak secara perorangan.
Satu kelas bisa saja semuanya memperoleh nilai A atau dobel lingkaran untuk
satu mata pendidikan. Akan tetapi nilai A ini sangat berbeda untuk tiap
anak. Misalnya, anak yang pemalu dan sulit berinteraksi dengan
kawan-kawannya, bisa saja memperoleh nilai A untuk mata pendidikan
berinteraksi dan bekerja sama sesama kawan sama dengan seorang anak yang
memang supel dan pandai bergaul. Dengan catatan, A bagi anak pertama,
mungkin berkaitan dengan peningkatan yang dicapainya dibandingkan dengan
catur wulan lalu, dan nilai A bagi yang kedua adalah memang sikap unggul
sang anak dalam bergaul. Demikian pula pelajaran-pelajaran lainnya.

Sistem kurikulum dan rapot yang seperti ini, walaupun adalah hasil akumulasi
pemikiran, penelitian serta evaluasi pihak-pihak terkait khususnya Depdikbud
Jepang, sampai sekarang masih terus dievaluasi. Khususnya permasalahan
tertinggal pada pelajaran seikatsuka ini di kelas tiga ke atas. Di mana
ketika murid kelas satu dan kelas dua menikmati pelajaran IPS dan IPA dalam
frame yang menyenangkan, akan tetapi ketika mereka menginjak kelas tiga ke
atas mereka harus belajar seperti muatan yang dulu dengan style yang serius.
Duduk dengan rapi dan menyimak buku. Sehingga sebagian guru merasa kesulitan
ketika mengajarkan mata pendidikan ini di kelas tiga, karena di kelas ini
lah peralihan dari belajar dalam bentuk menyenangkan ke belajar untuk
mengembangkan daya intelektual terjadi. Ditambah lagi, banyak pula beberapa
orang tua Jepang yang ambisius yang kawatir dengan pendidikan anak-anak
mereka di sekolah dasar sekarang. Apakah dengan bentuk pendidikan yang
seperti ini, anak-anak mereka mampu berkompetisi untuk memasuki perguruan
tinggi elit? Terlepas dari itu semua, kepedulian pemerintahan Jepang akan
pendidikan generasi masa depan mereka patut diacungi jempol. Mereka berani
merombak kemapanan dalam sistem pendidikan dasar yang tercermin dalam rapot,
dengan harapan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual
tetapi juga kepribadian.

Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | 5 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.