Is Helianti’s Weblog

berbagi ilmu, berbagi semangat, berbagi dunia

Dua “Je”, Persamaan dan Perbedaan

Posted by ishelianti on December 28, 2008

Antara Jerman dan Jepang, Persamaan dan Perbedaan

Hampir dua belas tahun tinggal di Jepang dan tiga bulan tinggal di Jerman, selalu menarik membandingkan sikap dan budaya masyarakat dua negara ini. Berikut beberapa yang bisa diamati di antara keduanya. Menurut Anda, mana yang lebih pas untuk ditiru di Indonesia?

Persamaan:

  1. Jerman dan Jepang adalah dua Negara yang sama-sama kalah di Perang Dunia kedua. Mereka sama-sama bertekuk lutut pada Amerika Serikat dan sekutunya. Hancur lebur pada PD II, tetapi menjadi Negara paling terkemuka di benuanya masing-masing setelah itu. Sampai sekarang, mungkin karena efek kalah perang, kedekatan politik mereka dengan Amerika Serikat sangat kuat.
  2. Umumnya orang Jerman dan Jepang adalah orang-orang yang serius. Mereka mengerjakan pekerjaan mereka, apapun, dengan serius dan efisien.
  3. Taat peraturan. Sifat ini sangat terasa jika kita berhadapan dengan mereka dalam hal hukum, atau hitam di atas putih (tertulis). Orang Jerman dan Jepang kaku luar biasa terhadap hukum, tak ada pintu khusus bagi pejabat tinggi sekalipun dalam hal berbau hukum. Mereka pun sangat memperhatikan yang tertulis di atas kertas atau MOU atau kontrak. Melenceng dari situ, mereka akan tuntut. Menuntut yang tidak terulis di atas kertas, jangan harap kita akan mendapatkannya! Umumnya, mereka juga benci pada pelanggar peraturan.
  4. Menghargai waktu. Umumnya mereka benci pada budaya jam karet, apalagi terlambat di saat meeting atau rapat atau kuliah.
  5. Cenderung homogen. Jerman dan Jepang adalah masyarakat yang cenderung homogen dalam hal budaya. Mereka bukan masyarakat yang punya pengalaman banyak terhadap multikultural atau keberagaman agama. Bahkan nasionalisme sempit pernah membawa mereka pada masa lalu yang suram, dan seolah-olah nasionalisme adalah hal yang buruk untuk dimiliki. Tanyakan tentang nasionalisme pada generasi muda Jerman dan Jepang. Jawabannya pasti mirip, ”Untuk apa?”
  6. Sangat menghargai produk dalam negeri. Dua negara ini memang membayar mahal upah SDMnya. Karena itu barang-barang asli buatan Jerman atau Jepang seperti elektronik sangat berkelas dan mahal, dan menjadi kebanggaan tersendiri bila mereka memilikinya.

Perbedaan:

  1. Orang Jerman penikmat hidup, sedangkan orang Jepang pencinta kerja. Orang Jerman berusaha keras hanya pada jam kerja, dan bermain habis-habisan juga pada saat libur. Mereka punya jatah cuti 50 hari kerja, yang jika disatukan dengan Sabtu Minggu selama cuti tersebut bisa lebih dari 2 bulan dalam setahun! Mereka tak suka lembur, karena bagi sebagian mereka, lembur equal dengan tidak efisien. Bagi mereka efisien dalam bekerja berarti datang tepat waktu, bekerja efisien di saat jam kerja, dan pulang tepat waktu adalah harga mati. Sedangkan orang Jepang memang cenderung ”gila kerja”. Mereka nampak menemukan kenikmatan dalam bekerja. Bahkan ketika perekonomian Jepang dalam grafik melesat naik, semboyan perusahaanku adalah keluargakulah yang mendorongnya. Sebenarnya mereka punya jatah cuti 20 harian dalam setahun. Tetapi umumnya hanya dipakai beberapa hari di musim panas (liburan obon), dan beberapa hari di musim dingin menjelang tahun baru (oshogatsu). Budaya gila kerja kadang berimbas di dalam rapat atau seminar. Di Jepang tertidur pada saat-saat rapat atau seminar bagi para ”penggila kerja” kadang sangat ditoleransi dan dimaklumi, tapi tidak di Jerman!
  2. Budaya antri di Jerman mirip Indonesia, walau kadar menyerobot relatif lebih sopan. Jika anda taat antri menunggu masuk kereta di jam sibuk, dijamin anda susah mendapat tempat duduk! Apalagi jika naik kereta jarak jauh saat malam akhir pekan. Di Jerman kita cuma harus antri dengan tertib ketika kita mengambil uang di ATM atau membayar di kasir. Karena di tempat ini mereka memencet nomor pin untuk mengambil uang atau auto debet yang sangat ingin mereka lindungi kerahasiaannya! Akan tetapi di Jepang hampir semua tempat anda harus antri. Ketika menunggu bis, menunggu kereta di Jepang harus selalu antri, berbaris di tempat yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk. Anda menyerobot, tak ada ampun! Tetapi ini menjadi fair, yang datang lebih dahulu kemungkinan mendapatkan tempat duduk menjadi besar.
  3. Di Jerman kereta dan bus tak selalu on time. Lima belas menit terlambat untuk jadwal bis, atau kereta biasa, bahkan terkadang 1.5 jam terlambat juga bisa dimaklumi ntuk sebuah kereta maglevaif! Namun demikian, sistem jaringan informasi kereta Jerman lebih tertata dan nyaman diakses dengan internet. Di Jepang, kita harus membeli buku jadwal bulanan untuk mengetahui jadwal pasti khususnya kereta jarak jauh.

Di Jepang, jadwal kereta on time sudah menjadi umum dan harus. Bahkan ketka di Tokyo, saya kadang mengadjust jam sesuai dengan jadwal ketika peluit kereta ditiup dan pintu kereta tertutup, saking saya percaya pada tepat waktunya. Kereta di Jepang biasanya hanya telat saat salju tebal atau angin taufan.

4. Kaum akademik Jerman umumnya high profile dan rasa PD mereka tinggi. Tak jarang para mahasiwa/peneliti pendatang dari Asia atau negara berkembang harus mendapat perlakuan under estimate lebih dahulu ketika mereka datang. Tetapi tidak demikian di Jepang. Orang Jepang umumnya humble. Mereka bak pepatah air tenang bertanda dalam. Mereka sangat menghargai para mahasiswa asing yang umumnya pekerja keras, walau kadang belum tentu bekerja dengan cerdas.

5. Di Jerman, konsumen harus banyak mengalah, tetapi di Jepang konsumen adalah dewa. Servis yang tidak memuaskan dan penyambutan alakadarnya sudah biasa di Jerman. Jika ada petugas loket yang harus pulang karena jam pulang, dia tidak akan menggubris antrian panjang para pelanggan. Kadang sikap supir bus yang kelelahan juga membuat tak nyaman. Tetapi jika anda di Jepang, para petugas yang akan makan siang pun biasanya tidak tega jika melihat yang antri begitu banyak. Umumnya mereka dengan sukarela membuka kembali loket yang tadinya sudah mereka tutup untuk mengurangi antrian. Di Jepang jika barang yang anda beli cacat dan anda kembalikan, maka anda akan mendapatkan bonus dan permohonan maaf berkali-kali dari toko.

      Posted in sosial politik | Tagged: | Leave a Comment »

      Budaya Kerja, antara Jerman dan Jepang

      Posted by ishelianti on October 12, 2008

      Menarik membandingkan kultur kerja orang-orang yang bergerak di bidang riset dan akademis di dua negara maju ini. Jerman dan Jepang. Dua penduduk negara ini dikenal sangat serius dan efisien.

      Di Jepang, jam kerja saya dulu “unlimited”. Dengan fasilitas universitas dari laboratorium, ruang komputer, perpustakaan yang on line 24 jam, jam kerja “unlimited” ini seperti mendapat justifikasi. Orang Jepang biasa kerja dari jam 9 pagi sampai di atas jam 9. Lab masih ramai di jam 11 malam, bukan hal asing. Justru aneh kalau lab sudah gelap di jam 6 sore. Ketika menghadapi dead line baik thesis maupun paper seminar, saya bersama mahasiswa lain biasa tidak tidur sampai dini hari, tapi kelayapan di dalam lab bereksperimen.

      Lain lagi di Jerman. Di sini kerja dimulai jam setengah sembilan. Tetapi dijamin jam 6 sudah sepi. Kalau pun ada sisa-sisa manusia berlalulalang, biasanya sebagian besar orang asing, yang mungkin berpikiran mirip dengan saya. Buat apa pulang ke apartemen, karena tidak ada yang menunggu.

      Tetapi bukan berarti orang Jerman bekerjanya santai. Baru beberapa hari di sini saya menemukan suasana itu. Suasana serba terencana, serba cepat, serba serius pada jam kerja. Langkah-langkah cepat dan panjang sepanjang lorong laboratorium. Tak ada obrolan kepanjangan ngalor ngidul saat jam kerja, kecuali diskusi masalah kerja. Tak ada pekerjaan sampingan seperti berinternet ria yang tidak berurusan dengan pekerjaan. Ini yang bikin saya tidak enak hati sering-sering chatting sembari kerja. Semuanya serius dengan apa yang harus selesai dan mereka kerjakan hari itu. Sehingga jam 6 sebelum makan malam mereka sudah bisa pulang.

      Di Jepang, memang jam kerja seperti unlimited, dan imbasnya pekerjaan malah kadang jadi tidak efisien. Waktu yang panjang kadang tidak benar-benar 100% untuk bekerja. Ketika jam makan malam, profesor yang rumahnya dekat dengan kampus memang biasanya pulang untuk makan malam. Setelah anak-anak mereka tidur, mereka bekerja lagi sampai sesuka mereka.

      Ketika di Jepang, saya berpikir orang Jepang itu sangat feodal. Budaya senior dan junior sangat ketat. Apa kata senior itulah yang dikatakan juniornya. Apalagi apa kata Profesor, biasanya kebanyakan harga mati.

      Tetapi ternyata di Jerman juga demikian. Profesi profesor di Jerman adalah profesi sakti. Profesor di Jerman ternyata sangat jaim dan tak suka dibantah oleh mahasiswanya. Suasana meeting akademis yang saya kira akan penuh dengan diskusi-diskusi dan argumentasi seru, belum saya temukan. Hanya ada laporan mahasiswa, saran dari profesor, namun tak ada bantahan atau diskusi asyik lainnya Atau apakah presepsi saya tentang Jerman dulu itu tertukar dengan tentang Amerika, ya? Entahlah. Tapi yang jelas ketika profesor yang bicara di meeting, ruangan jadi sangat senyap, bahkan saya jadi tidak enak hati ketika mengeluarkan lap top dari tas karena suara resleting jadi terdengar begitu keras.

      Namun, terlepas dari perbedaan style mereka dalam bekerja. Orang-orang di negara maju ini adalah orang-orang yang sangat serius dalam hal mengerjakan apapun yang terbaik secara detail untuk mencapai target.

      Posted in penelitian, sosial politik | Tagged: | 1 Comment »

      Metagenomik, Era Baru Bioteknologi

      Posted by ishelianti on June 22, 2008

      Kompas Senin, 06 Juni 2005

      Oleh: Is Helianti

      INOVASI dan daya kreasi para peneliti di dunia ilmiah telah melahirkan banyak perkembangan baru dalam sains dan teknologi, tak terkecuali di bidang biologi. Era pembacaan seluruh rantai DNA (genom) satu spesies makhluk hidup telah menjadi hal “biasa” di negara maju sana. Tak kurang genom dari ratusan spesies mikroba, tikus, padi hingga manusia telah selesai dibaca.

      NAMUN, tampaknya babak pembacaan genom satu spesies makhluk hidup telah mencapai titik jenuh bagi sebagian ilmuwan. Sekarang ini, mereka beralih pada tantangan yang lebih besar. Yaitu, membaca seluruh DNA dari suatu ekosistem lengkap (bukan hanya satu organisme), yang diistilahkan dengan metagenom. Ilmu yang mempelajari metagenom ini disebut metagenomik.

      Secara detailnya, proyek metagenom ini adalah usaha membaca seluruh DNA dari komunitas mikroba dalam ekosistem kecil, misalnya segenggam tanah, sepuluh mililiter air laut, atau isi perut manusia. Dengan membaca seluruh cetak biru genetik dari seluruh spesies organisme yang ada pada satu ekosistem, ilmuwan berharap dapat mengetahui jenis organisme (mikroba) apa saja yang terdapat dalam ekosistem mikro tersebut, serta bagaimana mereka bekerja bersama.

      Tentu saja usaha ini tidaklah mudah. Keanekaragaman mikroba dalam ekosistem mikro sekalipun sangatlah tinggi. Dalam satu gram tanah subur atau satu mililiter air laut misalnya, bisa saja dijumpai ribuan spesies mikroba, yang dari aspek genetik jauh lebih kompleks daripada genom manusia.

      Selain dari lingkungan yang subur yang berarti kaya akan kehidupan, para ilmuwan juga mencoba untuk membaca metagenom dari lokasi-lokasi yang sepi dari kehidupan, seperti lingkungan ekstrem di dasar laut dalam atau daerah pertambangan yang penuh kontaminan berbahaya. Hasil penelitian proses pembacaan metagenom dari daerah-daerah ekstrem yang jarang kehidupan ini pun menyatakan bahwa lebih banyak gen baru yang ditemukan daripada dalam genom manusia. Padahal, dalam genom manusia pun, masih lebih dari setengah jumlah gen yang ada, belum kita ketahui fungsinya.

      Pro dan kontra

      Sampai saat ini, para peneliti umumnya menggunakan approach isolasi satu spesies makhluk hidup (baik itu mikroba, tumbuhan, ataupun hewan), mengidentifikasi, lalu membaca seluruh gen/DNA (genom)-nya untuk mempelajari makhluk hidup tersebut lebih lanjut lagi. Tetapi metagenomik mengambil approach yang bertolak belakang. Metagenomik memulainya dari DNA organisme (apa pun) yang bahkan sama sekali tidak diketahui, lalu setelah itu baru mencoba memecahkan apa sebenarnya organisme-organisme yang ada di situ yang mengandung DNA-DNA tersebut.

      Pendekatan yang tidak umum ini di kalangan ahli mikrobiologi sendiri menimbulkan pro dan kontra akan nilai penting dari data ilmiah yang didapat.

      Para peneliti yang setuju dengan approach ini antara lain mengatakan bahwa hanya satu persen dari mikroorganisme yang ada di Planet Bumi ini yang bisa ditumbuhkan di laboratorium atau dibiakkan dalam medium artificial. Jadi sisanya, sembilan puluh sembilan persen tidak bisa (atau setidaknya belum bisa) dikulturkan dengan teknologi isolasi dan kultivasi yang ada sekarang ini, atau diistilahkan dengan unculturable. Padahal bisa jadi mikroba yang unculturable ini justru menyimpan gen-gen baru yang dapat diaplikasikan dalam industri ataupun bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu bisa dikatakan, ilmu mikrobiologi sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang yang sembilan puluh sembilan persen ini.

      Tetapi, peneliti dimungkinkan untuk mengekstraksi DNA dari sample tanah atau air laut tanpa perlu identifikasi makhluk hidup apa yang menjadi sumber DNA tersebut. Kita memang tidak tahu penampilan, bentuk (morfologi), ataupun karakter dari masing-masing spesies tersebut, namun, kita bisa tahu kode genetiknya.

      Demikian menurut Venter, saintis sekaligus pebisnis unggul pemilik perusahaan biotek Celera Genomics yang merupakan salah seorang pionir dalam proyek metagenom ini. Perusahaan Celera Genomics yang dipimpinnya berhasil menepis keraguan dunia akan keberhasilan proyek pembacaan genom manusia, karena sukses membaca genom manusia yang panjangnya 3.000 mega base pair (Mbp) itu dalam waktu tiga tahun!

      Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa pembacaan metagenom dari mikroekosistem tidaklah punya arti apa-apa. Dr Davies, seorang profesor emeritus mikrobiologi Universitas British Columbia, bahkan mengatakan bahwa membaca sekuens seluruh DNA yang ada di sample tanah hanyalah akan menjadi sampah. Komentar ini mungkin berkaitan dengan pengalaman penelitiannya sendiri. Profesor ini pernah memulai bisnis perusahaan biotek untuk menemukan antibiotik baru dengan mengekstraksi genom DNA dari sampel mikroba tanah yang tidak dapat dikulturkan. Akan tetapi, approach tersebut menemui jalan buntu. Karena produksi antibiotik diregulasi oleh banyak gen. Sehingga tidak dimungkinkan untuk mendapatkan fragmen DNA yang cukup panjang yang mengandung seluruh gen yang diperlukan untuk memproduksi antibiotik dalam satu klon dari pustaka metagenom tersebut.

      Menurut rofesor Davies, hasil pembacaan metagenom hanyalah seperti katalog. Metagenom memaparkan semua gen tetapi tidak memberikan informasi informasi apa pun tentang gen apa yang aktif dan gen mana yang tidak, serta bagaimana bakteri-bakteri tersebut berinteraksi satu sama lain. Kita tidak mendapatkan karakter apa pun dari bakteri yang ada, lalu bagaimana kita bisa tahu apa yang mereka lakukan? Demikian argumen profesor ini.

      Argumen ini dibantah oleh saintis dari The Institute of Genome Research (TIGER), Dr Gill. Menurut dia, jika kita mendapatkan cetak biru genetik suatu organisme, kita dapat trace back untuk merekonstruksi sistem metabolismenya, walaupun tanpa mengetahui nama organisme tersebut. Jadi, data genom saja itu sudah cukup bernilai.

      Informasi cetak biru genetik akan membantu ilmuwan memperkirakan nutrisi apa yang diperlukan oleh organisme sumber DNA tersebut. Sehingga dapat menjadikan mikroba yang bersangkutan yang sebelumnya tidak bisa dikulturkan menjadi mikroba yang dapat diisolasi dan dikultivasi di laboratorium. Dan ketika seluruh gen dalam suatu organisme diketahui, maka dengan teknologi DNA/gen chips akan mudah diketahui gen mana yang aktif atau tidak ketika diberikan stres lingkungan yang berbeda-beda.

      Sumber biokatalis baru

      Sebenarnya, metagenom walaupun tampak baru dari segi istilah, telah mulai dilakukan sejak tahun 1980-an. Para peneliti saat itu mencoba meneliti gen 16S rRNA dari sampel konsorsium mikroba. Gen ini menjadi penanda spesies suatu makhluk hidup dan dipunyai oleh seluruh makhluk hidup di Planet Bumi ini. Gen ini, meski berasal dari spesies yang berbeda-beda, banyak mempunyai bagian yang conserve atau homolog satu sama lain. Jadi, spesies yang sama mempunyai susunan DNA yang hampir sama, sedangkan semakin dekat kekerabatan dua makhluk hidup, maka akan semakin banyak bagian dari gen ini yang overlap atau homolog.

      Dengan menganalisis gen 16S rRNA yang relatif pendek (sekitar 1.500 bp) dari konsorsium bakteri ini, maka saintis mengetahui ada berapa jenis mikroba global. Akan tetapi, kita tidak mendapatkan informasi apa pun tentang bagaimana bakteri itu berfungsi.

      Lalu, sejak tahun 1990-an, para saintis mencoba untuk menganalisa gen yang lebih besar dan panjang untuk mencari gen yang sesuai dengan keperluan hidup manusia. Misalnya, gen penyandi enzim fungsional yang bermanfaat untuk industri sebagai biokatalis.

      Setelah sampel dari lingkungan didapat, maka total DNA dari sample tersebut diekstraksi, lalu dikloning dengan teknik shotgun cloning. Total DNA ini dipotong secara random dengan enzim pemotong DNA yang spesifik. Fragmen DNA dengan berbagai ukuran ini lalu diligasikan secara random ke dalam DNA vektor dan dimasukkan ke dalam kultur E coli. Dari sini dipilihlah transforman atau klon (E coli yang mengandung insert fragmen DNA) yang fungsional mengekspresikan enzim target.

      Perpaduan fragmentasi DNA total dan kloning secara random sehingga menghasilkan ribuan transforman E coli seperti di atas disebut dengan pustaka metagenom. Metode pustaka metagenom ini telah membuahkan hasil seperti dilakukan oleh beberapa saintis. Tanpa harus susah payah mengisolasi satu spesies lalu mengoptimasi kultivasi isolat yang perlu waktu lama, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit, beberapa tim peneliti berhasil menemukan gen-gen baru penyandi enzim yang bermanfaat untuk industri, seperti amilase, agarase, amidase, ataupun selulase.

      Contoh lainnya, perusahaan Diersa dengan pustaka metagenom berhasil menemukan enzim lipase jenis baru yang dapat memangkas setengah biaya produksi pembuatan obat penurun kolesterol Lipitor.

      Menyusun ribuan “puzzle”

      Menemukan satu atau beberapa gen sekaligus enzim aktifnya dengan pustaka metagenom seperti di atas mungkin masih relatif sederhana. Sekali kita menemukan gen sekaligus produknya (enzim) yang fungsional dalam klon E coli, lalu kita sekuensing gen itu, persoalan selesai. Namun, jika kita ingin membaca seluruh gen dari mikroba yang ada dalam satu komunitas tentu jauh lebih ruwet lagi.

      Setelah seluruh fragmen DNA dari sample kita dapatkan lalu kita kloning secara random, maka tugas berikutnya adalah membaca susunan DNA dari fragmen insert yang terdapat dalam jutaan klon satu per satu. Metode shotgun kloning seperti ini pula yang dipakai untuk membaca genom manusia yang besarnya 3.000 Mbp itu.

      Seluruh sekuens dari fragmen-fragmen DNA itu lalu disusun secara berurutan dengan melihat susunan DNA yang overlap (ini dilakukan oleh komputer). Jadi ibaratnya, seperti menyusun puzzle dari serpihan-serpihan kecil untuk membentuk gambar utuh yang besar. Pada proyek genom manusia, pekerjaan ini relatif lebih mudah karena genom itu hanya berasal dari satu spesies walaupun ukurannya sangat besar.

      Pada proses pembacaan metagenom mikroba dari lingkungan, proses tentu menjadi tidak sesederhana itu. Karena, mungkin saja segenggam sampel tanah mengandung ribuan spesies mikroba. Jadi, membaca metagenom sampel ini seperti menyambung serpihan-serpihan untuk menyusun ribuan lembar puzzle yang gambarnya berbeda-beda! Secara simulasi dan perhitungan komputer penyusunan ribuan puzzle ini memungkinkan. Meski demikian, banyak pula saintis yang skeptis.

      Seperti menjawab keraguan itu, tim dari Universitas California Berkeley sukses membaca metagenom dari komunitas yang lebih kecil. Mereka berhasil membaca seluruh genom mikroba dari sejumput tanah di daerah pertambangan, 400 meter di bawah pertambangan biji besi Iron Mountain, California, di mana daerah tambang ini mengeluarkan limbah asam beracun yang mencemari sekitarnya. Tim ini mengatakan ada tujuh spesies mikroba (entah itu bakteri atau archaea) yang mendiami lokasi ekstrem mematikan itu. Dua di antaranya telah diketahui genomnya secara lengkap.

      Selain metagenom dari lingkungan di luar manusia, metagenom di dalam mikro ekosistem tubuh manusia juga sedang diteliti. Beberapa saintis ada yang memfokuskan penelitian untuk membaca metagenom komunitas bakteri yang ada di saluran pencernaan manusia seperti lambung yang juga berkondisi ekstrem (sangat asam). Dari hasil penelitian saat ini, diketahui bahwa perubahan komunitas bakteri dalam saluran pencernaan akan menyebabkan mulas, diare, atau gangguan pencernaan lainnya. Proyek metagenom bakteri penghuni lambung ataupun usus manusia akan bisa memberikan informasi pola populasi bakteri. Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh prediksi waktu kritis seseorang akan jatuh sakit sehingga diagnosa dan pengobatan lebih mudah dilakukan.

      Walaupun ada keraguan dari beberapa saintis lain tentang nilai pentingnya pembacaan metagenom, saintis prometagenomik jalan terus. Mereka percaya, sebagai makhluk hidup yang menempati biomassa bumi sebesar enam puluh persen di Planet Bumi ini, mikroba adalah maestro kimia paling genius di planet kita. Mikrobalah yang menjadi sumber antibiotik (dan obat-obatan lainnya), enzim, gen pembunuh serangga yang dimanfaatkan dalam tanaman transgenik, dan sebagainya. Mikroba pula yang memainkan peran penting dalam siklus lingkungan, seperti mengubah gas nitrogen di udara menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman, pemasok separuh oksigen Bumi, juga menguraikan toksik dan polutan. Mikroba pulalah yang berperan besar dalam membantu hidup manusia mengelola zat gizi yang dimakannya. Karena itu, proyek metagenom mikroba pasti menjanjikan sesuatu yang istimewa.

      Rasanya sudah tak sabar melihat perkembangan sains dan teknologi berikutnya berkat proyek metagenom ini.

      Dr Is Helianti MSc Peneliti rekayasa genetik dan enzim pada Pusat Teknologi Bioindustri, BPPT

      Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , | Leave a Comment »

      Bekal untuk menulis paper di Jurnal!

      Posted by ishelianti on June 21, 2008

      Tulisan tentang kiat menulis makalah saintifik ini saya temukan ketika berselancar di Internet.

      Sangat baik dan praktis untuk bekal kita menulis paper di jurnal ilmiah.

      Kapan-kapan, jika sempat, saya ingin terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,

      biar lebih merakyat..:-)

      Tentu jika Pak Chris Sterken, penulis asli, berkenan.

      Posted in Materi kuliah | Tagged: , | 2 Comments »

      Saya dan Prof Meinhardt

      Posted by ishelianti on June 20, 2008

      Prof Meinhardt dari University of Muenster adalah professor yang saya kenal kurang lebih 4 tahun lalu. Beliau hingga kini adalah partner kerja sama kami dari Jerman dalam kerangka Indonesia German (IG) Biotech, di mana saya menjadi “pekerja utama” tim di bidang rekayasa genetic untuk perbaikan strain penghasil enzim xilanase.

      Jika Tamiya Sensei, profesor saya di Jepang, kadang nampak acuh (walaupun sebenarnya tidak demikian, ya) dengan masalah detail dan dalam. Tidak demikian dengan Prof Meinhardt. Mencengangkan kalau bertanya kiat-kiat teknis padanya. Kelihatan betul, betapa dulu Prof Meinhardt mengerjakan eksperimen molekuler biologi dengan menggebu dan mendalamnya. Sehingga, sarannya sangat praktis dan berguna. Dia selalu bilang, dia mengerjakan itu semua selagi seusia saya, dengan kondisi tidak seberuntung seperti sekarang. Maksudnya, melimpah ruahnya peralatan yang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan membanjirnya kit-kit untuk ekstraksi macam-macam.

      Jika ada pertanyaan kami yang perlu diskusi dengan kolega, dia tak sungkan memending jawaban, dan menjawab ketika hasil diskusi telah ada. Kesannya, dia tak pernah menjawab masalah ilmiah dan teknis dengan asal-asalan. Sikap ilmuwan yang sangat mengagumkan. Jika ia tidak mampu menjawab teknis mendetail, maka dia delegasikan pada mahasiswanya yang tentu saja lebih updated masalah kepiawaian dalam eksperimen.

      Publikasinya ratusan. Selain itu ilmunya mendalam. Rasanya dibandingkan saya yang padahal telah lulus Doktor tujuh setengah tahun lalu, gap itu sangat terasa. Karena itu, saya dan teman-teman satu tim rekayasa genetika, selalu menempatkan diri sebagai mahasiswanya. Bertanya ini itu, walau sesekali ngotot dengan argumen yang harus kami pertahankan. Dan mendengarkan baik-baik setiap sarannya.

      Sikapnya memang bukan seperti bule pada umumnya. Bahkan kadang-kadang mirip kultur orang Jawa. Suka berbasa-basi, tidak pernah to the point dalam menyampaikan tidak. Sehingga, kadang-kadang kita menjadi ragu dengan yang dikemukakannya. Basa-basi atau memang begitu adanya.

      Banyak diskusi (mungkin tepatnya otot-ototan..:-)) dalam masalah keyakinan dengan beliau. Pada pertemuan awal, saya sudah menjudge bahwa agama prof Meinhardt adalah sains itu sendiri, bukan yang sekarang dianutnya. Karena dalam banyak pembicaraan, dia tidak seratus persen meyakini kemutlakan keberadaan Tuhan Sang Pencipta. Hanya karena dia tenang dan berbahagia dengan beragama. Jadi, menurutnya, jika memang sebenarnya Tuhan tidak ada, dia tak merugi apapun jika mempercayainya. Jawabannya memang tidak memuaskan. Tapi cukup untuk menghentikan diskusi ngotot, karena memang saya dan beliau berada pada paradigma berpikir yang berbeda.

      Namun, judge saya bisa jadi salah. Dalam pertemuan terakhir 4 bulan lalu, dalam suatu diskusi, kami membahas tentang probabilitas mutasi bakteri, mekanisme penurunan karakter suatu galur, dan lain-lain. Tercetus dari ungkapannya, bahwa di balik alam ini, bahkan sampai dunia mikroba dan DNA di dalamnya, ada ”game player” yang eksis. Game player ini menjadikan semuanya berjalan rapi, cantik, dan bisa dicerna oleh akal manusia dalam bingkai ilmu pengetahuan. Yang lalu saya serobot, bahwa itu adalah Allah, Tuhan pencipta semua alam ini. Alam mikro sampai kita manusia. Yeah, may be, begitu Prof Meinhardt menjawab sambil mengedikkan bahunya.

      Walau demikian, saya banyak belajar dari Prof Meinhardt. Ketekunan dalam bidangnya yang membuatnya punya begitu banyak publikasi ilmiah. Kesetiannya pada profesi profesor, yang walaupun hanya bisa memberikan dia sebuah mobil Mazda. Juga tak lupa kami selalu berterima kasih pada pemberian plasmid vektor, enzim restriksi, strain bakteri, yang kadang-kadang dibawanya sebagai oleh-oleh buat kami…:-)

      Posted in penelitian | Tagged: , | Leave a Comment »

      Raksasa Ekonomi; Berkah Brain Drain?

      Posted by ishelianti on June 20, 2008

      Seputar Indonesia (SINDO) Minggu, 8 Oktober 2006

      Pengamat ekonomi Goldman Sachs memprediksikan bahwa India akan menjadi negara yang berekonomi kuat ketiga setelah USA dan China di tahun 2025. Sebelum mencapai hal ini, di tahun 2020 India akan menjadi yang nomor satu di dunia sebagai pusat yang memproduksi pengetahuan dan teknologi, demikian optimisme Kepala Dewan Saintifik dan Riset Industri India, Dr Mashelkar, seorang mantan brain drain yang berkomitmen kuat dan berpengaruh pada perkembangan sains dan teknologi di negaranya (Science magazine 2005).

      Optimisme yang mungkin sedikit kelewatan dari Dr Mashelkan memang beralasan. Karena revolusi diam-diam selama lima tahun terakhir sedang terjadi di India. Ratusan perusahaan global berbasis teknologi canggih, seperti Motorola, Intel, dan IBM mendirikan pusat riset dan pengembangannya (R&D) di India. Perusahaan General Electric (GE), yang mengembangkan pusat R & Dnya di India dengan 2400 pegawai (sepertiganya adalah reversed brain drain India). Ini menjadikan menjadi pusat litbang GE kedua terbesar di dunia.

      Alasan GE memilih India? India memang negara berkembang, tetapi infrastruktur yang ditawarkannya tidaklah kalah hebat dengan negara maju, namun pembiayaan R&D tidaklah sedahsyat negara maju, demikian Jack Welch, CEO legendaris GE mengatakan.

      Berlombanya perusahaan global menanamkan investasinya di India terkait erat dengan globalisasi ekonomi yang tentu saja dibarengi dengan globalisasi teknologi. Perusahaan besar dunia tersebut memahami bahwa untuk dapat survive dalam persaingan global mereka tidak dapat bertahan dengan mempertahankan kompetensi intinya dengan litbang internal di negara asalnya sendirian. Harus ada cara lebih cerdas untuk bertahan, yaitu dengan mengembangkan produk dengan cara yang lebih murah, yaitu dengan outsourcing (memesan sebagian komponen produk pada negara lain), atau mendirikan pusat litbang di negara yang memungkinkan penyelenggaraannya dengan jauh lebih murah. India menangkap peluang ini.

      Tidak hanya investasi pusat R&D perusahaan global yang tumbuh pesat. Perkembangan sektor swasta made in asli India, khususnya industri yang berbasis teknologi canggih seperti bioteknologi dan teknologi informasi juga tak kalah.

      Industri Bioteknologi dan IT

      Menurut Mani dalam makalahnya di jurnal Int. J. Technology and Globalisation 2006, industri bioteknologi dan teknologi informasi (IT) adalah penyumbang signifikan dalam peningkatan pendapatan kotor perkapita (GDP) (dan tentu saja peningkatan ekonomi India). Memang, sumbangan industri berbasis teknologi baru ini tidak terlalu menonjol mengurangi angka kemiskinan India yang sekitar 26% itu. Namun Mani mengemukakan dalam makalahnya bahwa peran industri berbasis biotek dan IT berhasil mengurangiketidaksetaraan atau mengurangi gap miskin kaya di India, karena berhasil menciptakan kaum menengah tangguh.

      Industri berbasis IT dan bioteknologi paling tidak menyumbang 5% GDP India di tahun 2005, dan diprediksikan akan terus meningkat.

      Industri obat-obatan domestik India misalnya, menghasilkan 22% dari seluruh obat generik yang ada di pasaran global. Industri biotek lokal juga menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Sebagai contoh Shantha Biotech. Perusahaan ini berawal modal kecil, yang memproduksi hasil biotek orisinilnya. Sekarang, paling tidak sepertiga dari vaksin Hepatitis B yang beredar di pasaran domestik India adalah produk dari Shantha.

      Dulu, pasaran ini dikuasai oleh vaksin impor yang harganya berlipat, sekarang mereka menjual vaksin hanya sekitar 30 sen USD (atau 3000 rupiah) per dosis. Perusahaan ini pun sekarang bekerja sama dengan perusahaan farmasi raksasa US yang berbasis biotek dalam pengembangan dan pemasaran internasional rekombinasi DNA vaksin Hepatitis-B di masa dekat.

      India dan Brain Drain

      Mengapa perkembangan industri berbasis teknologi baru demikian pesat di India? Mengapa pula reputasi India sangat baik bagi kalangan industri global untuk membuka pusat R&Dnya di India?

      Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan perkembangan industri berbasis sains dan teknologi yang pesat di India saat ini berhubungan erat dengan sejarah panjang negara ini mengalami brain drain, yaitu fenomena beremmigrasinya SDM yang berketrampilan dan berpengetahuan tinggi dari India ke negara maju, khususnya AS.

      Mari kita tengok.

      Selama dekade 1990-an adalah masa keemasan bagi para sarjana India yang ingin melakukan brain drain ke Amerika Serikat. Banyak perusahaan di Amerika, khususnya yang bergerak di bidang IT menawarkan green visa (visa menetap permanen) bagi orang pintar IT dari India. Dari 195 000 visa untuk pekerja profesional di Amerika yang dikeluarkan selama dekade 1990-an, 45%nya diberikan pada para brain drain India! Alasannya, reputasi kaum terampil India sangat baik. Sarjana lulusan IT India rata-rata berbakat, fasih berbahasa Inggris, dan tidak banyak menuntut. Tentunya, penawaran visa ini suatu undangan yang menggiurkan bagi orang-orang pintar ini.

      Dari sudut pandangan individu, tak ada yang lebih membuat bersemangat bagi orang muda yang pintar, selain mereka dapat berkarya dan mendapat penghargaan dan penghidupan yang layak dari hasil karyanya, hatta di negeri orang.

      Prestasi penduduk Amerika asal India ini memang sangat cemerlang. Di tahun 1998, warga negara India di Amerika menguasai 775 perusahaan teknologi informasi dengan omset 3.6 milyar USD (35 trlyun rupiah ) per tahun dan sanggup menyediakan 16 600 lapangan kerja! Karena itu pada saat itu mereka adalah pembayar pajak yang signifikan di AS.

      Akan tetapi bagi pemerintah India, saat itu, tentu saja lain persoalan. India adalah negara yang sangat parah mengalami brain drain. Sejak India merdeka dari Inggris tahun 1947, hengkangnya para SDM berskill tinggi dan berpendidikan membuat pemerintahan India sakit kepala.

      Menurut laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun 2001, India kehilangan paling tidak 2 milyar US dolar (atau sekitar 18 trilyun rupiah), jika nilai para SDM trampil yang brain drain dikonversi ke dalam hitungan ekonomi!

      Selama periode 1998-2001, hanya 27% SDM program doktoral yang kembali ke India setelah menyelesaikan studinya di USA. Berarti sebanyak tiga perempat dari orang-orang pintar itu memilih tetap tinggal di AS dan mencari pekerjaan di sana.

      Tabel 1. Penerima gelar doktor dalam sains dan engineering dan persentase tetap tinggal di AS dari beberapa Negara

      Kebijakan Pemanfaatan para Diaspora

      Pemerintah India memahami bahwa para brain drain adalah aset bangsa yang tidak boleh diabaikan dan disia-siakan. Keberadaan SDM India berketrampilan dan berpendidikan tinggi di negara maju harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pengembangan ekonomi, sains dan teknologi negara asal (India) yang selama ini telah menderita karenanya.

      Maka pemerintah India mulai proaktif menjalankan kebijakan pemanfaatan para brain drain yang tersebar (diaspora) di seluruh dunia untuk berkontribusi bagi kemajuan India. Alih-alih menghalangi para orang pintarnya brain drain, India malah seolah membiarkan para SDMnya untuk brain drain dan berdiaspora di berbagai negara dengan beragam ketrampilan dan pengalaman yang mungkin lebih sukar mereka peroleh jika berada di negeri sendiri. Namun, mereka ternyata tak hanya diam. Mereka menyusun kebijakan-kebijakan yang dapat mengubah brain drain menjadi brain gain.

      Pertama, India menyusun kebijakan-kebijakan untuk membuat iklim yang kondusif bagi penanaman investasi modal asing. Misalnya, mereka terus mempertinggi kualitas perguruan tinggi dan lembaga riset, mengarahkan lembaga riset untuk menghasilkan riset yang berorientasi industri, mendirikan pusat-pusat teknologi informasi untuk perluasan jaringan, juga terus mempromosikan hal-hal menarik bagi investor: upah SDM trampil yang jauh lebih murah dari negara maju dan populasi manusia yang dapat berbahasa Inggris.

      Sehingga diharapkan banyak perusahaan asing yang berbasis teknologi dan riset mau berinvestasi di India, khusunya di investasi pusat R&D. Dengan demikian diharapkan dapat menekan jumlah para brain drain ke negara maju. Mereka akan terserap pada R&D perusahaan asing yang ada di dalam negeri. Pada gilirannya, kondisi yang kondusif untuk riset dan berkarya akan mendorong para diaspora untuk pulang ke negaranya, berkarya dan berinvestasi di negaranya, membesarkan anak-anak mereka di India, dan pada akhirnya membesarkan perekonimian India.

      Di samping itu India juga membuat kebijakan-kebijakan yang menarik bagi para brain drain agar menjadi brain gain dan kembali ke negaranya dengan membuat kebijakan yang sinergis antar departemen. Misalnya kementrian yang mengurusi warga India di perantauan ditingkatkan anggarannya 5 kali lipat. Bekerja sama dengan Departemen urusan LN mereka membuat ketetapan akan dua kewarganegaraan, pengakuan atas orang keturunan India, kerja sama riset yang ditujukan untuk para saintis yang bekerja di LN untuk mengajar di universitas dalam negeri, dan lain-lain. Menariknya mereka juga mengurusi usaha diplomatik untuk tetap berhubungan dengan para diaspora, misalnya merayakan pencapaian prestasi gemilang mereka di luar negeri sana.

      Kebijakan pemerintah India rupanya bersambut karena menjadi penyelamat yang tepat bagi para brain drain, khususnya di bidang teknologi informasi yang mau tidak mau menjadikan negeri asalnya sebagai tempat berlabuh.

      Masa keemasan ekonomi dan kejayaan teknologi informasi mulai memudar di AS sejak tahun 2000. Krisis ekonomi AS menyebabkan banyak perusahaan IT yang bangkrut dan mau tidak mau harus memPHK para staf ahlinya. Berduyunlah arus balik brain drain ke India. Sebagian yang pernah menjadi pengusaha di Silicon Valley. mendirikan perusahaan di Bangalore.

      Trend berinvestasi di negara asal juga didukung oleh kondisi bahwa perusahaan besar negara maju cenderung melakukan kebijakan outsourcing dalam mendapatkan software agar dapat lebih kompetitif di era global. Sehingga banyaklah perusahaan IT yang memproduksi software untuk diekspor ke perusaahaan IT di AS.

      Misalnya kisah Nagarajan. seorang braindrain alumni Silicon Valley yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran. jika pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu 2.2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008.

      Jadi mungkin tak berlebihan jika perkembangan ekonomi berbasis sains dan teknologi yang pesat di India sekarang ini adalah berkah dari brain drain.

      Penulis: Dr. Is Helianti. MSc Peneliti pada Pusat Teknologi Bioindustri. BPPT, menyelsaikan S1 hingga Posdoktoral di Jepang.

      Posted in Artkel di Media Massa, sosial politik | Tagged: , , | Leave a Comment »

      Saya dan Tamiya Sensei

      Posted by ishelianti on June 11, 2008

      Profesor Tamiya, yang biasa saya panggil Tamiya Sensei, adalah profesor saya ketika mengambil program master, doctor, dan post-doc. Mungkin sosok terlama yang bersinggungan dengan saya dalam hal belajar menjadi periset. Sosok yang “agak lain” dibanding dengan orang Jepang kebanyakan.

      Tidak feodal dan fleksibel dalam hal jadwal lab. Tidak suka minum sake dan mabuk. Dengan demikian saya cukup nyaman berada sampai 6 tahun di lab beliau. Saya tak pernah terpaksa harus lembur di lab, hanya karena sang profesor masih ada di lab (di Universitas Jepang, banyak profesornya yang mewajibkan mahasiswanya mengikuti ritme kerja sang profesor. Agak gawat kalau profesornya gila kerja dan betah di lab sampai di atas jam 9 malam..:-). Walau, ketika mendekati dead line suatu seminar, saya juga mau tak mau kerja lembur sampai dini hari..:-). Tapi bukan atas keharusan siapapun. Saya bekerja sampai lembur, karena saya memang harus bekerja.

      Sikap yang tidak suka minum sake/arak Jepang sampai mabuk, juga membuat saya terselamatkan dari berbagai pergaulan yang tidak perlu. Bagi banyak orang Jepang, minum sake bersama adalah cermin keakraban sekaligus ajang menguji saling percaya. Sebab, yang keluar dari orang mabuk adalah hal yang benar-benar yang ada di hati. Jadi jika yang keluar yang baik, memang putihlah hatinya, dan benarlah teman minum sake ini adalah sahabat sejati..:-) Ketika kami bertemu di Jakarta hampir 2 tahun silam, saya baru tahu alasan ilmiah Tamiya Sensei tidakminum sake.

      “Menurut hasil analisa dari alat semacam sensor yang saya kembangkan, saya memang sangat rentan terhadap alkohol. Tidak kuat jika meminum alkohol terlalu banyak…” Ini dia sebutkan dalam kuliahnya tentang biosensor.

      Tamiya Sensei mengajarkan saya banyak hal. Walau, dalam beberapa sisi ada yang saya kurang setujui. Berbeda dengan kebanyakan Profesor Jepang yang sangat spesialis atau “senmon baka”, tidak demikian dengan Tamiya Sensei. Tipikal gila kerja, sama dengan profesor Jepang pada umumnya. Namun, dia tak pernah terikat dengan bidang ilmu yang dari awal ditekuninya. Mungkin, karena beliau adalah orang yang selalu bergerak dalam bidang aplikatif, sehingga aplikasi dan komersialisasi selalu jadi target, beliau sangatlah fleksibel, bahkan dalam hal ilmu. Teori yag terlalu mendalam sama sekali tidak menarik bagi beliau, tetapi aplikasi yang kreatif dan inovatif bisa membuat matanya berbinar-binar. Idenya banyak yang menarik, walau sering terasa musykil.

      Karena itulah, bagi orang lain, Tamiya Sensei seperti orang yang tidak konsisten dalam satu bidang penelitian dan tidak fokus. Meloncat-loncat. Dari biosensor, enzim, teknologi scanning, sampai nanoteknologi. Bahkan posisi karirnya sekarang yang Profesor Applied Physics di Universitas Osaka amatlah jauh dengan asal-usul pendidikan beliau dan posisi sebelumnya yang berbau life science. Dia sering berkata, dulu, walau orang lain melihatnya tidak fokus dan konsisten, tetapi penelitiannya dari dulu hingga kini dalam visinya tidak pernah ada gap, bahkan semua bersambungan dan berhubungan.

      Falsafah beliau baru saya fahami sekarang. Bahwa, penyekatan ilmu dan pengetahuan dan teknologi dalam boks-boks kaku, hanya akan memenjarakan kreatifitas dan inovasi. Bahwa, dalam batas-batas tertentu kita tidak bisa masa bodoh dengan bidang lainnya. Karena itu tampaknya, Tamiya sensei tak berkeberatan meskipun seolah “harus pindah” jurusan ke fisika terapan.

      Tamiya sensei juga ahli dalam mengemas hasil penelitian menjadi sangat menarik. Beliau piawai pula menulis proporsal dan menjual hasil penelitian. Beliau selalu mengritik saya yang sangat lurus dalam mengekspresikan hasil penelitian. Kita harus bisa mengekspresikan dengan sedikit hiperbolis dan dengan semenarik mungkin hasil penelitian kita. Dengan demikian kita bisa menjual hasil tersebut dan menarik minat orang lain. Sampai saat ini, saya belum bersetuju dengan hal ini, karena hiperbolis berarti mengungkapkan sesuatu yang mungkin berjauhan dengan fakta.

      Posted in penelitian | Tagged: , , | 4 Comments »

      Isu Bioetika yang terkait dengan Penelitian, Pengembangan Komersialisasi dan Pengelolaan SDG Mikroba

      Posted by ishelianti on June 11, 2008

      Ini adalah file presentasi ketika saya mewakili Pak Koesnandar (Wakil Ketua Umum Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, PERMI) dalam
      Seminar Bioetika lalu

      Referensi dari presentasi adalah:
      1. Hasil Kerja/Diskusi Kelompok Kerja Bioetika Sub bidang Mikroba tahun 2005 di mana saya menjadi salah satu anggotanya
      2. Wikipedia
      3. Beberapa website yang berhubungan dengan beberapa prinsip dasar bioetika dalam pengelolaan mikroba

      Masih banyak yang harus dikritisi dan didiskusikan dari file presentasi ini.
      Tetapi semoga bermanfaat, khususnya dalam menambah wawasan pengelolaan sumber daya hayati bangsa.

      Lengkapnya di sini

      Posted in Materi kuliah, penelitian | Tagged: , , | Leave a Comment »

      GFP, Gen Pewarta yang Berpendar Indah

      Posted by ishelianti on May 25, 2008

      Di dalam majalah ilmiah ataupun berita di televisi, mungkin anda pernah melihat tikus percobaan berpendar hijau, atau daun tembakau bercahaya hijau di kegelapan. Pemandangan yang tidak biasa dan membuat terpesona ini tidak akan kita jumpai pada tikus ataupun tembakau alami. Para ilmuwan memang sengaja membuatnya. Namun, bukan untuk tujuan keindahan visual semata.

      More…

      Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , | Leave a Comment »

      Kolaborasi Internasional Bioprospeksi, Belajar dari Costa Rica

      Posted by ishelianti on May 25, 2008

      Indonesia adalah negara megabiodiversity di dunia. Akhir-akhir ini, kesadaran akan pentingnya memberi nilai tambah pada sumber daya hayati dan pemanfaatan keragaman hayatinya sehingga dapat memberi nilai komersial sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi bangsa makin mengemuka. Istilah “bioprospeksi”, yaitu eksplorasi, ekstraksi, dan pemanfatan keragaman hayati untuk mendapatkan senyawa biologis yang mempunyai nilai jual dan komersialisasi tinggi menjadi isu global. Senyawa biologis tersebut dapat berupa obat-obatan, anti mikroba, anti viral, enzim industri, dan sebagainya.

      More….

      Posted in Artkel di Media Massa, penelitian | Tagged: , , , | Leave a Comment »